
Siang ini Nania sudah kembali ke kantor sebelum jam makan siang. Ia melihat masih kurang sepuluh menit lagi jam makan siang itu tiba.
"Tuan Radit masih belum ada di ruangan nya, lebih baik aku cari nomor kontak yang bisa menghubungi Kak Dinan."
Nania mengintip ke arah celah kaca ruangan Radit, tapi sang empu belum ada di ruangan nya, buru-buru Nania duduk di tempat kerja nya dan membuka folder yang ada di layar PC.
"Mana ya,,, Kak Dinan, kamu tega sekali jika kali ini tidak menemui Ibu." Gumam nya.
"Nah.. Ketemu!"
Ia senang melihat nomor kontak yang bisa di hubungi, di sana tertera nomor perusahaan Lan Corp, baru saja Nania hendak menghubungi nomor itu. Radit sudah datang menghampiri nya.
"Nania, kamu sudah kembali?"
"Ah, iya Tuan saya sudah kembali, baru saja sampai." Jawab nya.
Gadis itu mengurungkan niat nya untuk menelpon, karena kedatangan Radit yang baru selesai meeting.
"Ke ruanganku sekarang." Titah nya dengan suara yang pelan dan terkesan lembut.
Nania menautkan kedua alis nya, ia mengekor di belakang Radit, sepasang mata melihat gerak-gerik Tuan nya dan Sekertaris itu dari jarak yang tidak jauh dari mereka.
"Tuh, kan mulai-mulai mengekor gitu.. Padahal ini jam makan siang, masa mereka masih kerja aja? Nyuruh Nania masuk ke dalam ruangan nya, palingan juga bukan kerja, dasar Tuan dingin.. Tuan arogan, Tuan perfect, Tuan tampan."
Pria itu mengumpat yang tak lain adalah Riyan, ia melihat kedua insan itu sebelum masuk ke dalam ruangan nya yang tidak jauh dari ruangan Radit.
"Eh, ini mulut kenapa muji-muji dia segala sih, tapi memang benar Tuan Radit itu tampan. Ah tahu lah!!" Kesal nya memegang bibir lalu menggelengkan kepala dan masuk ke ruangan nya.
"Duduklah Nania."
"Iya Tuan."
Nania duduk di sofa dalam ruangan Radit, kemudian pria itu duduk di samping nya. "Tuan, kenapa duduk di sini, nanti kalau ada yang melihat gimana?"
Radit langsung menutup tirai kaca dengan remot pintar nya. "Sudah, tenang saja. Tidak akan ada yang lihat." Ucap nya dan gadis itu tersenyum kaku.
"Bagaimana keadaan Ibumu, sebenar nya Ibu kamu sakit apa?"
Ia begitu perhatian menatap gadis yang ada di hadapan nya. "Ibu tidak sakit Tuan, tadi Ibu di serempet pengendara motor, lalu di larikan ke rumah sakit." Jawab nya.
"Panggil namaku saja, kita hanya berdua di sini." Pinta nya lembut.
__ADS_1
"Hm, i-iya."
"Lalu Ibumu masih di rawat di rumah sakit, bagaimana keadaan nya?" Pria bernama Radit terlihat cemas memikirkan Ibu Nania.
"Tidak ada luka yang serius, hanya cidera ringan di kaki nya, dan lengan nya terluka. Tapi masih perlu di rawat inap satu atau dua hari lagi."
"Syukurlah kalau tidak ada luka yang serius, kamu baik-baik saja?"
Radit memegang pipi Nania, karena yang ia lihat sedari tadi masih ada rasa cemas di wajah nya. Nania menatap balik Radit, mata mereka saling bertemu.
"Aku baik-baik saja." Jawab nya tersenyum.
"Hm, no. Ada apa, ceritakan saja padaku?" Kali ini Radit menggenggam tangan Nania. Gadis itu merasa jika Radit sangat mengerti perasaan nya.
'Aku baik-baik saja Radit, aku hanya memikirkan bagaimana caraku untuk mempertemukan Ibu dengan Kak Dinan.' Seru nya dalam hati.
Padahal Nania tidak tahu saja, kalau Dinan dan Ibu nya sudah bersekongkol sejak dulu.
"Apa kamu dengan Ibumu sudah baik-baik saja selepas kejadian itu. Maaf aku nggak bermaksud membuka lagi memori itu, aku__"
"Aku sudah tidak mempermasalahkan lagi permasalahan itu, aku sudah ikhlas. Hubunganku dengan Ibu sudah jauh lebih baik, Radit." Jawab Nania dengan yakin agar Radit percaya.
Pria itu memeluk Nania, ia mengusap pucuk rambut gadis nya.
'Terima kasih Tuan, telah memberiku pria yang baik dan mengerti keadaanku.'
Nania melepaskan pelukan nya, ia menatap Radit. "Terima kasih karena kamu selalu seperti ini." Pria itu tersenyum.
Tok..Tok..Tok..
Sekertaris Radit itu langsung menoleh ke arah pintu dan beringsut mundur dari duduk nya.
"I-itu pasti karyawan lain yang___" Nania sudah gelisah dan tidak bisa melanjutkan lagi kalimat nya.
"Itu pesan antar, aku tadi memesan makanan. Kenapa kamu panik begitu?" Radit mengulum senyum, ia lalu menekan tombol kunci pada remot pintar nya.
"Masuk.."
Benar saja, yang datang seorang OB membawa paperbag makanan milik Radit.
"Permisi Tuan, maaf saya mau mengantar ini untuk Tuan." Ucap pria itu dan memberikan paperbag makanan nya ke Radit.
__ADS_1
"Hm, terima kasih." Jawab Radit.
Nania langsung terkejut dan melirik ke Radit, karena tidak biasa nya Radit mengucapkan kalimat terima kasih pada karyawan nya.
OB pun sudah meninggalkan ruangan Radit, pria itu kembali mengunci pintu nya dengan remot pintar.
"Ayo kita makan siang dulu.."
Radit membuka paperbag makanan nya dan merasa Nania tidak bergeming, lalu ia melirik ke gadis itu dan bertanya.
"Ada apa, kenapa kamu tersenyum dan diam saja, hm?"
Tidak ada jawaban dari Nania, gadis itu tetap tersenyum indah, ia merasa jika Radit banyak perubahan di kantor nya. Baik itu pada diri nya maupun karyawan lain.
"Kalau kamu terus tersenyum seperti itu, aku bisa kenyang sebelum makan siang." Goda Radit dan sukses membuat Nania terkekeh.
"Huft, sekarang aku sudah kenyang." Ucap nya dan meletakan sumpit nya di meja.
"Kamu belum makan, ayo makan dulu." Ajak Nania dan membuka kotak makanan nya. Terdapat makanan kesukaan Nania semua yang ada di meja. Ada dimsum, ayam mentega, beef teriyaki, dan ada juga salad sayur nya.
"Tidak mau."
Radit pura-pura tidak mau makan dan malah bersandar di sofa.
"Yakin tidak mau makan? Radit, ini makanan kesukaanku. Dari mana kamu mengetahui nya." Tanya Nania tanpa melepas pandangan nya dari menu makan siang itu.
"Aku kan Raditya Cipta Buana, semua bisa aku ketahui." Senyum nya terbit sambil melipat kedua tangan nya di dada.
"Kalau begitu ayo kita makan." Nania bersemangat sekali, ia bahkan sudah tidak ada rasa canggung lagi dengan Radit.
"Tidak mau." Pria itu masih jual mahal.
Nania menatap Radit dengan memicingkan mata, tanpa malu Radit langsung menepuk-nepuk pipi kiri dengan jari telunjuk nya.
"Apa itu?" Nania masih tidak paham.
"Aku mau makan, kalau kamu cium pipiku."
"Kamu ya..." Nania langsung mencium pipi kiri Radit, pria itu merasa menang. "Ayo makan, aku tidak mau kalau maag kamu sampai datang lagi." Nania mengambilkan makanan untuk nya.
"Kan ada kamu, kalau sampai maag aku datang lagi, kamu yang bertanggung jawab."
__ADS_1
"Aku baru tahu, jika pemilik Diamond Glow yang terlihat dingin dan tegas. Bisa juga bersikap manja, he he." Mereka lalu tertawa bersama sebelum menyantap makan siang nya.