Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tak Lepas Dari Tatapan Radit


__ADS_3

Begitu sampai di parkiran perusahaan Diamond Glow. Mobil Radit berhenti di tempat khusus untuk nya. Ia turun dan membantu Nania berjalan.


"T-tuan, saya bisa jalan sendiri kok." Ia malu terhadap karyawan nanti nya bila melihat Radit membantu nya berjalan.


"Tidak apa-apa.. Jangan pedulikan mereka, lagian kita langsung masuk lift khusus kok."


Akhir nya Nania berjalan di bantu dengan Radit sampai di depan ruangan CEO. Tak lama Delisha dan Riyan pun tiba di sana.


"Selamat bekerja cantik." Ucap Delisha mengedipkan mata nya sebelum masuk ke ruangan Riyan.


"Jadi benar, Delisha sekarang bekerja jadi asisten nya Riyan, ini pasti Riyan yang mau." Gumam Nania sudah tidak heran dengan Riyan.


Devan memasuki ruangan Reyhan, ia sebelum nya sudah mengetuk pintu terlebih dulu.


"Devan, ada apa?"


"Ah, begini Kak. Bukan kah hari ini Kak Reyhan ada meeting bersama dengan perusahaan Diamond Glow. Bagaimana kalau aku ikut bersama Kak Reyhan. Kata nya Kakak Ipar tidak ikut ya?" Ini kesempatan untuk Devan bisa melihat Nania.


"Iya kamu benar Dev, siang ini kita ada meeting dengan Diamond Glow. Kalau kamu mau ikut boleh, nanti bareng saja dengan Kakak." Jawab Reyhan yang duduk di kursi kebesaran nya.


"Baiklah Kak, aku ikut denganmu nanti siang. Sama ini, aku ingin memberikan laporan keuangan bulan kemarin." Devan menyodorkan map berisi laporan yang di buat nya.


"Okay Dev, thanks."


"Iya Kak, aku keluar dulu ya."


Devan keluar dari ruangan Reyhan, wajah nya begitu senang. "Semoga saja Nania ada di sana nanti saat meeting." Ucap nya seraya berharap.


Yanti mencoba memberanikan diri menelpon Nania. Ia senang karena panggilan itu di angkat putri nya.


"Halo Nania... Bagaimana kabarmu?" Ucap nya di telepon.


"Ibu,, aku baik-baik saja. Kabar Ibu bagaimana?"


"Ibu baik-baik saja. Syukurlah kalau kamu sudah sembuh Nak."


"Loh, ibu tahu kalau aku sakit?" Di seberang sana Nania merasa kalau Ibu nya tidak tahu jika dia sakit. "Ibu sempat menjenguk kamu Nania waktu di rumah sakit. Syukurlah kalau kamu sudah sembuh Nak."


"Ah begitu ya bu, maaf Nania tidak begitu ingat."


"Tidak apa-apa Nania.. Banyak-banyak lah makan buah dan sayuran ya"


"Ya baik Bu, terima kasih. Kalau gitu Nania tutup dulu telepon nya, karena ini masih kerja Bu." Pamit Nania pada Yanti dengan sopan.


"Iya Nania, Ibu mengerti. Hati-hati, jaga diri kamu ya Nania."


"Iya Bu."


Panggilan itu pun berakhir, entah kenapa Yanti merasa senang. Berbeda saat ia bertemu dengan Dinan yang selalu bersikap angkuh terhadap nya.


Saat jam makan siang tiba, Nania di suruh ke ruangan Radit. Gadis itu pun menghampiri nya ke dalam. "Tuan, anda memanggil saya?" Tanya nya dengan ramah dan senyum.


Jalan Nania masih sedikit tertatih, namun gadis itu mencoba tetap kuat dan melawan rasa sakit nya.

__ADS_1


"Kemarilah, duduk di sini." Radit menepuk sisi sofa yang kosong di sebelah nya.


Nania mendekati pria itu dan duduk di sebelah nya. Bagi nya ini bukan hal yang harus di anggap serius, karena seperti biasa yang ia ingat, kalau Radit adalah atasan yang tidak suka di bantah dan selalu se'enak nya saja.


"Ada apa Tuan?"


"Ayo kita makan siang bersama, aku sudah memesan makanan ini untuk kita makan siang bersama."


Radit membuka satu persatu box yang menghidangkan beberapa jenis makanan ala chinese. Terdapat sayuran dan juga buah-buahan yang segar di sana siap untuk di santap.


"Wahh, ini terlalu banyak Tuan. Ini terlalu merepotkan, saya bisa makan di kantin saja kok Tuan."


"Hm, no no no! Aku tidak mau mendengar alasan apapun, yang aku minta kita makan siang bersama di sini. Kalau kamu ke kantin, itu terlalu jauh dan banyak membuang energimu." Celetuk Radit tak mau kalah.


Sejenak Nania menghela nafas nya pelan. Pria di samping nya ini memang keras kepala sekali. Tapi apa boleh buat, perut nya pun sudah terasa lapar. Ia menyetujui nya.


"Baik Tuan, terima kasih banyak. Sungguh makanan ini banyak sekali, apa tidak kebanyakan untuk berdua saja Tuan?" Sekali lagi Nania bertanya, yang ia lihat seperti nya untuk porsi empat orang.


"Kamu makan saja, kamu harus makan banyak. Ayo kita mulai makan nya. Pilih saja apa yang kamu mau, dan jangan sungkan-sungkan Nana." Perintah nya sebelum memulai makan. Nania mengangguk dan mulai mengambil beberapa makanan nya.


Radit ikut senang melihat kekasih nya itu makan dengan lahap.


"Ini enak sekali Tuan." Puji Nania pada makan siang nya.


"Hmm, nikmatilah makananmu." Jawab Radit tersenyum.


"Saya bisa gendut jika makan sebanyak ini Tuan." Nania terkekeh pelan di sela makan nya.


"Tidak masalah kamu gendut, aku tetap suka." Radit menyeplos sambil makan. "Ya Tuan?" Nania tidak salah dengar kan, tadi Radit bilang tetap suka pada nya.


Ternyata Radit masih saja suka gengsi dalam keadaan seperti ini.


Setelah usai jam makan siang, Nania kembali bekerja seperti biasa nya, ia menyusun laporan dan bahan materi yang akan di lakukan meeting siang ini pada perusahaan Max Lan.


Radit keluar dari ruangan nya menjumpai Nania. "Nana siang ini ada meeting dengan perusahaan Max Lan, kamu tidak perlu ikut. Biar aku saja dan Riyan yang ikut meeting."


"Saya ikut saja Tuan, saya sudah mempelajari materi nya. Masih ada waktu setengah jam lagi, dan ini Tuan bahan untuk meeting nanti." Nania berdiri dan menyerahkan nya pada Radit.


"Hm ya sudah kalau kamu bersih keras ingin ikut." Radit menerima map itu dan masuk lagi ke dalam ruangan nya.


Meeting di mulai, semua rekan-rekan Diamond Glow yang bersangkutan dengan meeting itu sudah hadir. Termasuk Delisha, dan Nania yang ikut serta di sana. Radit memasuki ruangan meeting bersama Riyan.


Ia duduk di kursi paling ujung sebagai pemimpin dalam rapat kali ini. Reyhan datang bersama dengan Devan dan juga sekertaris nya.


Para Kolega Diamond Glow menyambut nya dengan ramah. Manik mata Devan tak lepas dari wajah cantik Nania.


Tentu saja tatapan itu di sadari oleh Radit, pria itu mengepalkan erat tangan nya. "Kenapa juga pria itu ada di meeting ini sih." Gumam Radit dalam hati nya.


Kedua belah pihak yang sudah menjalin kerja sama itu saling bersalaman. Dan kebetulan Devan duduk di hadapan Nania. Tatapan Devan benar-benar memberikan guratan khawatir dan bertanya-tanya.


Tapi Nania hanya tersenyum biasa saja.


"Baik, selamat siang semua nya. Kalau gitu kita mulai saja meeting ini, Riyan silahkan." Titah Radit pada Riyan untuk menyalakan mesin proyektor nya.

__ADS_1


"Perkembangan penjualan produk kita cukup pesat di bulan ini, bahkan banyak dari berbagai manca Negara meminta produk kita untuk sampai di Negara nya. Bukan kah ini sebuah keberuntungan kita, tidak perlu repot-repot mempromosikan nya ke berbagai Negara.


Tapi Negara itu sendiri yang sudah meminta duluan. Dalam meeting ini, kita akan bahasa mengenai pembagian, tentu nya Perusahaan Max Lan sebagai pemegang saham di produk ini. Akan ikut dalam pembagian prosedur kali ini." Jelas Radit, dan menanyakan kejelasan nya.


"Bagaimana Tuan Reyhan, apa anda bersedia?"


"Tidak masalah, mari kita bahas lebih dulu tentu nya." Jawab Reyhan dengan ramah.


"Diamond Glow akan membuat pabrik pembuatan khusus essence di Korea. Karena di sana sudah ada tempat dan tinggal menjalankan produksi nya. Kami meminta sebagian dari Perusahaan Max Lan ikut berkontribusi mengenai hal ini."


"Baik Tuan Radit, ini tentu tidak masalah. Karena ini bisa sangat menguntungkan kedua belah pihak. Saya akan mengarahkan beberapa karyawan saya untuk berkontribusi di pabrik anda yang ada di Korea."


"Nanti produk yang akan di jalankan di Korea, itu adalah produk-produk khusus di kirim ke manca Negara, ya salah satu nya. Brazil, Italia, Swiss, dan masih banyak lagi. Karena di Korea saya sudah mendapatkan izin untuk mengoperasikan hal tersebut. Jadi pasti nya akan lebih mudah." Jelas Radit lagi dengan penuh wibawa nya.


Jangan lupakan tatapan nya yang terus memperhatikan Nania dan pria di hadapan gadis itu.


"Baik Tuan Radit saya setuju. Mengenai anggaran nya bagaimana?" Tanya Reyhan lagi.


Nania pun mengeluarkan map nya, ia memberikan pada Riyan dan asisten Radit itu menjelaskan dengan rinci.


Devan sebagai pemegang keuangan di Perusahaan Max Lan mendengarkan nya secara detail.


"Baik, saya rasa itu cukup masuk akal, dan tidak ada masalah. Semoga kerja sama ini semakin maju." Jawab Devan menyetujui anggaran yang akan di keluarkan bulan ini.


'Cih, sok bijak sekali di bicara nya.' Sorak Radit dalam hati nya.


"Okay, saya rasa cukup meeting kita kali ini. Pembahasan sudah selesai, kita juga sudah sepakat dan semoga project ini selalu menjadi Top Brand di berbagai Negara." Harapan baik di sampaikan oleh Radit.


"Saya harap juga begitu Tuan. Terima kasih banyak Tuan Radit, kalau begitu saya permisi dulu." Reyhan bersalaman dengan Radit.


Cukup lama rapat mereka kali ini, dua jam lama nya hingga sekarang pukul 4 sore. Itu arti nya sebentar lagi jam kerja mereka telah selesai.


Ketika semua Kolega telah keluar, Nania keluar di bantu dengan Delisha. Ternyata Devan menunggu nya di depan pintu ruang rapat.


"Nania.." Tegur Devan.


"Ya?"


"Nania kamu gimana kabar nya? Kaki kamu kenapa?" Tanya Devan yang sudah khawatir. Delisha mengerutkan kening nya. Ia berbisik pada Nania.


"Kamu kenal Pria ini Nan?" Nania dengan cepat menggeleng.


"Maaf, apa kita sudah saling mengenal?" Ternyata Nania tidak mengingat Devan. "A-aku Devan, tetangga kamu yang tinggal di apartemen lantai 19." Ia masih tidak percaya dengan sikap Nania.


"Benarkah, tapi maaf. Aku tidak ingat, kalau kamu tetanggaku." Jawab nya dengan canggung.


"Maaf kami permisi dulu." Delisha memotong pembicaraan mereka. Ia tidak mau kalau Radit sampai mengetahui nya, karena pria itu masih ada di dalam ruang rapat.


"Tapi Nania,,, Nania tunggu__" Devan mendengus kesal. Tapi ia pasrah, dan tidak mau memaksa.


"Kenapa Nania jadi lupa sama aku, apa jangan-jangan benar yang di katakan Kak Reyhan itu, adalah Nania ini. Nggak mungkin, ini nggak mungkin." Devan terus berperang dalam pikiran nya, ia pun pergi meninggalkan tempat meeting.


Di balik kaca ruangan itu, Radit sudah mengepalkan tangan nya, ia sudah geram sedari tadi. Tapi berusaha menahan nya.

__ADS_1


"Baguslah jika Nana tidak ingat pada nya." Ucap nya bermonolog.


__ADS_2