
Di dalam mobil Radit dan Nania saling diam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Sekitar tiga puluh menit sudah mereka melintas di jalan raya yang begitu padat kendaraan.
"Sudah sampai." Mobil Radit berhenti di depan restoran mewah.
Nania mengerutkan kening nya. "Kita ada di mana Tuan?"
"Tuan?" Tegas Radit dengan wajah penuh penahanan itu. "Ah, itu.. Maksud aku, kita mau apa kesini, Mas?"
"Ya, mau makan. Memang nya mau apa lagi, ayo turun." Mereka berdua turun dan masuk ke dalam. Nania dan Radit duduk di kursi ruang VIP.
"Pesan makanan yang kamu mau, Nana."
"I-iya Mas."
Sekelibat bayangan terlintas di benak Nania. Ia mendapat bayangan diri nya pernah makan di restoran ini. Semua itu buru-buru ia tepis dan fokus melihat menu. Meskipun terasa aneh bagi Nania.
"Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa Mas."
Kedua nya melakukan makan malam bersama di restoran yang menjadi saksi bisu Radit melamar Nania di sana. Hal ini sengaja Radit lakukan, karena ia ingin mengenang momen itu. Barang kali Nania ingat, tapi Radit tidak memaksakan kehendak.
Reyhan yang sedang berada di dalam mobil menepikan mobil nya di pinggir jalan. Karena ponsel nya berdering dan mengangkat nya.
"Halo Pak, saya sudah membawa surat cerai anda dengan Bu Dinan." Ucap Sekretaris Reyhan yaitu Dimas.
"Bagus, kamu bawa surat itu besok saja dan berikan pada saya di kantor." Jawab Reyhan merasa lega, ia sudah resmi bercerai dengan Dinan.
"Baik Pak."
Panggilan di matikan oleh Reyhan, ia meraih perseneling mobil mewah nya untuk merubah ke huruf D. Tapi seorang gadis menggedor-gedor kuat pintu mobil nya dari samping kiri. Membuat Reyhan sedikit panik.
"Tolong buka pintu nya! Tolong saya!" Ucap gadis itu dari luar.
Reyhan melirik ke belakang, ada dua pria berbadan kekar lagi mengejar nya. Tapi ini di perkotaan, Rey terkadang suka was-was dengan kejahatan yang masih merajalela di Kota Jakarta, apa lagi malam hari.
"Tolong buka pintu nya!" Gadis itu memohon kembali. Seperti nya ia sangat ketakutan dan menangis. Merasa tidak tega, akhir nya Reyhan membukakan pintu mobil nya.
Dengan cepat gadis itu masuk ke dalam dan mengunci pintu mobil Reyhan. "Tuan, bisa tolong jalankan mobil nya. Saya di kejar-kejar dengan orang itu, saya mohon." Gadis itu memohon sambil tidak berhenti melirik ke belakang.
Tanpa menjawab, Reyhan langsung mengendarai mobil nya. Gadis di samping nya ini masih menangis dan ketakutan. Ia bahkan tak melihat Reyhan sama sekali, malah melihat ke luar jendela untuk memastikan dua pria tadi tidak mengejarnya.
Di rasa sudah aman, Reyhan menepikan lagi mobil nya di pinggir jalan dekat halte bus. "Sudah aman." Ucap Reyhan singkat, dan berharap ia tidak terlibat lebih jauh dengan gadis yang ia tolong.
"Terima kasih atas pertolongan nya Tu-an." Serra tidak menyangka saat berbalik ternyata orang yang menolong nya adalah Reyhan.
"Pak Reyhan.." Jantung Serra mendadak berdegup kencang.
Bagaimana tidak, Reyhan sangat tampan. Dan Ia tidak menyangka jika akan bertemu Bosnya di luar kantor.
"Kamu?"
Reyhan juga tidak kalah terkejut, kala tahu yang ia tolong adalah Serra. Petugas kebersihan di Perusahaan nya.
__ADS_1
"Ma-maaf Pak saya nggak tahu kalau tadi itu Bapak. Terima kasih karena telah menolong saya, Pak." Ucap Serra, lalu ia pamit keluar dari mobil Reyhan.
"Kalau gitu saya keluar dulu, sekali lagi terima kasih Pak." Serra tak henti menunduk sebagai ucapan terima kasihnya pada Reyhan.
Setelah makan malam bersama, Nania dan Radit keluar dari restoran menuju ke mobil. Tiba di parkiran sekelibat bayangan muncul lagi di benak Nania.
Ia melihat kejutan balon-balon dari bagasi mobil, tapi ia tidak bisa lihat jelas siapa pria yang ada bayangan nya itu.
"Aaakhh.."
"Nana.. Kamu kenapa sayang?"
Reflek Radit memanggilnya sayang, ketika melihat Nania hampir jatuh. "Sa-sayang?" Nania merasa heran. "Hm, siapa yang kamu panggil sayang? Kamu nggak apa-apa kan Nana?" Radit masih khawatir.
Pria itu menggerutuki bibir nya dalam hati yang suka keceplosan akhir-akhir ini. "Aku nggak apa-apa kok Mas."
"Ya sudah, kita pulang sekarang ya, biar aku bantu kamu masuk ke mobil." Radit membukakan pintu untuk Nania.
Tiba di apartemen, kedua nya masuk ke dalam lift. Siapa sangka di dalam sana ada Devan yang juga akan naik ke lantai atas.
"Tuan Radit.." Sapa Devan tak menyangka.
"Kamu?" Ucap Nania.
"Hai, Nania. Em, malam Tuan Radit. Tidak menyangka akan bertemu dengan anda di sini." Devan bersikap ramah dengan kedua nya.
"Hm." Hanya itu jawaban dari Radit.
"Hm, Nania kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Baru saja aku ingin menelponmu." Ujar Devan yang sukses membuat Radit melirik kedua nya dengan tajam.
"Menelponku? Memang nya kamu ingin bicara apa?" Tanya Nania. "Ah, itu nanti biar aku kirimkan pesan padamu saja." Devan tak enak dengan kehadiran Radit.
"Tuan Radit, apa anda tinggal di sini juga?"
"Hm."
Pintu lift terbuka di mana unit Devan berada di lantai 19. "Kalau gitu saya duluan ya, mari Tuan. Nania, aku duluan ya." Pamit nya tersenyum manis.
"I-iya Devan." Jawab Nania dengan membalas senyum Devan.
Ketika pintu lift Radit langsung menyudutkan Nania di sudut lift. Napas Nania langsung tercekal kala Radit sudah sangat dekat dengan wajah nya. "Cih, ternyata pria itu tinggal di sini juga." Gumam Radit dalam hati nya.
"Seperti nya kamu tidak mendengar baik perkataanku siang tadi, hm?" Radit menyentuh dagu kekasih nya.
"M-mas.." Jantung Nania sudah tidak dapat di kontrol. Rasa nya ia seperti naik roller coaster saat ini.
"Baiklah, kamu memang ingin di hukum malam ini!" Ucap pria itu memperingati nya. Nania menggeleng, "Maaf Mas, tadi itu__"
"Ssstt!!" Nania terdiam.
"Aku tidak suka jika ada orang yang melanggar perintah!"
Ting... Pintu lift terbuka, di raih nya tangan Nania dan mereka keluar bersama dari lift. Buru-buru masuk ke dalam apartemen nya.
__ADS_1
Di dalam ia di sambut oleh Delisha. "Malam Nania dan Kak Radit, kalian sudah makan malam atau___" Delisha melongo melihat sahabat nya di tarik begitu saja oleh Radit ke kamarnya tanpa menjawab sambutan darinya.
"Hah??" Delisha masih tak percaya.
"M-mas lepasin aku.. Mas ngapain bawa aku ke kamar Mas Radit?" Tanya Nania berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman Radit.
Pria itu sudah menarik nya dari lift hingga kamar nya, meskipun tidak kasar, tapi Nania merasa takut.
"Sudah jelas aku akan menghukummu, Nana!" Jawab Radit melepaskan tangan Nania dan juga melepaskan jas beserta dasi yang menempel di tubuh kekarnya.
"Mas mau apa?"
Radit terus membuka kancing kemeja nya satu persatu. "Mas jangan macam-macam ya?!" Nania mencoba memperingati Radit. Tapi pria itu tidak mendengarkannya. Ia terus melepas seluruh kancing kemejanya.
"Mas aku tadi itu__" Nania menutup wajah nya kala Radit sudah melepas kemeja nya. Terpampang lah badan kekar milik Radit.
Lalu pria itu terus mendekati Nania, hingga kekasih nya ikut berjalan mundur. Sayang sekali Nania malah terhenti di pinggir ranjang lalu terjatuh di atas kasur empuk itu, dan reflek menarik tangan Radit.
"Aaaaaa...." Teriak Nania, dengan cepat Radit menutup nya dengan tangan. Manik mata mereka saling bertemu.
"Aku belum memulainya, kenapa kamu sudah berteriak Nana?" Ujar Radit menggoda kekasih nya itu.
Nania menggelengkan kepala nya ke kanan dan ke kiri. Seolah ia minta di lepaskan dari kungkungan Radit.
"Mas j-jangan..." Lirih Nania.
"Jangan apa?" Sengaja Radit terus menggoda nya. "A-aku minta maaf Mas. Aku mohon jangan lakukan ini padaku." Pinta Nania dengan memelas.
Sumpah, rasa nya ingin sekali Radit menerkam Nania sekarang juga. Siapa yang tidak tahan melihat kekasih nya yang cantik ini, dengan tubuh nya yang seksi. Bahkan Nania juga memiliki dada yang cukup besar.
"Aku akan melakukannya." Ucap Radit menakut-nakuti Nania. "Jangan Mas.." Nania memejamkan mata nya karena takut.
"Aku akan mandi sekarang, kamu harus tunggu di sini sampai aku selesai." Bisik Radit membuat bulu kuduk Nania meremang.
"Atau kamu mau mandi bersama?" Ucap Radit lagi.
Nania membuka mata nya dan menggeleng dengan cepat. Pria itu bangkit dari atas tubuh Nania dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Huft, kenapa badan nya sangat bagus seperti itu." Puji Nania tanpa di ketahui Radit.
Saat di rasa aman, Nania ingin keluar dari kamar Radit, tapi sayang pintu nya terkunci dan tidak ada kunci nya. Di dalam kamar mandi Radit tersenyum puas mengerjai kekasih nya.
Reyhan mencegah Serra turun dari mobil. "Kenapa kamu di kejar sama mereka?" Tanya nya. Entah kenapa Reyhan malah penasaran.
"I-itu Pak, mereka tadi menagih hutang pada saya. Tapi saya bilang belum ada uang nya, mereka malah ingin memperoks* saya." Serra mengingat kejadian tadi sebelum melarikan diri. Tanpa di rasa air mata nya menetes kembali.
Serra sangat cantik, bisa di bilang tubuh nya mulus tanpa ada goresan sedikit pun. Wajah nya juga putih berseri.
"Memangnya kamu punya hutang berapa sama mereka?" Sedikit geram karena Reyhan mendengar jika Serra akan di lecehkan oleh mereka.
"S-saya punya hutang dengan juragan Jaka 10 juta, Pak, dan yang tadi adalah anak buah nya." Reyhan terdiam sejenak.
"Kalau gitu saya pamit dulu ya, Pak. Terima kasih karena sudah menolong saya." Serra merasa tidak enak hati karena berlama-lama di dalam mobil Reyhan.
__ADS_1