
Nania sedang berkutat di meja kerja nya, ia menatap layar PC dan sesekali tatapan itu beralih ke berkas yang ada di atas meja.
Beep.. Bunyi panggilan dari benda kotak hitam yang ada di meja nya, yang seperti biasa tanda itu artinya Nania di panggil Radit.
Ia langsung berdiri dan membenarkan sejenak pakaian nya. Lalu masuk ke dalam ruangan Radit.
"Tuan, anda memanggil saya?"
Radit tersenyum dan merentangkan kedua tangan nya, gadis itu bingung dan melukis wajah penuh tanya.
"Waw.. Kita lihat siapa yang ada di hadapanku kali ini?" Ucap nya tersenyum.
"Ma-maksud Tuan?"
Radit berdiri menghampiri Nania, ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Nania diam saja tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kamu sudah mulai berani ya." Radit menopang dagu nya di bahu Nania.
"Tuan, apa salah saya?"
"Kamu memang salah, dan harus di hukum."
Pria itu melepaskan pelukan nya, ia menatap Nania begitu dalam. Sorotan mata nya memang menghipnotis Nania, gadis itu mendadak diam dan tak bisa berkutik.
"Kenapa diam?" Tanya Radit.
"Sa-saya tidak tahu, Tuan."
Tawa Radit pecah dalam ruangan itu, "Nania, kali ini kamu sudah berani." Ia masih menatap Sekertaris nya yang berdiri di hadapan nya.
"Kamu sudah berani menciptakan inovasi di Diamond Glow. Baiklah, karena aku lihat kamu memang selalu serius dalam kerjamu. Aku memberikan kepercayaan padamu."
Nania yang tadi nya diam menunduk, ia mengadah dan menatap Radit. "Saya memang tidak pernah main-main dalam bekerja Tuan." Jawab nya.
"Iya aku tahu, aku memberikan kamu kepercayaan untuk memegang proyek baru kali ini. Pembuatan parfum dari awal hingga launching, aku serahkan semua sama kamu."
"A-apa Tuan, itu tidak mungkin Tuan."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Saya baru di sini Tuan, banyak yang lebih produktif dan lebih berpengalaman. Akan aneh jika saya yang memegang proyek baru kali ini, bagaimana dengan pemegang saham lain nya di Perusahaan Diamond Glow, seperti Pak Baskara, atau Bu Angelina?"
Radit langsung memicingkan mata nya, ia merasa jika Nania berlebihan.
"Lalu kamu tidak produktif, begitu?"
"Bu-bukan juga Tuan."
Gadis itu jadi salah tingkah, ia gelagapan dan bingung harus menjelaskan bagaimana maksud dari pikiran nya.
"Aku memberikan kamu kesempatan satu kali lagi. Buatlah desain untuk ketiga botol parfum beserta cover nya. Kamu harus ikut bersaing profesional dengan tim pengembangan."
"Saya buat desain cover nya, Tuan?"
Pria itu mengangguk, "Tapi saya tidak ahli dalam desain." Nania merasa tidak percaya diri.
__ADS_1
Meskipun ia suka menggambar dan menulis, tapi bukan berarti ia bisa membuat desain untuk produk baru Diamond Glow.
"Aku kasih waktu satu minggu, kalau kamu berhasil, kamu harus jadi kekasihku!"
"A-apa?!!"
'Apa-apaan sih dia, kok segala ngomong status gitu. Kan jadi seram.'
"Kenapa kamu kaget begitu?" Radit beralih duduk di sofa. Nania mengekor dan berdiri di dekat nya. "Bagaimana saya tidak kaget Tuan, kalau saya tidak berhasil membuat desain itu, apa yang terjadi Tuan?" Tanya nya hati-hati.
"Kalau gitu langsung saja menikah.." Radit menyunggingkan senyum manis nya.
"Itu sama saja tidak ada yang benar." Gumam Nania pelan.
"Apa kamu bilang?"
"Ah, tidak ada Tuan." Radit menyuruh Nania duduk di samping nya, dengan patuh gadis itu menurut dan duduk.
"Ini untuk kamu, terimalah." Nania menerima sebuah kotak yang Radit ambil dari atas meja depan sofa nya.
"Ini apa Tuan?" Ia belum membuka kotak nya. "Buka saja." Dengan patuh Nania membuka kotak besar berwarna hitam doff itu.
Sebuah gaun berwarna hitam di hiasi banyak swarovski dan tas kulit berwarna bata. Mata Nania bukan nya berbinar malah mendelik tanya pada barang di hadapan nya. Ia trauma di kasih hadiah pada Kevin saat itu.
"Pakai itu nanti malam, dan itu untukmu."
"Untuk saya? Memang nya nanti malam ada acara apa Tuan, bukan kah jadwal Tuan hanya sampai jam 4 sore saja hari ini." Jawab Nania.
"Pakai saja, nanti juga kamu akan tahu. Ingat, aku tidak suka di bantah!" Perintah nya pada gadis itu. "Baik Tuan." Nania menutup kembali kotak nya.
"Baik Tuan."
Nania langsung pamit keluar dari ruangan itu, "Nania..."
Gadis itu menghentikan langkah nya yang hampir sampai di pintu, "Iya Tuan." Jawab nya ramah. "Soal desain itu, aku serius. Kamu harus membuat nya."
"Baik Tuan, saya permisi dulu." Nania membungkukkan badan nya sebagai tanda hormat.
Pria itu tersenyum puas, saat meeting tadi pagi ia memesan tas dan gaun dari toko barang branded yang mahal. Radit melihat kalau tas yang di pakai Nania tidak pernah ganti dan hampir rusak.
Jadi dia berinisiatif memberikan tas pada Nania. Berbeda dengan ruangan yang tak jauh dari ruangan Radit.
Di dalam ruangan nya Riyan, hendak menghubungi gadis imut yang menganggu hati nya.
"Halo Delisha.." Sapa Riyan dalam panggilan telepon.
"Halo Kak Riyan.. Ada apa?" Jawab Delisha di seberang sana.
"Terima kasih untuk bekal nya, apa kamu yang masak sendiri?" Raut wajah Riyan sudah senyum-senyum sendiri.
"Bukan Tuan, tapi Ibu saya yang masak."
Tet.. Tot.. Pria itu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, ia kenapa berharap jika yang masak adalah Delisha.
"Oh jadi Ibu kamu yang masak ya.. Makanan nya sangat enak." Ucap nya lagi.
__ADS_1
Delisha jadi merasa senang tak karuan. Ia sedang duduk di kursi sambil memandangi baju di dalam butik.
"Iya Kak, tapi aku sendiri yang membentuk dan menyiapkan bekal nya. Syukurlah kalau Kak Riyan suka." Balas nya dengan rasa lega.
"Oh ya, aku nanti sore nggak bisa jemput kamu. Tapi nanti malam jam 7, aku mau ajak kamu makan malam di Henshin Restaurant, gimana?"
"Em iya nggak apa-apa Kak Riyan, makan malam ya?" Delisha mendadak bingung. Kemarin malam saat makan di pinggir jalan Delisha tidak jadi membayar makanan nya, karena Riyan sudah membayar nya.
"Sudah, pokok nya nanti malam kamu aku jemput."
"I-iya Kak."
"Sudah dulu ya, aku masih banyak kerjaan. Sampai ketemu nanti malam."
Panggilan di matikan oleh Riyan, Delisha menaruh tangan nya di dada. "Haduh, mati aku! Apa kali ini dia minta aku traktir makan malam ya? Dan dimana tadi dia bilang, Henshin Restaurant?"
Gadis itu langsung mencari nama restoran yang di maksud Riyan di emba google, ia langsung melongo dan terkejut.
"Haaa..? Ini restoran mahal, wah mati aku. Gaji aku mana cukup. Mana aku nggak punya gaun atau baju bagus. Huaa..." Delisha nampak khawatir untuk nanti malam.
Kebetulan pemilik butik itu sedang memperhatikan Delisha.
"Delisha, kamu kenapa?"
"Eh, Nyonya Linka. A-anu Nya.. Saya lagi bingung. He he."
Delisha tahu jika Linka adalah orang yang baik hati dan ramah pada karyawan nya. Maka dari itu ia tidak pernah berbohong dan selalu mengatakan hal apapun dengan jujur.
"Memang kamu bingung kenapa?"
"Itu Nya, saya nanti malam di ajak makan di Restoran mewah.. Sedangkan saya nggak punya baju bagus." Jawab nya lesu.
"Kamu di ajak makan malam sama pria yang suka jemput kamu itu?" Delisha mengangguk.
"Ya sudah ikut saya sekarang."
Linka menyuruh Delisha mengikuti nya, gadis itu menurut dan mengikuti langkah Linka. Masuklah mereka ke dalam ruangan busana yang mewah.
"Kamu bisa pakai ini Delisha.."
Mata nya berbinar, ia melihat gaun berwarna silver yang panjang nya selutut, dan lengan model sabrina.
"Wahh.. Cantik sekali Nyonya gaun ini, tapi saya tidak mau Nyonya. Maaf, ini pasti mahal sekali. Saya tidak punya uang untuk membeli gaun ini."
"Pakai saja, tidak usah membayar nya. Gaun ini saya buat untuk Fiona anak saya, tapi dia tidak suka. Kata nya kurang seksi. Jadi gaun ini boleh untuk kamu." Ujar nya.
Delisha tidak tahu harus mengatakan rasa terima kasih yang bagaimana lagi, ia sangat senang sampai terharu ingin menangis.
"Ya ampun Nyonya.. Anda baik sekali.. Hiks, semoga Tuhan memberikan Nyonya kesukesan selalu dan panjang umur."
Nyonya Linka tersenyum, ia juga merasa terharu dengan ucapan Delisha yang tulus. "Terima kasih Nyonya.. Saya tidak tahu harus mengatakan apa lagi."
"Sudahlah, pakai ini untuk nanti malam ya. Rias wajah mu juga, minta bantuan sama Viera." Ucap nya lagi.
"Baik Nyonya, sekali lagi terima kasih banyak Nyonya." Ia menunduk saking senang nya, dan Nyonya Linka tersenyum. Andai Fiona anak yang sopan dan baik seperti Delisha.
__ADS_1