Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 23


__ADS_3

"Hubungi aku kalau ada kabar dari Zia,,," Ujar David sembari beranjak dari duduknya. Di kembali memakai kaca mata hitam miliknya. Pemilik hidung mancung itu selalu memancarkan kharismanya yang mampu menarik perhatian kaum hawa.


Mitha menghela nafas pelan, dia ikut berdiri dari duduknya.


"Aku akan coba menghubunginya lagi,," Sahutnya. David mengangguk, kemudian keluar dari restoran itu.


Mitha masih mematung di tempat, merasa bimbang dengan apa yang sudah dia lakukan untuk David.


Perlahan Mitha mulai merasa jika David hanya terobsesi pada Zia.


Namun Mitha juga terlanjur kasihan pada Zia. Dengan semua penderitaan dan hinaan yang di dapatkan oleh wanita berhati lembut itu.


Mitha hanya ingin Zia bahagia tanpa dibayangi - bayangi sifat kejam dari mertuanya.


Bagi Mitha, David adalah laki - laki yang tepat dan mampu membahagiakan Zia.


Laki - laki itu pasti tidak akan menuntut anak dari Zia, karena selama ini David tau tentang permasalahan rumah tangga Zia dan Gavin yang tak kunjung memiliki anak. Dan David tetap bersikeras untuk menjadikan Zia sebagai istri sekaligus ibu untuk anaknya.


Mitha merogoh ponsel di saku celananya. Wanita itu langsung membuka kontak Zia dan menghubunginya. Nada sambung yang terdengar, membuat Mitha mengembangkan senyum.


"Halo Zi,,," Serunya begitu Zia mengangkat panggilan telfonnya.


"Kamu kemana saja.? Kenapa ponselnya baru bisa di hubungi,,?" Mitha langsung menodongkan pertanyaan. Zia terdengar menghela nafas pelan.


"Sekangen itu kamu sama aku Mit,,?" Tanya Zia dengan candaan.


"Ya ampun Zi,, aku serius,,," Desah Mitha.


Zia terkekeh kecil.


"Aku tidak kemana - mana Mit. Aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri."


"Tolong kamu handle resto ya. Sepertinya aku akan lama tidak berangkat ke kantor."


"Minggu nanti aku dan Gavin akan ke Paris,"


Penuturan Zia langsung membuat Mitha membulatkan matanya. Dia pikir akan mendapatkan kabar buruk dari hubungan Zia dan Gavin, tapi yang ada mereka justru akan pergi ke Paris.


"Halo Mit,,,!" Suara Zia membuat Mitha tersentak.


"I,,,iya Zi,,"


"Kamu akan liburan.?"


"Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk hubungan kalian."


"Jangan khawatir, aku akan menghandle resto dengan baik."


"Makasih banyak Mit,,,"


"Kamu memang the best,,," Seru Zia.


Mitha hanya mengulas senyum tipis, meski Zia tidak bisa melihatnya.


Mitha menghela nafas berat setelah mematikan sambungan telfonnya. Saat ini pikirannya justru semakin kacau. Bingung harus berbuat apa untuk kedua sahabatnya.

__ADS_1


Dia ingin membantu David untuk mendapatkan Zia, tapi saat ini hubungan Zia dan Gavin justru semakin membaik.


...***...


Sudah 2 jam berlalu, Gavin masih terlihat damai dalam tidurnya. Laki - laki itu masih dalam posisi yang sama saat terakhir kali Zia keluar dari kamar.


Zia merasa heran, karna tidak biasanya Gavin bermalas - malasan seperti itu. Apalagi tidur sampai pukul 9 siang.


Zia duduk di sisi ranjang, wanita itu mengusap lembut lengan Gavin sembari menatap wajah tampannya dari samping. Karena laki - laki itu tidur membelakangi posisi Zia.


Pandangan mata Zia perlahan mulai sendu. Hubungan dia dan Gavin tidak ada titik temunya. Entah mau dibawa kemana hubungan yang sedang terombang ambing ini.


Gavin juga tidak memberikan ketegasan pada mama Ambar, laki - laki itu hanya menolak saja permintaan mama Ambar. Tanpa menyuruh mama Ambar untuk tidak lagi ikut campur rumah tangga mereka.


Saat ini keduanya hanya mengikuti kemana ombak akan membawa kapal yang mereka tumpangi. Entah akan sampai di pelabuhan yang penuh bahagia, atau akan hancur dan karam di tengah lautan. Zia hanya pasrah saja dengan apa yang akan terjadi pada rumah tangganya.


Gavin mulai menggeliat, sentuhan tangan Zia di lengan membuatnya terbangun.


"Jam berapa Zi,," Suara Gavin terdengar serak. Dia masih mengerjapkan mata perlahan, sampai bisa melihat wajah cantik Zia dengan dengan jelas.


"Jam 9, ayo bangun."


"Kamu belum sarapan mas,,," Ujar Zia lembut. Tak lupa, wanita itu melemparkan senyum manis pada Gavin.


"Kita main sebentar,," Gavin menarik tangan Zia, membuat badan Zia jatuh di atas tubuhnya.


Zia baru saja akan membuka mulutnya, namun Gavin sudah membungkam mulut Zia dengan ciuman panas. Mau tidak mau, pada akhirnya Zia menuruti keinginan Gavin.


Tubuh polos keduanya sudah dihiasi titik - titik keringat. Suara desahan mereka terdengar saling bersautan. Mereka sama - sama merengkuh kenikmatan dan memberikan kenikmatan.


Zia menarik selimut menutupi tubuh polosnya yang sudah dibanjiri peluh. Dia dibuat tidak berdaya oleh Gavin.


Wanita itu melirik Gavin dengan tatapan kesal.


"Sebentar kamu bilang,,?" Keluhnya.


"Sudah 1 jam lebih mas,,," Suara Zia tersenggal. Nafasnya masih memburu akibat pelepasan berkali - kali.


Gavin hanya tersenyum tipis, dia hendak merebahkan dirinya di samping Zia, namun perutnya terasa bergejolak, isi perutnya seakan memaksa untuk dikeluarkan.


"Huee,,,,


Gavin langsung menutup mulutnya. Laki - laki itu turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


"Mas,,, kamu kenapa.?" Zia terlihat panik. Dia segera menggulung tubuhnya dengan selimut, lalu menyusul Gavin ke kamar mandi.


"Mas,,," Zia melihat Gavin yang berdiri didepan wash tafel.


"Jangan masuk Zi, aku sedang muntah,,," Cegah Gavin. Dia tidak ingin istrinya jijik melihatnya. Namun Zia tetap memaksa masuk, tidak tega melihat Gavin seperti itu.


"Huekk,,,"


"Ya ampun mas, kamu sakit,,?" Zia memijat tengkuk Gavin. Dilihatnya wajah Gavin dari pantulan cermin, terlihat sangat pucat.


"Tidak Zi, aku baik - baik saja."

__ADS_1


Gavin berkumur dan membasuh wajahnya. Perutnya sudah teras jauh lebih baik saat ini.


"Aku bikinkan teh hangat dulu."


"Kamu sekalian mandi saja mas. Jangan lupa pakai air hangat,,," Ujar Zia. Wanita itu akan keluar dari kamar mandi, namun Gavin mencegahnya.


"Tidak usah, aku baik - baik saja."


"Lebih baik sekarang kita mandi," Goda Gavin sembari mengedipkan matanya. Laki - laki itu bahkan menarik paksa selimut yang melilit di tubuh Zia. Lalu mengangkat tubuh Zia dan membawanya ke bathtubh.


Zia hanya pasrah sembari menggelengkan kepalanya. Urusan yang satu ini tidak ada liburnya meski sedang sakit sekalipun, bahkan semakin menjadi - jadi saja.


...***...


Gavin menertawakan Zia yang sejak tadi menggerutu. Wanita itu tak henti - hentinya mengomel karena baru keluar kamar mandi pukul 11 siang.


Sembari mengeringkan rambutnya, Zia melirik Gavin yang sedang memakai baju.


"Kamu belum sarapan mas.! Sudah tau sedang tidak enak badan, malah mengurungku di kamar." Protes Zia. Wanita itu kesal karena mengkhawatirkan kondisi Gavin yang baru saja muntah - muntah. Tapi yang di khawatirkan justru bersikap santai.


"Dan setelah mengurung kamu, aku jadi sehat,," Seloroh Gavin sembari tersenyum.


Zia hanya berdecak kesal.


"Kamu mau pergi mas,,?" Tanya Zia setelah menyadari kalau Gavin memakai setelan non formal tapi rapi, lengkap dengan jaket kulitnya.


"Ada urusan sebentar,,"


"Tidak lama, hanya 2 sampai 3 jam saja,," Sahut Gavin. Dia berjalan mendekati Zia, mengambil sisir dan merapikan rambut panjang istrinya yang baru selesai di keringkan.


"Sebelum pergi makan dulu mas." Pintanya.


"Kamu gabungin sarapan dan makan siang,,," Tambah Zia dengan seulas senyum.


Gavin mengangguk patuh tanpa berbicara apapun. Laki - laki itu terus merapikan rambut Zia, pandangan matanya menerawang jauh. Ada ketakutan dalam sorot matanya. Takut akan kehilangan dunianya, yaitu Zia.


Gavin meletakan sisir di meja rias. Rambut Zia sudah selesai dia rapikan. Namun Gavin belum beranjak. Dia menatap lekat wajah Zia dari pantulan cermin. Pandangan mata yang begitu dalam hingga membuat Zia berkaca - kaca. Seperti ada magnet yang menariknya hingga masuk kedalamnya.


"Jangan khawatirkan hubungan kita Zi. Aku akan pastikan mama tidak akan ikut campur lagi,," Ucap Gavin dengan suara lirih.


"Fokus pada kebahagiaan kita. Aku tidak akan lagi mempermasalahkan soal anak. Karena yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan kamu,,,"


Ucapan Gavin mampu menggetarkan hati Zia. Terdengar tulus dan begitu menyentuh.


Zia tidak bisa membendung air matanya, wanita itu segera berdiri dan memeluk Gavin erat.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk rumah tangga kita,," Ujar Zia disela tangisnya.


Gavin mendekap erat tubuh Zia dengan penuh cinta.


"Percaya padaku, kita akan baik - baik saja." Ucap Gavin yakin.


...****...


Tabur bawang dulu ah,,, 😁

__ADS_1


__ADS_2