Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tiga Juta Untuk Yang Satu Ini


__ADS_3

Selesai mengisi air di bath tub Nania, keluar dari kamar mandi. Ia kembali terkejut lagi karena Radit sudah ada di dalam kamar nya.


"Tuan, air nya sudah siap. Kalau gitu saya permisi dulu." Nania mengalihkan pandangan nya dari Radit yang duduk di sofa.


"Tunggu! Mulai sekarang aku akan tinggal disini. Jadi, di sini atau di kantor. Kerjakan tugasmu sebagai Sekertaris yang melayaniku kapan pun aku butuh sesuatu."


'Kenapa dia harus tinggal disini, kalau begini caranya. Aku akan jadi canggung terus berada di dekatnya. Ya Tuhan...' Batin Nania meraung.


"Tapi Tuan, jika bukan di kantor. Saya ini bukan Sekertaris, Tuan Radit." Jawab Nania dengan senyum terpaksanya.


Pria itu bangkit dengan cepat menghampiri Nania. Tentu saja gadis itu merasa takut Tuannya akan semena-mena lagi pada nya.


"Aku akan membayar bonus tambahan untukmu, puas!! Jadi turuti perintahku, aku tidak suka di bantah. Jika memang kamu masih ingin bekerja denganku."


Radit menatap Nania dengan tatapan yang sangat tajam dan intens. Ketampanan nya tidak pernah meleset, baik dalam keadaan lembut atau dingin. Ia memang sangat tampan.


"I-iya Tuan, saya akan melakukan semua perintah anda." Balas Nania tidak mau ambil pusing.


Lalu Radit masuk ke dalam kamar mandinya, meninggalkan Nania yang masih berdiri di kamar nya.


"Dasar pria aneh, dingin, dan suka seenak nya saja!! Tadi dia melakukan hal yang sangat tidak sopan padaku, sekarang dia memerintah dengan seenaknya lagi. Huh, tapi tidak apa-apa jika ada uang bonusnya. Itu bisa aku gunakan untuk mencicil hutangku padanya."


Nania kembali ke kamarnya ia juga membersihkan dirinya. Sedangkan pria yang sedang berendam di bath tub mengulas senyum sendirian. Ia memegangi bibir nya sambil membayangkan situasi dimana ia sudah mencium Nania lagi.


"Kenapa aku bisa tergoda hanya dengan melihatnya saja. Cih, pasti pria beristri yang pernah dekat dengan nya juga tergoda padanya. Apa dia memang penggoda, hanya dia pandai menutupinya saja. Buktinya ia tidak menolak saat aku menciumnya, ck."


Pria tampan ini berdecih dan mendecak kesal memikirkan sendiri atas ulahnya. Setelah mereka menyelesaikan ritual mandinya masing-masing.


Nania sudah berada di dapur memasak makan malam untuknya dan Radit. Ia memasak nasi goreng saja, karena tidak ada bahan-bahan di dalam kulkas.


"Kamu sedang apa?"


"Hm, saya sedang membuat nasi goreng untuk makan malam, Tuan."


Radit datang membuka kulkas mengambil sebotol air mineral dan ia menenggaknya. "Apa hanya itu yang kamu masak?" Tanyanya.


"Ya Tuan, kebetulan bahan di kulkas habis, jadi saya memasak nasi goreng saja. Tidak apa kan Tuan jika saya memakai dapur ini untuk memasak sehari-hari?"


Nania menuang nasi goreng di dua piring yang ia letakan di meja dan, menambahkan telur mata sapi di atasnya, juga irisan tomat dan timun.


"Tidak masalah, jika memang kamu ingin memakai dapur ini."


"Terima kasih Tuan, ini nasi gorengnya. Silahkan di cicipin Tuan." Ia menyodorkan nasi goreng pada Radit yang masih berdiri dekat meja mini bar di dapur itu.


Niatnya Radit tidak ingin makan malam, karena perutnya tidak terasa lapar sehabis minum wine. Tapi bau masakan yang keluar dari nasi goreng itu membuat perutnya lapar.


Mereka pun makan malam bersama di meja mini bar dalam dapur itu, bukan di ruang makan. Nania tersenyum kala Radit memakan habis nasi goreng buatannya.


"Sini, biar saya bereskan Tuan."

__ADS_1


Ia mengambil bekas piring itu dan membersihkannya.


"Setelah itu kita pergi ke supermarket di bawah dekat gedung ini."


"Iya Tuan."


Akhirnya mereka sampai di sebuah supermarket yang cukup besar dan sangat lengkap. Supermarket yang letaknya di samping gedung apartemen mereka tinggal. Jadi mereka tidak perlu menggunakan mobil.


Nania mengenakan hoodie oversize berwarna putih dan celana jeans pendek di atas lutut hingga tertutup dengan hoodie nya. Sama hal nya dengan Radit yang juga memakai hoodie hitam dan celana cinos berwarna army. Selera berpakaian mereka sepertinya cukup sama jika di luar kantor.


"Tuan, kita ingin membeli apa disini?" Tanya Nania sambil mendorong troley di tangannya.


"Beli semua bahan yang kita perlukan untuk memasak di apartemen." Ucap Radit sambil mengambil tiga kotak juice berukuran 900ml itu dan memasukannya ke dalam troley.


"Tapi ini semua Tuan yang bayar kan?"


Pertanyaan Nania membuat Radit menoleh ke arahnya. "Maksudmu aku kesini ingin minta di bayari olehmu?"


"Bu-bukan Tuan. Maksud saya.."


"Sudah cepat sana kamu pilih apa yang di perlukan untuk memasak!"


"Iya Tuan."


Nania berkeliling membawa troley nya untuk mengambil semua bahan yang di perlukan. Ia mengambil beberapa daging segar, ayam, dan juga ikan.


Gadis itu juga mengambil beberapa sayuran, lotus, wortel, kentang, brokoli, dan lainnya. Tidak lupa Nania mengambil beberapa botol kecap, saus, mayonaise, thousand island, minyak wijen, semua dia ambil tanpa ragu.


Ketika ingin mengambil sekotak pasta dan makaroni, tidak sengaja ada pria yang menabraknya.


Brughh!!


Produk-produl yang di pegang pria itu dan Nania jatuh ke lantai. "Maaf.. Maaf.. Saya tidak sengaja. Ini belanjaan anda." Nania membereskan kotak-kotak belanjaan pria itu dan memberikannya.


"Kamu..." Ucap Devano melihat Nania.


"Ya?"


"Kamu yang di danau waktu itu kan? Kita bertemu lagi. Apa kita berjodoh?" Devano membuat Nania mengerutkan keningnya.


Devan begitu senang melihat gadis ini lagi yang sangat membuat hatinya penasaran. Tanpa di sadari. Sepasang mata Radit memperhatikan Nania dari jauh.


"Cih, dia memang wanita penggoda. Lihat saja nanti!" Ucap Radit menatap tajam Nania.


"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu. Ini belanjaanmu." Nania memberikan belanjaan itu pada Devan, pria itu menerimanya dan memasukan ke dalam troley miliknya.


"Kalau boleh tahu siapa namamu?"


"Aku Nania.." Akhirnya Nania menyambut uluran tangan Devan. Ia tidak enak jika harus pergi begitu saja.

__ADS_1


"Aku Devan.. Apa kamu sendiri kesini?" Tanyanya.


"Tidak, aku bersama dengan seseorang kesini. Kalau gitu aku permisi dulu." Nania ingin pergi, ia tidak ingin Radit menunggunya lama.


"Hmm..Nania, boleh aku minta nomor ponselmu?" Gadis itu langsung terdiam. "Baiklah jika tidak boleh. Ini kartu namaku, aku sangat senang jika kamu bisa menghubungiku. Kita bisa berteman."


Senyum Devan sangat mempesona sekali, jujur saja Nania kagum dengan sikap kelembutan Devan dan juga ketampanan nya yang tidak kalah dari Radit.


"Aku mengambilnya, permisi."


Nania tidak ingin semakin lama, ia mengambil kartu nama milik Devan dan menaruhnya di dalam kantong hoodie. Devan mengulas senyum saat kepergian Nania.


Radit dan Nania sudah sampai di apartemen nya lagi. Gadis itu pergi ke dapur untuk menata semua belanjaannya.


Pria tampan yang sedari tadi menahan amarahnya, terus memperhatikan Nania diam-diam. Apa seorang Radit sedang cemburu dengan Nania? Sepertinya begitu kenyataannya.


Nania menyusun sebagian belanjaannya di kulkas dan di lemari penyimpanan. Radit menghampiri gadis itu yang terlihat sedang bahagia tanpa beban.


Sebenarnya Nania tengah bahagia karena sudah resmi menjadi Sekertaris di Perusahaan Radit, tapi pria itu salah mengartikan raut kebahagiaan, Nania.


"Tuan, anda disini, apa Tuan perlu sesuatu?" Tanya nya dengan sangat ramah dan tersenyum.


"Cih, bahagia sekali dirimu."


Nania menahan senyumnya, Radit malah semakin kesal dengan gadis di hadapan nya. Di gendong nya Nania bak anak kecil dan pria itu meletakan tubuh Nania di atas meja mini bar dalam dapur itu.


"T-tuan.." Nania ketakutan.


Tatapan Radit sangat berbeda, baru saja Radit ingin percaya jika Nania bukanlah wanita penggoda. Namun ia kembali urungkan kepercayaan itu.


"Sepertinya aku mempunyai Sekertaris yang profesinya tidak hanya itu saja, tapi dia juga wanita penggoda yang menggoda pria di luar sana!"


Perkataan Radit yang menatap dirinya bagaikan anak panah yang melesat di dadanya. Terasa sakit dan menyesakan dada.


"A-apa maksud Tuan?" Lirih Nania melemah.


"Baiklah, anggap saja Tiga Juta untuk yang satu ini!"


Kekesalan Radit semakin menjadi, ia menarik tengkuk Nania dan mencium nya dengan sedikit nafsu dan kasar. Pria itu terus melu**matnya, Nania berusaha mendorong Radit yang menciumnya dengan paksa. Cukup lama, akhirnya Radit melepaskan bibirnya.


Tangan Nania mulai bergetar, ia menahan sesak di dadanya. Bisa-bisanya Radit mengatakan hal itu padanya.


"Tuan!" Bentak Nania.


Ia ingin sekali marah dan menampar pria di depannya.


"Satu lagi!" Ucap Radit.


Mendapat bentakan dari Nania, Radit semakin gencar menjadi-jadi. Ia memgangi tangan Nania dengan satu tangannya. Satu tangannya lagi memegangi rahang tirus milik gadis itu. Pria yang sedang di landa amarah itu kembali memagut bibir manis Nania.

__ADS_1


Nania ingin berontak tapi tidak bisa, posisi Nania yang duduk di atas meja, dan Radit berdiri tepat di hadapannya. Membuat ia susah melepaskan diri.


Setelah puas mencium gadis itu sekedar memberi pelajaran. Entah pelajaran apa yang di maksud Radit sampai ia begitu marah.


__ADS_2