Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Surat Peringatan dari Diamond Glow


__ADS_3

Pagi ini Fiona akan melakukan pemotretan di perusahaan Diamond Glow, karena nama nya sedang naik daun. Fiona di panggil untuk di jadikan Brand Ambassador produk kecantikan dari Diamond Glow.


"Nona Fiona, anda bisa langsung ke ruang pemotretan untuk di rias dan mengganti gaun yang sudah di sediakan di sana." Ucap salah satu karyawan Diamond Glow yang menangani pemotretan.


"Aku tidak mau melakukan photo shoot sebelum pemilik Diamond Glow ini menemuiku." Jawab nya dengan nada sombong.


Fiona duduk di sofa berwarna putih sambil menyilang kan kaki nya yang jenjang itu.


"Maaf Nona, tapi Tuan Radit sedang tidak bisa di ganggu hari ini. Nona juga sudah sepakat untuk melakukan pemotretan ini dengan Diamond Glow." Tegas Jeni selaku tim pemotretan.


"Nona, mereka sudah menunggu." Asisten Fiona ikut memberi aba-aba agar mau melakukan photo shoot.


"Diamlah, pokok nya aku ingin pemilik Diamond Glow ini segera menemuiku. Katakan pada Tuanmu itu!" Titah Fiona pada Jeni.


Jeni menghembuskan nafas nya dengan berat, repot sekali menangani Model Brand Ambassador yang sedikit angkuh.


"Baiklah Nona, saya akan coba bicara dengan Tuan Radit. Mohon tunggu sebentar." Jeni pergi dari ruangan itu. Ia berusaha memenuhi keinginan Fiona.


Tiba di lantai dimana ruangan pemilik Diamond Glow itu berada, Jeni lebih dulu mengetuk ruangan Riyan sebagai Asisten Radit. Ia tidak berani jika harus duluan mengetuk pintu ruangan Radit.


"Masuk." Jawaban dari dalam ruangan setelah Jeni mengetuk pintu.


"Maaf Pak, saya ingin mengatakan sesuatu. Boleh minta waktu nya sebentar, Pak Riyan?"


Riyan menatap aneh pada Jeni, tidak biasa nya karyawan satu ini datang ke ruangan nya. "Ada apa Jen, katakan saja." Jawab Riyan.


Jeni selangkah lebih maju ke depan meja kerja Riyan.


"Begini Pak, Model Brand Ambassador kita kali ini ingin sekali bertemu dengan Tuan Radit, Nona Fiona tidak ingin melakukan photo shoot sebelum bertemu dengan Tuan Radit. Bagaimana ini Pak?" Jelas Jeni nampak ragu.


Pria di hadapan Jeni menaikkan satu alis nya. Ia bangun dari kursi dan berdiri di tempat. "Maksud kamu, Fiona ingin Tuan Radit datang menemui nya?" Jeni pun mengangguk.


"Kamu nggak bisa bilang sama dia, kalau Tuan Radit hari ini sedang sibuk. Jadwal nya sangat padat, Jen." Riyan mencoba memberi pengertian.


Jeni pasti sudah tahu, kalau apa yang dia lakukan ini memang akan sia-sia. Tapi apa boleh buat, dia hanya mencoba melakukan yang terbaik.


"Sudah Pak, saya sudah mengatakan seperti itu. Namun Nona Fiona tetap kekeh untuk bertemu dengan Tuan Radit. Kalau tidak, photo shoot akan tertunda, Pak." Jeni semakin gelisah menyampaikan pengakuan nya.


Riyan mengusap wajah nya dengan kasar. Dia memang mengerti kalau Fiona itu memang orang yang keras kepala, tambah lagi Riyan juga tahu kalau Fiona ini memang teman Radit masa kecil dulu.


"Ya sudah, kamu boleh pergi. Saya akan coba bicarakan sama Tuan Radit." Jawab Riyan dengan pasrah.


"Baik Pak, terima kasih atas pengertian nya. Saya permisi dulu."


Jeni langsung keluar dari ruangan Riyan, pria itu masih kesal dengan hal yang membuat diri nya menambah pekerjaan dan membuang waktu saja.

__ADS_1


"Menyebalkan sekali, bisa-bisa nya Tuan Radit punya teman yang tidak punya pengertian seperti itu. Kan bisa mereka bertemu di luar kantor. Kalau begini nama nya menambah pekerjaanku saja. Huft.." Gerutu Riyan sambil melangkah keluar dari ruangan nya.


Ia masuk ke dalam ruangan Radit. Pria pemilik Diamond Glow itu sibuk berkutat dengan laptop nya. "Ada apa Riyan?" Tanya nya tanpa mengalihkan tatapan nya dari laptop.


"Maaf Tuan, saya ingin menyampaikan pesan dari tim pemotretan yang sedang berjalan hari ini. Model Brand Ambassador kita Nona Fiona, ia ingin bertemu dengan Tuan."


Radit menghentikan ketikan jari nya di keyboard laptop. "Apa maksud nya, kamu tidak lihat kalau aku sedang sibuk!"


"I-iya Tuan, saya mengerti. Tapi Nona Fiona kekeh sekali ingin bertemu dengan Tuan. Kalau tidak, Nona Fiona tidak mau melakukan pemotretan." Jelas Riyan dengan sedikit takut.


Rasa nya seperti membangunkan singa yang sedang tidur.


"Kamu mengancamku, Yan?"


"Bu-bukan saya Tuan.. Tapi Nona Fiona sendiri yang mengatakan seperti itu." Salah lagi saja Riyan mengatakan hal sejujur nya.


"Aku sedang tidak bisa di ganggu, kamu bilang saja pada nya." Radit benar-benar menampilkan keseriusan nya, kalau dia memang sedang sibuk.


"Tapi Tuan.."


"Riyan, sudah berapa lama kamu bekerja denganku?"


"S-sudah delapan tahun, Tuan."


"Masih ingin bertanya?"


Dengan cepat Riyan keluar dari ruangan Radit. Ia tidak ingin kena hukuman yang aneh-aneh lagi di saat pekerjaan nya sudah menumpuk.


Walau pekerjaan nya sedang banyak, Riyan tetap harus turun tangan sendiri dengan menemui Fiona di ruang pemotretan.


"Nona Fiona.. Saya Riyan asisten Tuan Radit ingin menyampaikan pesan. Maaf sekali Nona, kalau Tuan Radit sedang sibuk, jadi beliau tidak bisa menemui anda sekarang ini." Dengan terpaksa Riyan menahan rasa kesal nya pada Fiona.


"Ck, sesibuk apa sih dia sampai mengabaikan aku." Fiona jengah dengan semua nya.


"Ya sudah, kalau gitu saya tidak mau melakukan pemotretan. Undur saja sampai Tuanmu itu mau menemuiku sendiri." Fiona berdiri dari sofa.


"Tapi Nona.. Anda bisa mengatur waktu untuk bertemu dengan Tuan Radit tanpa harus mengundur waktu photo shoot nya. Saya akan membantu Nona untuk membuat pertemuan dengan nya." Lagi-lagi Riyan harus berusaha bersikap ramah pada Fiona.


Fiona memutar malas bola mata nya. "Aku sudah tidak ingin melakukan photo shoot lagi."


"Tapi Nona sudah menyetujui kontrak nya dengan Perusahaan kami. Jadi sebaik nya Nona menjalankan apa yang seharus nya Nona lakukan." Riyan tersenyum supaya Fiona mengerti.


"Cih, bilang saja pada Radit. Aku sudah tidak mau!! Ayo pergi." Ajak Fiona pada asisten nya.


Asisten Fiona merasa malu dengan tingkah laku atasan nya itu. Ia pun menunduk sambil mengikuti Fiona keluar dari ruang pemotretan.

__ADS_1


"Bagaimana ini Pak?" Tanya Jeni khawatir.


"Ya mau bagaimana lagi? Dia sudah pergi." Riyan tidak mau ambil pusing.


"Lalu bagaimana dengan photo shoot nya Pak, iklan nya sudah harus tayang dua hari lagi." Jeni semakin gelisah tak karuan.


"Biar kita bicarakan lagi nanti, saya akan mengurus ini dengan Tuan Radit dulu." Riyan pun pergi dan kembali ke ruangan nya.


Ia kembali mengetuk pintu ruangan Radit. "Ada apa lagi Yan? Kamu sudah bosan bekerja?"


"Maaf Tuan, saya tidak maksud mengganggu Tuan. Saya ingin mengatakan kalau Nona Fiona sudah pergi dan tidak melakukan photo shoot nya." Tanpa mengurangi rasa percaya diri yang sebenar nya Riyan juga takut, tapi ia harus tetap mengatakan apa yang telah terjadi.


"Berapa denda yang akan di kenakan karena sudah melanggar kontrak?" Tanya Radit dengan wajah datar nya.


"Denda 10 miliar Tuan" Riyan sudah hafal dengan isi kontrak mengenai Brand Ambassador.


"Berikan sanksi pada nya. Kalau besok belum juga mau melakukan photo shoot. Maka dia harus siap membayar denda nya sesuai perjanjian dalam kontrak." Jelas Radit dengan tegas tanpa rasa cemas.


"Baik Tuan."


"Oh ya Riyan, mengenai kontrak kerja sama dengan Perusahaan Max Lan yang sekarang sedang berjalan. Aku minta laporan nya bulan ini. Karena Nania sedang sakit, aku minta tolong kamu yang buat dan berikan padaku besok." Titah nya sebelum Riyan pamit pergi.


"Baik Tuan, saya akan menyiapkan laporan nya. Kalau tidak ada lagi, saya permisi Tuan."


"Hm, kamu boleh pergi."


Riyan pun keluar dari ruangan Radit. Ia bernapas lega, karena Radit tidak mempermasalahkan tentang Fiona tadi.


Sesuai permintaan Radit, Riyan membuatkan surat peringatan atau sanksi yang akan di berikan pada Fiona melalui email. Ia pun mengirimkan surat nya setelah di buat.


Asisten Mun yang membaca email masuk tersebut membelalakkan mata nya.


"Nona..Nona.. Gawat ini!!" Ia berlari ke ruang keluarga dimana Fiona duduk di sana.


"Ada apa sih Mun, berisik banget deh!!" Fiona kesal karena di ganggu. Ia pun membaca apa yang di tunjukkan asisten nya dari ponsel.


"Pihak Diamond Glow memberikan Nona surat peringatan. Kalau besok Nona tidak melakukan photo shoot, kita di suruh membayar denda karena melanggar kontrak sebesar 10 miliar, Nona." Mun panik memikirkan hal itu.


Fiona naik pitam, ia meluapkan amarah nya dengan membuang, melempar bantal-bantal di sofa ke sembarang arah.


"Aaarrgghh...!!" Teriak nya.


Terlihat sekali Fiona frustasi memikirkan Radit. "Sial-an, ini semua pasti karena wanita itu!! Tega nya Radit sampai melakukan ini padaku. Awas kamu!!" Kesal Fiona sangat marah.


Mun sampai takut melihat atasan nya itu tengah marah-marah. "Nona tenanglah.."

__ADS_1


"Diam Kau, pergi sanaaa!!!" Teriak Fiona melemparkan bantal ke arah Mun. Karena Mun takut, ia pun segera pergi dari pada harus jadi pelampiasan marah nya Fiona.


__ADS_2