Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Mi Pedas Viral


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian pintu lift kembali menyala, dan terbuka. Nania bernafas lega, sedangkan laki-laki yang tengah bersama nya langsung melenggang keluar dari lift. Nania pergi ke toilet lebih dulu sebelum ke meja kerja nya. Ia merapihkan pakaian nya dan melepas ikatan rambut di pantulan cermin yang lebar.


Di rasa semua sudah rapi, Nania mau beranjak dari toilet, tapi suara notifikasi pesan masuk di ponsel nya mengurungkan langkah nya.


"Ibu ingin bertemu sore ini, apa kamu bisa?"


Begitulah isi pesan yang di kirim Yanti, Nania mengambil nafas nya dalam. Lalu mengetik pesan di layar ponsel nya.


"Baik Bu, kita bertemu di taman Abiswara jam 5 sore."


Bagaimana pun, Nania tidak bisa menghindari Ibu nya sendiri, ia juga ingin memberitahu sesuatu pada Yanti.


Nania sudah duduk di kursi nya, Riyan lewat di depan nya dengan raut wajah yang serius dan masuk ke dalam ruangan Radit.


"Anda memanggil saya Tuan?"


"Kamu tahu apa kesalahanmu?"


Radit duduk di kursi kebesaran nya sambil bersandar. Ia menatap biasa pada Asisten nya yang sedang berdiri di hadapan nya.


"Iya Tuan, saya mengerti."


"Sekarang, kamu ambil pesanan baju punya Mama di butik langganan nya seperti biasa." Pinta Radit dengan wajah datar nya.


"Baik Tuan."


"Eits tunggu! Ambilah dengan naik kendaraan umum, tidak boleh naik mobil, tidak boleh naik taksi."


Detik itu juga Riyan melongo, "Tapi Tuan__" Ia menelan saliva nya dengan serat.


"Kemarikan dompetmu!"


Radit mengulurkan tangan nya, meminta dompet Riyan. "U-untuk apa Tuan?" Dengan terpaksa Riyan mengeluarkan dompet milik nya dari saku belakang celana bahan slim fit yang ia kenakan.


Ia memberikan dompet itu dengan sangat terpaksa pada Radit, di raih nya dompet Riyan dengan seringai terlukis di wajah CEO bernama Radit itu.


"Dompetmu aku simpan, aku berikan 50 ribu ini untukmu. Cepat pergi dan pulang menggunakan uang itu."


Di keluarkan uang selembar berwarna biru dari dalam laci, dan Radit memberikan nya pada Riyan.


"I-iya Tuan."


Tentu Riyan mengambil uang itu karena dompet nya telah disita. "Kalau gitu saya berangkat dulu, Tuan."


"Hm"


Riyan keluar dari ruangan Radit, di depan pintu ia mengehela nafas nya pasrah. Nania yang melihat nya jadi penasaran.


"Riyan, kamu kenapa?"


"Jangan tanya aku kenapa, bahas nya nanti saja. Aku sedang di hukum."


Pria itu menjawab nya dengan rasa melas, ia meratapi nasib nya sendiri sambil memegang selembar uang berwarna biru.

__ADS_1


Di dalam lift Radit menggerutu sendiri. "Apes banget aku, Tuan Radit menyuruhku untuk naik kendaraan umum dari Jakarta Pusat ke Jakarta Utara. Yang benar saja, ck!" Ia berdecak masih kesal.


Setelah Riyan yang menjadi sasaran Radit, kini Nania juga di panggil untuk masuk ke ruangan nya.


"Tuan, anda memanggil saya?"


"Hm, belikan aku makanan yang lagi viral itu, mi pedas yang ada di daerah Bekasi Timur." Pinta nya dengan sangat ringan. Tentu saja ide nya di dapat dari hasil searching di emba google.


"A-apa Tuan, di Bekasi Timur? Mi pedas?"


Gadis itu merasa heran, apa tidak ada mi yang lain yang ingin di makan Tuan nya itu. Apa karena dia sengaja mau mengerjai nya.


"Ini uang nya, kamu harus kembali sebelum jam makan siang."


Tanpa mengurangi rasa kasihan, Radit memberi hukuman yang cukup berat bagi Nania kali ini. Gadis itu masih termenung tak percaya.


"Tuan, ini sudah jam 10, mana mungkin saya bisa kembali sebelum jam makan siang." Jawab Nania apa ada nya.


"Jalan sekarang, atau kamu akan kehabisan waktu!"


Radit memberikan kunci mobil milik nya pada Nania, dengan patuh gadis itu mengambil benda kecil berwarna hitam dari atas meja.


"Saya permisi dulu, Tuan."


Ketika sudah keluar Nania langsung terburu-buru berlari menuju lift. Ia akan menjalankan aksi kejar waktu nya kali ini.


"Mati aku! Mana mungkin aku bisa kembali sebelum jam makan siang, setahu aku makanan di sana juga mengantri."


Wajah Nania semakin panik, ia lalu menancap gas dengan kencang keluar dari parkiran, manik mata nya fokus mengintai seluruh jalanan.


Ia menjadi bingung sendiri, ya bagaimana tidak menjadi pusat perhatian penumpang di dalam busway. Baju yang di kenakan Riyan sangatlah rapi dan lumayan bermerk mahal.


Riyan merutuki diri nya sendiri dalam hati.


'Si*al... Mereka pada ngeliatin aku begitu banget. Kayak nggak pernah liat cowok ganteng aja.'


Setelah turun dari halte, Riyan meneruskan perjalanan nya agar sampai butik menggunakan ojek, ia memesan ojek online di ponsel nya.


Kalau Sekertaris yang satu nya lagi masih fokus menyetir sambil mengikuti peta dari layar ponsel yang menempel di dashboard mobil.


"Haduh, mana masih 36 menit lagi."


Ia melirik ke layar benda persegi panjang itu kalau masih bertuliskan 36 menit lagi untuk mencapai lokasi. Nania menggigit bibir bawah nya, ia masih menyetir dengan rasa gelisah tak menentu.


Radit tersenyum nakal di dalam ruangan nya, sambil memantau arah GPS mobil nya tengah melaju di jalan mana, dari layar PC di meja kerja nya itu.


"Kamu pasti tidak bisa menyelesaikan hukumanmu yang satu ini, Nania." Ucap pria tampan itu bahagia.


Delisha yang sedang berjaga di butik menatap tak percaya akan kedatangan pria yang pagi tadi sempat menolong nya.


"K-kak Ri-yan.."


"Loh, kamu kerja di sini?"

__ADS_1


Riyan tersenyum mendapati gadis imut di depan nya sedang menatap nya tak henti.


"Iya Kak, aku kerja di sini. Em, ada yang bisa aku bantu?" Delisha jadi mendadak sigap dan membuyarkan tatapan binar nya.


"Iya, aku mau ambil pesanan baju milik Nyonya Mona."


"Sebentar ya Kak, biar aku cari dulu. Kak Riyan duduk dulu saja."


Dengan cekatan Delisha menyuruh Riyan duduk dan ia langsung mencari baju pesanan di lemari khusus menyimpan baju yang telah di siapkan.


"Ini kak, pesanan baju untuk Nyonya Mona. Apa ada lagi?"


Delisha memberikan sebuah kotak besar berlapis tas paperbag warna merah maroon yang sangat mewah.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengambil pesanan ini saja. Kalau begitu aku permisi dulu ya, aku sedang buru-buru. Sampaikan salam untuk pemilik butik ini dari Tuan Radit."


Pria itu berdiri dan menggapai tas paperbag tersebut, lalu berniat langsung pergi. Tapi langkah nya terhenti kala mengingat uang yang tersisa tinggal sepuluh ribu rupiah saja.


Karena Riyan dari halte menuju butik menggunakan ojek online dengan tarif 30 ribu rupiah. Dia sudah tidak sanggup jika harus naik angkutan umum lagi untuk sampai di butik.


"Baik Kak, akan saya sampaikan. Terima kasih Kak Riyan atas kunjungan nya."


Ia memberikan ucapan terima kasih karena telah berkunjung ke butik kepada para pelanggan yang mampir.


"Hm, ada apa Kak?"


"Em, begini Delisha. Apa kamu punya uang?"


Tentu saja Delisha langsung mengerutkan kening nya. "U-uang?" Ia masih tidak paham. Apa pria di hadapan nya ini akan menagih uang bensin nya pagi tadi.


"Iya, aku kesini tidak bawa mobil. Bisakah aku pinjam uang mu dulu, nanti aku pasti akan mengganti nya." Dengan berat hati dan menghilangkan gengsi, Riyan mengatakan yang sejujur nya.


Delisah mengangguk-angguk saja seakan dia paham. "Tapi Kak, aku sedang tidak punya uang tunai." Gadis itu menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Begitu ya?"


Riyan semakin bingung, sebenar nya ia bisa saja naik taksi untuk sampai ke kantor. Tapi bagaimana dia bisa bayar ongkos taksi nya, jika dompet nya saja di sita oleh Radit.


Delisha masih merasa tidak enak hati, "I-iya Kak. Tapi Kak Riyan bisa pakai motor ku." Sebuah ide muncul di benak nya.


"Ah iya benar. Kamu serius kan?"


"Iya Kak, ini kunci motor nya."


Gadis itu mengeluarkan kunci motor dari saku celana jeans nya. Riyan meraih kunci motor itu, karena itu satu-satu nya cara untuk dia bisa kembali ke kantor.


"Okay, aku pinjam motor kamu dulu. Kamu hubungi aku ya, ini kartu nama aku. Nanti sore kita ketemu lagi. Gimana?"


Delisha hanya bisa mengangguk tanda setuju, tapi ia masih tidak begitu paham maksud dari Riyan. Setelah menerima kartu nama pria itu. Riyan langsung keluar dengan cepat dari butik.


Ia mencari keberadaan motor milik Delisha dan langsung mengendarai nya. Delisha masih memegangi kartu nama Riyan.


"Sebenar nya apa yang sudah terjadi? Kenapa Kak Riyan terlihat kacau sekali. Ah biarlah, yang penting aku punya nomor Kak Riyan. Hmm.."

__ADS_1


Delisha nampak berbinar-binar dan berjoget ria merasa senang tak terhingga sambil memegangi kartu.


__ADS_2