
Pukul tujuh malam di sebuah butik, Delisha telah selesai bekerja. Ia berjalan ke depan jalan dan melihat mobil Riyan sudah terparkir di seberang sana.
"Kak Riyan on time banget sih, aku jadi nggak enak." Gumam nya sambil menyebrang.
Ia mengetuk pintu kaca mobil Riyan, pria yang sedang memainkan ponsel nya terkejut dan membuka kaca nya.
"Sudah selesai?" Tanya nya.
Delisha mengangguk, "Sudah Kak".
"Ayo masuk." Ajak Riyan dan gadis itu berjalan memutari mobil masuk ke dalam nya. "Jangan lupa seatbelt nya ya.." Riyan mengingatkan nya dengan senyuman panah asmara yang membuat Delisha klepek-klepek.
"I-iya Kak."
"Okay, kita jalan sekarang." Pria itu memutar stir mobil nya setelah di rasa semua siap. Sepanjang jalan Riyan mendengarkan lagu kesukaan nya, dan kebetulan Delisha hafal dengan lirik lagu itu.
Ia reflek menyanyikan lagu nya dan Riyan malah jadi ikut nyanyi bersama, mereka larut bahagia dalam alunan musik di dalam mobil.
Dinan malam ini bertemu dengan teman-teman nya di sebuah cafe. Ia menghadiri sebuah acara pesta ulang tahun dengan memakai gaun berwarna merah terang. Pesona kecantikan nya juga luar biasa, ia menyapa teman nya yang berulang tahun.
"Monic, happy birthday yaa.. Sukses selalu sayang.." Ucap nya sembari cipika cipiki dengan Monic.
"Aaaa... Thank you so much babe. Emh.. Dimana Reyhan?" Tanya Monic.
"Dia tidak ikut, sedang ada urusan bisnis dengan klien nya di luar." Mereka pun duduk bersama dengan teman nya yang lain.
"Haii.. Bagaimana kabarmu, lama kita tidak bertemu yaa.." Sapa Dinan pada teman lama nya. Wanita yang di sapa itu tersenyum, ia juga mengenakan gaun seksi berwarna biru dongker.
"Aku sibuk pemotretan, kabarku baik. Bagaimana kabarmu?" Tanya Fiona balik. Ya, wanita itu adalah Fiona, ia teman lama Dinan di Jakarta. Entah bagaimana bisa mereka berteman. Inti nya Dinan sangat mengenal Fiona.
"Tentu baik Fio.." Dinan menenggak segelas soft drink dari meja nya.
"Aku tinggal dulu yaa babe, kalian ngobrol-ngobrol dulu." Pamit Monic, pada kedua nya.
"Fio semakin hari kamu semakin cantik saja, seperti nya sudah punya calon suami." Goda Dinan membuat Fiona memutar bola mata nya.
"Boro-boro Dinaan.. Aku suka sama pria satu dari dulu saja susah di dekatin." Jawab nya bad mood.
Dinan menautkan satu alis nya. "Memang nya pria mana yang tidak bisa kamu taklukan? Aku yakin dia sudah minus mata nya. Ha ha ha." Gelak tawa nya membuat Fiona juga tertawa.
"Ya ada.. Dia teman masa kecilku, nama nya Radit."
"Apa Radit yang kamu katakan itu.. Radit yang punya Diamond Glow?" Dinan menerka-nerka, karena nama itu sangat familiar.
"Benar, kamu tahu darimana Dinan?"
"Perusahaan Reyhan bekerja sama dengan Diamond Glow, jadi aku mengenal pria yang kamu sukai." Jawab nya dengan enteng.
__ADS_1
"Oh begitu ya, dia memang pria gila bekerja. Sampai aku pun tidak pernah di lirik nya." Fiona menjawab dengan rasa jengkel di hati nya.
"Sudahlah, lain kali aku bisa membantumu untuk mendapatkan nya." Ucap Dinan menjanjikan.
Fiona memajukan wajah nya tak percaya. "Yakin kamu?" Dinan mengangguk. "Baiklah, aku simpan tawaranmu. Suatu saat aku akan menagih nya." Jawab nya lalu mereka menikmati hidangan kue dan dessert lain nya di meja bersama.
'Seperti nya aku mendapatkan partner yang bisa membuat Nania hancur. Lihat saja kamu Nania, dulu mungkin aku ingin kamu bisa mendapatkan Radit. Tapi sekarang kamu sudah berani melawanku. Kamu lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan, kamu nggak pantas mendapatkan Radit.'
Seringai tajam terbit di wajah Dinan dengan bisikan hati nya yang berniat menghancurkan kehidupan Nania.
Devan yang baru pulang dari kantor nya sedang menunggu lift terbuka di hadapan nya. Ia sambil memainkan ponsel nya, Nania yang baru balik dari super market membawa kantung belanjaan nya menyapa Devan.
"Devan.."
"Nania? Kamu dari mana?"
"Aku habis belanja bahan-bahan di kulkas, kamu baru balik kerja ya?" Kedua nya masuk ke dalam lift.
"Iya, kamu sendirian saja?" Devan mendadak ingin tahu. "Iya sendirian, he he." Nania tersenyum pada nya, membuat pria itu jadi merasa gemas.
"Oh ya, sudah lama juga ya kita jarang ketemu. Jadi kangen makan bareng sama kamu." Ucap Devan, Nania cuma tersenyum lagi. "Iya, aku lagi lumayan sibuk juga."
"Oh ya, Nania.. Kamu di griya tawang tinggal sama siapa?" Baru saja ia menanyakan itu, pintu lift sudah terbuka di lantai tempat Devan tinggal.
"Gimana?" Tanya Nania.
"Iya Devan, bye."
Pintu lift kembali tertutup, Devan menggosok punggung leher nya yang terasa pegal. "Apa iya Nania tinggal di atas sama pria yang waktu itu aku lihat di lobi ya? Ah, nggak mungkin." Gumam Devan sambil masuk ke dalam apartemen milik nya.
Nania menekan kode akses apartemen Radit, ia terkejut saat membuka pintu, pria tampan itu sudah menunggu di hadapan nya.
"Aakh.."
"Radit, kamu kenapa berdiri di sini, mengagetkan saja." Nania mengelus dada nya yang sedikit tersentak.
"Maaf Nana. Habis kamu keluar tidak bilang, aku mencari kamu." Radit merasa terabaikan.
"Hm.. Maaf ya, tadi aku ke super market sebentar beli bahan untuk sarapan besok. Ada beberapa yang kurang di kulkas." Jawab nya sambil berjalan ke dapur.
"Kamu kan bisa minta temani aku sayang.." Radit memeluk nya dari belakang. Ia menyandarkan wajah nya di bahu Nania.
"Aku tidak ingin mengganggumu, tadi aku lihat kamu lagi sibuk di ruang kerja. Apa kamu butuh sesuatu?"
"Hmm,, tentu. Aku butuh kamu, dan..."
"Dan apa?"
__ADS_1
Nania merasa geli karena Radit mencium ceruk leher nya berkali-kali. "Sshh.. Radit hentikan, ini sangat geli." Ia meronta ingin di lepaskan.
"Hmm tidak mau."
Pria itu malah mengeratkan pelukan nya dari belakang dan terus mencumbu leher jenjang Nania yang rambut nya sudah terikat sejak tadi.
"Aahh... Radit.. Please, hentikan." Nania merasa geli tiada ampun.
"Aku sudah pernah bilang kan sama kamu, jangan mengikat rambutmu jika keluar. Ini hukuman nya karena kamu sudah berani mengikat rambut saat pergi keluar." Ucap nya dan melanjutkan lagi aksi nya.
"Akh.. Iya, iya.. Aku salah, maaf aku nggak sengaja.. Sssshh.. Radit ampun.."
Akhir nya pria itu melepaskan pelukan nya dan membalik tubuh gadis nya. Ia menatap Nania dalam-dalam.
"Janji tidak mengulangi nya lagi?"
"Iya aku janji." Ucap Nania sambil memegangi leher nya yang masih terasa geli.
Pria itu mendekatkan wajah nya pada Nania, hidung bangir nya sudah menyentuh hidung lancip milik Nania. Nafas mereka sudah saling terasa, ketika bibir mereka ingin saling menyentuh, sebuah bel mengurungkan kegiatan itu.
"Ck, mengganggu saja. Biar aku lihat dulu siapa yang datang."
"Hmm.." Nania mengangguk, ia tersenyum kala Radit sudah beranjak dari dapur.
Radit menyalakan layar kecil yang menempel di dinding dekat pintu untuk mengetahui siapa yang datang.
"Mama???!!" Ia terkejut.
Buru-buru Radit berlari ke dapur lagi, ia menemui Nania yang sedang menyusun belanjaan di kulkas. "Nanaa...Nana gawat!!" Radit gerasak-gerusuk sambil menggaruk rambut nya yang tidak gatal.
"Ada apa Radit?"
"Itu.. Mama ada di depan." Ucap nya gegabah.
"Apa?!! Terus bagaimana?" Nania menjadi ikutan panik. Radit menarik tangan Nania untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Kamu tunggu di sini dulu ya sayang. Nanti kalau mama sudah pulang, aku akan kesini buat panggil kamu." Ucap nya terburu-buru.
"I-iya baiklah."
Radit kembali jalan ke pintu depan, ia merapihkan sejenak pakaian nya dan mengatur nafas nya, lalu membukakan pintu.
"Mama?"
"Kamu lama banget sih buka pintu nya, tangan mama pegal nih bawa ini." Mona nyelonong masuk membawa paperbag yang ia bawa dari rumah.
"Mama kok kesini nggak bilang sama aku dulu." Radit mengekor di belakang Mona.
__ADS_1