
Seorang wanita cantik tengah berjalan melenggok dengan pakaian minim nya. Ia ingin mencoba masuk ke dalam ruangan Radit.
"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nania dengan ramah.
"Aku ingin menemui Radit." Jawab Fiona.
Wanita itu adalah Fiona, teman masa kecil Radit dulu, karena orang tua mereka saling bersahabat. "Maaf Nona, tapi Tuan Radit sedang istirahat, ia sedang tidak bisa di ganggu."
"Ck, kamu boleh mengatakan itu pada orang lain, tapi tidak denganku. Minggir!!"
Fiona mendorong bahu Nania agar bisa masuk ke dalam ruangan Radit, dan wanita itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Radiitt..." Teriak Fiona.
Ia tidak menemukan pria yang ia cari, "Nona, tolong jangan berteriak. Tuan Radit sedang istirahat, jangan mengganggunya."
"Dimana dia?"
"Tuan sedang istirahat di kamarnya, Nona. Mari ikut saya keluar nona, anda bisa menemuinya nanti dua puluh menit lagi." Ucap Nania berusaha mengajak Fiona untuk keluar.
"Apa sih, sudah pergi sana!" Usir Fiona dengan kesal.
"Maaf tapi jika Nona membuat keributan, dengan terpaksa saya akan meminta satpam untuk mengeluarkan anda dari sini."
Nania merasa kesabarannya sudah habis, ia sudah bicara baik-baik. Tapi kelihatan nya wanita yang ada di hadapannya ini, tidak mengerti cara kelembutan.
Pintu kamar Radit dalam ruangan itu terbuka. Ia hanya memakai kemeja saja tanpa dasi juga di lehernya. Radit merasa ada suara keributan hingga tidurnya terganggu. Maka itu, ia langsung keluar.
"Lancang sekali kamu! Kamu tidak tahu saya ini siapa?!" Bentak Fiona mendorong Nania.
"Fiona!!" Tegur Radit sedikit keras.
"Radit..."
Tiba-tiba saja Fiona berhambur memeluknya. Nania yang sempat terjatuh akibat dorongan Fiona, ia langsung berdiri dan membenarkan pakaian nya.
"Maaf Tuan, saya sudah mencegahnya. Tapi Nona ini memaksa." Ujar Nania.
"Hm, kamu tidak apa-apa kan?"
"Saya tidak apa-apa, Tuan."
Pria itu bernafas lega, ia memegangi keningnya yang sekarang malah jadi pusing. Karena tidurnya yang terganggu, sakit kepala di rasakan oleh Radit.
"Untuk apa kau kesini, Fio?"
"Hm, aku sedang tidak ada kerjaan. Aku merasa bosan, jadi aku ingin mengunjungimu ke kantor." Ia tersenyum manis, lalu menatap angkuh pada Nania.
__ADS_1
Radit melepaskan lengan nya yang di peluk Fiona, "Aku sedang tidak enak badan. Pergilah, lain waktu kau bisa berkunjung lagi." Ucapnya sambil duduk di sofa.
"Tapi Dit, kamu kenapa sih?!" Fiona merengek.
"Nona, Tuan sedang tidak sehat. Sebaiknya Nona mendengar perkataan Tuan Radit. Dia butuh istirahat."
Nania merasa jika atasan nya itu masih belum sehat. Di lihat wajah nya yang masih sedikit pucat, dan penampilan nya juga berantakan.
Dalam hati Radit, ia merasa ada rasa senang, Nania begitu perhatian dengan nya. Padahal semalam ia sudah sedikit tega pada nya. Tapi gadis itu tetap berbaik hati seolah tidak ada masalah.
"Diam kamu!! Keluar sana!"
Fiona tidak suka dengan sikap Nania yang begitu cerewet bagi nya.
'Dia itu siapa sih, apa dia itu kekasih nya Tuan Radit ya? Cantik sih, tapi sayang.. Dia seperti nya sudah tua karena sering mengomel. Hi hi hi.'. Nania bergumam sendiri di dalam hatinya sambil menahan tawa.
"Kamu nggak dengar saya bilang apa!" Tegas Fiona kembali.
"Baik Nona, saya permisi dulu, Tuan."
Sekertaris Radit akhirnya keluar dari ruangan itu, ia kembali duduk di tempat kerja nya. Nania meraih berkas dan fokus pada tugas nya tanpa mempedulikan lagi dua insan yang berada di dalam ruangan CEO.
"Lebih baik sekarang kau juga pulang Fio, aku sedang tidak ingin di ganggu, pergilah.."
"Aku tidak mau."
"Keluar Fiona!!" Bentak Radit.
Spontan membuat Fiona tersentak, "Radit, kamu jahat sekali. Hiks..." Ia pura-pura merasa sedih lalu keluar dari ruangan Radit. Berjalan tanpa melirik ke tempat Nania singgah.
"Kenapa dengan wanita itu?" Nania melirik ke Fiona yang keluar dengan kekesalan dalam ruangan Radit.
"Hi hi hi, apa dia juga di usir sama Tuan." Kekeh Nania dan menetralkan kembali suasana agar tetap aman.
Setengah jam kemudian, Nania masuk ke dalam ruangan Radit. Ia ingin melihat kondisi Radit, apa sudah membaik atau belum.
Di lihat nya Radit sedang terbaring di sofa sambil melipat tangan nya di dada. Ia memejamkan mata nya, tapi bibir nya tak henti seperti mengigau.
"Apa dia sedang tidur?"
Gadis itu berjalan menuju Radit, "Tuan..." Ia menepuk pelan pipi Radit.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya nya pelan.
Keringat mulai mengucur di kening Radit, padahal suhu dalam ruangan itu dingin nya stabil seperti biasa. Lalu Nania memegang kening Radit.
"Astaga.. Ini panas sekali. Aku harus segera menghubungi dokter."
__ADS_1
Dengan cepat Nania keluar ruangan meraih gagang telepon di meja kerja nya. Lalu ia menekan nomor telepon Dokter Tirta yang ada di note samping layar PC nya.
Setelah menunggu lumayan lama, Dokter Tirta datang memeriksa keadaan Radit.
"Bagaimana Dokter?" Tanya Nania dan Riyan di dalam ruangan itu.
"Tuan baik-baik saja. Hanya kelelahan yang menimbulkan demam tinggi. Usahakan juga untuk menjaga pola makan seperti biasanya, karena seperti nya.. Tuan Radit juga terlalu banyak mengkonsumsi makanan berat." Jelas Dokter Tirta.
"Apa Dok, banyak mengkonsumsi makanan berat?" Tanya Riyan tidak percaya.
Karena yang Riyan ketahui, Radit itu selalu menjaga pola makan nya dan tidak pernah makan sembarangan.
"Iya benar. Karena lambung nya sedang tidak baik juga. Aku akan berikan resep obat untuk nya. Jangan sampai Tuan Radit melewatkannya."
"Baik Dokter, mari saya antar." Ucap Riyan dan keluar bersama Dokter Tirta.
Nania masih setia berdiri di tempatnya, ia melirik ke arah Radit yang masih tertidur di atas sofa. "Apa dia sakit karena makan masakan ku terlalu banyak kemarin?" Gumamnya.
"Seperti nya begitu, maaf Tuan. Saya belum terlalu paham tentang anda. Saya akan belajar lagi kedepan nya." Ucapnya merasa bersalah.
Malam hari nya di apartemen Radit, Nania sibuk mengurus Tuan nya. Apa kabar dengan Riyan, yang biasa mengurus kebutuhan Radit.
Asisten nya itu sekarang lebih di ringankan tugas nya, semenjak ada Nania. Jadi mulai sekarang, Nania yang akan lebih banyak mengurus semua kebutuhan Radit.
"Tuan, saya datang membawa makan malam. Tuan makan dan habiskan ya.."
Gadis itu meletakan nampan di atas nakas samping tempat tidur yang berisi bubur dengan toping sayuran dan irisan ayam di atas nya. Juga segelas air putih dan obat yang akan di minum Radit.
"Hm.."
Pria itu hanya menjawab nya dengan singkat, ia masih terasa lemah bersandar di bantal tempat tidur nya.
"Kalau gitu saya permisi dulu, Tuan."
"Suapi aku!"
Kaki Nania mendadak berhenti kala Radit menyuruh untuk menyuapi nya. Mau tidak mau gadis itu menyuapi Radit.
"Baiklah.." Pasrah Nania, tidak ingin ada keributan malam ini.
Dengan telaten Nania menyuapi bubur itu hingga habis, dan Radit juga sudah menelan obat yang di resepkan Dokter nya.
"Saya keluar dulu Tuan, selamat istirahat dan, semoga lekas sembuh."
Radit tersenyum merasa senang di perhatikan dengan Sekertaris nya itu. Rasa nya aneh, ada gelenyar yang tidak biasa di rasakan oleh Radit.
Ia belum memastikan itu perasaan apa, yang pasti Radit tidak akan semudah itu jatuh hati pada seorang wanita.
__ADS_1