Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Saling Mengetahui


__ADS_3

Di dalam mobil Riyan sedang mengantar Delisha pulang setelah makan malam bersama Nania dan juga Radit.


"Kamu tahu kalau Nania juga ada di sana?" Tanya Riyan yang dari tadi belum ada obrolan dalam mobil nya.


"Nggak sama sekali tahu, Kak. Nania belum cerita sama aku, kalau dia sedang makan malam di sana sama Tuan Radit." Balas nya jujur.


"Ah begitu, jadi tadi memang kebetulan. Apes bener.."


"Gimana Kak?"


"Hm, nggak apa-apa kok." Riyan tersenyum.


"Kamu ada mau mampir lagi nggak, Del?" Tanya nya lagi. Delisha sesaat berpikir, "Nggak ada Kak." Riyan manggut-manggut. Ia menggesek dagu nya sebentar, dan melirik ke arah Delisha.


"Delisha, kamu sudah punya pacar?"


"Hah, be-belum Kak. Kalau sudah punya, mana mungkin aku jalan sama Kak Riyan. He he." Jawab nya sepolos itu.


'Aduh,,, lucu banget sih kamu Del, langsung jujur gitu.'


"Oh belum punya yah? Memang tipe cowok kamu yang kayak gimana Del?" Riyan penasaran, dan tetap fokus dalam menyetir nya.


"Yang kayak gimana ya Kak? He he, aku juga nggak tahu. Yang penting dia baik sama aku, dan nerima aku apa ada nya." Jawab Delisha sambil tersenyum menatap ke jalanan yang di depan nya.


"Kamu suka cowok yang lebih tua dari kamu atau yang seumuran? Atau yang lebih muda?" Ia sangat memancing Delisha untuk mengetahui lebih dalam.


'Aduh kok dia jadi nanyain aku suka nya sama yang lebih tua atau yang muda? Sudah jelas-jelas aku sama Nania itu punya kesamaan, lebih suka yang tua dari usia kita.'


"Hmm, yang lebih tua, Kak." Ucap nya.


Riyan mengulum senyum di wajah nya, ia semakin percaya diri untuk mendekati Delisha. "Oh, kamu suka yang lebih tua ya. Kalau boleh tahu alasan nya kenapa?"


"Karena yang lebih tua itu sangat menantang, Kak." Jawaban vulgar Delisha membuat Riyan jadi merasa di tantang.


Ehemm... Riyan berdehem menetralkan suasana hati nya yang membara. "Menantang gimana maksud kamu, Del?"


"Iya.. Karena yang tua biasa nya akan lebih mengerti, lebih berpengalaman, dan menjaga. Sekaligus biasa nya cowok yang sudah matang itu pikiran nya dewasa, Kak." Jelas Delisha sambil membayangkan.


Hati Riyan semakin tak karuan, ia masih berusaha fokus menyetir. Delisha membuat nya gemas, ingin sekali rasa nya mencubit pipi nya.


"Jadi kamu suka yang dewasa ya? Hm.."


"Iya Kak, kalau Kak Riyan sudah punya pacar?" Nah loh Delisha malah balik nanya. "Hm, nggak punya." Jawab nya singkat.


"Yah sayang banget, padahal Kak Riyan tuh ganteng, baik, pintar, terus mapan, dewasa____" Celoteh nya terhenti karena,


Ciittt.... Riyan mengerem mobil nya secara mendadak di tepi jalan, dan merentangkan tangan kiri nya di depan tubuh Delisha agar gadis itu tidak terbentur dashboard mobil.


Delisha kaget bukan main, ia memejamkan mata nya erat, lalu membuka mata nya perlahan. "Huft... Selamat. Kak Riyan Kenapa rem___" Ia ingin bertanya pada pria di samping nya dan menoleh.


Tapi sayang pria itu sudah menatap nya begitu dalam. Delisha jadi gugup ikut memandang Riyan, mereka saling menatap.


"Delisha, gimana kalau kamu saja yang jadi pacar aku?" Ucap Riyan serius.

__ADS_1


"Pppfffttt.. Ha ha ha." Delisha malah tertawa.


"Kok kamu malah ketawa?" Riyan jadi bingung, "Kak Riyan pasti bercanda kan, mana mungkin aku jadi pacar Kakak." Delisha kembali mengatakan hal yang tidak mungkin untuk nya.


"Memang nya kenapa?"


"Eh, Kak Riyan.." Gadis itu tidak tahu harus berkata apa lagi, karena Riyan menatap nya begitu serius.


"Delisha, mari berpacaran?" Ucap nya lagi dengan yakin. Netra mata mereka masih saling menatap, Delisha terharu dengan ucapan nya. Hati nya sudah dag dig dug tidak karuan.


"Apa ini mimpi?" Tanya Delisha mata nya tak berkedip.


Detik itu juga Riyan langsung mengikis jarak di antara nya. Ia berbisik tepat di telinga gadis itu. "Iya ini mimpi, mimpi yang indah." Ucap nya.


Hembusan nafas Riyan membuat bulu kuduk Delisha meremang. "Hm.. Kak Riyan, a-aku__"


"Sssttt.. Tidak usah mengatakan nya sekarang, kamu boleh memikirkan nya dulu, aku serius." Ujar nya tersenyum. Lalu Riyan melanjutkan lagi mobil nya untuk mengantar Delisha pulang.


Sepanjang jalan gadis itu menunduk malu dan diam saja.


Nania dan Radit baru saja sampai di apartemen, gadis itu berjalan ke arah sora di ruang tengah.


"Nania.." Panggil Radit.


Ia menoleh ke belakang, "Ya Tuan?" Dengan langkah cepat Radit menghimpit tubuh Nania, di dorong nya gadis itu ke sofa panjang, sehingga Nania terjembab dan Radit mengungkung tubuh nya.


"Sudah waktu nya.."


"Hmmphht.."


Nania merasa ciuman itu semakin menuntut, ia sampai kuwalahan mengimbangi permainan Radit. Pria itu terus melu*mat tanpa henti. Nafas Nania sudah semakin tipis, ia mendorong dada bidang pria tampan yang sudah menindih nya.


Radit melepaskan nya, mereka saling mengambil nafas, tapi pria itu belum beranjak. Mata nya menatap Nania penuh gairah, ia tak kuasa menatap Radit dan mengalihkan pandangan nya ke samping.


Tangan Radit menyentuh rahang Nania, ia menyatukan pandangan nya. "Tatap aku Nania.." Ucap nya dengan suara berat.


"Tidak mau Tuan."


"Tatap aku!!"


Akhir nya Nania menatap mata yang meluluhkan hati nya. "Aku menyukaimu Nania, jawab aku." Gadis itu diam saja, lidah nya kelu tak mampu menjawab isi hati nya.


"Jawab Nania.."


"Sa-saya.. Maaf saya nggak bisa Tuan."


Ia mulai meronta minta di lepaskan, namun tenaga Radit lebih besar, ia menahan Nania tetap di posisi nya.


"Tatap aku, katakan kalau kamu memang tidak menyukaiku." Titah nya begitu menanti jawaban dari Nania.


Nania membuang pandangan nya ke samping, lagi-lagi Radit menyentuh pipi nya dan menolehkan ke arah nya.


"Tatap aku, jika memang kamu tidak ada perasaan sedikitpun denganku." Ucap nya begitu lembut. Nania semakin tak berdaya. Manik mata nya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Ia meneteskan air mata nya, Radit mengusap air mata yang sudah lolos di pipi nya. "Apa aku menyakitimu?" Nania menggelengkan kepala nya.


"Nania.. Come on, jawab aku."


Gadis itu mengangguk, ia akhir nya mengalah dengan keegoisan nya. Radit tersenyum dan mengelus pipi Nania.


Ia mencium lagi bibir ranum itu, menye*sap nya lembut. Setelah berkali-kali Radit mencium Nania, gadis itu baru membalas nya sekarang. Hati Radit sangat senang, mendapatkan pengakuan dari Nania yang juga menyukai nya dan membalas ciuman yang ia berikan.


Radit melepaskan pagutan nya, ia menatap Nania, mereka tertawa karena malu. Di bangunkan nya tubuh Nania ke posisi duduk.


"Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"


Pria itu menyentil lembut hidung Nania, "Sejak Tuan menolongku."


"Hm.. No.. No, mulai sekarang tidak boleh memanggil Tuan dan saya lagi." Perintah Radit begitu menggemaskan. Nania mengangguk dan mengerti.


"Menolong kamu saat?"


"Saat a-aku di sekap oleh juragan Damar di rumah nya." Jawab Nania jujur. "Jadi saat itu kamu mulai menyukaiku?" Gadis itu mengangguk.


"Kenapa Tuan bisa menyukaiku?" Tatapan Radit langsung berubah. "Hm, maksudku.. Sejak kapan kamu menyukaiku?"


"Sejak kamu menggodaku."


Kali ini Nania yang membelalakan mata nya. "Kapan aku menggoda, Tuan."


"Waktu itu kamu membuka baju di kamar hotel saat kamu mabuk. Aku baru saja selesai mandi dan terkejut melihat nya. Hatiku berdesir aneh, merasakan sesuatu. Tapi aku tetap menutup tubuh mu dengan selimut dan berjaga sampai malam. Padahal bisa saja jika aku mau, aku melakukan nya pada malam itu. Tapi aku malah ingin menjaga tidurmu. Malam itu kamu begitu menggodaku." Jelas Radit mengingat masa itu sambil meledek Nania.


Wajah gadis itu bersemu merah, "Terima kasih karena Tuan telah menjagaku hingga detik ini. Tuan selalu menolongku, membantuku, dan menyelamatkan aku saat aku dalam bahaya."


"Terus saja panggil Tuan."


"Lalu aku harus panggil apa?"


"Panggil Radit saja, atau sayang juga boleh." Nania menolak, "Itu tidak mungkin".


Radit menghela nafas nya dengan berat, "Kalau di kantor, kamu boleh memanggilku Tuan, tapi jika sedang di luar kantor. Kamu boleh memanggil namaku." Pinta nya.


"Hm, baiklah.. R-radit.." Nania menyunggingkan senyum manis nya.


"Jangan menggodaku.."


"Aku tidak menggodamu."


"Kamu baru saja menggodaku Nania.."


"Nggak Radit."


Radit gemas langsung menggelitik tubuh gadis itu, hingga Nania tertawa dan menahan geli. "Ampun Tuan.." Radit semakin menjadi karena memanggil nya Tuan.


"Akh..geli.. Iya ampun Radit, ampun.." Ia memohon dengan sangat. Pria itu menghentikan ulah nya.


Malam ini mereka begitu romantis, karena saling mengetahui perasaan nya.

__ADS_1


__ADS_2