Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Suruh Cepat Menikahi


__ADS_3

Radit memutar layar televisi di kamar inap Nania. Ia tidak ingin kekasih nya ini menjadi bosan selama di kamar. Yanti sudah pulang sejak sore hari, ia di antar pulang oleh Riyan tapi menolak. Dengan alasan Yanti ingin pergi ke rumah teman nya.


"Nana.. Bagaimana kepalamu, apa masih terasa sakit?"


"Sudah tidak begitu Mas, ini sudah jauh lebih baik."


"Dokter Tirta bilang, kalau kamu masih perlu di rawat dua sampai tiga hari lagi. Nanti gips di kaki kamu boleh di lepas kalau sudah seminggu ya." Jelas Radit dengan penuh pengertian.


"Iya Mas.. Terima kasih ya, kamu selalu perhatian denganku."


"Tentu sayang, kamu kan calon istriku."


Radit mengecup singkat kening Nania, membuat sang empu tersipu malu. "Mau makan sesuatu?" Nania menggelengkan kepala nya. "Nggak Mas, ini sudah malam."


"Oh ya, di apartemen ada Riyan dan Delisha menginap di sana." Pria itu memberi tahu Nania. "Apa?! Riyan dan Delisha di apartemen berdua Mas?" Nania sedikit panik.


"Iya, Riyan bilang kalau sahabatmu itu sedang di tinggal pergi sama Ibu nya ke kampung. Riyan tidak tega melihat Delisha tinggal di rumah sendiri. Jadi aku suruh mereka tinggal di apartemen kita saja. Kamu tahu kan kalau Mama minta Riyan untuk tinggal di sana." Pria tampan ini berbicara panjang lebar.


"Apartemen kamu Mas, bukan kita. He he, iya aku tahu Mas. Tapi apa kamu yakin mereka di tinggal berdua saja di sana?" Nania tersenyum manis sekali, dan merasa cemas pada sahabat nya yang berduaan saja dengan Riyan.


"Itu apartemen kita juga sayang, kan kamu akan jadi istri aku. Apa yang aku punya, akan jadi milik kamu juga Nana.."


"Memang nya kenapa kalau mereka berdua? Kemarin-kemarin juga kita tinggal berdua di sana."


"I-iya sih Mas.. Tapi kan__"


"Sudahlah, biarkan saja. Mereka sudah dewasa Nana, aku tahu Riyan tidak akan macam-macam pada sahabatmu." Radit memberi pengertian agar Nania tidak berpikir yang aneh.


"Baiklah Mas, Delisha memang takut jika tidur sendirian di rumah. Setiap Ibu nya pulang kampung dulu, pasti dia tidur bersamaku, Mas."


"Iya sayang, sahabatmu akan aman di sana."


Di sebuah kamar tamu dalam apartemen mewah, Riyan masih mengungkung Delisha di bawah nya.


"M-mas mau apa?"


Gadis itu tidak bisa bernafas. Rasa nya kaku sekali. Manik mata nya juga menatap Riyan dengan was-was.


Dengan gerakan cepat yang sebelum nya di sertai saling bertatapan. Riyan mencium bibir ranum milik Delisha. Sang pemilik merasa dapat serangan dadakan, ia membelalakkan mata nya.


"Mmmmph..."


Riyan terus melu-mat bibir kekasih nya. Semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Delisha hampir kehilangan akal sehat nya.


Ia malah terpejam dan menikmati cumbuan dari kekasih nya. Setelah di rasa cukup, Riyan melepaskan pagutan itu. Ia menatap Delisha dengan nafas saling memburu.


Gadis itu membuka mata nya, nafas nya masih terasa berat. Riyan segera membangunkan posisi Delisha yang sempat terlentang di atas karpet.

__ADS_1


"Baby.. M-maaf aku tidak sengaja terjatuh tadi."


"I-iya Mas."


Delisha maupun Riyan malah jadi canggung. Tanpa mau menyiakan waktu berdua, pria itu kembali menarik pinggang Delisha dan merapatkan pelukan nya.


"M-mas.."


Gadis itu mendadak gugup lagi, di selipkan nya anak rambut Delisha di hadapan Riyan yang tak ada jarak. Sangat dekat, hingga hembusan nafas kedua nya terasa.


"Delisha, aku menyayangimu.."


Riyan mengambil alih lagi, dan mencium bibir Delisha tanpa memberikan kesempatan gadis nya menjawab.


"Mmphh..."


Kaki Delisha semakin di buat mundur oleh Riyan, hingga terbentur sisi ranjang, dan mereka berdua sengaja menjatuhkan diri ke atas tempat tidur.


Di tindih nya tubuh Delisha yang mungil, Riyan semakin dalam mencumbu nya. Ini sangat gila, benar-benar gila. Delisha baru ini merasakan jatuh cinta, hingga di buat terbuai seperti ini. Ia memang sudah dewasa, tapi ini adalah hal pertama untuk nya. Sulit mengimbangi pergerakkan Riyan yang mencumbu nya dengan panas.


Merasa sesak nafas, dan kurang oksigen, Delisha mendorong dada bidang Riyan. Pria itu melepaskan nya.


Riyan menatap manik mata Delisha dengan penuh gairah. Bibir nya semakin merah merona akibat ulah Riyan. Gadis itu mengedipkan mata nya beberapa kali, tanda ia masih canggung.


"Sayang,, maaf sudah kelepasan. Mas tidak tahan dengan bibirmu yang manis ini." Ucap nya dengan suara berat.


"Iya sayang, Mas janji." Delisha pun tersenyum.


"Terima kasih Mas."


"Ya sudah kamu istirahat di sini ya, Mas akan ke kamar sebelah. Kalau ada apa-apa kamu bisa ke kamar Mas."


"Baik Mas."


Riyan bangkit dan mengacak-ngacak pucuk rambut Delisha yang menggemaskan.


Radit menyelimuti Nania yang akan istirahat, ia begitu telaten merawat nya. "Nana, tidurlah.. Aku akan menjagamu."


"Hmm, Mas tidurlah juga.. Besok Mas juga harus bekerja lagi. Aku nggak mau Mas sampai kelelahan karena menjagaku." Ucap nya dengan lembut.


"Baiklah sayang, seperti nya ranjang ini cukup untuk berdua. Bagaimana kalau kita tidur bersama di sini." Goda Radit dengan senyum nakal nya.


"Masss..."


"He he, tenang Nana. Aku akan tidur di sofa ini, kamu istirahatlah sayang." Radit mengecup singkat bibir Nania.


Tak lama ponsel milik Radit berdering, pria itu meraih ponsel nya yang ada di atas nakas. "Mama.." Gumam nya.

__ADS_1


Rupa nya Mona yang melakukan panggilan video pada Radit. "Siapa Mas?" Tanya Nania penasaran. "Ini ada Mama telepon video sayang. Mas angkat dulu ya." Nania sedikit takut kalau Mona sampai tahu dia masuk rumah sakit.


Radit menjauh ke dekat jendela. Ia mengangkat panggilan video dari sang Mama.


"Halo Ma.."


"Radit, kamu sedang apa sih, kok angkat nya lama sekali."


Terlihat dari layar ponsel ada Mona yang memakai baju tidur bersandar di ranjang. Dan Radit menampilkan diri nya di balik gorden besar.


"Radit sudah mau tidur Ma.. Ada apa Mama telepon malam-malam begini, panggilan video lagi." Kesal Radit.


"Mama cuma mau mastikan kamu saja, kamu tidur di kamar kamu sendiri kan Radit?"


"Iya dong Ma, Mama aneh deh." Bohong Radit dengan ekspresi biasa, agar Mona tidak curiga. "Apa calon menantu Mama sudah tidur?"


"Ya sudah Ma, ini kan sudah malam. Semua orang sudah pada istirahat." Radit pura-pura menguap dan mengucek mata nya.


"Semua orang?" Mona bingung.


"Ya semua nya Ma, Riyan dan Nania sudah tidur di kamar nya masing-masing." Jawab Radit lagi-lagi harus berbohong.


"Ya sudah kalau gitu. Kamu istirahat juga ya sayaang. Daahh.."


Tut.. Panggilan video telah di matikan oleh Mona, Radit bernapas lega sekali. Beruntung gorden di kamar inap Nania berwarna sama dengan gorden yang ada di kamar Radit.


Ia pun kembali ke Nania. "Mas, bagaimana, apa Mama curiga?" Nania sedikit mendengar pecakapan kedua nya.


Radit menggelengkan kepala nya. "Tidak sayang, sudah kamu tenang saja. Sekarang kita istirahat ya, ini sudah malam."


"Hmm, iya Mas." Nania patuh dan mereka akhir nya istirahat.


Nania memejamkan mata nya, dan Radit berbaring di sofa bed yang ada di samping Nania. Mata nya tak beralih dari wajah cantik calon istri nya.


"Cantik.." Gumam nya lalu ikut memejamkan mata.


Sandi yang sudah akan tidur masih di ganggu dengan Mona. "Pa, menurut Papa.. Anak kita itu bisa menjaga diri nya atau tidak, meskipun dekat dengan Nania?" Tanya Mona di sela-sela akan tidur nya.


"Ma, dimana-mana orang yang berpasangan belum saling ada ikatan resmi, tidak baik di biarkan bersama dalam satu atap. Mendingan Mama suruh Radit untuk cepat menikahi gadis itu. Jangan sampai ada kejadian sebelum menikah." Saran Sandi sebagai kepala keluarga yang tegas dan baik.


"Jadi menurut Papa, Radit itu bisa saja khilaf ya Pa?"


"Iya dong Ma, jangan biarkan anak kita seperti itu. Suruh dia untuk menikahi gadis itu jika memang mencintai nya. Kenapa juga harus menunggu sampai project nya selesai"


"Papa benar juga, besok Mama akan bicara lagi sama anak itu."


"Ya sudah Ma, sekarang lebih baik kita tidur."

__ADS_1


"Iya Pa."


__ADS_2