
Radit mencoba bicara dengan sang Mama, agar mengizinkan Nania tetap tinggal di apartemen nya. "Ma.. Biarkan Nania tinggal di sini. Radit minta tolong, Ma" Ia bersungguh-sungguh menatap Mona dengan memohon.
Mona sekilas melirik ke anak nya dan Nania. Ia kembali bersikap dingin. "Mama, tahu kalian pacaran. Tapi ini tidak benar, kalian tidak boleh tinggal di sini hanya berdua saja." Jawab Mona dengan tegas.
"Nyonya maaf.. Tidak apa, saya akan keluar dari apartemen ini, saya mengerti maksud Nyonya." Tukas Nania pelan.
"Ma.. Radit mohon sekali ini saja, Ma."
"Radit, kamu tidak usah keras kepala ya!" Mona marah.
Nania menatap Radit dengan penuh yakin, agar sang kekasih tidak melanjutkan lagi permohonan nya. Ia tidak mau ada pertengkaran.
"Kalau kalian tetap ingin tinggal berdua, nikahi Nania secepat nya!" Tegas Mona dengan lantang.
Baik Radit maupun Nania, kedua nya melirik secara bersamaan dan menatap Mona dengan heran. Mereka tidak percaya, ternyata Mona mengizinkan mereka menikah. Nania berpikir jika Mona tidak suka dengan nya.
"Ma.. Jadi Mama setuju dengan hubungan Radit sama Nania?" Pria itu sangat bahagia, ia bahkan berpindah tempat duduk ke samping Mona.
"Kamu kira Mama kesini untuk apa? Mama itu kesini datang untuk menemui calon menantu Mama. Tapi anak Mama malah tega membohongi Mama kalau calon menantu ternyata tinggal di apartemen ini. Bahkan, kamu tega menyuruh Mama menunggu, untuk memperkenalkan kekasih kamu." Mona membuang wajah nya karena masih kesal.
Radit memeluk sang Mama, kebahagiaan nya lengkap sekali malam ini. "Mama terima kasih.. Maafkan Radit, Ma.. Tapi sungguh, Radit punya rencana sendiri. Karena Mama sudah tahu, dan bahkan mau menerima Nania. Aku senang banget Ma.." Tiada henti Radit memeluk Mona.
Nania juga merasa bahagia, ternyata diri nya bisa di terima oleh keluarga Buana. Keluarga yang memiliki kekayaan berlimpah, mau menerima gadis biasa seperti nya.
"Nania.. Kenapa kamu diam saja? Sini peluk Mama." Pinta Mona merentangkan kedua tangan nya mengusir Radit dari sisi nya.
Gadis itu masih canggung dan malu, mau tidak mau iya mendekat ke arah Mona dan memeluk nya dengan tulus.
"Nania, maafkan Mama.. Mama nggak ada maksud untuk marah seperti tadi. Ini semua karena anak Mama yang tidak pernah cerita." Ucap nya.
__ADS_1
"Nyonya, tidak apa-apa. Terima kasih, karena sudah mau menerima Nania untuk bersanding dengan Radit." Air mata nya sudah tidak dapat di bendung.
Mona sebelum nya sudah curiga kalau di apartemen Radit ada wanita yang tinggal dengan nya. Karena pada saat Mona pulang waktu itu, ia melihat sepatu hak tinggi milik seorang wanita di rak sepatu dekat pintu utama.
"Mama tahu, kamu anak yang baik. Radit tidak mungkin salah memilih pasangan, Mama harap kalian bisa segera menikah. Karena nggak baik terlalu lama pacaran. Apalagi kalian sudah tinggal bersama." Nasihat Mona begitu lembut sekali di telinga Nania. Gadis itu sampai merasa hangat mendengar nya.
"Sekali lagi Nania minta maaf ya Nyonya.. Nania memang salah."
"Sstt.. Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mama. Mama senang kok kalau ada yang manggil Mama selain Radit." Jawab Mona dengan senyuman.
Nania bahagia sekali, selama ini banyak sekali rintangan nya sebelum bertemu dengan Radit. "Terima kasih, Ma.." Ucap Nania ragu-ragu.
"Radit, Nania boleh tinggal di sini. Tapi dengan satu syarat."
"S-syarat apa, Ma?" Radit sedikit penasaran.
"Kamu harus bawa Riyan tinggal di sini, dan Bik Sum. Kalau kamu nggak mau, kamu harus tinggal di rumah. Biar Nania yang tinggal sama Bik Sum di sini." Pinta Mona dengan tegas.
"Hah? Riyan, Bik Sum? Okay Ma, kalau Bik Sum nggak apa-apa tinggal di sini. Tapi kenapa harus Riyan juga harus tinggal di sini?" Radit masih bingung dan tidak habis pikir.
"Pokok nya itu sudah keputusan Mama. Kalau kamu masih nggak mau. Kamu harus berhadapan sama Papa. Dan untuk masalah hubungan kamu dengan Nania, Mama minta kamu harus cepat menjelaskan nya sama Papa kamu juga."
Mona sangat percaya dengan Riyan, karena pria itu jika di tanya selalu jawab jujur. Apalagi menyangkut tentang Radit, Riyan memang tidak pernah berbohong pada Mona. Menyuruh Riyan untuk tinggal di apartemen sangat tepat, bisa di jadikan Mona sebagai mata-mata untuk anak nya dan Nania sebelum mereka sah menikah.
"I-iya Ma iya.. Radit mengerti."
"Ya sudah kalau kamu mengerti. Sekarang cepat kamu telepon Riyan untuk pindah kesini malam ini juga!"
"Ya ampun Ma, kan bisa besok Ma. Ini sudah malam." Rengek Radit. "Ya sudah kalau gitu, kamu ikut Mama pulang malam ini ke rumah." Ajak Mona dengan tegas.
__ADS_1
Radit mengusap wajah nya dengan kasar. "Okay, aku ikut Mama pulang ke rumah malam ini. Besok aku suruh Riyan untuk pindah kesini." Jawab Radit terpaksa mengalah dengan sang Mama. Ia tidak mau menghubungi Riyan malam-malam, bisa turun harga diri nya hanya karena keputusan Mama, rela memanggil Asisten nya untuk datang.
Terlihat sekali jika nanti Radit tidak punya keberanian menolak keputusan Mama nya di hadapan Riyan
'Tidak..Tidak.. Aku nggak mau hubungi si Riyan, yang ada itu orang makin besar kepala. Bisa turun harga diri ini.' Seru Radit dalam hati nya.
"Ya sudah kalau gitu." Mona kembali tersenyum pada Nania.
"Sayang, malam ini aku tinggal di rumah dulu ya.." Ucap Radit pada kekasih nya. "I-iya nggak apa-apa." Nania malu-malu menjawab nya.
Kenapa juga Radit harus memanggil nya sayang depan Mona, Nania rasa nya malu tak tertahankan.
"Nania, kamu tenang saja. Nanti ada Bik Sum yang kesini buat nemani kamu."
"I-iya Ma.. Nania nggak apa-apa kok Ma." Jawab nya lembut. Mona tersenyum kembali, ia senang jika Radit sudah menemukan pelabuhan cinta nya.
Mona sudah lama khawatir karena usia Radit sudah memasuki kepala tiga. Sudah selayak nya ia menikah, dan malam ini keinginan nya terkabul. Mona berharap mereka cepat di takdirkan menikah dan bersama. Berharap Nania adalah jodoh yang terbaik di kirim Tuhan untuk anak nya.
"Ya sudah, kalau gitu Mama pulang dulu ya sama Radit, kamu jaga diri baik-baik ya. Nanti Bik Sum datang nggak usah di bukakan pintu. Biar Mama kasih keycard nya sama dia. Kamu istirahat saja ya," Pinta Mona dengan tulus.
Nania begitu terharu dengan kebaikan Mona. "Iya Ma, sekali lagi terima kasih. Mama baik sekali, Nania jadi merasa tidak enak."
"Nggak apa-apa, kamu istirahat saja ya. Kalau gitu, Mama pulang dulu. Ayo Radit.." Ajak Mona.
"Nana, aku pulang dulu, kamu istirahatlah, nanti kalau sudah sampai rumah aku akan menghubungimu." Ucap nya penuh kerinduan yang akan terpisah.
"Iya Radit. Terima kasih ya, kamu hati-hati pulang nya. Mama hati-hati ya.." Ia juga mengucapkan take care pada Mona.
"Iya sayang." Gaya kiss bye Radit melayang di udara untuk kekasih nya. Kedua nya pulang ke rumah istana milik keluarga Buana.
__ADS_1
Tiba di rumah Radit langsung masuk ke dalam kamar nya. Sepanjang perjalanan pulang ia sudah pusing di ceramahi oleh Mona. Ia ingin segera menghubungi Nania untuk melepas rindu nya yang baru berapa menit terpisah.