
"Zianka,,"
Ka Zia sembari mengulurkan tangan pada wanita yang tengah tersenyum malu padanya.
"Panggil saja Zia." Katanya lagi.
Wanita itu langsung membalas uluran tangan Zia dengan senyum lebar. Merasa senang mendapatkan teman di kota besar ini.
"Ara,," Ucapnya.
"Nama yang cantik, sesuai dengan wajahnya." Puji Zia.
Dia tidak berlebihan, memang kenyataannya seperti itu.
"Ah,, itu berlebihan Mba." Ara terlihat salah tingkah di puji oleh wanita yang menurutnya jauh lebih lebih cantik dari dirinya.
penampilannya yang rapi, dengan barang - barang yang terlihat mahal, membuat Zia begitu anggun.
"Jangan panggil Mba, panggil Zia saja. Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh."
Kata Zia ramah.
Ara langsung mengangguk paham.
"Ayo ikut, biar nanti di antar sampai rumah sama Pak Hadi."
"Aku juga jadi punya teman ngobrol."
Zia tanpa ragu langsung menggandeng lengan Ara.
"Pak Hadi tolong tungguin rujak saya ya. Sudah saya bayar." Kata Zia sambil berjalan menuju mobil.
"Iya Nyonya."
Ara hanya diam saja di gandeng Zia menuju mobil mewah. Mobil yang tentu saja di bandrol ber M M itu.
Ara menatap Zia, merasa kagum pada sosok wanita cantik itu yang sama sekali tidak terlihat risih menggandeng dirinya yang memakai baju pasaran.
Sangat kontras dengan penampilan Zia.
Ara bahkan merasa dirinya dan Zia seperti bumi dan langit.
Di gandeng dan di ajak oleh Zia kedalam mobil mewahnya, bagaikan mimpi bagi Ara.
Ini pertama kalinya dia bertemu dengan wanita kaya yang sangat ramah dan baik padanya.
Bahkan mau menjadikan dirinya sebagai teman.
Bagaimana Ara seperti tidak bermimpi. Di kota sebesar ini, biasanya orang kaya hanya mau berteman dengan orang yang sederajat.
Lalu menakan grup itu sebagai grup sosialita.
"Masih pagi, jangan banyak melamun." Tegur Zia.
Ara tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu bekerja disini.?" Tanya Zia.
"Sedang mencari pekerjaan,," Jawab Ara cepat.
"Ternyata tidak mudah mencari pekerjaan di kota ini dengan ijazah SMA."
"Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami."
Ara tersenyum malu. Dia semakin merasa tidak ada apa - apanya di banding Zia.
__ADS_1
Wanita cantik yang ada si sampingnya sudah pasti berpendidikan tinggi, tidak seperti dirinya yang hanya lulusan SMA karna harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya saat itu.
"Harus semangat, rezeki tidak akan lari kemana."
Zia mencoba memberi semangat, yang langsung di Aamiin kan oleh Ara.
"Iya tidak lari, tapi harus tetap di kejar sepertinya." Lagi - lagi Ara tersenyum malu.
Zia ikut tersenyum karna lucu mendengar ucapan Ara.
"Kamu bisa saja." Zia menepuk pelan bahu Ara.
"Jadi keluargamu tinggal di Bandung.?"
Zia kembali mengajukan pertanyaan.
Dia masih antusias untuk mengenal Ara lebih jauh. Apalagi setelah tau kalau Ara sedang mencari pekerjaan.
Zia tentu saja bersedia untuk memberikan pekerjaan pada Ara, mengingat Ara yang memang terlihat baik dan jujur.
Anggap saja, saat ini Zia sedang melakukan interview pada calon karyawannya. Sebelum dipekerjakan di restoran.
Zia lumayan tau tentang asal usul Ara. Dari jawaban yang keluar dari mulutnya, semakin menambah keyakinan Zia kalau Ara memang wanita baik - baik dan jujur.
Pada akhirnya, Zia memutuskan untuk mempekerjakan Ara di restorannya.
Dia merasa iba dengan Ara yang kini hanya tinggal berdua dengan adiknya setelah di tinggal untuk selama - lamanya oleh sang Ibu.
Ara tentu saja butuh uang untuk menambah biaya kuliah adiknya yang baru masuk semester 4.
Zia membuka rujak yang tadi dia beli. Kemudian menawarkannya pada Ara.
"Kamu mau.?" Tawar Zia.
"Tidak, makasih." Tolaknya halus.
"Sepertinya masih terlalu pagi untuk makan rujak buah, tapi tidak berlaku untuk ibu hamil ya. Karna saya juga per,,,,,"
Ara langsung menghentikan ucapannya, diam beberapa saat dan terlihat sedang berfikir.
" Maksudku, saya sudah sering melihat ibu hamil makan rujak di pagi hari." Ara tersenyum kikuk.
Zia mengangguk setuju.
"Ya, sepertinya begitu."
"Tapi ini pertama kalinya aku ingin makan rujak buah."
"Tergiur karna melihat beberapa penjual rujak sejak keluar dari komplek rumah."
Tutur Zia.
Awalnya Zia berusaha untuk menahan agar tidak membeli, karna memikirkan kesehatan kandungannya. Tapi ternyata air liurnya tidak cukup kuat untuk di bendung.
Semakin menahannya justru semakin ingin memakannya.
Perjalanan yang di tempuh dari Jakarta ke Bandung terasa singkat karna mereka berdua terus mengobrol.
Pak Hadi menghentikan mobilnya di tepi jalan, sesuai permintaan Ara.
"Terimakasih banyak Mba, Pak,," Ucap Ara tulus.
Dia hanya minta di turunkan di terminal kota, setelah itu akan naik kendaraan umum untuk menuju rumahnya.
"Kamu yakin turun disini.?" Zia terlihat was - was. Walaupun baru mengenal Ara, rasanya tidak tega kalau terjadi sesuatu padanya.
__ADS_1
"Iya Mba, lagi pula sudah dekat."
"Terima kasih sudah mau di repotkan. Terimakasih juga untuk pekerjaannya, saya akan kembali minggu depan." Ucap Ara tulus dengan wajah yang berbinar.
Dia bersiap untuk turun dari mobil.
"Sama - sama."
"Nanti kabari saya saja kalau kamu sudah kembali ke Jakarta." Ujar Zia. Ara mengangguk paham. Dia keluar mobil sambil terus mengulas senyum pada Zia.
Ara terlihat sangat bahagia karna bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sekaligus teman dan bos sebaik Zia.
Suatu hal yang sangat dia harapkan selama ini.
...****...
Angga menelan kasar salivanya. Cukup lama di berdiri di depan meja kerja David. Dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap David sedikitpun.
Bulu kuduknya sudah meremang sejak bertemu David lobby dan David memberikan isyarat padanya untuk mengikutinya.
Dan sampailah di ruangan yang terasa mencekam ini dengan hawa dingin yang menguar dari tatapan tajam David.
Angga sudah tau apa kesalahannya. Yang membuat David murka hingga menelfonnya kemarin.
Pagi ini, dia akan mendapatkan hukuman dari David. Sesuai kesempatan yang dia setujui.
"Kau sudah melanggar perjanjian.!" Seru David.
"Aku tidak peduli kamu kasihan atau karna cinta padanya sampai mau membantunya untuk bertemu dengan Ciara dan melewati batasanmu.!"
David menatap penuh amarah. Selama 5 tahun ini Dia sangat mempercayai Angga karna kejujurannya dan pekerjaannya yang selalu rapi dan selesai tepat waktu dengan hasil yang memuaskan.
Dan baru kali ini David benar - benar marah pada Angga.
Mengantarkan Arabella ke istana David, sama saja menantang David untuk berperang.
"Ayolah Vid, ini bukan masalah cinta." Angga mulai melakukan pembelaan.
"Aku melakukan semua itu atas dasar kemanusiaan. Sebagai manusia yang memiliki hati, aku tidak bisa membiarkan seorang ibu tersiksa karna ingin melihat putrinya."
Pembelaan yang di lontarkan oleh Angga, berhasil membuat David tersindir.
"Jadi maksudmu aku tidak punya hati.?!!" Geram David.
Angga mengangkat kedua bahunya acuh. Mana berani dia mengiyakan pertanyaan David. Sekalipun memang benar kalau David tidak punya hati pada Arabella.
Bos kejamnya itu hanya punya hati untuk dua wanita, yaitu Ciara dan Zia.
"Ara tidak akan mengambil Ciara dari tanganmu, karna dia sadar tidak bisa memberikan kehidupan yang layak seperti kamu."
"Dia hanya ingin kamu mengijinkan untuk bertemu dengan putrinya."
Tutur Angga dengan raut wajah serius. Ini pertama kalinya dia ikut campur masalah pribadi David.
Sebelumnya, Angga tidak mau peduli apapun tentang David.
Tapi sejak David berurusan dengan Arabella sampai akhirnya Arabella mengandung anak David, sebagai manusia yang berhati lembut, Angga tidak bisa melihat penderitaan Arabella yang begitu menyedihkan.
"Itu bukan urusanmu.!"
"Sejak dulu aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur. Tugasmu hanya mengawasinya untuk tidak berada di dekat Ciara. Bukan malah sebaliknya.!!" Seru David membentak.
"Sekarang jalankan hukuman mu.!!" Perintah David.
Angga langsung melongo, tapi kemudian langsung menjalankan hukumannya dengan push up 100 kali, setelah itu harus menuruti semua perintah David.
__ADS_1