
Angga kembali menyodorkan tisu pada Arabella.
Wanita di sampingnya terus menangis tak ada hentinya.
Angga bisa merasakan kehancuran Arabella yang tidak mendapatkan ijin untuk menemui putrinya.
Mungkin dengan cara menangis, kehancuran yang di rasakan oleh Arabella sedikit demi sedikit bisa terkikis bersamaan dengan air matanya yang tumpah.
Itu sebabnya Angga memilih diam sepanjang perjalanan.
Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun pada Arabella. Dan tidak juga untuk menyuruhnya berhenti menangis.
Angga memberikan waktu pada Arabella untuk menenangkan diri.
Arabella membuang tisu di tempat sampah yang berada di depan kursinya. Tangannya kembali mengulur untuk meminta tisu pada Angga.
Melihat hal itu, Angga jadi kebingungan karna tisu yang ada di mobilnya sudah tak tersisa satupun karna di pakai oleh Ara.
Tisu di dalam mobil memang hanya tersisa sedikit, Angga tidak sempat untuk membeli tisu lagi.
"Mana tisunya kak.?" Tanya Ara dengan suara terisak.
"Sebaiknya kamu berhenti menangis, nanti di lanjut lagi kalau sudah sampai di kontrakan mu."
Ujar Angga memberi saran.
Hanya itu satu-satunya cara agar Arabella tidak lagi membutuhkan tisu.
"Memangnya kenapa.?" Ara terlihat bingung menatap Angga.
Dia hanya meminta tisu, tapi Angga malah menyuruhnya untuk menghentikan tangisnya dan melanjutkan lagi ketika sudah sampai di kontrakan.
"Karna plastik ini tidak bisa menghapus air matamu." Angga mengambil bungkus tisu dan meletakkannya di tangan Ara.
Ara dibuat melongo. Menatap plastik bungkus tisu di tangannya.
Sejak tadi dia yang sudah memakai tisu sampai habis, tapi terlihat tidak percaya kalau dia sudah menghabiskan tisu sebanyak itu.
"Apa aku menghabiskan tisu sebanyak ini.?" Tanya Ara kaget. Ekspresi wajahnya yang kaget terlihat sangat lucu. Antara bingung dan tidak percaya.
"Kamu menangis sejak dari rumah David, sampai sekarang hampir sampai di kontrakan mu 5 menit lagi."
"Bagaimana mungkin tidak menghabiskan tisu." Angga sedikit menekankan kalimatnya.
"Makanya aku memberi saran agar kamu berhenti menangis."
"Setelah sampai di kontrakan, kamu bisa menangis sepuasnya."
"Dan jika David tau kamu menangis seperti ini, dia akan semakin tertawa puas." Ujar Angga dengan senyum kecut.
Dia seolah menertawakan kebodohan Arabella yang terus menangis tanpa henti. Sedangkan tangisannya tidak akan memberikan pengaruh apapun, karna David sangat keras dengan pendiriannya.
"Apa yang harus aku lakukan.?" Ara menundukan kepalanya.
Apa yang di ucapkan Angga memang benar adanya. Selama bertahun-tahun menangis di depan David sekalipun untuk memohon di pertemukan dengan Ciara, hal itu tidak pernah terjadi sampai detik ini.
Air matanya terbuang sia - sia.
"Apa aku mendoakan dia mati.?" Seru Ara sambil mengangkat wajah untuk menatap Angga.
Ucapan Ara membuat Angga syok sampai reflek menginjak rem dan mobil yang dia kendari berhenti mendadak di tengah jalan.
__ADS_1
"Ya ampun kak Angga.!!" Teriak Ara dengan kedua tangan yang berpegangan pada dashboard. Tubuhnya terdorong ke depan karna Angga mendadak menginjak rem.
Untungnya mobil mereka sedang melaju dengan kecepatan sedang karna sudah memasuki gang yang sedikit sempit.
"Aku hanya berniat untuk mendoakan orang agar mati, tapi aku yang hampir saja mati." Katanya dengan jantung yang berdetak kencang.
Ara bisa bernafas lega karna tidak ada kendaraan di belakang mobilnya. Entah apa yang akan terjadi kalau di belakang ada mobil lain.
"Kau itu sama kejamnya dengan David." Cibir Angga. Dia kembali melakukan mobilnya dengan pelan.
"Kalau David mati, Ciara akan hancur, dan dia juga belum tentu mau bersamamu karna tidak pernah mengenalmu."
"David memang kejam, tapi dia sangat menyayangi putrimu lebih dari apapun."
Penuturan Angga langsung menimbulkan sesak di dada Arabella. Dia sangat menyesal karna akan menyumpahi David agar mati.
Apa yang dikatakan Angga memang benar.
Tentu saja David sangat menyayangi Ciara, karna hampir 4 tahun telah menjaga dan merawat Ciara dengan baik.
Sekejam - kejamnya seseorang, dia memiliki hati yang lembut untuk anaknya.
Arabella tidak pernah menyesal telah menyerahkan putrinya pada David agar di rawat olehnya. Karna Ciara bisa hidup bahagia dan layak, tidak seperti dirinya yang hidup tak tau arah setelah melahirkan Ciara karna harus membiayai pengobatan ibunya yang tidak murah.
Semua uang yang diberikan oleh David untuk membayar keperw*n*n dan kompensasi karna telah melahirkan Ciara, sudah habis tak tersisa untuk biaya pengobatan sang ibu.
Tapi sekeras apapun perjuangan Ara untuk membuat ibunya sembuh, Tuhan tetap tidak berkehendak membiarkan dirinya hidup bersama sang ibu lebih lama lagi.
2 tahun setelah berjuang melawan sakitnya, sang ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
Angga menghentikan mobilnya depan rumah kontrakan Arabella.
"Hemm,," Angga hanya berdehem dengan wajah datar. Setelah itu ponselnya berdering, dia membulatkan mata melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
"Sh iit.!!" Umpat Angga frustasi dengan wajah yang memucat. Dia bisa menebak akan mendapatkan amukan dari David.
"Kenapa kak.?" Ara yang sudah membuka pintu mobil, kembali menoleh karna mendengar umpatan Angga.
"Tidak."
"Cepat keluar." Ucapnya ketus.
*****
Dering ponsel membangunkan Gavin yang sedang terlelap. Dia mengusap mata beberapa kali sebelum melihat jam.
Pukul 2 malam, entah siapa yang menelfonnya.
Tidak mau dering ponsel itu mengganggu tidur nyenyak Zia, Gavin langsung mengambilnya dan keluar dari kamar.
"Mama.?" Ujar Gavin begitu melihat layar ponselnya.
Dia merasa heran karna tidak biasanya sang Mama akan menelfonnya tengah malam.
Gavin segera mengangkat panggilan telfonnya.
"Hallo,,,,
Belum sempat meneruskan ucapannya, Gavin di buat diam karna suara isak tangis sang Mama.
" Cepat kemari nak, Papa koma." Seru Mama Ambar dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
"Papa di bawa ke rumah sakit xxx." Ucapnya lagi.
Gavin memaku di tempat. Kedua manik matanya mulai berkabut. Rasa sesak di dada mulai naik hingga membuatnya sulit untuk bernafas.
"Gavin akan kesana sekarang Ma,,"
Gavin mematikan sambungan telfonnya. Dia kembali masuk ke kamar untuk memberi tau Zia.
"Sayang,,," Panggil Gavin. Dia menggoyangkan lengan Zia.
"Sayang bangun,," Ucapnya lagi.
"Eum,,, ada apa Mas.?" Tanya Zia dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Papa koma, aku harus ke Bandung sekarang." Ucap Gavin tercekat.
Zia langsung tersentak kaget, dia bergegas bangun dan duduk di ranjang.
"Pa,,Papa.?" Tanya Zia terbata.
Gavin mengangguk.
"Baru saja Mama menelfonku."
"Aku harus berangkat sekarang." Gavin mengecup singkat kening Zia.
"Aku ikut Mas,," Zia turun dari ranjang.
"Tidak Zi, kamu di rumah saja. Ini tengah malam. Besok kamu bisa meminta supir untuk mengantarmu."
"Sebaiknya kamu tidur lagi, jaga kesehatan dan kehamilan kamu."
Gavin tidak mau mengambil resiko dengan mengajak Zia berkendara tengah malam.
Terlebih perasaannya sedang kacau karna mendengar kabar buruk dari orang tuanya.
"Tapi Mas,,,
"Zi,, kamu harus menurut padaku." Pinta Gavin lirih.
Zia mengangguk patuh.
"Hati - hati di jalan Mas,"
Gavin tersenyum, dia mengusap kepala Zia sebelum keluar dari kamar.
"Aku harap Papa baik - baik saja dan segera sembuh."
Zia mengusap perutnya yang masih rata.
"Papa harus melihat cucunya lahir ke dunia." Katanya lagi.
Perasaan Zia semakin kacau. Dia kembali berbaring di ranjang tapi tidak bisa memejamkan mata.
Terus memikirkan Papa mertuanya yang sudah baik padanya selama ini, menganggap dirinya seperti anak kandung sendiri tanpa membedakan dia dengan Gavin.
Gavin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam yang sepi.
Ini pertama kalinya sang Papa koma karna sakit jantung yang di deritanya selama ini.
Biasanya Papa Rudi hanya akan mengalami pingsan setiap kali penyakit jantungnya kambuh, dan bisa di tangani setelah di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1