
4 Hari berlalu,
Pagi itu seperti biasa Zia selalu bangun lebih awal. Zia menyiapkan segala keperluan Gavin untuk bekerja, termasuk menyiapkan makan paginya.
Meski hubungannya dan Gavin sudah baik - baik saja, namun Zia merasa masih ada jarak di antara mereka. Seakan ada pembatas yang membuatnya ragu. Ragu jika hubungannya dan Gavin bisa bertahan lebih lama lagi.
Bukan Zia akan menyerah atupun lelah dengan permasalahan rumah tangganya, namun Zia merasa mama Ambar akan terus masuk dalam rumah tangga mereka jika dia belum bisa memberikannya seorang cucu.
Adanya orang ketiga yang bisa merusak rumah tangga, bukan melulu tentang wanita atau pun laki - laki idaman lain, tapi mertua yang terlalu ikut campur juga bisa menjadi orang ketiga dalam kandasnya rumah tangga sangat anak.
Terkadang Zia merasa Tuhan tidak berlaku adil padanya karena sulit untuk mendapatkan keturunan, meski Tuhan telah memberikan suami yang begitu sempurna untuknya. Suami yang begitu mencintainya, menyayanginya segenap jiwa dan raganya. Bahkan Zia merupakan satu - satunya wanita yang paling berpengaruh dalam kehidupan Gavin.
Jika Tuhan belum berkehendak, maka tidak akan pernah terjadi.
Entah sudah berapa banyak cara yang dilakukan Zia dan Gavin untuk mendapatkan keturunan, baik medis maupun non medis. Tapi hasilnya tetap nihil.
Tuhan sedang menguji kesabaran mereka, menguji kekuatan cinta dan kesetiaan mereka.
"Bangun mas,," Zia mengusap lembut pipi Gavin.
Wanita yang sudah tampil sempurna di pagi hari itu, baru saja selesai memasak.
Gavin menggerakkan badannya. Laki - laki itu memang sudah sempat membuka matanya beberapa menit yang lalu.
"Hari ini libur saja Zi, aku malas ke kantor,,"
"Lagipula tidak ada jadwal kunjungan ke resto cabang,," Ucap Gavin panjang lebar, namun matanya masih rapat terpejam.
Bahkan dia menarik tangan Zia yang menempel di pipinya, membawa tangan lembut itu kedalam dekapannya.
Zia tampak mengerutkan keningnya, sepertinya ada tidak beres dengan laki - laki yang sangat perfect dan disiplin dalam bekerja.
"Kamu paling tidak suka membiarkan pekerjaan terbengkalai walau hanya beberapa jam saja." Ujar Zia mengingatkan.
"Kenapa tiba - tiba tidak mau berangkat ke kantor.?" Tanyanya heran. Gavin masih terlihat asik dalam posisinya, mata terpejam sembari memeluk tangan Zia. Laki - laki itu menggelengkan pelan kepalanya.
"Tidak tau Zi, rasanya malas saja."
"Biarkan aku tidur 2 jam lagi,,"
Gavin melepaskan tangan Zia, dia membuka mata hanya untuk mencari guling. Gavin kembali memejamkan mata setelah berhasil memeluk guling dan membelakangi Zia yang berdiri di sisi ranjang.
Cukup lama Zia berdiri mematung sembari menatap lekat punggung lebar suaminya. Dia terlalu heran melihat sikap aneh Gavin yang tidak seperti biasanya.
Pada akhirnya Zia membiarkan Gavin untuk tidur kembali.
Mungkin suaminya itu kelelahan karena terlalu bekerja keras, terlebih dengan pusingnya memikirkan persoalan rumah tangga mereka.
Zia mengambil ponsel milik Gavin di atas nakas. Wanita itu bermaksud untuk menghubungi Nindy.
Agar Nindy bisa menghandle pekerjaan Gavin.
Gavin memang membebaskan Zia memegang ponselnya, bahkan terkadang menyuruh Zia untuk cek ponselnya. Hal itu dilakukan Gavin untuk membuktikan pada Zia bahwa dia tidak pernah berkomunikasi dengan wanita lain, selain urusan pekerjaan.
Meski begitu, Zia tidak pernah mau mengeceknya. Dia mempercayai Gavin, seperti dia mempercayai dirinya sendiri.
Malam Pak,
__ADS_1
Malam Pak,
Malam Pak,
3 pesan beruntun dengan kalimat yang sama, namun di hari yang berbeda - beda.
Pesan yang dikirimkan oleh Nindy, tapi tidak pernah dibalas oleh Gavin. Pesan itu hanya dibuka saja oleh si pemilik ponsel.
Ada sedikit getaran di hati Zia yang terasa ngilu. Sempat terlintas di benaknya jika ada hubungan di antara Nindy dan Gavin. Namun pikiran buruk itu segera ditepis oleh kepercayaan Zia terhadap Gavin.
Zia terlampau percaya bahwa Gavin tidak akan pernah mengkhianatinya.
Zia segera menghubungi Nindy. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, suara ramah di seberang sana terdengar merdu dan manis.
"Selamat pagi Pak,," Seru Nindy.
"Apa Pak Gavin butuh sesuatu,,?" Tambahnya lagi.
Suara ramah dan manis itu sempat membuat Zia merasa kesal dan cemburu.
Kesal karena suaranya seperti di buat - buat.
"Saya Zianka,,," Ucap Zia setelah diam beberapa saat.
"O,,,oh,, ma,,maaf Bu Zia." Jelas sekali Nindy sangat gugup hingga berbicara dengan terbata - bata.
"Ada yang bisa saya bantu,,?" Tanyanya setelah tadi sempat terdengar deheman kecil. Deheman yang digunakan untuk menormalkan suaranya yang sempat terbata.
"Hari ini Pak Gavin tidak masuk, tolong kamu handle pekerjaannya untuk hari ini.
"Baik Bu, akan saya kerjakan,," Suara Nindy terdengar normal seperti wanita pada umumnya. Tidak seperti tadi yang terdengar di buat - buat.
"Terima kasih,,," Ucap Zia singkat dengan suara datar. Dia sedikit menaruh kekesalan pada sekretaris suaminya itu.
"Sama - sama Bu Zia,," Balas Nindy ramah.
Zia langsung menutup panggilan telfonnya. Niat hati ingin meletakkan kembali ponsel itu, rasa penasaran membuat Zia mengurungkan niatnya.
Diliriknya Gavin untuk memastikan jika dia masih tertidur.
Zia langsung membaca runtutan pesan dari Nindy di ponsel Gavin. Rupanya wanita itu sering mengirimkan pesan pada Gavin, meski kebanyakan bertanya soal pekerjaan.
Berbeda dengan Gavin yang bahkan jarang membalas pesan dari Nindy.
Zia mengulum senyum, setidaknya apa yang dia lihat sudah cukup membuat hatinya tenang kembali.
Zia percaya Gavin tidak akan mengkhianatinya, apa lagi bermain dengan sekretarisnya sendiri.
...****...
David memarkirkan mobil mewahnya di depan restoran. Laki - laki itu turun dari mobil dengan gayanya yang cool.
Setelah jas rapi bertengger di tubuhnya yang tinggi dan atletis. Juga kaca mata hitam yang semakin menyempurnakan penampilannya.
Langkah kakinya begitu tegap dan lebar.
David masuk kedalam restoran itu seorang diri.
__ADS_1
Dia menghampiri wanita yang sudah duduk di sana.
David melepaskan kacamatanya sembari mendudukkan dirinya di depan wanita itu.
Diletakkannya kaca mata itu di atas meja.
"Belum ada kabar lagi tentang Zia.?" Tanyanya dengan suara tegas dan berat.
Wanita itu menggeleng cepat.
"Zia bahkan tidak membalas pesanku sampai detik ini." Sahutnya lemah.
"Kamu yakin masih mau lanjut Dav.?" Tanyanya suntuk menyakinkan laki - laki yang sejak dulu menjadi sahabatnya itu.
"Kamu tau betul siapa aku, Mit,,"
"Aku tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan,!" Tegasnya.
Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup David. Yang yang dia inginkan, harus bisa dia dapatkan.
Mitha menghela nafas berat. Saatnya itu terlalu memaksakan kehendak pada keinginannya. Selalu berbuat apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Apa kamu yakin mencintai Zia.?" Pertanyaan Mitha membuat David menatapnya tajam. Dia terlihat tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mitha.
"Pertanyaan kamu terlalu konyol Mit."
"Aku tidak akan menunggunya selama ini jika tidak mencintainya,,!" Seru David dengan penuh keyakinan.
"Coba kamu tanyakan pada hati kamu yang paling dalam."
"Apa benar perasaan itu adalah rasa cinta.? Atau hanya obsesi semata karena hanya Zia satu - satunya wanita yang tidak bisa kamu dapatkan." Tutur Mitha tegas.
Meski dulu dia jarang bertemu dengan David karena harus melanjutkan magister di luar kota, tapi dia tau betul perjalanan David saat berusaha mendekati Zia.
"Aku tidak pernah terobsesi dengan siapapun.!" Elak David dengan suara lantang penuh keyakinan.
Laki - laki itu sangat sadar, apa yang dia rasakan pada Zia adalah perasaan cinta yang sudah terlalu dalam, bukan obsesi semata.
"Aku takut kamu hanya terobsesi pada Zia, dan pada akhirnya hanya akan membuat Zia terluka."
"Selama 1 tahun ini Zia sudah cukup menderita, aku kasihan padanya."
"Terlalu banyak tekanan dan hinaan yang sudah Zia terima."
Mitha terlihat sendu. Meski baru 2 tahun mengenal Zia, dia sudah sangat menyayangi Zia seperti adiknya sendiri.
"Aku akan bantu kamu mendapatkan Zia. Asal kamu berjanji akan membahagiakannya.!" Tambahnya lagi.
"Tentu saja.!"
"Lakukan untukku dan untuk kebahagiaan Zia,,!" Seru David dengan seulas senyum.
...****...
Sibuk banget hari ini, sampai harus begadang buat ngetik demi up.
Maaf tengah malem upnya 🙏
__ADS_1