Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tidak Usah Memasak


__ADS_3

Sudah tidak ada lagi kerusuhan yang di buat Sania, sudah tidak ada lagi kejaran dari Kevin yang begitu menginginkan Nania pada waktu itu.


Rasa nya beban sudah sedikit menghilang di pundak gadis ini, tapi ternyata belum berkurang. Malah semakin bertambah. Ia harus menghadapi kenyataan keluarga nya yang sekarang berantakan.


Hubungan saudara yang sudah lama menghilang bersama sang Kakak, tapi kini kembali lagi di hadapan Nania. Hubungan yang tidak pernah baik dengan sang Ibu. Kini ia harus menanggung semua resiko yang Yanti perbuat.


"Nania tolong maafkan Ibu.."


"Aku sudah memaafkan Ibu, tapi aku minta tolong sama Ibu. Beri aku waktu sendiri atas apa yang sudah terjadi, Bu." Pinta nya.


Mengeluarkan keinginan dari mulut nya, harus menahan getaran di tubuh nya. "Baik Nania.. Ibu mengerti.. Tapi tolong jangan jauhi Ibu yaa." Ucap Yanti memelas.


Ia sedang berakting di depan anak gadis nya. Itu semua ia lakukan untuk mendapatkan uang, uang, dan uang lagi. Hanya ada kata Uang dalam prinsip hidup Yanti.


"Ibu pulanglah.. Aku tidak bisa mengajak Ibu masuk, karena aku punya alasan. Tolong tinggalkan aku sendiri.." Pinta Nania masih lembut.


Yanti pun mengangguk, ia pergi meninggalkan anak nya. Tapi ketika ia sudah berada di balik punggung gadis itu, senyum getir terbit di wajah Yanti. Ia menghapus air mata bualan nya.


Nania tidak ingin mengajak Ibu nya masuk ke apartemen, selain ia ingin sendiri. Karena Nania tidak mungkin mengajak Ibu nya, jika sekarang Radit sedang tinggal bersama nya. Ia mengerti akan posisi nya yang cuma menumpang di apartemen Radit.


Dengan langkah kaki yang berat, Nania masuk ke dalam sambil menghapus air mata nya. "Kak Dinan.. Ibu.. Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku. Apa aku bukan bagian dari keluarga?" Gumam nya di balik pintu apartemen yang sudah ia tutup.


Tubuh nya meluruh ke bawah, memegangi dada nya yang terasa sesak. Hari ini cukup membuat nya lelah. Bunyi nada pintu yang sedang menekan kode akses terdengar di telinga Nania. Pintu itu terbuka menampilkan Radit yang baru saja pulang.


"Astaga.." Ucap pria itu kaget melihat Sekertaris nya duduk di lantai.


"Kenapa kamu duduk disini? Apa di apartemen ini tidak ada sofa?" Kesal nya menghela nafas mengatur oksigen yang ia hirup.


Sekeras apapun seorang Radit, sedingin apapun ia pada setiap orang, diri nya paling tidak tega jika melihat wanita menangis. Apa lagi gadis itu tidak bergeming sama sekali saat di tanya.


"Hei, aku bicara padamu." Tegur nya lagi.


"Kamu menangis?" Radit menarik nafas nya kembali. "Ada apa?" Tanya nya lembut.


'Apa aku sangat kejam pada nya di kantor tadi? Apa dia sudah merasa bersalah atas sikap nya yang menyebalkan? Haiiis menyulitkan saja.' Batin Radit tidak henti bertanya.


"Bangunlah.." Radit membantu Nania berdiri.


Gadis itu hanya patuh saja, ia berdiri tidak mau membuat kesalahan lagi pada Singa jantan di samping nya. Radit membantu nya berjalan memegangi lengan gadis itu. Jujur saja memang Nania tidak memiliki tenaga yang banyak. Di bantu berjalan sangat membantu nya.

__ADS_1


"Duduk disini." Pria itu menuntun hingga mereka duduk di sofa.


"Ada apa lagi kamu menangis?" Radit menanyakan kembali.


"Tidak ada Tuan.. Maaf telah merepotkan Tuan, saya ingin ke kamar dulu."


Ucapan Nania sangat datar, tidak melirik ke arah Radit sama sekali. Lalu ia berjalan memasuki kamar nya membuat pria dingin yang duduk di sofa melongo melihat kelakuan Sekertaris nya.


"Heh, bisa-bisa nya dia pergi begitu saja! Seharus nya aku tadi membiarkan saja dia seperti suster ngesot di lantai." Radit kesal lalu ikut masuk ke dalam kamar nya.


Malam pun tiba, Radit merasa lapar. Ia keluar dari kamar nya mengenakan pakaian santai. Dengan kaos panjang warna biru denim dan celana training berwarna senada.


Ia melirik di dapur tidak ada Nania, di ruang makan juga belum ada makanan. Biasa nya gadis itu memasak makan malam setiap hari nya.


"Apa dia sangat frustasi, hingga tidak ingin makan malam?" Gumam nya melipat tangan di dada.


"Sudahlah aku pesan makanan saja."


Tidak mau ambil repot, Radit mengeluarkan ponsel di saku celana nya. Ia membuka aplikasi pesan antar makanan online, dan mengklik beberapa menu makanan yang ia suka dari restoran jepang.


Saat itu Nania juga keluar dari kamar nya. Ia memakai mini dress berwarna hitam selutut yang lumayan ketat di tubuh nya. Dress yang di kenakan Nania berbahan kaos untuk tidur. Tapi tetap terlihat anggun di tubuh nya.


"Kenapa dengan matamu? Apa kamu salah memakai kosmetik?" Cibir Radit pura-pura tidak paham. Padahal ia tahu jika Nania habis menangis, tapi Radit tidak ingin membuat suasana jadi melow.


Nania memegangi wajah nya di area bawah mata. "Tidak.. Saya tidak memakai kosmetik." Balas nya.


"Apa anda sudah makan Tuan?" Tanya nya lagi.


"Menurutmu?"


"Maaf karena telat menyiapkan makanan. Kalau gitu saya buatkan dulu Tuan. Anda bisa menunggu nya sambil menonton tv." Ujar nya dengan tersenyum.


Senyum yang selalu Radit inginkan di wajah cantik Nania. Tapi sangat benci jika senyuman itu terbit untuk pria lain selain diri nya.


"Tidak perlu, aku sudah memesan makanan untuk makan malam. Jadi tidak usah memasak."


Radit pergi berpindah tempat ke sofa di ruang tengah yang biasa mereka singgahi. Nania mengekor di belakang nya.


"Tuan.. Apa anda masih marah dengan saya?" Radit hanya melirik nya sekilas.

__ADS_1


"Tuan.. Anda jangan marah-marah. Biasa nya kalau orang yang suka marah itu cepat tua." Ledek Nania yang terlihat manis sekali bak anak kecil yang sedang merengek minta di maafkan.


Rahang Radit mengeras merasa di ledek pada Sekertaris nya. "Apa maksudmu aku ini sudah tua?!"


"Tidak.. Aku hanya mengatakan itu supaya anda jangan marah lagi Tuan." Jawab nya begitu manis dan terlihat manja.


Radit terkekeh melihat tingkah Nania yang begitu manja. "Apa penting nya untukmu jika aku marah?!" Lalu ia mengalihkan pandangan nya ke ponsel.


"Tentu saja, itu sangat tidak enak sekali, karena saya bekerja dengan Tuan. Jika saya salah, saya minta maaf Tuan." Ucap nya lagi dengan tulus.


Nania duduk di samping Radit, pria itu sudah tidak tahan lagi dengan ucapan gadis itu yang begitu terasa manis dan tulus. Seperti nya ia tidak bisa marah lama-lama dengan Nania.


"Memang nya apa kesalahanmu?" Radit masih memancing.


"Karena salah memasukan garam ke kopi Tuan, bukan gula yang saya masukan." Jelas nya.


"Hanya itu?" Tanya Radit.


Pria itu kemudian menaruh ponsel nya, lalu menatap Nania hingga badan nya ikut menoleh ke samping. Gadis itu menjadi gugup kala Radit sudah menatap serius pada nya.


Degupan jantung Nania kembali kencang, ia tidak mengerti situasi apa yang sedang di rasakan nya sekarang. Kemudian ia cuma mengangguk. Mata nya masih ikut bersitatap pada Radit.


"Kamu yakin kesalahanmu hanya itu?"


Radit mencondongkan tubuh nya ke depan, Nania merasa canggung hingga tubuh nya ikut mundur perlahan.


"I-iya Tuan. Apa ada kesalahan lain yang saya lakukan Tuan?" Tanya nya gugup.


"Ada!"


"A-apa Tuan?" Lirih nya semakin mundur ke belakang.


Pria itu terus mengikis jarang, udara yang mereka hirup terasa sempit. Radit seakan tidak bisa menahan setiap melihat bibir manis milik Nania.


Ia seakan ingin dan ingin merasakan benda itu yang membuatnya candu.


"Salahmu karena sudah berani menggodaku!" Ucap nya menatap Nania tanpa henti.


Nania menggelengkan kepala nya, ia tidak merasa menggoda Tuan nya. Kemudian pria itu menarik tengkuk Nania dengan satu tangan nya. Di kecup nya bibir kemerahan alami milik gadis itu.

__ADS_1


Radit memejamkan mata nya, menikmati sentuhan bibir nya yang menempel pada Nania.


__ADS_2