
Pagi hari ini Radit sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Maklum saja karena Nania masih berada di rumah sakit. Pekerjaan nya banyak yang ia handle sendiri.
Riyan masuk ke dalam ruangan nya setelah mengetuk pintu dari luar.
"Pagi Tuan, ini salinan laporan kerja sama Diamond Glow dengan perusahaan Max Lan, saya juga sudah kirim laporan nya lewat email Tuan." Riyan menyerahkan sebuah binder berisi salinan laporan tersebut.
"Hm, terima kasih. Nanti tolong kamu handle meeting jam 1 siang ya, aku akan keluar kantor sebentar."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
"Hm."
Asisten itu segera keluar dari ruangan Radit. Hati nya hari ini begitu berbunga-bunga karena Delisha memasak makan malam nya semalam dan sarapan nya pagi tadi.
Meskipun hanya sepiring nasi goreng dan roti lapis, itu sudah membuat hati nya bahagia sekali.
Wajah nya berseri-seri berselingan dengan Mona yang datang ke kantor Radit.
"Riyan, kenapa kamu senyum-senyum gitu, happy banget kayak nya hari ini." Tegur Mona yang aneh melihat tingkah Riyan pagi ini.
"Eh, ada Nyonya. Selama pagi Nyonya, he he. Saya nggak kenapa-kenapa kok." Jawab nya menyengir.
"Yakin?"
"Iya Nyonya, em Tuan Radit ada di dalam Nyonya." Riyan mempersilahkan Mona masuk ke dalam ruangan anak nya. Mona pun berjalan masuk ke dalam.
"Radit.."
"Mama.."
Anak tampan nya itu langsung bangkit dari kursi, ia menghampiri Mona dan memeluk nya. "Ada apa mama datang kesini, tumben sekali tidak memberitahu Radit."
Mereka beralih duduk di sofa panjang berwarna hitam itu. "Memang nya kalau mama datang kesini harus bilang dulu gitu,"
"Bukan ma.. Takut nya Radit ada di luar."
"Radit, mama kesini cuma ingin menyampaikan pesan papa saja." Mona menatap anak nya yang duduk di samping.
"Pesan? Pesan apa ma?" Ia bingung.
"Iya, papa bilang. Kamu harus segera menikahi Nania.. Tapi ngomong-ngomong Nania nya kemana Dit? Mama nggak lihat dia di depan tadi."
Mona baru sadar ketika melewati meja kerja Nania, tidak mendapati gadis itu ada di meja nya. "Ah, itu ma.. Nania sedang ke departemen pengembangan. Bahas project baru." Kilah nya agar Mona tidak curiga.
"Oh gitu, ya sudah lebih baik kamu ikuti saran papa. Untuk cepat menikahi Nania."
"Iya ma.. Radit juga pingin kok nikah sama Nania. Tapi tunggu sebentar lagi ya ma.. Radit janji tidak akan lama kok."
"Memang nya kamu nunggu apa sih Dit?"
Mona penasaran sekali dengan alasan anak nya yang masih ingin menunda pernikahan nya.
"Mama nggak maksa kamu untuk cepat nikah. Tapi ada baik nya kalau kamu sudah menemukan yang pas dan cocok, langsung saja menikah." Jelas Mona menasihati anak nya.
__ADS_1
"Iya ma Radit mengerti. Oh ya, mama mau minum apa?"
"Ah, kamu selalu mengalihkan pembicaraan." Mona cemberut menghadapi sikap Radit. "Oh ayolah ma.. Radit ngerti kok maksud mama." Ia membujuk Mona agar tidak cemberut lagi.
"Baiklah.. Terserah kamu saja, kalau sampai terjadi apa-apa. Mama nggak mau ngomong sama kamu lagi." Mona bangkit dari sofa.
"Ma.. Mama mau kemana?"
"Mama mau pulang, toh kamu juga lagi sibuk kan. Nania juga sedang sibuk. Mama mau pulang saja. Mama mau bikin rujak di rumah." Mona membuang wajah nya ke samping, tanda ia masih kesal.
"Ha, mama mau bikin rujak? Radit mau dong ma.."
Pria itu seperti mendengar kabar bahagia saja saat Mona ingin membuat rujak buah kesukaan nya. "Nggak ada." Jawab Mona jutek.
Ibu paruh baya itu pun keluar dari ruangan anak nya. Radit hanya bisa mendecak kesal karena sang mama marah pada nya.
"Iihss si mama.. Memang nya cewek kalau marah pada gitu ya?" Heran Radit.
Sesuai janji Diamond Glow jika Fiona tidak melakukan pemotretan hari ini, ia akan membayar denda 10 Miliar pada Radit.
"Ya.. Satu.. Dua.. Tiga.."
Cepret.. Cepratt.. Ceprett.. Begitulah suasana di ruang pemotretan yang terang benderang oleh sinar lampu khusus.
Fiona bergonta-ganti gaya sambil memegang brand Diamond Glow. Nampak sekali raut wajah nya masih ada kekesalan.
"Senyum sedikit kali ini.. Ya.. Ya.. Tahan,,, benar sekali. Okay.." Begitulah suara aba-aba dari sang fotographer.
Berpuluhan kali ia bergaya dalam photo shoot kali ini. Setelah selesai Fiona duduk di sofa single yang besar di ruangan itu. Mun membawakan minum untuk nya.
"Mun, jadwalku setelah ini tidak ada lagi kan?"
"Tidak ada nona, saya sudah mengosongkan jadwal sesuai keinginan nona Fiona." Jawab Mun dengan profesional.
"Bagus."
Wajah Fiona berubah menjadi senang, ia menyebikkan bibir nya tanpa sadar. Radit masuk ke dalam ruangan photo shoot.
Ia menemui Fiona dengan sengaja. "Bagaimana Fio, apa photo shoot nya sudah selesai?" Tegur nya.
Wanita itu melirik ke arah suara yang ia kenal. Dengan cepat Fiona mengulas senyum licik nya. "Seperti yang kamu minta." Jawab nya.
"Bagus, semoga aku tidak salah memilih Model kali ini." Radit duduk di hadapan Fiona. Wanita itu menyebikkan bibir nya lagi. Ia merasa di remehkan oleh Radit.
"Cih, salah pilih Model? Tentu saja nggak mungkin." Kesal Fiona.
"Riyan bilang, kemarin kamu ingin sekali bertemu denganku. Ada apa, apa sampai semarah itu karena aku sedang sibuk?"
"Sama sekali tidak marah, lupakan saja.. Aku sudah tidak ingin bicara padamu." Fiona merajuk. Radit menaikkan satu alis nya menatap tingkah Fiona kali ini.
"Aku kesini hanya ingin bilang sesuatu padamu. Jangan pernah mengganggu milikku, sekalipun itu barang kesayanganku. Meskipun kamu teman kecilku, tapi aku tidak akan segan untuk membalas nya." Bisik Radit di dekat Fiona.
Membuat bulu kuduk Fiona merinding, suara Radit begitu mencekam nafas nya. "Ma-maksud kamu apa Dit?" Tanya nya sudah mulai tak biasa.
__ADS_1
"Aku yakin, kamu pasti mengerti maksudku, kalau begitu aku pergi dulu." Pria itu berjalan ke luar ruangan sambil menyeringai tajam ke arah Fiona.
Setelah Radit keluar Fiona mulai menunjukkan lagi amarah nya.
"Aaarrrghhh!!! Brengsek kamu Nania!!" Teriak nya, lalu melempar gelas yang ada di genggaman nya.
Pranggg!!! Mun menghampiri Fiona yang masih tersulut emosi. "Nona ada apa?" Mun panik melihat pecahan gelas yang sudah berantakan di lantai.
"Mun, kita pergi sekarang juga! Antar aku ke rumah sakit Xxx" Pinta nya yang masih dengan nafas naik turun.
"Ba-baik nona.."
Mereka keluar dari ruangan photo shoot. Fiona dan Mun sudah ada di dalam mobil. Kedua nya menuju rumah sakit tempat Nania di rawat.
Fiona sudah tidak sabar sekali ingin bertemu dengan Nania yang sudah berani merebut Radit dari nya.
Siang ini Nania dan Delisha sedang makan siang bersama di kamar inap. Delisha membawa masakan hasil diri nya masak ke rumah sakit. Ia membuat sup ayam, dan juga perkedel.
"Hmmm.. Ini lumayan enak, Del. Kamu berhasil bisa masak sekarang. He he.." Puji Nania mencicipi masakan nya.
"Ah kamu bisa saja Nan. Hi hi hi, aku jadi malu. Tapi tetap masakan kamu kok yang paling enak." Delisha mengacungkan kedua ibu jari nya untuk Nania.
"Ada-ada saja kamu. Tapi benar kok, masakan kamu enak. Lain kali buatkan aku dimsum yaa.." Nania merengek seperti anak pada ibu nya. "Ha ha, siap Ibu Negara." Kedua tawa mereka pecah dalam ruangan itu.
"Kamu nggak macam-macam kan di apartemen hanya berdua saja dengan Riyan?" Tatapan Nania begitu intens pada sahabat nya. "Nggak, kamu tenang saja Nan. Aku masih bisa jaga diri aku kok." Jawab nya penuh yakin.
"Syukurlah, besok pagi juga aku sudah boleh pulang Del, aku sudah bosan sekali di sini."
"Benarkah? Wahh,,, aku senang sekali kamu bisa pulang. Okay, besok aku akan belajar bikin dimsum buat nyambut kamu pulang, he he."
"Okay, aku tunggu dimsum kamu besok loh yaa.." Nania tertawa lagi.
Suara ponsel Delisha berdering. Ia melihat kalau Riyan yang memanggil nya. "Eh, Nan.. Sebentar ya, mas Riyan nelpon aku nih." Delisha pun pamit pergi keluar sebentar.
Nania pun melanjutkan makan nya yang hampir habis, di saat itu ada seorang suster yang masuk ke dalam menggunakan masker.
"Selamat siang Nyonya, waktu nya minum obat." Suster itu memberikan obat di nampan nya pada Nania.
"Ya Sus, terima kasih."
"Setelah makan langsung di minum ya Nyonya. Saya permisi dulu, mari.." Suster itu pamit keluar kamar. Nania yang sudah selesai makan pun langsung meminum obat yang di berikan suster tadi.
Ia menenggak habis air yang ada di gelas. Tak lama pun Tiba-tiba pandangan nya sedikit kabur. Ia merasakan pusing yang hebat di kepala nya.
"Aaahhh... Aduh, sakit sekali kepala aku. Aahh" Lirih Nania dengan rasa sakit yang dahsyat sambil memegangi kepala nya.
Delisha masuk lagi ke dalam kamar setelah menerima telepon dari Riyan. "Nan.. Kamu kenapa?"
Ia panik melihat Nania kesakitan. Delisha langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter. "Nania.. Kamu kenapa Nan? Nania!!"
Delisha sudah menepuk-nepuk pipi sahabat nya yang sudah tidak sadarkan diri. Ia pun berinisiatif menelpon Radit.
"Halo Kak Radit.. I-ini Nania...Nania tiba-tiba pingsan Kak" Ia sudah gugup bicara di telepon dengan Radit.
__ADS_1
Begitu mendengar Nania pingsan, panggilan itu langsung di putus Radit. Pria yang menjadi calon suami nya Nania langsung menyusul ke rumah sakit.