
Malam hari nya Nania sedang sibuk mencari cahrger ponsel nya di dalam tas yang ia bawa selama menginap di villa.
"Dimana charger nya, perasaan aku sudah menaruh nya di tas saat berkemas." Ia menggaruk kepala nya yang terasa penat.
"Ponselku sudah low, bagaimana ini?" Sebuah ide muncul di benak nya. "Apa dia sudah tidur ya?"
Nania berjalan mendekati pintu yang terhubung ke kamar Radit. Tok.. Tok.. "Tuan.. Apa anda sudah tidur?" Nania menempelkan telinga nya di pintu.
"Tidak ada suara nya.."
Masih terus berusaha mendengar dari balik pintu, kemudian pintu itu terbuka, Nania jadi kehilangan keseimbangan nya.
"Aaa..."
Dengan cepat pria tampan itu merangkul Nania yang ingin terjatuh. Sesaat mereka bertukar pandangan, saling menatap tanpa suara.
"Em..A-anu Tuan.." Nania berdiri membenarkan posisi nya, salah tingkah selalu menjadi langganan nya.
"Ada apa?"
"Apa saya boleh meminjam charger ponsel anda, Tuan."
Radit menatap nya tanpa berekspresi. "Charger ponsel ku tidak untuk di pinjam." Seketika raut wajah Nania cemberut. Ia rasa kalau Tuan nya itu memang berhati dingin.
"Kalau begitu, izinkan saya mengisi daya ponsel di sini saja Tuan."
Entah dari mana sebuah ide menyelimuti pikiran Radit. Ia memasukan kedua tangan nya di saku celana.
"Boleh, tapi tidak boleh di tinggal. Kamarku bukan tempat untuk menumpang pengisian daya ponsel. Mengerti!"
Rasa nya ingin sekali meninju wajah tampan nya itu, Nania mengumpat dalam hati. Mau tidak mau ia harus mengisi daya ponsel nya.
"Iya Tuan."
Radit mengisyaratkan Nania dengan lemparan tatapan indah nya itu, untuk segera mencharger ponsel nya di atas nakas samping tempat tidur.
Gadis itu pun paham dan langsung menghubungkan daya di ponsel nya. Lalu Radit naik ke atas tempat tidur. Ia menyadarkan diri nya di sandaran ranjang sambil memainkan ponsel nya.
"Tuan, anda sudah mengantuk?"
"Belum."
"Bagaimana kalau kita nonton film horror?"
Nania menantang Radit untuk menonton film horror. "Tidak mau." Balas Radit dingin. Gadis itu semakin yakin jika Radit tidak berani menonton.
"Apa Tuan takut nonton film horror?" Nania menutup mulut nya untuk menahan tawa agar tidak terlihat.
Merasa di remehkan, Radit pun menyetujui. "Cepat setel film nya!" Titah nya, dan Nania langsung menyatukan telunjuk nya dengan ibu jari berbentuk O. Ia langsung menyetel tv dan memutar film horror.
Radit dan Nania duduk bersama di sofa panjang dalam kamar itu. "Bagaimana kalau lampu nya di matikan juga Tuan, agar cahaya film nya semakin bagus di lihat."
"Terserah."
__ADS_1
Nania mematikan lampu dan kembali duduk untuk menonton, tiba-tiba suara mencekam dari film itu terasa nyata. Ruangan kamar Radit menjadi ikut tegang.
Tangan pria tampan itu sedikit gemetar, ia berusaha mengatur nafas nya yang sudah mulai mencekal. Tiba-tiba hantu dalam film itu menampakkan wujud nya.
"Hwahh!!" Kaget Radit.
Ia mengusap wajah nya kasar, "Aku hanya kaget, bukan takut!" Ucap nya. Nania diam saja, ia fokus menonton. Lalu jendela di kamar Radit terbuka dengan sendiri. Aura menyeramkan semakin terasa. Kini gadis itu juga mulai takut, ia merangkul lengan Radit. Awal nya hanya ingin mengerjain pria tampan itu, sekarang malah dia yang takut juga.
"T-tuan.. Apa anda lupa mengunci jendela nya?" Tanya nya ketakutan.
Kedua nya sudah mulai mendekap, "Mana aku tahu, apa seorang sepertiku harus mempedulikan jendela?" Jawab Radit yang masih memeluk Nania.
"Benar juga.. La-lalu kenapa jendela itu bisa terbuka ya.."
Angin dari luar menerpa sangat kencang, membuat gorden berlambai-lambai. Hembusan malam ini menjadi merinding di kulit tubuh mereka.
"B-biar saya tutup jendela nya, Tuan."
Nania melepaskan rangkulan Radit, ia berjalan perlahan ke arah jendela. Baru ingin mentutup jendela itu, tapi jendela nya sudah tertutup lebih dulu dengan sangat kencang.
Brakkk!!!
"Haa..."
Gadis itu terpanjat dan langsung kabur kembali ke kamar nya lewat pintu terhubung, Radit yang melihat nya malah semakin gugup, dan gemetar. Ia ketakutan, "Naniaaa!!!" Teriak nya.
Suara hantu dalam film horror yang di setel malah bersenandung. Radit jadi makin panik, ia beranjak dan berlari ke kamar Nania.
"Hhaah..Hantu.. Hantu.."
Teriakan Nania kala ada seseorang naik di ranjang nya, dengan cepat Radit menutup mulut Nania dari balik selimut.
"I-ini aku.."
"Tuan.. Kenapa anda malah di sini?" Tanya nya.
"Jadi kamu menyuruhku tidur di sana, setelah jendela itu terbuka-tutup sendiri, dan film setan yang kamu putar masih menyala, iya?!!" Radit tidak mau mengalah dengan Nania.
Mereka menyibakkan selimut yang menutupi nya, "Mending kamu saja yang tidur di sana!!" Cetus Radit dengan wajah masam nya.
Nania bergidik ngeri melirik kamar Radit di depan nya yang terhalang tembok. "Tidak Tuan, saya tidur di kamar saya saja."
"Ya sudah kalau tidak mau, aku juga akan tidur di sini." Tegas nya lalu berbaring mengambil posisi. Nania mengerucutkan bibir nya. Lagi-lagi ia harus mengalah dari Tuan nya.
Tiba-tiba lampu di kamar itu berkedip-kedip sesaat. Nania langsung menimpa Radit, membuat pria itu terkejut di peluk Nania.
"T-tuan, apa dia ikut pindah kesini?" Tanya nya dengan gemetar.
Radit mengulum senyum tertahan melihat tingkah Nania yang awal nya percaya diri, kini menciut. "Dia siapa?"
"Hantu itu.."
Nania masih melirik ke kanan dan ke kiri, lampu di kamar nya kembali berkedip, lalu berhenti. "Kemana nyalimu tadi, kenapa sekarang malah jadi kamu yang paling takut?" Radit mulai sengaja meledek nya.
__ADS_1
"Bukan begitu Tuan, ini kan di vila, konon vila itu punya banyak cerita." Nania menjauh dari badan Radit. Ia ikut merebahkan tubuh nya di samping pria itu.
"Sudahlah, aku ingin tidur. Jangan berisik!"
Radit membalikan badan nya, tapi aneh nya, tubuh Radit masih merasakan gelenyar aneh yang tidak nyaman. Ia masih merinding berada di kamar itu. Lalu ia membalikan badan nya lagi menghadap Nania.
Naas gadis itu sudah ikut membalikan badan membelakangi nya. Di raih nya tubuh ideal milik Nania dalam dekapan Radit.
"Aah.. Tuan, ada apa?"
Gadis itu merasa tubuh nya di tarik ke belakang dan di peluk, menjadi gugup. Jantung nya berdetak kencang. Suasana di kamar nya yang dingin berubah menjadi hawa panas dan juga seram.
"Bisakah begini saja? Aku janji tidak akan macam-macam." Pinta nya lembut.
Suara khas dari Radit membuat Nania meluluh, ia mengangguk dan berusaha memejamkan mata nya. Radit tidur dalam kondisi memeluk tubuh Nania.
Keesokan hari nya, suara burung sudah berkicauan, matahari telah menampakan sinar nya. Kedua insan yang masih tertidur pulas, belum menandakan kesadaran nya.
Posisi tidur mereka sudah berubah, saling berhadapan dan memeluk. Wajah Nania berada di ceruk leher Radit. Lengan kekar pria tampan itu masih setia memeluk gadis cantik yang tidur bersama nya.
Radit mulai membuka mata nya, tubuh nya terasa di dekap seseorang. Wajah nya menengok ke bawah, ia melihat sosok yang cantik masih tertidur di ceruk leher nya, tanpa sadar Radit tersenyum.
"Ehemm.."
Mendengar Radit berdehem, gadis itu menggeliatkan tubuh nya. Ia malah memeluk lebih erat bak guling yang selalu menemani nya tidur.
Lama-lama mata nya membuka, ia tersadar jika sedang tidur bersama Radit. Nania menjauh kala sudah sadar. Ia salah tingkah di pagi hari melihat Radit yang lebih dulu terbangun.
Radit menaruh kepala nya di satu tangan sambil memandangi Nania. "Seperti nya tidurmu semalam begitu nyenyak.." Sindir Radit.
"Emh.. Saya mau ke kamar mandi dulu Tuan, untuk bersiap."
Dengan kekuatan langit dan bulan, Nania bergegas lari dengan cepat ke kamar mandi dengan raut wajah yang sudah merona.
Radit terkekeh melihat nya, ia tersenyum sambil mengingat kejadian semalam.
Tok.. Tok..Tok..
Suara ketukan pintu dari sebelah terdengar di telinga Radit, pria itu segera beranjak dan membuka pintu kamar Nania.
"Ada apa?" Tanya nya.
"Tu-tuan.. Anda tidur di kamar Nania?" Riyan melongo melihat Radit keluar dari pintu kamar Nania.
"Memang nya kenapa ?"
Dengan cepat Riyan menggeleng. "He he.. Tidak ada Tuan. Saya hanya ingin pamit, untuk pulang ke Jakarta."
"Hm, ya sudah. Kamu urus kantor selama saya di sini."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat pagi." Riyan membungkuk dan meninggalkan Radit, ia akan kembali ke Jakarta pagi ini.
'Pantas semalam rasa nya dingin-dingin panas. Ternyata mereka tidur bersama di atas kamar ku.' Gumam Riyan sambil melangkah ke luar villa.
__ADS_1