Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tidak Mungkin Bisa Menahan Diri


__ADS_3

Mrngikuti semua aturan dan perintah dari Radit, suka membuat Nania lelah sekali. Kini ia menyetir mobil Tuan nya untuk pulang ke apartemen.


Setelah selesai jamuan makan siang bisnis dengan S.N Corp, Radit memutuskan untuk pulang saja.


Mobil yang di kendarai Nania berhenti di depan lobi Apartemen.


"Sudah sampai Tuan."


"Kenapa kamu berhenti disini? Kenapa tidak langsung ke basement saja?" Tanya pria itu melirik Sekertaris nya.


Gadis yang masih setia memegang stir mobil itu menautkan kedua alis nya.


"Tuan tadi bilang ingin pulang saja. Jadi saya antar langsung di depan lobi, Tuan. Saya langsung balik ke kantor lagi." Balas nya penuh senyum.


"Siapa yang menyuruhmu balik ke kantor. Ikut aku turun, parkir mobil nya di basement sekarang. Membuat lama saja!" Titah nya dan kembali menyandarkan kepala nya di headrest mobil.


"I-iya Tuan."


Lalu Nania menjalankan mobil nya menuju parkiran biasa di basement. Kaki nya melangkah di belakang Radit, ia setia mengekor kemana Tuan nya itu pergi.


"Buka pintu nya!"


Radit meminta Nania untuk membuka pintu apartemen nya, gadis itu mengangguk dan menekan kode akses masuk.


Setelah kedua nya masuk, Nania masih bingung celingak-celinguk. "Cari apa?!" Tanya nya.


Dalam hati Nania menggerutu pada atasan nya ini. Yang sikap nya terkadang baik, lembut, kadang berubah menjadi ketus, dingin dan acuh.


"Bu-bukan Tuan, tapi untuk apa saya pulang jam segini. ini kan masih jam tiga sore Tuan."


"Aku lelah sekali, biarkan saja kali ini pulang lebih dulu." Balas nya sambil mendudukkan bokong nya di sofa ruang tengah.


"Ambilkan aku air." Suruh nya lagi.


"Iya Tuan."


Sekertaris itu langsung melesat pergi ke dapur membuka kulkas. "Tahu begini, aku lebih baik kembali ke kantor saja, dari pada harus melayani nya di sini." Rutuk nya pelan sambil mengambil sebotol air mineral dingin.


Dengan kesal sambil memajukan bibir nya Nania kembali ke ruangan tengah, tapi saat sudah di ruangan tengah bersama Radit. Bibir itu berubah menjadi senyuman.


"Ini Tuan minum nya."


"Nania, apa malam ini kamu sibuk?" Tanya pria itu.


Nania menimang sebentar sambil melihat ke atas. "Seperti nya tidak Tuan, memang ada apa?" Balas gadis itu.


"Malam ini, aku ingin pergi ke club. Aku di undang putra nya Tuan Lan disana." Ujar nya sambil menenggak air yang di pegang nya.


"Maksud anda, Tuan Revan?" Pria itu mengangguk. "Kamu benar."


"Tapi untuk apa di undang nya di Club, Tuan. Saya tidak pernah pergi ke tempat seperti itu." Jawab Nania jujur.

__ADS_1


"Cih, jangan bohong kamu! Mana mungkin kamu tidak pernah pergi ke Club." Protes Radit seakan tidak percaya.


"Terserah Tuan saja jika tidak percaya."


Nania tidak ingin berdebat dengan Tuan nya. "Ya sudah temani saja aku disana. Aku tidak ingin sampai ada wanita di sana yang menyentuhku."


"I-iya Tuan."


'Apa Kak Dinan ada di sana juga nanti malam?' Batin Nania bertanya.


"Tenang saja, aku akan menjagamu."


Bluusssshh...


Perkataan Radit yang keluar dari mulut nya barusan, membuat pipi Nania menjadi merona. "Iya Tuan."


"Ya sudah, aku ingin tidur sebentar. Bangunkan aku jam 5 sore." Ia lalu bangkit dari sofa sambil meregangkan tubuh nya yang terasa pegal.


"Baik Tuan."


Pria itu merebahkan diri nya lagi di sofa panjang. "Loh Tuan kenapa tidur di sini?" Tanya Nania bingung, ia pikir Radit akan istirahat di kamar nya.


"Memang nya kenapa? Suka-suka aku mau tidur dimana. Kamu jangan berisik Nania. Aku sedang lelah, jangan memancingku untuk membayar hutangmu sekarang."


"I-iya Tuan.. Silahkan istirahat."


Ancaman nya sukses membuat Nania bergidik ngeri. Radit melipatkan kedua tangan nya di dada, setelah itu mata nya mulai terpejam. Nania lihat betul, bagaimana bisa wajah pria itu terlihat tampan dalam kondisi apapun. Bahkan saat memejamkan mata, ia semakin mengeluarkan aura yang menarik kaum hawa menjadi terpesona.


Nania menggelengkan kepala nya dengan cepat, ia tidak ingin lama-lama memandang Tuan nya pun memilih pergi ke kamar nya.


Malam hari nya pukul delapan, Nania sudah nampak anggun di depan cermin. Memakai dress rajut warna hitam yang melekat ketat di tubuh nya. Hingga bentuk tubuh Nania terlihat jelas. Meskipun dress itu berlengan panjang dan menjuntai selutut. Tidak mengurangi keseksian tubuh gadis itu.


Nania menambahkan sedikit polesan bedak dan juga lip cream berwarna teracotta di bibir manis nya. Setelah di rasa cukup, dan sudah siap. Ia keluar dari kamar nya membawa tas jinjing kecil di tangan nya. Tak lupa sendal hak tahu tinggi 5cm sudah terpasang di kaki nya.


"T-tuan..."


Ia kaget karena Radit sudah siap, dan berdiri di depan pintu kamar nya ingin mengetuk pintu kamar Sekertaris nya.


"Aku baru ingin mengetuk kamar ini."


"Em, maaf Tuan kalau lama. Saya sudah siap."


Pria itu melirik Nania dari atas hingga bawah. Mata nya tak henti menatap setiap inchi tubuh Nania. Mungkin bisa di bilang Radit terpukau dengan kecantikan dan keanggunan Nania malam ini.


...'Sh**it... Kenapa dia malam ini begitu menggoda sekali, tahan Radit... Tahan... Mau di taruh mana harga dirimu jika terlena malam ini pada nya.' Batin Radit meronta....


"T-tuan.." Nania melambaikan tangan di depan wajah tampan itu.


"Ah, iya.. Ayo kita berangkat."


Mereka pun berangkat menuju club yang di minta Revan untuk merayakan kerja sama yang sudah mulai berjalan hari ini pada Radit.

__ADS_1


Kali ini Radit yang menyetir, tak butuh waktu yang lama. Hanya memakan satu jam perjalanan, mobil sport milik Radit sudah terparkir di area parkiran khusus VIP.


Kedua nya turun dan memasuki club mewah yang ada di pusat Kota Jakarta. Dentuman musik yang sangat keras membuat jantung gadis itu ikut berdegup kencang. Nania berjalan di samping Radit, banyak sekali pria lapar yang melihat tubuh Nania dengan tatapan memangsa.


Detik itu juga tangan kekar Radit langsung memeluk pinggang Nania, hingga gadis itu sedikit tersentak.


"Tuan.."


"Biarlah seperti ini, atau kamu mau mereka terus melihatmu seperti ingin memangsa lawan nya." Ujar Radit.


Nania melirik ke sekitar ruang club, benar saja. Banyak yang memperhatikan diri nya, tapi tidak terang-terangan. Setelah menyadari hal itu, Nania pun patuh. Mereka berdua jalan menuju ruangan VIP yang di pesan Revan.


"Halo Tuan Radit..."


Revan menyambut kedatangan Radit dan Nania yang baru saja memasuki ruangan itu. "Halo.." Balas nya singkat.


Pasal nya Radit memang terkenal pria bisnis yang tidak suka basa-basi jika partner nya itu pria. "Nania.. Apa kabar?" Tanya seorang wanita.


Itu adalah Dinan. Nania berpura-pura tersenyum mengikuti permainan Kakak nya sendiri yang ingin diri nya berpura-pura tidak mengenal nya selain urusan bisnis.


"Kabarku baik, Nona Dinan." Balas nya tersenyum smirk.


Alunan musik di ruangan VIP sangat berbeda, di ruangan ini terdengar cukup nyaman di telinga, tidak seberisik di luar ruangan.


"Senang bisa bertemu lagi disini." Ucap Dinan


"Ya kita memang akan sering bertemu, bukan begitu Nona Dinan." Seringai manis dari wajah Nania membuat Dinan merasa kesal. Wanita itu mengepalkan tangan nya, dan berpura-pura tersenyum.


Radit memperhatikan sikap Nania pada Dinan sedikit berbeda, ia merasakan ada keanehan dari Sekertaris nya itu.


"Mari kita rayakan bisnis kita yang baru saja di mulai"


Revan mengangkat gelas berkaki nya, meminta untuk bersulang. Dengan terpaksa Radit mengangkat gelas berisi wine itu untuk bersulang bersama.


Nania hendak mengambil juga gelas itu, tapi Radit mencegah nya. Ia berbisik di telinga Nania.


"No, jika kamu tidak ingin bertelanjang lagi di depan ku."


Radit tidak mau kejadian di Bandung pada waktu itu terulang lagi pada diri nya. Mungkin waktu itu ia masih bisa menahan diri karena belum mengenal jauh Nania dan hanya menganggap Nania wanita penggoda. Tapi jika sekarang seperti itu lagi, ia tidak mungkin bisa menahan diri nya lagi.


Bulu kuduk Nania langsung merinding. Ia pun mengangguk, tapi sepasang mata wanita yang duduk di depan nya itu terus memperhatikan Nania dan Radit.


"Seperti nya mereka memang sangat dekat." Guamam Dinan pelan.


"Nania kamu bisa minum ini, ini hanya soft drink."


Dinan menyodorkan segelas minuman untuk Nania, gadis itu mengambil nya. Ia tidak ingin mengacaukan acara malam ini.


"Baiklah, terima kasih."


Cheeerrrsssss....

__ADS_1


Akhir nya mereka semua bersulang dan menenggak minuman nya masing-masing.


__ADS_2