Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 30


__ADS_3

Sejak memutuskan menikah, baik Dia mau Gavin tak pernah membahas tentang keturunan. Karna tujuan mereka menikah bukan sekedar untuk memiliki seorang anak.


Mereka ingin menyempurnakan cinta, menjalani sisa hidup bersama orang yang mereka cintai.


Tidak pernah terlintas untuk menuntut Zia memiliki keturunan. Karena bagi Gavin, menjadikan Zia sebagai istrinya sudah lebih dari cukup untuk kabahagiaan hidupnya.


Tapi rupanya kehidupan tak sesuai dengan tujuan awal. Gavin mulai terpengaruh oleh lingkungan dan orang tuanya yang terus membahas tentang anak mendesaknya untuk segera memiliki anak.


Perlahan sikap Gavin membawa permasalah besar dalam rumah tangganya.


Rumah tangga yang dulunya hanya dibumbui kehangatan dan keromantisan, berubah menjadi luka dan air mata.


Gavin menatap lekat wajah Zia yang tengah tertidur pulas.


Jika saat ini Zia belum hamil, mungkin dia akan kehilangan Zia akibat campur tangan Mama Ambar.


Karna Zia lebih memilih mudur jika Mama Ambar terus mendesak Gavin untuk menikah lagi agar memiliki keturunan.


Namun, takdir baik lebih berpihak padanya.


Dia masih bisa membuka mata dan melihat pemandangan indah setiap hari disiinya.


Sudah 3 bulan berlalu. Badan Zia semakin berisi dengan perut yang semakin menonjol. Tapi perubahan fisik Zia sama sekali tidak merubah apapun yang ada pada dirinya.


Zia masih saja cantik, masih begitu menggoda di mata Gavin.


"Sayang, bangun,," Gavin mengusap lembut pucuk kepala Zia. Dia sangat hati - hati untuk membangunkan istrinya. Tidak berani untuk membuat gerakan yang bisa membuat Zia kaget.


Suara Gavin bahkan terlampau lirih hingga dia harus butuh waktu lama untuk membuat Zia membuka matanya.


Jika Zia tak kunjung bangun, maka Gavin akan mendaratkan ciuman di seluruh wajah Zia sampai wanita cantik itu membuka mata.


"Eumm,,," Zia menggeliat kecil.


"Jam berapa Mas.?".Tanya dengan mata yang masih terpejam.


"Hampir jam 6 Zi,,,"


"Apa kamu masih mengantuk.?" Gavin masih menatap lekat wajah Zia, bahkan semakin lembu mtengusap pucuk kepalanya.


"Tadinya aku mau mengajakmu jalan - jalan di taman." Tutrunya.


Mendengar ajakan Gavin, Zia langsung membuka matanya. Pemandangan yang pertama kalindia lihat adalah wajah tampan Gavin yang berjarak sangat dekat dengannya.


Tak heran jika tadi wajahnya terasa hangat.


Itur karna hembusan nafas Gavin sampai mengenai wajahnya.


"Masih ada waktu,," Kata Zia sambil menoleh melihat jam weker di atas nakas.


Gavin dibuat kaget karna Zia langsung memeluknya.


"Kamu mau tidur lagi.?" Tanya Gavin. Melihat Zia yang seperti enggan beranjak dari ranjang, membuat Gavin berfikir jika Zia masih ingin tidur.


"Tidak." Zia menjawab sambil menggelengkan kepala. Tiba - tiba raut wajah dan tatapan matanya berubah. Zia terlihat sedang menggoda lawan jenis dengan ekspresi wajah seperti itu.

__ADS_1


"Kamu sudah terlalu lama tersiksa Mas, mau berapa lama lagi.?" Tanya Zia. Dia memainkan jarinya di dada bidang Gavin. Membuat bentuk tak beraturan disana, namun berhasil membuat Gavin bergejolak dengan gerakan jari Zia.


Sudah 3 bulan sejak di nyatakan hamil, Gavin sama sekali tidak mau melakukannya karna sangat menjaga kandungan Zia. Dia begitu takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada kehamilan Zia.


Kehamilan itu sudah di nantikan selama 4 tahun, bahkan hampir membuat rumah tangganya karam karna menantikannya.


Tentu saja Gavin menginginkan kandungan Zia sehat dan baik - baik saja sampai melahirkan nanti.


Jangankan untuk membuat Zia kelelahan di atas ranjang, Gavin bahkan tidak mengijinkan Zia untuk mengerjakan pekerjaan rumah sekalipun itu hanya memasak.


"Jangan seperti ini Zi, aku tidak akan tahan." Gavin menyingkirkan tangan Zia, dia lantas mengalihkan pandangan karna tidak tahan juga dengan wajah cantik Zia yang sedang menggodanya.


"Aku tidak penah menyurhmu untuk menahannya Mas, lakukan saja." Kata Zia. Dia memegang tangan Gavin dan meletakkannya di atas benda yang menjadi favorit Gavin saat bercint*.


"Zi,," Tegur Gavin, tapi tidak ada penolakan lagi dan membiarkan tangannya tetap berada di sana.


Zia bisa melihat kecemasan Gavin.


"Tidak apa, dia sudah kuat." Tutur Zia dengan seulas senyum untuk menyakinkan Gavin.


"Asal kamu tidak segila biasanya." Kedipan mata Zia membuat Gavin lepas kendali.


Zia benar - benar membuatnya kehilangan akal sehat. Menggoda dengan caranya yang begitu menggiurkan.


"Tegur aku kalau terlalu kencang,," Bisik Gavin sebelum memulai aksinya.


Serangan panas itu terjadi di pagi hari yang dingin. Tapi sedingin apapun suhu di kamar mereka, tidak sebanding dengan pergulatan panas yang begitu menggebu.


Gavin lebih agresif meski dengan gerakan lembut dan hati - hati.


"Kamu yakin masih sanggup ke taman Zi.?" Gavin menatap tidak yakin. Dia sudah membuat Zia kehilangan banyak tenaga pagi ini, rasanya tidak tega untuk mengajak Zia ke taman.


"Aku tidak selemah itu Mas, jangan meremehkan ku." Sahut Zia sembari mengeringkan rambutnya.


"Aku hanya jalan pagi, bukan jogging. Tentu saja masih sanggup." Katanya sambil tersenyum tipis.


Pada akhirnya Gavin memutuskan untuk tetap mengajak Zia ke taman.


Udara segar di taman akan membuat Zia lebih segar dan rileks pada kehamilannya.


Gavin menggandeng erat tangan Zia sembari berjalan mengitari taman. Suasana pagi itu cukup ramai.


"Spertinya lain kali jangan datang di hari minggu." Kata Gavin sambari mengedarkan pandangan.


Dia tidak terlalu suka dengan keramaian.


Terbiasa bekerja di ruangan yang sepi, membuatnya sedikit risih berada di tengah - tengah orang banyak.


Rasanya hampir semua mata tertuju padanya, terutama pandangan gadis - gadis remaja yang membuatnya heran.


Belum lagi beberapa laki-laki beristri yang juga melirik Zia.


"Terlalu ramai." Ucapnya lagi.


"Kita itu sedang jalan pagi di taman, bukan kencan romantis Mas." Sahut Zia geli.

__ADS_1


"Kalau tidak ingin ramai, harusnya tadi tetap berada di kamar." Zia justru meledek Gavin. Suaminya itu langsung mencubit gemas pipi cubbynya.


"Aku akan tersiksa kalau terus berada di dalam kamar bersamamu."


"Hamil membuat tubuhmu semakin seksi. Aku hampir gila menahan diri 3 bulan." Keluhan Gavin.


Dia melewati 3 bulan yang berat tanpa menyentuh Zia.


Pagi itu saat bisa menyentuhnya, Gavin terlihat sangat lega.


"Salahmu sendiri, bukannya aku sudah sering menawarkan padamu." Ledek Zia puas. Dia hampir saja tertawa melihat raut wajah Gavin yang begitu menderita saat mengadu padanya.


"Itu karna aku mencemaskan kalian." Tutur Gavin.


"Aku tau, kamu memang terbaik." Puji Zia bangga. Dia mendekap erat tangan Gavin.


"Tante Zia,,," Teriakan itu membuat Zia menengok.


Ciara berlari ke arahnya dengan David yang mengejar di belakang.


Kehadiran dua orang itu membuat Gavin menghela nafas. Entah berapa kali dia bertemu mereka secara tidak sengaja. Baik di taman ini dan pusat perbelanjaan.


David dan Clara seakan ada dimana - mana untuk membuntutinya.


Setiap kali melihat mereka, mood Gavin akan anjlok seketika.


Dia masih saja cemburu pada David sekalipun Zia sedang mengandung anaknya dan hal itu tidak akan mungkin membuat Gavin merebut Zia darinya.


"Hay anak cantik." Sapa Zia. Dia berjongkok begitu Clara berhenti di depannya.


"Tante ayo main,," Ciara menarik tangan Zia, meminta Zia untuk ikut dengannya.


"Kemana sayang.?" Tanya Zia lembut. Coara langsung menunjuk playground yang ada di taman itu.


"Ciara, ayo sama Papa." David menggandeng tangan Ciara, namun putrinya itu menolak.


"Cia mau sama tante Zia." Katanya merengek.


"Tidak apa kak, biar aku temani Ciara sebenar." Ucapnya pada David.


"Mas,,," Zia menatap Gavin untuk meminta ijin.


"Hanya sebentar,,"


Gavin menghela nafas, tapi kemudian memberikan ijin dengan anggukan kepala.


Zia langsung mengajak Ciara pergi ke sana.


"Sampai kapan akan mengawasi kami.?"


"Kamu tidak punya pekerjaan sampai harus membuntuti ku dan Zia." Ucap Gavin sinis.


David terkekeh kecil.


"Percaya diri sekali." Sahut David santai.

__ADS_1


"Semakin kamu mencurigaiku dan takut Zia jatuh ke tanganku, mungkin saja hal itu akan menjadi kenyataan nantinya." Ujarnya sambil berlalu meninggalkan Gavin.


__ADS_2