Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Keluarga Lan


__ADS_3

Di kediaman Tuan Lan malam ini, Dinan, Revan, dan juga Tuan Lan sedang makan malam bersama.


Revan adalah suami Dinan, selama menikah dengan Revan. Dinan mengaku diri nya sebatang kara, dan tidak memiliki keluarga. Ia bilang Ayah dan Ibu nya sudah meninggal, dan ia tidak memiliki saudara siapa pun di kota Jakarta pada saat itu.


Membuat Revan jadi iba pada Dinan dan selalu perhatian pada nya. Itu semua Dinan lakukan memang untuk masuk ke dalam keluarga Lan.


Perusahaan yang di miliki Lan juga maju dan jaya. Perusahaan nya masuk dalam kategori lima terkaya di Negara Indonesia. Memang tidak sebanding dengan kekayaan yang di miliki Radit.


Tapi itu membuat Dinan cukup puas, Ia membuat kesepakatan dengan Yanti agar bisa menjadi istri dari pria kaya raya. Akhir nya Yanti menyetujui.


Ia menyuruh Dinan tinggal di Jakarta saja tanpa harus kembali lagi. Yanti hanya bilang pada Ayah dan Nania, jika Dinan sudah menikah dan pergi meninggalkan mereka.


Pilu di dada sang Ayah sangat di rasakan kala itu, hingga membuat Ayah Nania dan Dinan jatuh sakit.


Setelah lulus kuliah Dinan di lamar oleh Revan dan mereka akhirnya menikah. Tapi belum juga mempunyai keturunan selama menikah tiga tahun. Revan awal nya biasa saja, tapi kini ia menginginkan seorang anak dari Dinan.


Entah kenapa Dinan belum juga mendapatkan seorang anak. Mereka berdua juga terus di desak Tuan Lan untuk mendapatkan keturunan secepat nya.


"Revan, Papa akan pergi mengurus Perusahaan yang ada di Amerika. Perusahaan itu masih baru, Papa harus mengelola nya disana. Jadi Papa percayakan semua bisnis Papa disini sama kamu dan juga Devano." Ujar Tuan Lan dalam makan malam mereka.


"Iya Pa, tidak usah khawatir. Aku dan Devan akan menjalankan bisnis dan Perusahaan Papa dengan baik disini." Jawab Revan.


"Dinan, kamu jangan lupa untuk segera memberikan Papa seorang cucu. Papa sudah sangat menantikan itu. Ha ha ha." Tuan Lan masih menambahkan tawa di belakang nya agar tidak terlihat menegaskan kalimat nya.


Dinan menjadi kaku di tempat, "Iya Pa, doakan saja ya. Semoga aku cepat hamil." Senyum terbit di wajah cantik nya.


"Ya ya.. Papa akan doakan kalian cepat punya anak. Tapi dimana Devan?" Tanya nya.


"Palingan dia pulang ke apartemen nya, Pa. Devan kan memang sering pulang ke apartemen akhir-akhir ini." Jawab Revan.


"Begitu ya? Ya sudah. Biarkan anak itu menjalani masa muda nya di luar. Yang penting kamu ingatkan dia jika di luar membuat ulah." Tegas sang Lan pada anak nya.


"Iya Pa."


Devano sendiri kini berada di dalam apartemen nya, ia sedang membuka kulkas. Ia ingin memasak untuk makan malam nya sendiri, namum bahan-bahan di kulkas sudah menipis. Ia berniat untuk belanja di super market dekat apartemen nya tinggal.


"Yah, seperti nya aku harus belanja. Siapa tahu aku ketemu gadis itu lagi." Ujar nya lalu menyambar jaket dan keluar dari pintu apartemen nya.


Pria bernama ini Devano adalah anak bungsu dari keluarga Lan, yang memang sangat mandiri. Bahkan ia jago memasak, dan juga jago berbisnis. Jadi ketampanan yang di miliki benar-benar sebanding dengan keahlian nya.


Saat membuka pintu lift, tidak sengaja ia bertemu dengan Nania di dalam.

__ADS_1


"Lho... Kamu sedang apa disini, Nania?" Tanya Devan senang bertemu dengan pujaan hati.


Gadis itu mengalihkan pandangan nya dari ponsel, "Ooh kamu.. A-aku ingin ke super market untuk membeli telur. Stok telur di kulkas sudah habis." Jawab nya.


Mereka berdua sekarang di dalam lift bersama. "Jadi kamu tinggal disini?" Tanya Devan lagi. "Iya." Nania agak sedikit ragu menjawabnya.


"Oh ya? Kok sama. Kamu di lantai berapa?"


"Aku di lantai 39." Devan mengangguk-angguk.


"Itu kan lantai paling atas. Kamu tinggal di penthouse apartement gedung ini?" Pria itu mengernyitkan kening nya.


"I-iya." Nania menjadi tidak enak. Ia sebab tidak mengerti yang di maksud Devan.


Penthouse Apatement atau yang biasa di sebut Griya Tawang, hunian paling mewah yang di miliki sebuah gedung apartemen dengan lantai paling atas, juga bangunan luas dan design khusus dari pemilik Penthouse tersebut.


Bukan hal yang biasa atau orang dari kalangan biasa yang mampu memiliki griya tawang. Hanya orang tertentu saja yang bisa memiliki penthouse di setiap gedung apartemen bintang lima.


Radit adalah salah satu pemilik griya tawang di gedung apartement bintang lima yang Devan juga singgahi.


"Kamu mau ke super market kan, aku juga mau kesana. Bareng saja yuk.." Ajak Devan. Mau tidak mau Nania juga ingin kesana, akhir nya ia mengangguk. "Boleh, kita pergi bersama." Nania mengulas senyum.


'Siapa gadis ini, dia pemilik griya tawang di atas? Apa dia anak dari konglomerat, kalau iya.. Dari konglomerat mana?' Batin Devan penasaran.


"Aku juga tinggal lantai bawah dari apartement mu, di lantai 37." Ucap Devan di sela-sela tangan nya yang sibuk mengambil beberapa jenis sayuran.


"Oh ya? Tidak di sangka ya.. Kamu belanja sayur untuk di masak?" Tanya Nania. Devan pun mengangguk. "He em."


"Kamu yang masak sendiri?" Tanya Nania lagi.


"Iya. Kenapa?" Devan menatap lekat wajah Nania. "Tidak, ternyata kamu mandiri." Ia menyunggingkan senyum manis nya. Memperlihatkan gigi rapi dan putih nya.


"Iya dong, harus. Memang nya wanita saja yang bisa memasak dan mandiri." Balas Devan membanggakan diri nya.


"Ha ha ha. Kamu bisa saja." Tawa Nania merasa lucu.


Radit melirik jam dinding sudah lebih dari satu jam tapi Nania belum kembali, "Sebenar nya dia itu beli telur di super market bawah atau super market dekat kantor sih? Lama sekali." Kesal Radit.


Ia pun mencoba hubungi Nania tapi tidak di angkat, karena khawatir. Akhir nya ia berniat menyusul ke bawah. Radit keluar dari pintu lift saat sudah sampai di lantai dasar.


Manik mata nya menangkap sosok gadis yang ia cari sedang bersama dengan pria sambil tertawa bersama.

__ADS_1


"Ternyata, dia bersama pria itu lagi. Cih, seperti nya dugaanku benar. Dia memang wanita penggoda!"


Dengan kesal Radit kembali ke dalam apartement nya, ia masuk ke dalam lift dengan langkah yang cepat, tangan yang mengepal, dan raut wajah yang masam.


Seperti nya Radit cemburu, tapi ia tidak menyadari hal itu.


Ketika pintu apartemen nya terbuka, Radit pura-pura menonton tv di ruang tengah. Nania masuk dengan membawa sekantung belanjaan di tangan nya. Ia menuju dapur dan menata semua belanjaan nya untuk sarapan besok.


Sudah selesai, Nania pun duduk di sofa tidak jauh dari Radit. "Tuan, anda belum tidur?" Tanya nya.


"Memang nya apa urusanmu!" Radit menunjukan ekspresi datar nya. "Saya hanya bertanya saja." Balas Nania sambil sedikit memajukan bibir nya karena mungkin ia kesal melihat tingkah Radit.


Pria itu malah semakin gemas, tapi kembali kesal sudah melihat hal tadi saat di bawah. "Beli telur tapi lama sekali. Bilang saja jika sedang ingin menggoda pria di luar sana. Tidak usah pakai alasan segala!" Ketus nya tanpa melirik Nania.


"Maksud anda apa Tuan?"


"Huh, aku hanya bicara. Ternyata Sekertaris ku memang hobi menggoda pria di luar sana!" Celetuk Radit membuat mata Nania memicing tidak terima.


"Saya tidak mengerti yang Tuan maksud, lagian saya sudah bilang kalau saya ini tidak pernah menggoda siapa pun!!" Jelas Nania, dada nya kembang kempis menahan amarah dalam diri nya.


"Oh ya?! Lalu siapa pria di bawah tadi yang bersama mu itu, apa dia bukan pria yang sudah kamu goda lagi? Berhenti berulah Nania, jangan sampai kejadian waktu itu terulang lagi. Dimana kamu telah menggoda suami orang!! Dan aku kena imbas nya!!" Radit mengucapkan itu semua dengan jelas.


Jedarrrr!!!!


Bagaikan bom yang meledak di dalam diri Nania, hati nya kini tersulut api. Ia benar-benar panas di katai Radit yang bukan-bukan.


"Ya..Ya.. Anggap saja anda benar kalau saya ini memang wanita penggoda." Ujar Nania lelah. Ia mengalah, biarlah Radit menganggap diri nya wanita rendahan.


"Lalu kenapa jika saya wanita penggoda?!! Oh Tuan mau ya saya goda, iya?!! Tuan merasa tidak suka jika diri Tuan ini tidak pernah saya goda? Karena Tuan yang selalu menggoda saya bahkan Tuan yang lebih dulu mencium saya terus, lantas.. Disini siapa yang penggoda?!!" Nania sudah berdiri di tempat nya. Ia melimpahkan kekesalan nya pada Radit. Bahkan ia pasrah jika habis ini akan di pecat.


Radit ikut tidak terima, diri nya juga bangkit dari sofa lalu berhadapan dengan Nania bersama mata elang nya. Mereka berdua saling menatap tajam.


"APA KAMU BILANG, NANIA??!!" Bentak Radit.


"Ck, Tuan pikir saja sendiri!!" Jawab nya enteng melipatkan kedua tangan di dada nya.


Nania sudah letih erus-terusan di anggap penggoda bagi Radit. Lebih baik ia merendahkan sekalian diri nya dengan ucapan, dari semua tuduhan Radit selama ini.


"Berani sekali kamu membentak saya?!!" Pria itu mencengkeram kedua bahu Nania.


'Jangan membangunkan singa yang sedang tidur Nania... Mati kamu sekarang.' Batin Nania minta tolong.

__ADS_1


Malam ini seperti nya Nania sudah membangunkan singa jantan yang sedang tidur.


"Aahh...Sakit, lepasin!!" Nania meronta, namun Radit tidak melepaskan nya.


__ADS_2