
Di dalam sebuah mobil mewah, Devan melamunkan sesuatu. Reyhan yang mengendarai mobil tersebut merasa curiga.
"Dev, are you okay?" Tanya nya.
Tapi Devan tidak menjawab, ia tetap melamunkan sesuatu. "Dev!" Panggil Reyhan lagi, kali ini sedikit tinggi nada nya.
"Ah, iya Kak? Sorry, gue nggak dengar. Lo ngomong apa Kak?" Devan tersadar dan memposisikan duduk nya dengan benar.
"Lo ngelamunin apa sih?"
"Nggak, gue nggak ngelamunin apa-apa."
Reyhan terkekeh, "Halah nggak usah bohong, kenapa sih? Masalah cinta pasti." Tebak nya seketika membuat Devan memundurkan wajah nya ke belakang sambil menautkan alis nya.
"Ha ha ha. Apa sih lo Kak, mana ada gue mikirin cinta. Gue cuma heran saja, sama temen gue. Tiba-tiba dia nggak ngenalin gue." Jawab Devan tidak mau ambil pusing.
"Kok bisa nggak ingat sama lo, temen lo cewek apa cowok?" Reyhan masih berpikir. "Em,, cewek Kak." Detik itu juga sang Kakak langsung tertawa garing.
"Haduh Dev, lo kok sampai melamun gitu. Jangan-jangan lo naksir ya sama temen cewek lo itu? Hayo ngaku.." Tebak Reyhan dengan sengaja.
Devan jadi salah tingkah, "Apaan sih lo Kak, nggak jelas deh." Kilah Devan tak bisa berkutik lagi. Begitulah keseruan mereka di dalam mobil.
Saat jam pulang kerja, Nania pulang bersama Radit. Mereka lebih dulu sampai di apartemen dari Delisha dan Riyan yang pulang lebih belakangan.
"Tuan, mau saya buatkan minum?" Tanya Nania yang baru saja masuk ke dalam apartemen.
"Kok Tuan lagi? Ini bukan di kantor Nana." Jawab pria itu menatap Nania. Tiba-tiba pandangan nya ke arah bibir manis milik Nania.
"Em, itu- maksud aku Mas Radit mau minum apa?" Jawab nya gugup.
Tanpa aba-aba, Radit berjalan maju mengikis jarak dengan nya. Ia lalu memegang bahu Nania. "Aku tidak ingin minum apa-apa, aku mau ini saja." Ia menunjuk bibir gadis itu dan melahap nya.
Tidak memberikan kesempatan Nania menjawab apa lagi membiarkan gadis itu menghindar. Radit terus mencium nya, mel-umat nya dengan penuh semangat. Nania sampai tidak bisa bergerak, ia hanya menerima dan menikmati nya.
__ADS_1
Entah kenapa setiap sentuhan dari pria di hadapan nya itu, membuat nya luluh dan terlena. Seperti tidak ada penolakan dari hati nya. Ini aneh bagi nya, Nania merasa ada yang tidak beres. Biasa nya ia akan merasa ini tidak adil untuk nya, tapi kenapa sekarang ia tidak berpikir seperti itu.
Radit menahan tengkuk Nania, ia memberikan kecupan demi kecupan di bibir ranum milik kekasih nya. Ia sudah sangat rindu akan candu nya selama ini. Di baringkan nya tubuh Nania di sofa, tanpa melepaskan pagutan nya.
Nania berusaha mendorong dada bidang milik Radit, tapi pria itu tak kunjung melepaskan nya. Posisi mereka kini sangat intim, Radit di atas dan Nania di bawah kungkungan nya.
"Emmptt..." Nania merasa kehabisan napas. Akhir nya Radit melepaskan juga pagutan itu.
"Jangan menggodaku seperti tadi, maka ini hukuman nya." Tegas Radit sambil mengusap bekas saliva nya di bibir Nania dengan ibu jari. Ia tersenyum puas, melihat kekasih nya mengatur napas di depan nya.
"Hei, kenapa wajahmu memerah Nana?" Radit kembali menggoda nya.
"Aku tidak menggoda Tuan." Nania enggan bicara lagi.
Ia langsung mengalihkan pandangan nya ke samping, membuah wajah nya tak ingin melihat Radit lagi. Pria itu bangkit dari tubuh nya sambil terkekeh.
"Biar aku antar kamu ke kamar." Tanpa minta izin pria itu kembali menggendong Nania dan membawa nya ke kamar.
"Tidak perlu di gendong, aku bisa jalan sendiri kok." Nania malu-malu dalam gendongan Radit. "Ssstt,, jangan berisik. Aku tidak suka di atur." Bantah Radit dengan cepat.
"De-van?" Nania mengerutkan kening nya.
"Siapa Devan?" Ia masih bingung membaca isi pesan nya yang bertuliskan, 'Hai, Nania sedang apa dirimu?' .
Delisha yang baru selesai mandi menghampiri sahabat nya. "Hayoo,, lagi mikirin apa?" Ia menyentak Nania dan mengageti nya dari belakang.
"Eh, ini.. Ada yang whatsapp aku nama nya Devan, tapi kenapa aku tidak ingat siapa nama Devan ini, apa ini pria yang tadi?" Nania menerka-nerka.
"Bisa jadi, jika nama itu ada di kontak whatsappmu, berarti itu kamu yang menyimpan nya, dan kemungkinan kamu mengenal nya." Jawab Delisha tanpa ragu.
"Iya juga yah.." Nania lalu membalas pesan itu.
'Aku sedang duduk saja, apakah ini Devan yang tadi menyapaku selesai meeting di kantor?'
__ADS_1
Membaca pesan dari Nania, wajah Devan tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa kalau Nania ini lucu.
'Iya benar, itu aku. Sekarang kamu sudah ingat, kalau aku mengenalmu kan?'
Nania masih saja mencerna pikiran nya, tiba-tiba kepala nya terasa sakit ketika ia berusaha mengingat memori nya.
"Ssshhh,, Aduh kepalaku." ia memegangi kepala nya. Delisha yang tengah memakai skincare jadi panik.
"Nan, kamu kenapa?"
"Aduh,, kepalaku sakit sekali Del." Teriak nya menahan sakit di kepala yang kian menyerang. Delisha buru-buru keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Radit. Beruntung pria itu langsung membukakan pintu.
"Kak Radit, tolong itu Nania bilang kepala nya sakit." Ucap Delisha terbata-bata karena sudah cemas. Radit pun tidak lagi menjawab, melainkan langsung berlari ke kamar Nania.
"Nana,,, Nana kamu kenapa Nana?" Ia mencoba menanyakan keadaan kekasih nya yang merasa kesakitan. "Haduh Mas, kepala aku sakit sekali."
Dengan cepat Radit mencari obat di nakas dan memberikan nya pada Nania. "Ayo minum obat nya dulu Nana." Detik itu juga Nania langsung menenggak obat dan air putih yang di sodorkan Radit.
Delisha masih berdiri di dekat rajang, ia begitu panik melihat kondisi sahabat nya. "Kak Radit, kenapa sama Nania? Dia nggak apa-apa kan?" Ia mulai tak bisa tenang.
"Nggak apa-apa kok, mudah-mudahan ini hanya sakit kepala biasa. Memang nya kenapa bisa begini, kalian sedang apa tadi?"
"Em, anu Kak.. Tadi aku sedang pakai krim wajah, Nania sedang main dengan ponsel nya, ada yang mengirimi Nania pesan nama nya Devan. Terus tiba-tiba Nania langsung sakit kepala." Delisha menjelaskan keadaan yang sebenar nya.
Ia tidak ingin menutupi apapun, karena ia percaya dengan Radit. Nania yang sudah memejamkan mata itu tak bisa mendengar lagi percakapan Radit dan Delisha.
Pria yang berwajah tampan bernama Radit mengepal kuat tangan nya, ketika mendengar nama Devan.
"Ya sudah, kamu jagain Nania ya. Kalau ada apa-apa kamu langsung bilang sama aku." Pinta Radit sebelum keluar dari kamar Nania.
"Baik Kak, maaf karena sudah merepotkan Kak Radit terus."
"Tidak apa, aku kembali ke kamar dulu."
__ADS_1
Delisha mengangguk, dan Radit keluar dari kamar menuju ruang tengah. Ia mondar-mandir layak nya setrikaan yang sudah panas.
"Ini nggak bisa di biarkan, pria itu harus di beri tahu!" Gumam nya kesal, mencemaskan Nani.