
"Maafkan Ara, Mah,," Ucap Arabella tercekat.
Dia kembali menghapus air matanya yang terus membasahi pipi. Sudah berulang kali Arabella meminta maaf pada Mamanya yang sudah tenang di surga.
Arabella bersimpuh di samping makan sangat Mama yang telah meninggalkannya 1 tahun lalu.
Operasi besar yang dilakukan hampir 5 tahun lalu, memang berhasil membuat sang Mama sembuh dari sakitnya. Namun pada akhirnya tetap pergi setelah bertahan 4 tahun.
Hal yang membuat Arabella merasa bersalah pada sang Mama adalah menyembunyikan kebohongan besar yang dia lakukan sejak sang Mama di operasi, sampai sang Mama pergi untuk selama - lamanya dan Arabella belum sempat memberi tahukan semua itu pada Mama.
Kebohongan itu berawal dari keputusasaan Arabella yang tidak memiliki uang untuk biaya operasi sang Mama yang nilainya sangat fantastis bagi Arabella.
Uang sebanyak 500 juta, tidak akan mungkin bisa di dapatkan Arabella dalam waktu singkat jika tidak menggunakan jalan pintas.
Arabella terpaksa menjual dirinya pada laki - laki kejam yang akhirnya menjadi ayah dari anak yang dia kandung.
Arabella tau apa yang dia lakukan adalah kesalahan besar. Hanya demi uang, rela menjual dirinya dan berbuat dosa.
Arabella bahkan yakin, sang Mama lebih memilih tidak di operasi dari pada harus melakukan operasi dengan uang haram itu.
Namun, nyawa sang Mama sangat berharga bagi Arabella. Dia lebih memilih menjual diri untuk kesembuhan sang Mama.
Satu - satunya orang tua yang dia miliki.
Saat menyadari jika dirinya hamil, Arabella langsung mencari keberadaan David. Bukan untuk meminta pertanggungjawaban dari laki - laki itu, melainkan untuk menyerahkan bayi itu pada David.
Sejak usia kandungan 3 bulan, Arabella tinggal di Jakarta dengan semua fasilitas yang diberikan oleh David. Semua biaya hidupnya dan biaya periksa kehamilan, di tanggung oleh David.
David bahkan memberikan uang setiap bulannya pada Arabella, yang digunakan Arabella untuk menghidupi Mama dan adiknya yang dia tinggalkan selama 7 bulan.
Selama menghilang 7 bulan, Arabella terpaksa mengaku bekerja di luar negeri. Dengan alasan untuk membayar hutang biaya operasi.
Begitu kondisinya pulih setelah melahirkan, Arabella kembali ke rumahnya.
Dia menyerahkan Ciara sepenuhnya pada David. Mempercayakan David untuk membesarkan Ciara.
Karna Arabella yakin, David bisa memberikan kehidupan yang layak untuk putri mereka.
"Teh,, kenapa masih disini.?"
"Ayo pulang, sudah sore."
Arkan mengulurkan tangannya pada sang kakak. Satu - satunya saudara yang dia miliki saat ini.
Hanya Arabella yang membuat Arkan semangat untuk melanjutkan pendidikannya agar nantinya bisa memberikan kehidupan yang layak untuk sang Kakak.
Arabella mendongak, tersenyum tipis pada Arkan dan menyambut uluran tangannya.
Langit sudah gelap. Arabella terlalu larut dalam kesedihan sampai tidak sadar kalau dia sudah lama berada di makan sang Mama hingga menjelang malam.
Keduanya masuk kedalam rumah sederhana yang dulu diam - diam di beli oleh Arabella dari uang yang setiap bulan diberikan oleh David.
"3 hari lagi Teteh harus kembali ke Jakarta."
"Alhamdulillah Teteh sudah dapat pekerjaan di restoran." Tutur Arabella dengan mata berbinar.
Dia terlalu bahagia karna bisa mendapatkan pekerjaan layak di Ibu kota dengan ijazah SMA.
__ADS_1
Arabella juga memiliki harapan besar dengan bekerja dan tinggal di kota besar itu.
Dia merasa akan memiliki peluang untuk bisa bertemu dengan putrinya.
"Alhamdulillah, syukur kalau begitu Teh." Meskipun senang, namun Arkan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena harus tinggal terpisah dengan sang Kakak.
"Jangan lupa nanti sering - sering pulang." Pinta Arkan.
Arabella menatap sendu. Dia bisa merasakan kesedihan adiknya.
"Maafin Teteh karna harus ninggalin kamu sendirian."
"Semoga kita bisa tinggal bersama setelah kamu lulus nanti."
"Kamu kuliah yang bener, Teteh pengen kamu jadi orang sukses."
Arkan mengangguk cepat. Dia tidak akan mungkin mengecewakan Arabella yang sudah membiayai sekolah dan kuliahnya selama ini.
...*****...
Zia menggeliat. Perlahan membuka matanya.
Dia sedikit tersentak saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Dilihatnya tangan besar Gavin yang melingkar di perutnya. Zia membalik badan, menatap Gavin yang masih terlelap.
Tangannya reflek mengulur, mengusap lembut wajah Gavin. Menatap lekat untuk mengagumi wajah tampan suaminya yang tak pernah pudar sejak dulu. Bahkan, diusianya yang terus bertambah, ketampanan Gavin semakin terlihat menggoda.
"Pandangi wajah tampanku sepuasnya Zi, karna nanti kamu tidak akan bisa melakukan ini lagi."
Ujar Gavin dengan senyum lebar. Namun matanya masih terpejam.
Ucapan Gavin hampir membuat jantungnya berhenti berdetak.
"Mas.!" Tegur Zia tak suka.
"Kamu ini bicara apa." Protesnya dengan mata berkaca - kaca. Pikirannya langsung melayang kemana-mana, dengan perasaan yang seketika berubah tidak karuan.
Gavin membuka mata, masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Dia mendekatkan wajah dan mendaratkan kecupan di kening Zia.
"Jika kondisi Papa terus seperti ini, aku harus membawanya ke luar negeri Zi." Tutur Gavin. Kini raut wajahnya berubah sendu.
"Mau tidak mau, aku harus mengurus semuanya dan pergi untuk menemani Papa di sana."
"Aku tau kamu pasti akan keberatan, aku juga tidak ingin meninggalkan kamu sendirian. Tapi Papa harus mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih baik lagi."
Kini tangan Gavin yang bergantian menyusuri wajah cantik Zia. Menatap dalam penuh cinta dan kekaguman pada sosok istrinya yang luar biasa hebat.
Sosok wanita paling kuat yang pernah Gavin temui.
"Kalau begitu, jangan pernah berhenti untuk mendo'akan Papa agar cepat sembuh."
"Aku tidak mau kamu pergi kemana - mana, aku ingin kamu tetap disini."
"Dia tidak bisa jauh darimu."
__ADS_1
Tutur Zia. Dia langsung memeluk Gavin dengan erat.
Tidak bisa di bayangkan kalau Gavin pergi ke luar negeri. Pasti akan berhari - hari, berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan - bulan berada di sana.
Entah bagaimana caranya menahan rindu selama itu.
"Benarkah.?" Goda Gavin.
Dia berbisik di telinga zia dan sengaja menghembuskan nafas disana.
Hembusan nafas Gavin membuat tubuh Zia meremang.
Tangannya reflek menjauhkan wajah Gavin.
"Ya ampun, jangan seperti itu." Protes Zia.
"Lihat,," Zia menunjukan lengannya. Jelas sekali kalau bulu kuduknya berdiri.
Gavin terkekeh geli.
"Bukannya enak.?" Lagi - lagi Gavin menggoda istrinya.
"Apalagi kalau disini." Gavin langsung mencium leher Zia.
Ulahnya kali ini bukan hanya membuat Zia meremang, tapi tubuhnya menggeliat.
"Mas, jangan bercanda." Tegurnya lagi.
"Ayo mandi, kita harus sarapan dan pergi ke rumah sakit." Zia hendak beranjak dari ranjang, namun Gavin menahannya
"Tunggu sebentar, aku ingin mencium dan berbicara dengan anak kita." Ucap Gavin dengan mata berbinar.
Dia merubah posisi dengan duduk di ranjang, duduk di samping Zia dan menundukan kepala hingga sejajar dengan perut Zia.
Tangannya langsung mengusap perut Zia dengan lembut.
"Selamat Pagi anak Daddy." Seru Gavin. Dia menyapa anaknya dengan perasaan haru.
Meski setiap hari melakukannya, tapi tetap saja perasaannya bercampur aduk setiap kali berbicara dengan calon anaknya.
"Kamu harus tau, Daddy sangat mencintai kamu dan Mommy." Ucapannya lagi.
"Daddy sudah tidak sabar untuk melihatmu."
"Baik - baik di dalam sayang, jangan membuat Mommy susah."
Gavin mendaratkan kecupan di perut Zia beberapa kali.
Zia tersenyum lebar, menatap penuh haru dan bahagia.
"Mommy juga sangat mencintai Daddy,," Kata Zia lirih.
Gavin mengangkat wajahnya, tatapan matanya langsung berubah. Antara bahagia dan jahil yang bercampur jadi satu.
"Sepertinya aku ingin melakukannya." Bisik Gavin sembari mendorong pelan bahu Zia hingga kembali berbaring di ranjang.
Zia hanya pasrah dengan memejamkan matanya.
__ADS_1
Dan pasrah menerima sentuhan dari Gavin.