Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
President Suite Room


__ADS_3

Radit tidak meninggalkan sama sekali ruangan kamar inap Nania. Di kamar itu terdapat living room, dapur, kamar mandi, satu kamar lagi terdapat kasur untuk tamu yang menunggu pasien, dan juga ada sebuah sofa bed di samping ranjang Nania. Kamar inap Nania tergolong kelas President Suite Room.


"Nana... Kenapa kamu belum sadar sayang? Ayo bangunlah.." Ingin sekali rasa nya memeluk Nania dalam keadaan sadar.


Tak lama ponsel pria itu berdering, dan ia berdiri ke dekat jendela untuk mengangkat nya.


"Halo.."


"Baiklah, aku menunggumu di kantorku besok."


Tut.. Panggilan itu sudah di matikan, detektif Gu meminta nya bertemu esok hari. Pria itu menyetujui dan menyuruh nya datang ke kantor.


Sepasang mata yang tadi terpejam beberapa jam lama nya, kini mengerjapkan pelan-pelan kelopak mata nya.


"Nana... Kamu sudah sadar sayang?"


Radit pun menekan tombol untuk memanggil Dokter ke ruangan nya. "Sayang.." Lirih nya pada sang kekasih yang masih begitu lemah.


Dokter pun datang untuk memeriksa Nania. "Kondisi pasien sudah cukup stabil, tinggal menunggu pemulihan nya saja. Pasien masih harus tetap di rawat untuk beberapa hari ke depan."


"Terima kasih Dokter." Balas Radit tanpa mengalihkan pandangan nya pada Nania.


"Baiklah, kalau gitu saya permisi dulu. Suster, tolong siapkan makan untuk pasien."


"Baik Dokter." Jawab Suster.


Setelah semua nya pergi meninggalkan ruangan Nania, Radit mendekati lagi gadis nya, ia menggenggam tangan Nania.


"Sayang.. Kamu baik-baik saja?" Begitu lembut Radit bicara pada nya. Nania hanya mengangguk, masih lemah untuk berbicara.


"Aku sangat mengkhawatirkan mu Nana, syukurlah kamu sudah sadar.." Lega sekali rasa nya melihat kekasih nya itu sudah siuman. "Jika kamu perlu sesuatu, kamu bisa langsung bilang padaku ya.."


Nania tersenyum menanggapi Radit yang selalu perhatian dengan nya.


Lain dengan seorang wanita yang mengamuk setelah mendapatkan informasi dari anak buah nya.


"Apa?!! Jadi wanita itu masih bisa di selamatkan, dan Radit terus menunggu nya?" Ketus Fiona dengan penuh amarah.


"Iya Nona, yang saya lihat memang begitu kenyataan nya." Jawab anak buah nya dengan sedikit takut.


"Kurang ajar!! Ternyata dia nggak becus membantuku, aaarrgghhh!!!!" Fiona membanting semua benda yang ada di sekitar nya.


"Terus awasi dia!!" Pinta Fiona tak ingin lepas dari usaha nya yang ingin menyingkirkan Nania.


"Baik Nona."


Dada nya naik turun pertanda emosi nya masih memuncak. Ia meraih ponsel nya dan menghubungi seseorang.


"Kamu gimana? Dia masih hidup, memang nya kamu menyingkirkan dia dengan cara apa?!" Marah nya pada wanita itu di telepon.

__ADS_1


"A-apa? Aku tidak tahu kenapa dia masih hidup, yang jelas aku sudah berusaha mencelakai nya." Jawab wanita itu dari seberang sana.


"Ah, sudahlah. Kali ini biar aku sendiri yang akan menyingkirkan nya!!"


Tut.. Panggilan di matikan dengan Fiona, ia mencengkram erat ponsel di tangan nya sambil menatap bengis ke luar jendela.


"Selama nya Radit adalah milikku!! Tidak akan ada yang bisa memiliki nya selain aku." Ia meyakinkan diri nya pada obsesi yang terlalu berlebihan.


"Sayang, telepon dari siapa?" Tanya Reyhan yang masuk ke dalam kamar menemui Dinan. "Ah, bukan siapa-siapa kok sayang. Hanya dari teman saja." Senyum Dinan kaku di depan suami nya.


"Hm,, begitu.. Ini aku bawakan sesuatu untukmu.." Reyhan memberikan sebuah makanan camilan untuk istri nya yang tengah sakit.


"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik."


"Bagaimana kakimu, apa sudah lebih baik? Besok kita ada meeting bersama Tuan Radit, jika kamu tidak bisa ikut aku bisa mengajak Devan untuk pergi bersamaku." Reyhan menanyakan Dinan sebagai salah satu orang yang menangani proyek nya bersama Radit.


"Hm, a-aku seperti nya besok akan ikut denganmu sayang. Aku bisa kok, iya aku akan jauh lebih baik besok." Jawab Dinan tidak ingin Reyhan curiga terlalu lama.


"Ya sudah, kalau gitu aku akan bekerja lagi. Kamu istirahatlah disini sampai aku selesai bekerja, nanti kita pulang bersama." Reyhan mengecup kening Dinan dan keluar dari kamar itu.


Nania tengah di suapi makan oleh Radit, pria itu begitu telaten menyuapi kekasih nya. "Sayang sekali lagi, aaa...." Dan hap, suapan bubur itu masuk ke dalam mulut manis Nania.


"Anak pintar.. He he he."


Gadis itu tersenyum melihat tingkah Radit yang menggemaskan untuk menghibur nya. "Radit terima kasih, maaf aku selalu merepotkanmu." Ucap Nania di akhir makan nya yang telah selesai.


"Sssstt.. Kamu bicara apa, aku tidak pernah merasa di repotkan denganmu Nana. Sekarang tidak usah memikirkan apapun, kamu harus segera pulih. Aku sangat merindukanmu yang ceria." Jawab nya degan senyuman.


Ia sudah menyuruh Riyan untuk mengecek ke lokasi kejadian tersebut, Radit juga sudah menceritakan kejadian yang menimpa Nania. Jangan tanyakan bagaimana tangan kanan Radit itu panik bukan main. Bahkan ia geram dengan kecelakaan yang menimpa Nania.


Riyan pun mencari tahu semua nya dengan pergi ke lokasi itu sendiri bersama tim yang lain, dan mengecek semua yang bisa menjadi bukti dari kecelakaan itu.


"Radit, aku haus. Bisa tolong berikan aku air."


Pria yang tengah melamun itu tersadar jika Nania belum minum selepas makan nya.


"Ah, iya Nana.. Maaf sayang, aku sampai lupa kalau kamu belum minum." Ia pun memberikan segelas air pada nya.


'Aku tahu kamu memikirkan kejadian yang menimpaku, kamu pria yang baik. Semoga Tuhan selalu melindungimu Radit. Aku pasrahkan semua nya pada Tuhan.' Batin Nania bermonolog.


"Terima kasih sayang." Nania tersenyum.


Radit merasa hangat di panggil sayang oleh Nania. "Aku mencintaimu, istirahatlah sayang.. Aku akan menjagamu disini." Pinta Radit.


"Hmm.. Aku tidak ingin kamu meninggalkanku. Tetaplah disini.." Nania begitu manja. "Ternyata Nanaku bisa manja juga. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang.." Radit mengecup punggung tangan nya.


Delisha yang tahu sahabat nya masuk rumah sakit karena kecelakaan, langsung meminta izin pada Linka untuk pulang lebih awal.


"Nyonya.. Saya mau minta izin untuk pulang cepat hari ini." Ucap nya pada Linka.

__ADS_1


"Loh, ini masih jam 3 Delisha, memang nya ada apa?" Linka sedikit heran menatap karyawan nya ini.


"Hm, i-itu.. Teman saya masuk rumah sakit, saya begitu khawatir dengan keadaan nya Nyonya. Jika di perbolehkan saya minta pulang lebih awal." Ia berharap di izinkan oleh Linka.


"Ya Tuhan, ya sudah Delisha.. Kamu boleh pulang sekarang, semoga temanmu cepat sembuh ya.." Jawab Linka dengan lembut.


Wanita yang sudah berumur ini memang baik hati nya, Delisha pun mengangguk dan berterima kasih pada Linka. Ia segera pulang untuk menemui sahabat nya.


Sebelum nya ia sudah berjanjian lebih dulu dengan Riyan, karena pria itu akan mengantarkan nya ke rumah sakit bersama nya.


"Mas, aku sudah di perbolehkan pulang cepat. Aku harus kemana, apa aku ke rumah sakit duluan saja?" Tanya Delisha pada Riyan di telepon.


"Jangan Baby.. Aku jemput kamu sekarang ya,, Aku juga lagi di luar kok. Kamu tunggu aku ya, aku tidak akan lama." Riyan melajukan mobil nya menuju butik tempat Delisha bekerja.


"Iya Mas, hati-hati yaa.."


Begitu adem rasa nya mendengar suara dari pujaan hati nya. Ketika Riyan sudah sampai, mereka pun pergi ke rumah sakit bersama. Riyan sebelum nya sudah membereskan pekerjaan kantor nya lebih dulu sebelum keluar dari kantor.


Riyan adalah orang yang cekatan, dan tidak suka bekerja lama. Itulah mengapa Radit sangat suka dengan kerja nya.


"Sudah sampai.. Ayo kita masuk Baby.."


"Ayo Mas,, aku sudah tidak sabar ingin menemui Nania." Delisha turun dan masuk ke dalam rumah sakit.


Tok.. Tok.. Tok..


Riyan dan Delisha masuk ke dalam kamar inap Nania. Mata Delisha di buat kagum dengan kemewahan kamar yang di pakai Nania sekarang ini.


Radit sudah tidak heran lagi jika Delisha datang bersama Riyan. Karena ia sudah feeling jika Riyan memang mengincar sahabat nya Nania.


"Naniaaa...." Teriak Delisha dan menghampiri sahabat nya.


"Delishaa.." Nania ikut senang melihat sahabat nya di sini. "Kamu jahat... Tidak memberitahu aku kalau kamu ada disini. Hiks..." Delisha menangis melihat kondisi sahabat nya.


"Maaf, aku belum sempat mengabarimu. Sudahlah, jangan menangis.. Aku baik-baik saja." Nania tersenyum pada nya.


Radit melihat kedua gadis itu saling berkomunikasi mengulas senyum di bibir nya. Ia duduk bersama Riyan di sofa.


"Ternyata incaranmu memang tidak salah.." Ucap Radit dan Riyan pun paham. "He he he.. Ini semua murni Tuan, tanpa rekayasa."


"Maksudmu?" Radit menatap sinis pada Riyan.


"Ehm.. Maksud saya, ini murni perjalanan cinta dari Tuhan untuk saya, Tuan." Ia menyengir kuda pada atasan nya.


"Jadi maksudmu, perjalanan cinta saya tidak murni gitu?" Ia menatap tajam pada Riyan. "Bukan Tuan, saya tidak mengatakan itu."


"Sudahlah, kita pindah bicara di depan saja. Biarkan mereka berdua dulu." Ajak Radit dan Riyan mengekor di belakang nya.


Radit dan Riyan duduk di living room dalam ruangan President suite.

__ADS_1


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan hasil nya?" Tanya nya begitu serius.


"Saya tadi sudah melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian Tuan bersama tim yang lain. Tapi sayang nya tempat itu sama sekali tidak ada Cctv. Maka agak sulit menemukan bukti apa ini murni kecelakaan atau memang ada yang sengaja mencelakai Nania." Jawab Riyan dengan detail.


__ADS_2