Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Protes Radit dan Nania


__ADS_3

Nania sedang duduk di sofa ruang tengah, ia sedang menonton tv serial drama Korea. Radit lewat di belakang nya. Ia memperhatikan Nania seperti terharu dalam drama itu.


"Cih, kamu menangis?" Ledek Radit.


"T-tuan.." Nania mengusap air mata nya.


"Lanjutkan saja menangismu." Pria itu berlalu ke dapur mengambil sebotol minum dan kembali ke kamar nya.


Di dalam kamar Radit menenggak habis botol minum itu, "Heh, apa-apaan dia. Menangis hanya untuk serial drama saja. Memalukan sekali." Ia terlihat jengkel sekali sambil membuyarkan pikiran nya.


Pagi hari nya Nania tengah duduk di tempat kerja nya, ia merapihkan berkas-berkas yang memenuhi meja nya. "Haduh, ini banyak sekali.." Gumam nya kuwalahan.


Radit memanggil diri nya dari panggilan benda kotak hitam di atas meja nya. Dengan memutar malas bola mata nya, Nania bangkit dari kursi dan masuk ke ruangan nya.


"Tuan memanggil saya, ada yang bisa di bantu?" Tanya nya dengan tersenyum.


Pria itu mengangguk dan menyuruh Nania untuk mendekat. "Menurutmu warna ini bagaimana?" Tanya Radit memperlihat kan desain botol untuk produk terbaru nya.


"Bagus Tuan, ini warna botol nya menarik sekali." Jawab Nania melihat warna botol kaca yang bening doop dan tutup nya yang berwarna merah silk.


"Nanti tolong kamu minta untuk Divisi Perencanaan rapat jam dua siang ya." Pinta Radit.


"Baik, apa ada lagi Tuan?" Nania ingin pamit pergi, namun manik mata Radit seakan menemukan ide.


Mata nya tak henti menatap bibir merah merekah milik Nania, entah kenapa hati nya berdesir dan menginginkan sesuatu.


"Tolong buatkan aku kopi."


"Baik Tuan."


Gadis itu pun pergi dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi secangkir kopi untuk Radit.


Tiba di dalam ruangan, Nania tidak menemukan Radit, ia melihat di sudut ruangan pintu kamar Radit terbuka.


Langkah kaki nya mendekat ke kamar itu, dari jarak dua meter Nania berhenti. "Tuan, kopi nya saya taruh di meja ya." Ucap nya sedikit keras.


"Masuk, bawa sini kopi nya." Jawab Radit dari dalam.


Nania pun menghela nafas nya, ia masuk ke dalam. Menemukan Radit yang duduk di tepi ranjang memainkan ponsel nya.


"Ini Tuan kopi nya, silahkan.." Nania menaruh cangkir itu di atas nakas dekat tempat tidur.


"Saya permisi dulu Tuan."


Gadis itu ingin keluar, tapi Radit sudah menarik tangan nya, reflek membuat Nania mendorong Radit. Membuat pria itu jatuh di atas ranjang.


"Waw.." Ucap Radit tak habis pikir.

__ADS_1


"Ma-maaf.. Maaf Tuan, saya hanya reflek tadi, tidak sengaja." Jawab Nania jadi tidak enak.


Radit bangkit dan berjalan mendekati gadis itu, kaki Nania semakin lama semakin mundur. Wajah Radit mulai mengikis jarak. Tubuh Nania berhenti sampai di tembok dekat pintu. Tangan Radit langsung menutup pintu itu tepat di samping wajah Nania.


Tentu saja Nania sangat takut. "Sudah mulai berani sekarang ya!" Bisik Radit.


Bulu halus di permukaan kulit Nania serasa meremang. Ia mengalihkan wajah nya ke samping tidak berani menatap Radit.


"Sa-saya nggak sengaja Tuan.." Ucap nya pelan.


"Aku ingin kamu membayar hutang nya sekarang!" Pinta Radit mengulum senyum.


"Tapi Tuan, saya baru ada uang 15 Juta. Saya akan memberikan itu pada Tuan. Sisa nya akan saya cicil." Jawab Nania ragu-ragu.


"Aku tidak menerima nya dengan cara di cicil!" Pria itu menarik sudut bibir nya ke atas. Nania menatap nya dengan penuh tanya.


"Saya akan membayar hutang nya tapi tidak bisa sekarang, Tuan." Jawab nya polos.


Radit sudah tidak tahan lagi melihat bibir Nania yang belakangan ini sudah menjadi candu untuk nya.


"Jika kamu ingin bayar, bayarlah semua nya. Jika ingin mencicil nya. Maka harus cicil dengan ini."


Detik itu juga bibir Radit menyambar enda kenyal milik Nania. Ia mengulum nya lama, Nania mengepalkan tangan nya menahan semua kelakuan Radit yang entah kenapa ia tidak bisa menolak nya.


Ciuman itu terus berlanjut, sampai tangan Radit menarik pinggang Nania. Menuntun gadis itu ke arah tempat tidur. Radit terus menahan tengkuk gadis itu tanpa melepas ciuman mereka.


Ia menatap dalam wajah Nania dalam kungkungan nya. Gadis yang di tatap perlahan, membuka mata nya, degup jantung nya tidak mau berhenti malah semakin kencang.


Radit menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Nania, "Aku ingin satu lagi.."


Pria itu kembali mencium bibir Nania dengan mesra dan penuh kelembutan. Tangan kekar itu menahan badan nya yang menghimpit tubuh Sekertaris nya. Nania terjebak dalam buaian Radit.


Setelah di rasa cukup, Radit melepaskan ciuman nya. Ia menatap dalam manik mata Nania yang juga menatap nya. Ia tidak mau terlewat batas, bisa-bisa jika Radit terus seperti ini, ia tidak bisa menahan hasrat nya. Biar gimana pun Radit tetaplah pria normal.


"Salah sendiri jika bibir mu menggodaku. Kamu hitung sendiri sisa dari hutangmu" Bisik Radit dan tersenyum.


Kemudian pria itu bangkit dan meninggalkan Nania yang masih terbaring di atas kasur. Rasa sakit kemudian melanda di hati Nania. Ia sudah di perlakukan seperti wanita rendahan oleh Radit.


Nania merapihkan sejenak pakaian nya yang berantakan akibat ulah Radit. Lalu ia keluar dengan raut wajah yang kesal.


Di lihat nya Radit sudah duduk di kursi kebesaran nya. Ia fokus menatap layar PC dan tidak menatap kehadiran Nania.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Ucapnya tanpa menoleh ke Nania.


"Tuan, ini semua tidak benar! Saya tidak ingin mencicil dengan cara seperti itu." Bentak Nania, ia sudah kesal sama sikap Radit yang suka seenak nya saja.


Radit kembali bangun dari kursi nya, ia berjalan dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celana nya.

__ADS_1


"Lalu kamu mau yang seperti apa?" Lirik Radit dari atas hingga ke bawah ke tubuh Nania.


"Jangan melihat saya seperti itu Tuan! Saya akan membayar nya dengan uang. Bukan ciuman yang seenak nya Tuan lakukan pada saya." Nania tidak terima dan memberanikan diri berbicara.


"Ha ha ha.." Radit tertawa, Nania mengernyitkan kening nya.


"Nania...Nania.." Pria itu menggelengkan kepala nya.


"Pokok nya jangan lakukan hal itu lagi pada saya, dan saya akan membayar hutang anda. Permisi" Pinta Nania dengan tegas.


Radit kembali mencegah Nania pergi, ia menggenggam tangan nya dengan kuat. "Ahh sakit Tuan, lepas.." Gadis itu mengaduh kesakitan di pergelangan tangan nya.


"Disini aku yang mempunyai kendali, kamu tidak berhak mengaturku. Aku pihak pertama nya, kamu hanya pihak kedua!" Protes Radit kembali mengingatkan Nania, bahwa dia yang berkuasa disini.


"Iya Tuan saya mengerti itu, tapi tidak dengan cara seperti tadi. Kenapa juga harus dengan ciuman?!" Serka Nania tidak mau kalah, ia tetap mempertahankan harga diri nya.


Pria itu menarik Nania menyudutkan nya di tembok. "Aaah.." Gadis itu merasa kaget punggung nya terbentur tembok.


"Patuhi saja perintahku, aku tidak suka di bantah! Anggap saja ini balas budi dari mu, paham.." Radit mengelus pipi Nania. Gadis itu hanya bisa diam, dalam hati ia terus mengumpat atasan nya ini.


"Kalau kamu tidak mau mendengar, aku akan mengembalikanmu ke pria tua bangka itu." Ia menyeringai puas berhasil mengancam untuk mengerjai Nania.


Nania mengangguk paham, "Bagus!" Ucap Radit.


"Kapan pun aku mau, kamu harus menerima nya." Pinta Radit.


Seakan di pojokan dan tidak bisa menolak, Nania hanya bisa menjawab pasrah dan menuruti permintaan Tuan nya. Ia tidak ingin bertemu lagi dengan Damar.


Setidak nya selama ia bersama Radit, dia akan aman. Tapi harus siap menerima resiko semena-mena dari Tuan nya.


"Iya Tuan."


"Kalau gitu kita makan siang di luar." Ajak Radit.


"Tidak mau Tuan, saya bisa makan siang di kantin saja." Tolak Nania dengan cepat. Ia masih kesal dengan Radit. Malah membuat Radit menatap nya tajam.


Karena Nania menolak nya, dengan cepat pria itu mencium kembali bibir Nania. Hanya sebentar saja tidak lama. "Aku sudah bilang, tidak suka di bantah! Hitung sendiri sisa hutang kamu." Ujar Radit.


"Tuan.." Kesal Nania


'Dasar pria dingin seenak nya saja dia menciumku lagi, iiihhh.. Awas saja kamu!' Batin Nania meronta.


"Ayo makan siang!" Radit sudah melangkah lebih dulu, tapi Nania masih diam di tempat. Ia kembali menolah ke arah Sekertaris nya.


"Nania!! Ayo makan siang atau kamu mau mencicil hutangmu lagi, hm?" Pria itu mengangkat satu alis nya.


"Eh, tidak.. Tidak Tuan. Mari kita makan siang." Balas Nania menuruti kemauan Radit kemudian, mereka pergi makan siang bersama.

__ADS_1


__ADS_2