Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tiba Di Indonesia


__ADS_3

Hari yang sangat di nantikan Nania telah datang, mereka berdua akan kembali ke Indonesia, Negara asal di mana Nania lahir ke dunia ini.


Ia berkemas di bantu dengan Radit, setelah semua nya siap. Ia menuju ke Bandar Udara Internasional Incheon. Karena mereka akan melakukan penerbangan siang ini juga.


Radit menaiki Emirates Airlines, di mana ia duduk di kursi first class bersama Nania. "Tuan, kenapa saya harus ikut di kelas ini. Saya bisa duduk di kelas biasa saja." Nania merasa tidak enak karena Radit sudah banyak membiayai pengobatan nya.


Kini ia harus ikut duduk di kursi first class bersama nya.


"Sudah diam saja. Ini akan nyaman untukmu." Radit melebarkan selimut dan menutupi kaki Nania dari pinggang ke bawah.


"Terima kasih Tuan."


"Sama-sama Nana, kamu istirahatlah." Ucap nya, lalu pria itu mencoba menahan hasrat nya yang ingin memeluk Nania. Ia memasangkan airpods di telinga nya.


Berbeda dengan Nania yang melirik ke luar jendela pesawat. Ia begitu menikmati perjalanan nya dari Korea menuju Indonesia.


Tiba di Indonesia pukul 8 malam, Nania dan Radit langsung kembali ke apartemen nya. Gadis itu berjalan sambil memegangi lengan kekar pria yang sejak tadi bersama nya.


"Ayo masuk.."


Radit menekan kunci sandi pintu apartemen mewah nya itu, terbukalah pintu dan terjadilah sesuatu yang mengagetkan Nania.


Duuarrr... Duarrrr.....


Suara confetti popper yang di letuskan sebagai sambutan yang di lakukan Delisha dan Riyan untuk Nania yang sudah kembali lagi ke apartemen.


"Huaaaa... Nania aku kangen.."


"Aku juga.."


Sahabat Nania itu langsung memeluk nya, Riyan dan Radit pun ikut tersenyum dan haru bahagia.


"Ya ampun, kalian yang bikin semua ini buat aku?" Tanya Nania.


Riyan langsung melirik ke arah Radit, dan pria itu memberi kode dengan gelengan kepala dari belakang Nania.


Tentu saja yang menyuruh semua ini adalah Radit, hiasan balon-balon berwarna biru muda dan putih yang begitu cantik, semua di sulap rapi untuk Nania.


"Ini semua ide dari Kak__" Delisha terbata.


"Ini semua kita yang siapkan. Selamat ya Nania kamu sudah boleh pulang. Aku ikut senang, melihat kamu bisa sehat kembali." Bantah Riyan sebelum Delisha keceplosan.


"I-iya, ini semua kita yang bikin" Tegas Delisha lagi pura-pura mengerti, sampai ia tersenyum kaku.


"Wah,, terima kasih ya Riyan, Delisha. Kalian memang yang terbaik." Nania memeluk lagi Delisha, dan tak sengaja ia juga merangkul Riyan karena pria itu tepat berada di samping Delisha.


Radit merasa panas, pasal nya Nania ikut merangkul asisten nya itu. "Ehkmm..." Ia berdehem sambil membenarkan kerah baju nya.


Riyan otomatis melepaskan rangkulan Nania. Ia tidak berani mencari masalah dengan atasan nya itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisimu, apa sudah merasa baik sekarang?" Tanya Delisha.


"Hm, hanya saja kaki ku masih harus di bantu saat berjalan." Jawab Nania sambil memegang lengan Delisha.


Kedua gadis itu sudah berbincang sambil berjalan menuju sofa.


"Pokok nya, kalian jangan sampai kelepasan bilang kalau saya ini kekasih nya." Tutur Radit memperingati Riyan lagi.


"Baik Tuan."


"Ya sudah, ayo kita susul mereka."


Akhir nya kedua pria itu ikut menyusul Delisha dan Nania di ruang tv. Mereka makan pizzaa, donuts, kue, dan juga minum bersama. Sambil bercerita, tapi tidak ada obrolan tentang kejadian Nania. Semua serempak membicarakan hal lucu saja, untuk kesembuhan Nania.


"Ha ha ha, itu sangat lucu. Kalau kamu tahu, spongebob dan patrick itu memang absurd. Kalian tahu, ketika spongebob kehilangan jaring ubur-ubur nya dan dia menyalahkan patrick.


Akhir nya patrick mencari jaring-jaring itu hingga menaiki bus, ternyata di dalam bus itu terdapat jaring-jaring nya spongebob yang tertinggal. Ia menangis dan bercerita dengan semua penumpang nya. Lalu mereka menangis bersama, hingga sang supir bus bilang, percaya lah mereka melakukan ini hampir setiap minggu."


Cerita Delisha membuat semua orang tertawa. "Menurutku mereka benar-benar absurd." Jawab Nania.


"Tapi entah kenapa saat kecil aku suka juga menonton nya." Riyan ikut menimbrung.


Hanya Radit yang menjaga wibawa nya, dan terkekeh pelan. Padahal ia sendiri dulu nya juga sering menonton serial spongebob.


Tak lama mereka pun merasa lelah, "Nania, kamu harus istirahat. Ini sudah larut malam, istirahat lah dan masuk ke kamar." Pinta Radit.


"Biar aku bantu kamu Nania." Delisha ingin membantu nya.


Baru saja ia berdiri dan hendak membantu Nania, Riyan sudah memberikan kode pada nya, agar Radit saja yang membantu.


"Aah, aduh.. Tapi aku kebelet mau ke kamar mandi. Aku ke kamar mandi dulu ya, maaf Nania." Delisha langsung pura-pura berlari ke kamar mandi.


"Biar aku bantu kamu ke kamar." Radit langsung berdiri. "Tidak usah Tuan, saya bisa sendiri kok." Nania merasa tidak enak dengan Riyan, sikap Radit yang terus mempedulikan nya.


"Sudah Nan, biar di bantu sama Tuan Radit saja. Kapan lagi, Tuan Radit seperti ini." Riyan menahan tawa nya agar tidak lepas. Pria yang di sebut sudah melayangkan tatapan tajam ke arah nya.


"Hm, baiklah.. Terima kasih Tuan."


Pria itu menggendong Nania ala bridal style untuk masuk ke kamar nya. Tentu saja Nania terkejut, tapi dia tidak ingin membantah apapun yang di lakukan Radit. Ia masih mengingat jelas kata-kata itu.


Setelah sampai di kamar, Nania di rebahkan pelan-pelan di atas tempat tidur nya. Radit menyelimuti nya dan mengelus pucuk rambut Nania.


Spontan gadis itu merona, ia merasa kalau tidak biasa nya Radit seperti ini. "Istirahatlah, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Delisha juga tinggal di apartemen ini. Kalau kamu mau minta bantuan dia juga bisa." Ujar Radit sebelum pergi.


Nania mengangguk dan tersenyum, Radit tidak tahan melihat senyum manis dari wajah kekasih nya itu pun langsung memberikan kecupan singkat di kening Nania.


"Selamat tidur Nana."


"Eh, tunggu sebentar Tuan." Cegah nya ketika Radit sudah ingin keluar dari kamar. "Ada apa?" Jawab nya.

__ADS_1


"Tadi Tuan bilang apa? Delisha juga menginap di sini?" Ia masih heran, ternyata Nania tidak mengingat kejadian itu.


"Emm,, itu- Delisha aku pinta untuk menginap di sini. B-biar bisa menemani kamu. Iya, benar.. Supaya kamu ada teman nya." Ia tersenyum kaku di hadapan Nania. Terpaksa ia harus bicara seperti itu, Radit juga bingung harus menjawab nya.


"Benarkah? Wahh,,,, Tuan baik sekali. Terima kasih Tuan." Nania tersenyum gemas sekali di depan Radit. Pria itu mengepalkan tangan nya menahan hasrat ingin memeluk Nania.


"Tapi kenapa dia tidak tidur di sini?" Masih bingung.


"Nanti aku akan suruh Delisha tidur di sini."


Radit pun langsung nyelonong keluar, ia tidak ingin berlama-lama di dalam kamar bersama Nania. Bisa-bisa ia kehilangan akal sehat nya. Sampai di ruang TV pun Radit langsung meminta Delisha untuk tidur di kamar Nania.


Di apartemen Radit terdapat empat kamar tidur, dan satu kamar pembantu. Pas sekali dengan keberadaan mereka berempat yang mendapat kamar satu persatu. Tentu nya master bed room di tempati oleh Radit sebagai pemilik nya.


"Tadi dia bilang Nana lagi, dan baru kali ini dia cium kening aku. Ada apa sih sebenar nya, kenapa aku merasa nggak ingat dengan semua kejadian yang sebelum-sebelum nya ya, aku tahu-tahu sudah ada di korea, ini aneh sekali." Gumam nya merasa ada sesuatu yang beda. Nania melamunkan hal yang sulit di tebak.


Di apartemen lain, Reyhan sedang mengerjakan pekerjaan kantor nya di ruang makan. Ia duduk di kursi makan, padahal jam sudah menunjukan pukul 10 malam.


Yanti yang merasa haus ia keluar dari kamar nya, kaget mendapati Reyhan yang masih berkutat dengan laptop nya.


"T-tuan, anda belum tidur?"


"Eh Bibi, belum nih Bi. Sedang nanggung ngerjain kerjaan kantor." Jawab nya ramah.


"Oh begitu, mau saya buatkan kopi Tuan? Em, saya haus ingin minum. Ternyata lihat Tuan belum tidur ada di sini."


Reyhan memalingkan wajah nya dari laptop lalu menatap Yanti, wanita paruh baya itu langsung menunduk karena takut di tatap Reyhan jadi curiga dengan nya.


"Boleh Bi, tapi jangan kopi deh, nanti saya nggak bisa tidur. Saya minta teh manis hangat saja ya. Gula nya satu sendok saja."


"Baik Tuan, saya buatkan dulu." Reyhan mengangguk dan kembali menatap laptop nya.


Tak lama Yanti pun membawa secangkir teh manis hangat, sesuai pesanan Reyhan. Dan meletakkan cangkir itu di dekat nya.


"Ini Tuan teh manis hangat nya, silahkan di minum Tuan."


Ia pun meraih cangkir teh itu, "Terima kasih Bi, Bibi lanjut istirahat saja." Jawab nya dan menyeruput teh yang membuat nya rileks.


"Iya Tuan, saya permisi dulu." Yanti kembali ke kamar nya.


Ia masuk ke dalam kamar dan meraih ponsel nya di bawah bantal. Banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Dinan anak nya.


"Maaf Dinan, Ibu sengaja tidak mengangkat telepon kamu. Ibu pingin kenal dulu dengan menantu Ibu meskipun sebagai pembantu di sini." Lirih nya.


Yanti semakin hari semakin berubah. Semenjak ia tinggal di Kota Jakarta, ia jadi bisa menilai mana anak nya yang baik dan tulus pada nya. Dinan yang selalu memarahi nya, dan tidak mempedulikan nya, berbeda dengan Nania yang selalu memaafkan juga terus membantu nya.


Sayang sekali, Yanti belum tahu kalau Dinan akan bercerai dengan Reyhan. Padahal Yanti merasa Reyhan adalah pria yang baik dan sopan.


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Nania ya? Aku sudah lama tidak menjenguk nya lagi di rumah sakit sejak itu. Coba besok aku telepon dia saja deh." Ucap nya dan menaruh ponsel di samping nakas. Lalu merebahkan diri nya di tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2