Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Di Luar Batas


__ADS_3

Tatapan Radit turun ke arah bibir ranum milik Nania. Jantung nya sudah memacu lebih cepat. Di tarik nya tengkuk Nania dan pria itu mencium bibir yang sudah membuat nya candu.


Mendapat ciuman dari Radit, Nania bukan meronta malah ikut memejamkan mata. Serasa mendapat lampu hijau dari Nania. Pria itu terus mengulum bibir manis nya, kini mereka saling mencumbu.


Radit merubah posisi nya, ia memutar tubuh Nania dengan lembut, sekarang diri nya sudah ada di atas tubuh Nania. Ia memegang kembali cumbuan nya.


Terus melu*mat hingga ciuman itu turun ke leher jenjang Nania. Radit menghirup dalam-dalam aroma khas dari tubuh Nania. Selalu ada wangi jasmine pada tubuh gadis itu, yang membuat Radit semakin betah dan nyaman saat bersama nya. Tapi perbuatan nya sekarang justru membuat Nania meremang, ia merasa ada sengatan listrik mengalir dari dalam tubuh nya.


Radit menciumi leher putih itu, bahkan hampir menyesap kuat.


Sadar jika perbuatan Radit sudah di luar batas. Nania menaha nya, "Ahh.. Tuan cukup!" Tegur nya pelan. Radit langsung bangkit dan merasa bersalah.


"A-aku.. Maaf Nan.."


'Apa?!! Dia mengatakan maaf? Tumben sekali, apa hati dan otak nya sedang tidak beres.' Gumam Nania merasa aneh.


"I-iya Tuan."


Nania jadi bingung pada suasana canggung yang sekarang. "Sebaik nya kita tidur saja.." Radit beralih posisi, ia merebahkan diri nya di kasur. Sedangkan gadis itu masih duduk di tepi ranjang.


"Percayalah, aku tidak akan melakukan itu lagi." Ucap Radit.


Akhir nya Nania ikut merebahkan diri nya di samping Radit, dan mereka tidur bersama lagi malam ini. Senyum terbit di wajah Radit sebelum menutup mata nya.


Mentari pagi menyapa, Radit dan Nania sudah berada di ruang makan. Mereka sedang sarapan bersama, lain dengan Xiaoran yang baru saja terbangun dari tidur nya.


"Loh, kemana Tuan Radit.. Si*al kenapa aku bisa ketiduran semalam." Amarah nya membuncah. Ia mengacak-ngacak rambut nya.


"Tapi nggak apa-apa.. Yang penting semalam aku sudah tidur bersama nya." Ia senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian semalam yang mengendap masuk ke dalam kamar Radit. Xiaoran menyangka jika Radit tidur bersama nya semalam.


Tidak mau putus asa, Xiaoran turun ke bawah menjumpai Nania dan Radit yang asik sarapan berdua saja.


"Selamat pagi.." Xiaoran basa-basi pada mereka.


"Hm.. Selamat pagi Xiaoran, seperti nya kamu lelah bekerja kemarin, tidurmu nampak nyenyak sekali." Ledek Nania memperlihatkan ekspresi manja nya.


Pria tampan bernama Radit tidak menggubris sama sekali kedatangan Xiaoran di ruang makan.


"Ah, iya.. Mungkin aku kelelahan, jadi bangun nya agak telat. Maaf ya.." Balas nya.


'Cih, apa nya yang kelelahan. Maksudmu kelelahan berusaha menggoda Tuan Radit, huh?' Kesal Nania dalam hati.


"Tidak masalah, mari ikut sarapan bersama." Ajak Nania, detik itu juga mendapat tatapan tajam dari Radit. "Terima kasih." Xiaoran menarik kursi makan dan ikut bergabung sarapan.


"Nania, tolong ambilkan ponselku di kamarmu." Ucap Radit.


Xiaoran langsung membelalakan mata nya, Nania mematuhi perintah dari Radit, ia segera naik ke atas mengambil ponsel itu.


"Ponsel di kamar Nania? Apa Tuan semalam..." Xiaoran masih bingung, bukankah semalam diri nya yang tidur bersama Radit.

__ADS_1


"Kenapa, kamu mengira jika yang tidur bersamamu adalah saya?!" Tegas Radit dengan raut wajah masam nya.


Suasana di ruang makan itu mendadak bisu, Xiaoran gelagapan menghadapi momen ini. "Bu-bukan Tuan.. Ma-maksud saya__"


"Cukup!! Saya tidak suka ada orang lain yang bertindak di luar batas. Saya peringatkan sama kamu, jangan mencoba-coba bermain dengan saya kalau kamu masih ingin hidup!!" Ketus Radit dengan wajah arogan nya.


Sulit sekali Xiaoran menelan saliva nya, ia begitu ketakutan melihat Radit sangat dingin dan ketus pagi ini.


"Tu-tuan.. Saya minta maaf, tapi___"


Radit menatap tajam pada Xiaoran dan mengangkat satu tangan nya menunjuk pintu utama.


"Pintu keluar ada disana! Mau saya bantu seret atau kamu keluar sendiri!"


Pilihan yang di lontarkan Radit sangat kejam. Xiaoran tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ia mengerti dan berlari keluar dari villa Radit. Gadis yang tengah mengambil ponsel kembali ke ruang makan.


"Ini ponsel nya, Tuan."


"Hm."


Nania menoleh ke kanan dan ke kiri. "Cari apa?" Tanya Radit. "Dimana Xiaoran, Tuan?" Ia masih tidak tahu.


"Sampah itu memang harus nya berada di luar rumah, bukan di dalam." Jawab Radit enteng dan dingin. Nania melukis senyum terpaksa nya. Ia sedikit ngeri dengan aura Radit pagi ini.


'Apa dia sudah di tendang dari muka bumi ini? Apa yang dia lakukan pada Xiaoran? Cepat sekali memberesi wanita ular itu.' Ia melamunkan kejadian yang tidak di ketahui nya.


"Memikirkan apa?"


Tangan kekar milik Radit menarik satu tangan Nania, membawa tubuh gadis itu ke atas pangkuan nya. Nania sedikit tesentak, dan gugup.


"Tu-tuan.."


Radit mendudukkan gadis itu di atas paha nya, ia menatap dalam wajah cantik Nania. Sedangkan yang di lihat menatap balik penuh tanya.


"Tuan, anda kenapa?" Tanya nya lembut.


"Aku tidak suka dengan wanita yang mencari kesempatan untuk dekat denganku. Apa kamu juga seperti itu, Nania?"


Dengan cepat Nania menggeleng, ia masih bingung dengan maksud Radit yang seperti ini.


"Mulai sekarang, siapa pun wanita yang memaksa ingin dekat denganku. Kamu boleh menyingkirkan nya, dan melindungiku." Tukas Radit, lagi-lagi ia berbicara dengan nada lembut nya.


"Kenapa harus begitu, Tuan. Apa Tuan sudah punya istri?"


Teng.. Tong.. Oborolan yang mula nya lembut dan romantis, berubah menjadi kelucuan di mata Radit. Ia mengulum senyum dan menahan tawa nya. Nania masih belum mengerti maksud nya.


"Hm.." Jawab Radit tersenyum pada nya.


Nania membelalakan mata nya, ia ingin turun dari pangkuan Radit, tapi pria itu tidak membiarkan nya, terus menahan Nania dengan lengan kekar nya.

__ADS_1


"Tuan, jangan begini, lepaskan. Bisa-bisa nya anda sudah punya istri tapi masih bersikap seperti ini pada saya. Apa Tuan tidak memikirkan perasaan istri, Tuan? Yang Tuan lakukan itu salah, lepaskan." Nania terus meronta minta di lepaskan.


Hal ini sungguh menggemaskan untuk Radit, ia tersenyum puas mengerjai Nania.


"Tuan lepaskan!! Saya nggak mau menuruti perintah Tuan lagi!" Kesal Nania memberontak. Radit terus mengeratkan tangan nya.


"Tidak mau menuruti perintah yang mana, hm?" Tanya nya begitu manis dan fokus menatap nya.


"Jelas saja perintah Tuan yang selalu memaksa saya untuk melakukan hal aneh-aneh. Bahkan Tuan tidur dengan sa__" Nania membekap mulut nya sendiri. Ia tidak sanggup mengatakan nya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Jadi maksud kamu semua perintah aku itu aneh?" Nania mengangguk. Radit tertawa lepas melihat hal lucu dari gadis di pangkuan nya itu.


Saat Radit tertawa, dengan cepat Nania langsung turun dari pangkuan Radit, dan membenarkan pakaian nya yang merasa risih telah di peluk suami orang.


"Dasar... Tuan mesum sekali, haiss."


Nania berlari meninggalkan ruang makan, Radit masih menatap kepergian gadis itu sambil tersenyum.


Hari ini penelitian untuk pemilihan bahan parfum kembali di lanjutkan. Radit, Nania, Xiaoran, dan Porf.Zhang berada di ruangan kemarin.


"Prof.Zhang, wangi ini sangat familiar. Apa ini wangi.." Tanya Nania.


"Wangi Amberwood, itu di campur dengan aroma Jasmine, Saffron, dan Ambergis." Jelas Prof.Zhang pada nya.


Gadis itu mengangguk paham, "Aroma nya begitu manis, tapi tidak membuat mual. Seperti nya ini bisa di gunakan untuk pria dan wanita, Tuan." Nania menyarankan ide nya pada Radit.


"Hm, masukan ke list untuk wangi ini. Kita pilih dua lagi." Jawab Radit.


"Baik Tuan."


Nania kembali memilih aroma parfum dari puluhan botol-botol. Semua harus di rasakan dengan ketenangan agar bisa memilih dengan tepat.


Xiaoran membantu pekerjaan Prof.Zhang, ia menyusun botol-botol untuk di teliti oleh Nania dan Radit. Sikap nya biasa saja, bahkan tidak berani menatap Radit.


Siang nya Radit dan Nania istirahat sebentar, sebelum kembali lagi meneruskan akftifitas nya. Begitu keluar dari ruangan Prof.Zhang, pria tampan itu menggandeng tangan Nania.


"Ayo, kita makan siang di luar."


Nania menghentikan langkah nya, ia melihat tangan nya yang di genggam Radit, lalu melepaskan nya.


"Tuan, jangan pegang-pegang."


Gadis itu berlari masuk ke dalam mobil lebih dulu, Radit di buat geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah Nania.


Kedua nya sudah masuk ke dalam mobil, Nania pura-pura asik dengan ponsel nya. Radit memakai seatbelt dan berniat menjalankan mobil nya, tapi ia melirik ke gadis di samping nya belum memakai seatbelt.


Radit melepaskan seatbelt nya dan mendekat ke Nania, untuk meraih seatbelt itu. Tersadar jika Radit mendekat, Nania langsung memundurkan badan nya ke pintu mobil.


"Tu-tuan mau apa?!"

__ADS_1


"Aku hanya ingin memasang ini saja."


Ceklek.. Sabuk pengaman itu terpasang sempurna, Nania yang menahan nafas sejak tadi merasa lega. Ia membenarkan posisi duduk nya, Radit menahan senyum melihat sikap Nania. Mereka keluar dengan mobil dari villa Prof.Zhang.


__ADS_2