
Pagi nya Radit, Nania, Prof.Zhang dan juga Xiaoran tengah berkeliling di taman yang penuh dengan bunga dan tumbuhan akar wangi. Bahan utama yang biasa di gunakan untuk membuat parfum.
"Suasana di sini masih begitu asri dan wangi. Saya suka berada di sini." Ucap Radit.
"Saya sengaja menanam tumbuhan ini dan beberapa bunga di sini. Karena saya memang suka dengan mereka semua. Banyak manfaat nya tidak hanya untuk membuat parfum saja, Tuan Radit." Balas Prof.Zhang.
Nania terus mengekor di belakang Radit membawa buku catatan nya. Tak lupa juga Xiaoran yang berada di samping Prof.Zhang selalu mencuri pandangan ke Radit.
"Tuan, tumbuhan ini wangi sekali."
Sekertaris itu menyentuh tumbuhan akar wangi yang berbaris rata di kebun milik Prof.Zhang. Ia menghirup dalam aroma tumbuhan nya.
"Kamu suka?" Tanya Radit dan Nania mengangguk.
"Mari kita ke ruangan pembuatan ekstrak wewangian yang sudah saya racik, Tuan." Ajak Prof.Zhang sambil menunjuk ke sebuah ruangan tak jauh dari kebun nya.
Mereka berempat masuk ke dalam ruangan bernuansa klasik, jangan lupakan ruangan nya yang selalu harum dengan wangi yang berbeda-beda.
"Hmm.. Ruangan ini wangi jasmine dan aroma lily." Tebak Nania.
"Ha ha ha, anda cukup pandai Nona Nania. Aroma yang kau sebutkan memang benar dari Jasmine dan juga bunga Lily."
Radit menoleh ke arah Nania dengan tatapan manis nya, Xiaoran kesal melihat Nania yang bersikap sok tahu dan merasa menggoda Radit.
"Ah, mari kita duduk di sini saja. Silahkan Tuan, anda bisa merasakan satu persatu aroma dari botol-botol ini." Ucap Prof.Zhang mempersilahkan Radit dan Nania untuk meneliti aroma yang di buat khusus.
Beberapa botol mulai Nania hirup dan rasakan kewangian nya, Radit juga melakukan hal yang sama. Xiaoran berusaha menarik perhatian Radit.
"Tuan, biar saya buatkan minuman untuk anda."
"Hm" Balas Radit singkat.
Sekertaris Radit itu menatap nya dengan jengah, apa lagi yang akan di usahakan Xiaoran untuk menarik perhatian Radit.
"Aroma ini seperti musk, dan... Mawar Bulgaria." Tebak Nania lagi.
Membuat Radit sedikit kagum dengan kepintaran yang di miliki Nania.
"Anda benar lagi Nona." Prof.Zhang begitu senang mendengar nya. "He he, wangi nya harum sekali." Puji Nania pada beberapa botol parfum yang belum di kemas, masih dalam berupa botol biasa berwarna hitam, sekilas mirip guci kecil.
"Kemampuan mu cukup menarik." Ucap Radit menatap Nania penuh kagum. "Hm, terima kasih Tuan."
"Baiklah, kamu boleh memilih beberapa parfum di sini yang akan kita produksi, nanti kita akan pilih lagi saat rapat dengan Kolega lain nya." Ujar Radit.
Gadis itu merasa gembira, ia seperti mendapat suatu kehormatan bisa ikut memilih parfum yang akan di produksi.
"A-anda yakin Tuan?" Dan Radit mengangguk. "Baik Tuan, terima kasih. Saya akan memilih nya dengan baik." Jawab Nania dengan sumringah. Ia melanjutkan lagi kegiatan memilih aroma-aroma yang pas untuk produk baru.
__ADS_1
Pria tampan itu, entah kenapa ikut senang melihat kegembiraan yang muncul di wajah Nania. Ia tersenyum tanpa sadar di lihat oleh Prof.Zhang.
"Permisi, Tuan.. Silahkan di minum, saya membuat matcha latte dengan campuran susu murni. Saya yakin anda pasti akan suka."
Xiaoran kembali dengan membawa dua gelas matcha latte, ia memberikan yang satu nya untuk Prof.Zhang dan yang satu untuk Radit.
Seketika itu membuat mata Nania sedikit membulat sempurna.
"Ini untuk saya saja, terima kasih."
Nania langsung meminum nya, Radit yang mendapat perlakuan seperti itu dari Sekertaris nya hanya bisa mengulum senyum.
"Apa-apaan kamu Nania!! Minuman itu untuk Tuan Radit." Kesal Xiaoran.
"Maaf, tapi Tuan Radit tidak suka minuman yang di campur dari susu." Jawab nya enteng, Nania tersenyum puas, berhasil membuat Xiaoran kesal.
"A-apa?!"
"Ma-maaf Tuan, kalau begitu saya akan membuat minuman yang lain untuk anda." Xiaoran tetap ingin menggoda Radit, ia mendekati Radit dengan baju feminim nya. Membuat Nania memicingkan mata.
"Tidak perlu. Saya sedang tidak ingin minum."
'Ha ha ha.. Rasain kamu!! Kegatelan banget sih jadi cewek. Nggak bisa lihat pria tampan ya, hiss..' Nania tertawa dalam hati nya.
Di sebuah apartemen, Dinan datang untuk menengok Ibu nya. Ia datang membawa sekantong belanjaan makanan.
"Dinan, kenapa kamu tidak mengabari Ibu jika ingin datang kesini?" Tanya Yanti yang senang Dinan datang ke apartemen nya.
"Kemarin Ibu bertemu dengan Nania, anak itu bersih keras ingin kamu menemui Ibu."
"Biarkan saja! Aku sangat kesal pada anak itu, semakin kesini, dia semakin berlagak pintar. Lihat saja, aku akan membuat dia menyesal telah melawan siapa!" Ancam nya dengan nada yang menyeramkan.
Yanti mendadak khawatir, "Sudah jangan terlalu di pikirkan, Ibu bertemu pada nya hanya ingin minta uang saja."
"Terus Ibu dapat uang nya?" Yanti menggelengkan kepala nya.
"Hah, Ibu tuh gimana sih? Nania itu dekat sama Radit, dia pemilik Perusahaan No.1 di kalangan dunia kecantikan. Masa dia tidak bisa memberikan Ibu uang. Ibu harus membujuk nya untuk bisa mendapatkan Radit, dengan begitu aku bisa menguasai Nania dengan mudah."
"I-iya Dinan, kamu tenang saja. Ibu akan berusaha membujuk nya lagi." Jawab Yanti patuh, ia begitu takut dengan keangkuhan Dinan.
Sifat nya yang arogan, tidak pernah peduli dengan keluarga ataupun orang di sekitar nya. Semua dia lakukan, agar tidak ada yang bisa menghalangi keinginan nya.
"Oh ya, Ibu jangan pernah hubungi aku. Aku yang akan kesini menemui Ibu. Karena kalau sampai Reyhan tahu kebenaran nya. Tamat sudah riwayatku!!"
"I-iya Dinan, Ibu mengerti."
"Bagus, aku tidak mau apa yang sudah aku dapatkan sekarang menjadi sia-sia." Tegas nya dengan sombong dan dingin.
__ADS_1
"Hm, Dinan.. Ibu buatkan makanan kesukaan kamu mau ya.."
"Tidak usah, aku langsung pergi. Aku hanya bilang pada Reyhan keluar sebentar. Aku pergi dulu."
Dinan melenggang keluar begitu saja dari hadapan Yanti, ada sedikit goresan di hati Yanti melihat sikap Dinan yang sekarang. Tapi ia tetap merasa kalau Dinan lah anak kebanggaan dari keluarga nya.
Pukul tujuh malam ini Riyan sudah memarkirkan mobil nya di seberang butik tempat Delisha bekerja. Tak lama gadis yang ia tunggu keluar dari butik, Riyan pun ikut turun dari mobil nya.
"Delisha.."
Panggilan pria itu membuat Delisha melirik nya. "Kak Riyan.." Ia menghampiri pria tampan di seberang jalan.
"Kak Riyan menjemputku? Kenapa tidak bilang, aku kira Kak Riyan masih ada di Kota B."
"Sudah pulang tadi pagi, ya sudah.. Biar aku antar kamu pulang, ayo masuk ke dalam mobil." Delisha mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Riyan memutar musik pelan, agar suasana tidak begitu canggung. "Apa Kak Riyan tidak lelah, setelah perjalanan dari Kota B langsung ke kantor untuk bekerja. Dan sekarang menjemputku?" Tanya nya begitu perhatian.
'Ya ampun Delisha.. Kamu orang pertama yang mengkhawatirkan aku.'
"Nggak kok, aku sudah biasa."
Delisha mengangguk-angguk, "Ah begitu ya.. Bagaimana kalau aku traktir makan malam." Ucap nya dengan nada gembira. Lalu kemudian ia menutup mulut nya sendiri.
Riyan terkekeh mendengar ajakan Delisha yang begitu semangat. "Yakin mau traktir makan malam?"
'Aku siap menghabiskan gajiku sebulan untuk mentraktir mu makan malam, Kak..'
"Iya.."
"Okay, boleh.. Aku yang nentuin tempat nya ya?" Ucap Riyan, sedikit membuat Delisha ragu. "I-iya Kak. Kita makan malam di tempat yang Kak Riyan pilih. He he." Nyali nya kini sedikit menciut.
'Gawat!! Kali ini gaji sebulan ku bakalan habis beneran.' Gumam Delisha dalam hati nya.
Riyan mengulum senyum sambil fokus menyetir. Tidak memakan waktu lama, mobil nya berhenti di sebuah taman Kota.
Banyak kuliner kaki lima yang berjualan di pinggiran taman. Ramai dengan antrian orang-orang yang membeli makanan, karena memang cita rasa nya enak dan tempat nya yang asik.
"Kita makan di sini Kak?"
"Iya, ayo turun." Ajak nya tersenyum. Delisha bernafas lega kali ini. "Syukurlah.. Bukan di restoran mahal." Ceplos nya.
"Ya?"
"Ah tidak..Tidak.. Bukan apa-apa kok, Kak."
Akhir nya mereka turun mengitari taman Kota sambil melihat tempat makan yang akan mereka tujui.
__ADS_1
"Mau makan dimana, kamu pilih saja ingin makan apa?" Tanya Riyan lagi. "Dimana saja, aku ikut Kak Riyan saja. He he" Jawab Delisha.
Tingkah nya semakin gemas di mata Riyan, ia menyukai gadis yang imut dan penurut seperti Delisha.