Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bintang Yang Paling Terang


__ADS_3

Nania ikut memimpin meeting siang ini bersama Riyan dan Delisha, di karenakan Radit belum juga kembali ke kantornya.


"Pak Riyan, dalam perkembangan produk skincare di wilayah Bandung meningkat 70% dari biasanya. Saya sarankan untuk bagian produksi kita lemburkan di hari sabtu dan minggu." Usul salah satu rekan kerja di dalam rapat mereka.


"Iya benar Pak, tidak hanya di Kota Bandung saja. Bahkan di Kota Surabaya juga produk kita meningkat 40% dari biasanya. Saya merasa kita akan keteteran di bagian produksi." Jawab rekan yang satunya.


"Emm begini Pak, Bu. Boleh saya bicara. Bagaimana, kalau kita menambah beberapa pekerja harian sementara untuk mempercepat bagian produksi. Karena saya rasa, jika hanya menambah jam kerja saja di hari libur itu mungkin masih kurang." Delisha memberanikan diri berbicara.


Memberikan saran dan kritik dalam meeting itu hal yang biasa di lakukan oleh semua rekan kerja. Selain membangun inovasi, hal itu bisa membantu untuk mencapai tujuan.


"Baik, saya akan membicarakan laporan dan pendapat kalian dengan Tuan Radit lebih dulu. Kita akan meeting kembali di hari Jum'at. Sekarang kita bahas ke bagian pemasaran." Ucap Riyan dengan penuh wibawa.


Delisha selalu memperhatikan kekasihnya itu yang tampan dan menawan saat memimpin rapat. Nania juga tak kalah cerdasnya jika memberikan saran di saat meeting.


"Nania, ini giliran kamu." Ucap Riyan untuk menyerahkan sisa meetingnya pada Nania. Gadis itu tentu menerimanya dengan senang hati.


"Baik, sekarang mari kita bahas soal pemasaran produk. Dari sekian laporan yang kami terima, terutama dari berbagai Kota di Indonesia juga beberapa Negara yang mengekspor produk Diamond Glow.


Produk kita sukses membuat jutaan wajah di Indonesia dan beberapa Negara berhasil menuju impian mereka dan di sukai oleh mereka semua." Jelas Nania panjang lebar.


"Saya yakin Diamond Glow pasti bisa lebih maju dan berkembang lagi dengan kerja sama kita semua." Begitulah kalimat akhir yang di sampaikan Nania dalam meetingnya.


Semua rekan kerja yang berada di ruangan itu tepuk tangan atas kesuksesan mereka semua dalam bekerja dengan baik selama ini.


Selesai meeting Nania mendapati Radit sudah duduk di kursi kebesarannya. Ia masuk untuk menemuinya.


"Selamat sore Tuan, saya ingin membawakan laporan hasil meeting siang tadi." Nania menyerahkan salinan berkas yang sudah ia siapkan setelah meeting.


"Ya terima kasih Nana. Kamu sudah bekerja keras hari ini, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" Ajak Radit dengan senyum mengembangnya.


"Ke suatu tempat, maksud Tuan?" Nania masih tidak mengerti. "Sudah kamu ikut saja, sekarang juga kamu berkemas. Kita akan segera berangkat!" Titahnya dengan semangat.


"Baik Tuan, kalau gitu saya permisi dulu."


Nania mendengarkan semua permintaan Radit, ia berkemas memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Lalu mengikuti Radit untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Mas, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Nania yang sudah berada di dalam mobil Radit.


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan saja Nana. Memangnya tidak boleh?" Pria itu begitu santai dan menikmati perjalanannya bersama Nania.


"Bukan begitu Mas, aku hanya bertanya saja."


"Nanti kamu juga akan tahu Nana." Jawab Radit dengan senyum bahagianya.


Jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Reyhan teringat akan Serra yang sedang di hukum olehnya. Rey memutuskan pergi ke atas, untuk melihat Serra masih di sana atau sudah pulang.

__ADS_1


"Kemana dia, apa dia sudah pulang? Untuk apa juga aku kesini, palingan juga dia sudah turun sejak tadi." Gumam Rey melihat sekitar rooftop tidak menemukan Serra.


Tapi ketika dirinya hendak kembali, ia melihat sepatu putih di balik kursi taman.


"Serra!!!"


Rey langsung berlari menghampiri Serra yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri. "Serra bangun, Se!!" Ia menepuk berkali-kali pipi gadis itu.


Merasa tidak ada respon, Rey segera menggendong dan membawa Serra ke ruang kerjanya.


Setelah menelpon Dokter yang akan datang ke kantornya. Rey memandang khawatir ke arah Serra yang terbaring di sofanya.


"Apa aku sudah keterlaluan ya?" Ucap Rey merasa kelewatan.


Menunggu sekitar lima belas menit, Dokter yang di panggil Rey pun datang dan langsung memeriksa Serra.


"Rey, dia hanya kelelahan, dan belum mengkonsumsi makanan. Tubuhnya menjadi lemas dan sekarang butuh asupan juga vitamin. Aku akan memberikannya vitamin. Jika dia sudah sadar, suruh dia segera makan ya, Rey." Ucap Dokter Lena, yang memang teman Reyhan.


"Thanks ya Len." Jawab Rey singkat.


"Tapi bukannya dia hanya___" Lena tak berani meneruskan perkataannya. Takut menyinggung Reyhan, karena Lena melihat seragam yang di pakai Serra.


"Ya Len, dia office girl di kantor ini. Ada masalah kecil yang malah berujung dia jadi pingsan. Makanya aku bawa kesini buat di periksa sama kamu." Rey menjelaskan dengan apa adanya.


"Nggak apa Len, aku dan Dinan baru saja bercerai."


"Ya ampun Rey, aku baru tahu soal ini. Maaf ya" Lena malah semakin tidak enak hati, karena jadi tahu persoalan rumah tangga Reyhan dan Dinan.


"Don't worry Lena."


"Ya sudah Rey, aku harus pamit dulu. Soalnya aku masih ada pasien." Pamit Lena dan Reyhan mengantarnya sampai ke depan ruangan.


Begitu kembali ke ruang kerjanya. Rey melihat Serra mengerjapkan matanya. "Kamu sudah sadar?" Tanyanya sambil menghampiri gadis itu.


"P-pak Reyhan, kok saya bisa di ruangan Bapak?" Serra langsung terduduk dan hendak berdiri. "Em, kamu duduk dulu." Titah Rey dengan nada datarnya.


Rey menceritakan kalau Serra sempat pingsan di atas. "Jadi saya tadi pingsan, maaf ya Pak. Saya jadi merepotkan Bapak lagi, kalau begitu saya permisi dulu Pak." Serra tidak ingin berlama-lama dengan Reyhan.


Entah kenapa setiap di dekatnya, jantung Serra berdetak tak karuan. Ia mendadak suka gugup, dan cemas.


"Siapa yang suruh kamu keluar? Duduk!!" Rey tak membiarkan Serra pergi. Gadis itu tentu takut, dan langsung duduk kembali di sofa.


"Tapi Pak,___"


"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!!" Titah Rey seperti tidak main-main.

__ADS_1


Mobil Radit berhenti di sebuah tempat kuliner, di mana banyak para pedagang makanan yang berbaris dengan nama yang berbeda-beda.


"Ini tempat kuliner Mas, apa Mas Radit ingin makan sesuatu di sini?" Tanya Nania memperhatikan beberapa pedagang makanan dari dalam mobil.


"Iya, kita turun yuk! Kamu pasti ada yang mau di makan juga di sini." Keduanya turun, Radit menggenggam tangan Nania. Membuat Nania merasa ada sengatan listrik di dalam tubuhnya.


Ia tersenyum kaku menatap Radit yang terus menggenggam tangannya sambil berjalan. "Ya Tuhan, kenapa rasanya jantung aku mau copot?" Batin Nania meronta.


"Mas apa sudah pernah ke sini?" Tanya Nania penasaran. Karena ia tidak pernah melihat Radit makan di pinggir jalan.


"Belum pernah."


"Loh, terus kenapa Mas Radit ingin kesini? Apa Mas yakin bisa makan di tempat seperti ini?" Nania merasa tidak yakin.


"Kok kamu seperti meragukan aku, apa ada peraturan khusus untuk orang yang makan di sini? Apa aku tidak boleh makan di sini, aku kan sama seperti mereka." Radit menunjuk ke semua orang yang berada di tempat itu.


Nania terkekeh pelan, ia baru kali ini melihat Radit bertingkah sangat menggemaskan.


"Kok kamu malah ketawa, apa ada yang salah sama aku?" Pria itu menautkan kedua alisnya ke atas.


"Nggak ada kok Mas. Tidak ada peraturan khusus juga di sini. Ini umum untuk semua orang. Di sana ada tukang sate padang, gimana kalau kita coba makan di sana?" Nania menunjuk gerobak sate padang yang sedang mengebul asapnya.


Sepasang kekasih itu menikmati makanan yang mereka pesan. Radit dan Nania duduk di lesehan yang tersedia di sana.


"Gimana Mas, enak kan satenya?"


"Hmm, lumayan. Nilainya 8/10" Tapi setelah itu Radit memakannya dengan lahap. Ia seperti menemukan rasa baru di tempat itu.


Setelah makan, Nania dan Radit duduk di sebuah taman. Ada air mancur yang menjadi pemanis dan pusat perhatian taman itu.


"Nana.."


"Ya Mas,"


"Jika langit selalu merindukan bintang di malam hari, apa bintang itu akan tetap bersinar dan tidak akan pergi?" Ucap Radit sambil menatap ke atas langit.


Nania menatap wajah tampan yang damai di sampingnya. Ia memperhatikan hidung, dan juga mata indah pria itu yang melihat ke atas.


"Bintang mana yang langit selalu ingin dia bersinar dan tidak pergi?" Jawab Nania pelan tanpa mengalihkan pandangannya di wajah Radit.


Pria itu mendengar lalu menoleh, tatapan keduanya pun bertemu. "Bintang yang paling terang." Ucap Radit lagi, yang tatapannya semakin dalam menatap wajah Nania. Terutama bagian mata milik Nania.


Tangannya bergerak menyentuh pipi kanan Nania, "Apa Bintang itu akan selalu setia menghiasi langit?" Tanya Radit penuh makna.


Hati mereka seakan saling bicara. Gelora asmara yang tak pernah bisa di bohongi. Tubuh Nania merasakan sesuatu yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2