
Saat keluar dari ruangan David, Ara mendapati Angga yang masih berdiri mematung di depan pintu. Keduanya sempat diam sejenak dengan pandangan mata yang saling beradu.
Pandangan mata Angga terlihat kasihan pada sosok wanita yang dulu selalu dia awasi itu saat sedang mengandung Ciara.
Angga tau betul bagaimana pedihnya hidup Ara saat itu. Bagaimana susahnya menjalani kehamilan seorang diri, jauh dari kedua orang tuanya yang saat itu ayah Ara sedang sakit keras. Demi menjaga kondisi sangat ayah, Ara harus pura - pura pergi ke luar negeri dengan alasan bekerja, demi menutupi kehamilannya.
Lemparan senyum tulus dari Ara membuat Angga tersadar dari lamunan di masa lalu.
"Terimakasih kak,," Ucap Ara tulus sembari membungkukkan badannya.
Hal itu justru membuat Angga semakin kasihan pada wanita cantik di hadapannya.
"Maaf Ara, hanya ini yang bisa aku lakukan,," Ujar Angga sedikit menyesal. Menyesal karena tidak bisa membantu Ara melihat anak kandungnya yang selama ini berada didalam asuhan David.
Ara tersenyum tulus, dia mengerti akan hal itu. Dia juga tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan Angga lebih jauh lagi. Karena pekerjaan dan hidup Angga yang akan jadi taruhannya.
"Tidak apa kak, aku mengerti." Ucapnya tegar untuk membuat Angga tidak merasa bersalah padanya.
"Permisi,," Ara berlalu dari sana. Setiap kali mendatangi kantor ini hanya akan pulang dengan membawa kekecewaan. David terlalu keras, bahkan mungkin saja hatinya sudah membatu. Tangisan dan permohonannya tidak pernah membuat laki - laki itu merasa iba dan luluh untuk mempertemukannya dengan Ciara.
David menggebrak kuat meja kerjanya. Suara gebrakan itu bahkan sampai di dengar oleh Angga yang masih berdiri diluar ruangan.
Laki - laki itu segera masuk kedalam. Dilihatnya wajah David yang sudah memerah.
"Kamu urus wanita itu.! Jangan sampai muncul lagi di hadapanku.!" Geramnya memerintah.
Memang tidak ada yang salah dari Ara, hanya saja David sangat tidak menyukai wanita itu.
Hatinya sudah tertutup oleh wajah cantik Zianka. Hingga membuatnya tidak bisa menerima dengan baik wanita yang sudah mengandung dan melahirkan anaknya.
"Apa kamu tidak bisa memberinya kesempatan untuk mempertemukan Ara dengan Cia, dia tidak menuntut apapun, hanya ingin melihat wajah cantik putrinya saja,," Angga memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya yang selama ini dia pendam di depan David.
Dia sudah terlalu kasihan dengan Ara. Tidak tega melihat seorang ibu yang dipersulit untuk bertemu anaknya.
"Cia tidak perlu melihatnya.! Begitu juga sebaliknya.!"
"Aku akan memberikan ibu untuk Cia yang jauh lebih baik dari wanita itu.!" Tegasnya.
David langsung teringat dengan wajah cantik Zia. Wanita yang seumur hidupnya sulit untuk dia dapatkan. Hingga detik ini, Zia tetap menjadi tujuan utamanya.
Angga hanya bisa menggeleng pelan. Menurutnya laki - laki di depannya itu terlalu bodoh. Dia mengharapkan wanita yang jelas - jelas sudah memiliki suami dan bahagia dengan suaminya.
Padahal banyak wanita single diluar sana yang berebut untuk menjadi kekasih bahkan istrinya.
__ADS_1
Angga juga merasa bahwa Ara adalah wanita yang tepat untuk David, terlebih ada Ciara yang membutuhkan orang tua yang utuh.
...****...
Dengan wajah yang merona karena malu, Zia berjalan cepat masuk kedalam walk in closet untuk memakai baju. Wanita itu juga menyiapkan baju santai untuk Gavin.
Meski pernikahannya sudah berjalan 4 tahun, tapi rasa malu terkadang masing sering menjumpainya.
Terlebih saat Gavin bersikap seperti tadi. Padahal jelas - jelas dari sorot matanya terlihat kalau Gavin memperhatikan lekuk tubuhnya.
Wajar saja kalau Zia sempat bicara kalau dia tidak ingin mandi lagi. Karena berfikir Gavin akan meminta haknya.
Dress motif bunga berwarna peach terlihat cantik di tubuh tinggi dan langsing milik Zia. Dress tanpa lengan dengan panjang selutut, membuat Zia terlihat lebih muda dari usianya.
Dia duduk depan meja rias, wanita itu tak absen memoles wajahnya jika ada Gavin di rumah.
Setidaknya agar wajah cantik itu terlihat lebih segar dengan polesan lipstick tipis dan cream pelembab.
Tak lupa memakai body lotion dan parfum yang memiliki aroma menyegarkan.
Seindah itu hari - hari yang dulu di jalani oleh Zia sebagai seorang istri yang berusaha tampil sempurna di depan Gavin.
Gavin baru saja masuk kedalam walk in closet dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Rambut basahnya menambah kesan seksi pada laki - laki yang memiliki tubuh atletis itu.
Langkah Gavin tertuju pada Zia, berhenti tepat di belakangnya. Di ambilnya hair dryer dari tangan Zia.
"Mas,,," Ujar Zia dengan wajah yang terlihat kaget. Wanita itu tidak menyadari kehadiran Gavin yang sudah berada di belakangnya.
"Biar aku bantu keringkan,," Ucap Gavin sembari menarik kursi untuk dia duduki.
Zia hanya diam, menatap tanpa kedip bayangan wajahnya Gavin di pantulan cermin.
Laki - laki itu terlihat serius mengeringkan rambut panjangnya.
"Wangi,,," Ucap Gavin lirih. Laki - laki itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, masih fokus mengeringkan rambut Zia.
"Kamu belum pakai baju mas, nanti dingin,," Zia baru menyadari akal hal itu. Apa lagi di ruangan itu suhunya cukup rendah.
Gavin tidak menghiraukan ucapan Zia. Dia masih asik memegang rambut halus milik Zia.
"Pakai bajunya dulu mas,,," Sekali lagi Zia menyuruh Gavin. Namun yang di suruh justru menatapnya dalamnya dalam dari pantulan Cermin. Keduanya saling pandang beberapa saat.
"Aku tidak suka kamu bertemu dengannya. Aku tidak suka kamu dekat dengan anak itu."
__ADS_1
Ungkap Gavin dari lubuk hatinya yang terdalam. Rasa cemburu yang begitu besar, membuatnya takut akan kehilangan Zia.
Mungkin saat ini David masih bersikap biasa pada Zia, mencoba menarik perhatiannya secara perlahan. Namun Gavin tidak tau apa yang akan di lakukan oleh David setelah ini.
Zia mematung. Hatinya bergetar dengan rasa sakit yang terasa menggores. Tatapan sendu Gavin membuatnya merasa sangat bersalah.
Seharusnya dia tidak bersikap sejauh itu untuk membantu David menenangkan Ciara, bahkan sampai mau menyuapi Ciara.
"Maaf mas, aku tidak bermaksud membuat kamu cemburu. Aku,,,
"Kamu bukan hanya membuatku cemburu Zi, tapi kamu memberikan celah untuknya." Potong Gavin cepat.
"Dengan sikap kamu yang terbuka menerima anak itu, David akan semakin gencar untuk mendekati kamu,,"
Gavin menghela nafas berat. Diletakkannya hair dryer yang sudah dia matikan itu, lalu beranjak dari duduknya.
Zia masih diam, hanya memperhatikan gerak gerik Gavin yang sedang mengambil baju. Baju yang tadi Zia siapkan untuknya.
"Permasalahan kita belum selesai Zi, aku harap tidak ada masalah baru yang datang karena laki laki itu,," Ujar Gavin dengan suara yang terdengar penuh beban.
Zia mengangguk, meski anggukan kepalanya tidak dilihat oleh Gavin.
Laki - kaki itu sedang sibuk memakai baju.
Zia langsung menundukkan pandangannya saat melihat Gavin yang akan membuka handuk.
"Minggu depan kita Paris, siapkan apa saja yang akan kamu bawa,," Ucap Gavin datar.
Zia langsung membalik tubuhnya, dilihatnya Gavin yang baru selesai memakai celana pendek.
"Ke Paris.?" Tanya Zia lirih.
"Aku temani kamu untuk menenangkan diri." Sahut Gavin cepat.
"Sekalian honey moon. Sudah lama kita tidak pergi liburan berdua,,"
Ujarnya sembari mengingat liburan terakhir mereka di luar negeri, 6 bulan yang lalu.
Zia mengulum senyum. Berharap liburan kali ini juga akan menjadi liburan romantis seperti yang sudah - sudah.
Bahkan dalam hatinya, Zia berharap bisa hamil setelah pulang dari Paris nanti.
...****...
__ADS_1
Judul dan cover baru 😁 semoga pada nggak takut baca ya😅.