
Nania keluar dari kamar Radit dengan wajah yang cemberut. "Nan, sini.." Panggil Delisha. Nania segera menghampirinya yang duduk di sofa.
"Kamu habis ngapain di kamarnya Kak Radit, hayo ngaku.." Ledek Delisha sambil mencurigai sahabatnya. "Haduh Del, kamu jangan ikut-ikutan nyebelin dong kayak Mas Radit." Nania kesal, ia melipat tangannya di dada.
"Hi hi, kamu lucu deh. Gitu saja ngambek. Nih, aku punya dimsum buat kamu. Tadi aku makan di sana sama Mas Riyan, barusan aku hangatkan buat kamu." Delisha mengambil piring dimsum yang ada di atas meja.
Nania terharu melihat dimsum di depan matanya. "Huuuu,,, kamu baik sekali Del. Aku sudah lama tidak makan ini, biar aku coba ya." Delisha mengangguk, dan Nania menyantap dimsumnya.
"Hmmmm... Nggak pernah nyesal deh kalau beli dimsum di sini tuh." Puji Nania pada kenikmatan rasa dari kedai dimsum langganannya bersama Delisha.
"Kamu mau lagi nggak Del?" Nania melayangkan dimsum ke mulut sahabatnya itu, dan Delisha tak pernah menolak.
"Mmmm... Nikmat banget, padahal aku tadi sudah makan tiga porsi di sana. Tapi nggak bikin eneg sama sekali." Gadis itu bicara sambil terus mengunyah.
Devan, duduk di sofa dalam apartemennya. Ia masih memikirkan soal Radit yang pulang bersama Nania.
"Apa jangan-jangan, Nania sama Radit itu tinggal bersama di atas? Dan pemilik griya tawang di atas itu ternyata Radit. Berarti selama ini Nania___" Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya yang bermonolog sendiri.
"Nggak, nggak.. Aku nggak boleh mikir yang tidak-tidak soal Nania. Bisa jadi mereka saudara, atau Kakak-beradik. Yang orang-orang nggak pada tahu." Devan menepis semua pikiran negatifnya.
"Aku telepon saja deh orangnya. Dia lagi apa ya?" Devan menekan panggilan nama Nania di ponselnya.
Gadis yang di telepon masih asik dengan dimsumnya. "Devan?" Nania menautkan kedua alisnya, melihat siapa yang telah menelponnya.
"Hah, Devan? Dia nelepon kamu Nan?" Nania mengangguk dan menjawab panggilannya.
"Halo.."
"Halo Nania, kamu belum tidur?" Tanya Devan dari panggilan itu. "Belum, ada apa Dev?" Tanya Nania, Delisha mendekati telinganya ke ponsel milik sahabatnya itu.
"Begini, aku mau ajak kamu makan siang besok. Gimana, kamu keberatan nggak?" Devan memberanikan diri.
"Besok siang ya? Aku belum bisa jawab sekarang Dev, kalau aku kabari kamu besok bagaimana?" Jawaban Nania sukses membuat Delisha melotot.
"Okay deh, aku tunggu jawaban kamu besok ya. Kalau gitu kamu jangan tidur malam-malam, see you Nania."
"Iya Dev, terima kasih."
Setelah mematikan panggilannya Devan tersenyum puas. Sedangkan Nania malah mendapat tatapan tajam dari Delisha.
"Kamu kenapa sih Del? Lihat aku gitu banget."
"Habisnya kamu ganjen, nggak biasanya." Celetuk Delisha memajukan bibirnya. "Ya ampun, dia cuma ajak aku makan siang saja kok." Jelas Nania tak mau Delisha salah mengartikan.
"Iya tapi kamu kan punya__"
"Baby..." Panggil Riyan dengan cepat.
__ADS_1
"Aku punya apa?" Nania penasaran. Delisha merutuki dirinya dalam hati. "Eh, nggak kok. Kamu kan punya aku, bisa juga ajak aku makan siang besok. Nggak harus sama cowok juga kan?" Delisha berusaha mengelak.
"Ha ha.. Aneh kamu Del, kan memang biasanya kita suka makan siang bareng." Nania tertawa garing, lain dengan Delisha yang senyum-senyum kaku sambil menggaruk rambutnya, padahal tidak gatal.
"Baby, bisa bantu aku sebentar?" Panggil Riyan menyelamatkan kekasihnya agar tidak keceplosan lebih jauh lagi.
"Ah iya Mas, aku datang.. Cabut dulu ya Nan." Delisha beranjak dari sofa dan menemui Riyan.
Mentari telah menyapa bumi di pagi hari. Sosok gadis pekerja keras bernama Serra itu sudah dari pagi sekali membantu Yanti di dapur.
"Makasih ya Neng Serra, kamu anak yang baik. Ibu jadi kangen sama anak-anak." Ujar Yanti merasa senang di bantu masak.
"Iya Bu sama-sama. Memangnya kalau boleh tahu anak Ibu ada di mana?" Tanya Serra bernada lembut.
"Anak Ibu ada___"
"Bi..." Panggil Reyhan.
"Eh, Tuan Reyhan manggil, Ibu tinggal dulu ya." Pamit Yanti beranjak ke depan. "Iya Bu." Serra kembali menata makanan di meja makan, dan kembali ke dapur membersihkan sisa-sisa yang masih berantakan.
"Neng Serra, kamu di cari sama Tuan Reyhan."
"Ah, iya baik Bu, saya akan ke depan." Serra pun pergi menghampiri Reyhan di ruang tengah. Pria itu sedang memakai jam tangannya.
"Pak Reyhan manggil saya?"
"Hm, duduk!"
"Satu lagi, jangan sampai saya mendengar berita di kantor, kalau kamu juga tinggal di apartemen saya semalam. Jika sampai di telinga saya mendengar itu semua, kamu saya pecat!" Peringatan Reyhan tidak main-main.
"Baik Pak."
"Bagus, kalau gitu kamu boleh sarapan dulu sebelum pergi." Reyhan bangkit dari sofa dan menuju ruang makan.
Menu sarapan pagi ini ada yang berbeda. Kalorinya lebih berat dari yang biasanya. Karena Reyhan selalu minta pada Yanti, untuk menyiapkan menu sarapannya kopi dan roti panggang atau sandwich saja.
"Bi.. Tumben sekali menu sarapannya beda. Ada sup ayam, telur dadar, ada nasi goreng juga?" Rey duduk di kursi makan, masih menatap semua makanan di atas meja.
"Anu Tuan, ini semua tadi yang masak Neng Serra, saya tadi hanya bersih-bersih saja Tuan." Jawab Yanti dengan jujur.
"Oh gitu, ya sudah. Ayo sarapan Bi, panggil Serra juga untuk sarapan bersama." Titah Rey lalu menyesap kopi panasnya.
"Baik Tuan, saya panggilkan dulu Neng Serra nya."
Reyhan memang tidak pernah memandang status orang, apa lagi soal makan. Ia tidak suka makan sendirian, karena makan bersama lebih nikmat baginya.
Tidak menunggu lama, Yanti kembali lagi ke ruang makan. "Maaf Tuan, tapi Neng Serra kayaknya sudah pergi. Di kamarnya nggak ada, sepatunya juga sudah nggak ada Tuan." Ujar Yanti merasa sedikit khawatir.
__ADS_1
"Hm, ya sudah kalau gitu. Bibi sarapan dulu saja." Rey membuka piringnya. "Baik Tuan." Jawab Yanti dan ikut duduk di kursi makan.
Rey lebih memilih nasi putih, sup ayam dan juga telur dadar yang di buat Serra. Ia menyantap sedikit demi sedikit hingga habis. Tak di sangka ternyata Serra pinta memasak.
Ia bahkan tak pernah selama menikah di masakkan oleh Dinan, selalu juru masaknya yang memasak untuknya.
Sedikit ada rasa bersalah karena membuat Serra pergi tanpa sarapan. Bahkan Reyhan tidak tahu gadis itu semalam sudah makan atau belum.
"Bi, tolong pisahin nasi goreng ini sedikit di kotak bekal ya. Nanti biar saya bawa." Ucap Rey setelah selesai sarapan.
"Baik Tuan."
Sampai di kantornya, Reyhan melihat Serra sedang mengepel di ujung lobi. Tapi ia abaikan dan terus jalan menuju lift. Serra juga melirik ke arah Reyhan. Ada rasa kagum pada pria yang telah menolongnya, tapi ia sadar diri akan kedudukannya.
Radit keluar dari ruang kerjanya. Ia menjumpai Nania yang fokus pada layar PC nya.
"Nana, aku akan pulang ke rumah sebentar. Kamu tolong handle meeting siang nanti jam dua sama Riyan ya, semoga saja aku nggak lama."
"Baik Tuan, saya mengerti."
"Ya sudah kalau gitu aku jalan dulu ya." Pamit Radit sambil tersenyum. "Baik Tuan, hati-hati di jalan." Jawab Nania dengan ramah.
Pria itu pulang ke rumahnya karena permintaan dari sang Mama dan Papanya. Ia di mintai penjelasan karena belum sempat menjelaskan tentang perkembangan Nania.
Sesampainya di rumah, Radit langsung masuk ke dalam. Ia bertemu dengan Mona yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
"Ma.."
"Hai sayang, akhirnya kamu pulang juga. Mama sudah kangen sekali sama kamu." Mona memeluk anak tampannya.
"Aku juga kangen sama Mama, maaf ya Ma. Aku baru sempat pulang sekarang, karena habis dari Korea. Aku langsung deadline kerjaan aku yang numpuk." Jelas Radit sambil melepas jasnya dan duduk di sofa.
"Iya sayang, Mama ngerti kok. Kamu pasti capek banget ya?" Mona begitu perhatian dengan anak laki-lakinya yang mandiri ini.
"Nggak kok Ma. Oh ya, Papa mana?"
"Ada, Papa lagi meeting online di ruang kerjanya. Paling satu jam lagi selesai."
"Oh gitu, iya Ma nggak apa-apa. Aku juga nggak buru-buru kok." Balas Radit. Bik Sum yang tahu kedatangan Radit pun membawakan minuman dan camilan dari dapur.
"Silahkan Den Radit, ini minuman dan makanannya di cicipi." Ucap Bik Sum dengan ramah. "Makasih Bik, kayak sama tamu saja Bik Sum ini, he he." Balas Radit langsung meminum jus jeruk buatan Bik Sum.
"Bik, tolong potongin buah-buahan di kulkas ya. Nanti saya mau bikin sambal rujaknya." Pesan Mona yang tahu kalau anaknya suka sekali rujak buah.
"Baik Nyonya."
"Ah pas banget itu Ma. Radit butuh yang segar-segar. Mama memang paling the best" Puji Radit mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Iya dong, Mama tahu kamu sudah lama nggak makan rujak buah buatan Mama, ya kan?" Mona terkekeh melihat sikap anaknya yang suka sekali dengan rujak buah.
"Iya Ma, Mama benar banget." Radit mengangguk-angguk.