Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 13


__ADS_3

Dalam menjalani hidup, kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan berusaha untuk mencapai apa yang sudah kita inginkan.


Pepatah mengatakan 'Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil', tapi percayalah jika Tuhan belum menghendakinya, maka sebesar apapun usaha yang kita lakukan tidak akan membuahkan hasil.


Namun tidak ada usaha yang sia - sia, karena Tuhan akan melihat seperti apa kesungguhanmu dalam mencapai keinginan itu lewat usaha yang kamu lakukan.


Seperti halnya dengan rumah tangga Zia dan Gavin saat ini. Entah sudah berapa banyak usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan keturunan, tapi memang Tuhan belum menghendaki adanya kehidupan di rahim Zia.


Mereka hanya bisa berpasrah dan berserah diri saat ini. Mereka sudah berusaha, mungkin saatnya mereka untuk bersabar. Bersabar dalam menunggu hadirnya buah hati, bersabar dalam menjalani ujian ini, dan bersabar dalam mempertahankan rumah tangganya.


Saat ini lah kesabaran Zia dan Gavin di uji.


Setelah makan malam, Gavin mengantar Zia ke apartemen milik mereka. Apartemen yang hanya sesekali mereka tempati jika ingin menikmati suasana yang berbeda.


Keduanya masuk kedalam. Meski jarang di tempati, apartemen ini selalu bersih karena selalu di bersihkan setiap 2 minggu sekali oleh pekerja di rumah mereka.


Gavin menyeret koper kecil milik Zia menuju kamar utama.


"Malam ini aku temenin kamu,," Ucap Gavin sembari masuk kedalam kamar.


Dia bukan meminta ijin, melainkan memberi tau Zia bahwa dia akan bermalam di apartemen untuk menemani Zia malam ini.


Meski sebenarnya tidak setuju, namun Zia tetap menganggukkan kepalanya.


Setidaknya jika rumah tangganya dan Gavin terpaksa harus di akhiri dalam waktu dekat, dia dan Gavin masih punya cerita indah sebelum berpisah.


Menikah selama 4 tahun, 5 bulan terakhir adalah masalah terberat bagi Zia. Dulu, rumah tangganya tidak pernah si bumbui oleh permasalahan sekecil apapun ini. Ya, selama itu kehidupan mereka baik - baik saja. Mungkinkah permasalahan besar yang menimpa mereka adalah tanda dari akhir kisah mereka.?


Saat ini Zia menyerahkan takdirnya pada Tuhan. Kalaupun nanti dia dan Gavin harus berpisah, Zia berharap masih ada kebahagiaan di luar sana yang biasa dia dapatkan selain dari Gavin.


...***...


Zia menggeliat pelan, pemandangan yang pertama dia lihat saat bangun tidur adalah wajah tampan suaminya yang masih terlelap. Gavin terus memeluknya sepanjang malam, membuat Zia merasa kasihan jika harus membiarkan Gavin tidur seorang diri selama 1 bulan ke depan.


Zia menyingkirkan pelan tangan Gavin dari pinggangnya, lalu bergeser menjauh untuk turun dari ranjang.


Wanita cantik itu memunguti baju miliknya dan milik Gavin yang berserakan di lantai.


Semalam keduanya baru saja melewati malam yang penuh cinta. Malam yang dulu tidak pernah di lewatkan Zia dan Gavin, kecuali saat Zia berhalangan.


"Mau apa Zi,,?" Suara serak Gavin menghentikan langkah Zia. Wanita itu langsung menutupi polosnya dengan baju yang ada di kedua tangannya.


Zia berbalik badan, menatap Gavin yang sudah bangun dengan duduk di sisi ranjang dalam keadaan bertelanjang dada dan hanya memakai celana d*lam saja.


"Mau mandi mas."


"Kamu sekalian ke resto dari sini.?"


Zia berusaha menutup sempurna 2 benda sensitifnya. Wanita itu takut membuat Gavin bergairah lagi saat melihat kedua benda miliknya.


"Ya, aku langsung ke resto setelah ini,,"


Gavin be ranjang dari duduknya, berjalan menghampiri Zia dan langsung mengangkat tubuh istrinya itu.

__ADS_1


"Mas.!" Pekik Zia. Kedua tangannya reflek di kalungkan ke leher Gavin, membuat baju tadi berjatuhan di lantai.


"Mandi bareng,," Bisikan Gavin sembari melangkah menuju kamar mandi. Zia hanya pasrah menuruti keinginan Gavin.


...**...


Sebelum pergi dari apartemen, Gavin lebih dulu memeluk dan mencium kening Zia. Tak lupa, dia juga melu**t singkat bibir istrinya yang selalu membuatnya candu.


"Aku berangkat dulu. Telfon aku kalau butuh sesuatu." Gavin mengusap lembut pipi Zia.


"Jangan terlalu sering keluar apartemen,," Pesannya pada Zia. Laki - laki itu hanya khawatir Zia akan mencari kebahagiaan di luar sana setelah dia dan keluarganya mengambil kebahagiaan Zia.


Zia mengangguk patuh.


"Iya mas,,"


"Hati - hati di jalan,,"


"Hemm,," Ucap Gavin sembari melempar senyum.


Dia keluar dari apartemen, Zia hanya bisa melambaikan tangan sambil terus menatap Gavin yang perlahan mulai menghilang dari pandangan matanya.


"Bagaimana nasib rumah tangga kita nanti mas,," Ujar Zia lirih. Hatinya seperti di remas setiap kali memikirkan nasib rumah tangganya yang tidak tau akan seperti apa.


Andai saja mama Ambar tidak ikut campur terlalu jauh sampai menghinanya berulang kali, bahkan sampai meminta Zia untuk mengijinkan Gavin menikah lagi. Mungkin Zia tidak akan mengalami kepedihan yang menyakitkan seperti ini.


Zia menghapus air matanya yang menetes begitu saja. Setiap tetes air matanya yang mengandung ribuan luka.


Wanita itu mencoba tersenyum, berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri yang semakin rapuh.


Suara tangisan dan rengekan anak kecil membuat Zia tidak jadi masuk kedalam apartemen.


Zia menoleh ke sumber suara yang berada di sisi kanan apartemennya.


"Kak David,," Gumam Zia lirih.


Zia melihat David dan Ciara, juga perempuan paruh baya yang sedang berusaha menenangkan Ciara dalam gendongannya. Perempuan yang sepertinya baby sitter Ciara.


"Papa harus kerja sayang. Papa janji akan cepat pulang." David mengusap kepala Ciara berulang Kali. Dia terlihat cemas melihat Ciara yang terus menangis, sedangkan laki - laki itu tidak bisa mengajak Ciara karena harus menghadiri rapat penting di luar kota.


Tangisan Ciara membuat naluri Zia menuntunnya untuk mendekat.


"Pagi cantik,,," Sapa Zia ramah. Ciara langsung menoleh, dia berhenti menangis saat melihat Zia.


"Tante cantik,," Ujar Ciara. Zia tersenyum melambaikan tangan pada Ciara.


"Zi,, kamu disini.?" Tanya David.


Zia mengangguk ramah.


"Aku di apartemen sebelah. Sepertinya kak David penghuni baru,," Ujar Zia.


Zia dan Gavin sudah lama membeli apartemen ini, dan tau persis kalau penghuni apartemen sebelah bukan David.

__ADS_1


"Ah iya, kami baru pindah 3 bulan yang lalu,," Tutur David. Zia menganggukkan kepala beberapa kali.


"Kenapa dengan Ciara.?" Tanya Zia sopan.


"Cia mau ikut papa tante,,," Ciara sudah lebih dulu menjawab pertanyaan Zia. Bocah kecil itu kembali akan menangis.


"Cia sedikit rewel hari ini. Semalam badannya panas karna kemarin terlalu excited saat liburan."


"Jadi tidak mau di tinggal kerja,,"


David melihat arloji mewah yang ada di pergelangan tangannya. Sepertinya dia tidak punya banyak waktu untuk membujuk Ciara agar tidak ikut dengannya.


"Berangkat saja, biar Cia sama aku,," Ujar Zia tanpa melihat David. Zia fokus menatap Ciara.


"Ciara mau kan main sama tante.? Ciara suka main apa.?" Tanya Zia dengan gaya bicara yang dibuat seperti anak kecil untuk menarik perhatian Ciara.


"Mau tante. Cia suka main boneka barbie dan make up,," Sahut Ciara antusias.


"Oke,,, kalau gitu kita main sekarang ya. Papa Cia biar kerja dulu,," Zia mengambil Ciara dari gendingan baby sitter.


"Oke tante."


"Bye Papa,,, hati - hati di jalan,,," Ujar Ciara dengan senyum yang begitu ceria. David sampai diam mematung melihat Ciara yang mudah luluh begitu saja dengan Zia. Tidak ada drama untuk membujuk Ciara.


"Tunggu apa lagi kak.? Nanti telat." Suara Zia membuat David tersentak.


"Tidak usah khawatir, biar aku yang jaga Ciara."


"Aku free hari ini,,," Jelas Zia ramah.


David tersenyum lebar, sedikit berkaca - kaca menatap kedua wanita cantik yang ada di hadapannya. Rasanya terharu melihat anaknya bisa sedekat itu dengan wanita yang baru 2 kali dia temui.


"Makasih banyak Zi, maaf merepotkan."


"Aku akan segera kembali,,"


David mendekatkan wajahnya, membuat Zia reflek mundurkan wajahnya.


Jantungnya hampir saja terlepas, berfikir kalau David akan menciumnya. Rupanya laki - laki itu mencium kedua pipi Ciara bergantian.


"Papa berangkat dulu sayang. Jangan nakal yah,,"


David berlalu dari hadapan Zia dan Ciara.


"Tante,,,


"Tante,,, Ayo,,,"


Ciara sampai berulang kali memanggil Zia.


Rupanya wanita itu sedang melamun. Dia memikirkan Gavin. Entah kenapa hatinya begitu tersayat karena tidak bisa memberikan kebahagiaan pada Gavin, seperti kebahagiaan yang dirasakan oleh David karena memiliki Ciara.


"Apa aku harus melepaskan kamu mas,,,"

__ADS_1


Gumam Zia dalam hati. Zia merasa bersalah karena tidak kunjung memberikan anak untuk Gavin.


...***...


__ADS_2