Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Surat Pembatalan Kerja Sama


__ADS_3

Dinan merasa frustasi dengan apa yang dia alami saat ini. Ia menghancuri ruangan kerjanya sendiri, dengan membanting barang-barang yang ada di sana.


"Aaaarrghhh.... Brengsekk!!" Teriak wanita bernama Dinan sambil membanting vas bunga.


"Ini semua karena wanita sialan itu, awas kamu Nania!!" Prangg.. Semua benda yang terbuat dari lapisan kaca, Dinan pecahkan.


Salah satu karyawan yang mendengar kejadian dalam ruangan Dinan, buru-buru melaporkannya pada Reyhan.


"Maaf Pak Reyhan mengganggu, saya cuma ingin bilang. Kalau Bu Dinan sedang mengamuk di ruangannya Pak." Ucap pria yang memakai kemeja biru.


"Dinan mengamuk? Baiklah, saya segera kesana. Kamu bisa kembali bekerja." Jawab Reyhan, kemudian pria itu bangkit dari kursinya menuju ruangan Dinan.


"APA-APAAN KAMU DINAN?!!" Bentak Reyhan pada mantan istrinya itu.


Terlihat wanita yang sedang mengamuk itu menatap Reyhan sinis. "Ini semua karena kamu!!" Maki Dinan dengan suara yang lantang.


Rey mengepal kuat tangannya, ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Tapi manik matanya menatap Dinan dengan tajam dan murka.


"Kamu bilang semua karena aku? Katakan apa salahku?!" Tanya Rey dengan wajah merah padam.


"Semua karena kamu yang nggak pernah mau mengerti aku, dan beri aku kesempatan Rey!!" Dinan melemah, ia terduduk di lantai. Pikirannya sudah kacau, harta yang selama ini ia nikmati sudah tak dapat lagi ia rasakan.


"Seharusnya kamu belajar dari kesalahan Dinan, bukan malah seperti ini. Aku jadi curiga sama kamu, untuk apa kamu menyakiti Nania, apa dia ada hubungannya sama kamu? Katakan Dinan!!" Rey tak kuasa menahan gejolak amarahnya.


Ia mungkin bisa tersulut emosi saat ini juga, tapi pikirannya melayang kemana-mana. Rey bahkan penasaran apa motif Dinan mencelakai Nania. Yang faktanya Rey tidak tahu kalau Nania adalah saudara Dinan.


"Kamu nggak bisa jawab Dinan?!!" Tanya Rey sekali lagi membuang kasar deru napasnya. Tapi Dinan masih terus menangis dan terdiam.


"Okay, kalau kamu diam. Aku akan cari tahu sendiri. Kalau sampai aku tahu kamu menyembunyikan fakta yang besar. Aku nggak akan segan dengan kamu Dinan!!" Peringatan kembali keluar dari mulut Reyhan.


"Sekarang kamu pergi dari kantor ini, aku tidak memperkerjakan orang yang tidak tahu aturan di perusahaan." Lagi-lagi kalimat Reyhan terdengar kejam.


Ini dia lakukan karena ulah Dinan sendiri, Rey hanya menjalankan apa yang sudah seharusnya.


"Jahat kamu Reyhan!!" Ucap Dinan dengan lemah.


Reyhan yang mau keluar dari ruangan itu berbalik menatap Dinan. "Terserah kamu mau bilang apa, mulai besok kamu nggak perlu datang ke kantor ini lagi. Aku akan mengirimkan pesangon ke rekeningmu." Rey tidak ingin berdebat dan memilih keluar dari ruangan Dinan.

__ADS_1


Di depan ruangan Dinan, ia memergoki Serra yang tepat berada di depannya.


"Serra?!" Rey merasa Serra mendengar percakapannya dengan Dinan di dalam.


"Ma-maaf Pak, sa-saya tadi cuma mau___" Gadis itu tak mampu berkata lagi, kakinya sudah bergetar tak karuan.


Dengan cepat Serra mengambil langkah seribu berlari dari hadapan Reyhan. "Hei tunggu!!" Panggil Rey, namun Serra terus berlari.


"Ck, berani banget dia bersikap seperti tadi." Decak Rey, merasa kalau Serra adalah gadis yang berbeda.


Karena ketakutan mendengar percakapan Reyhan dan Dinan, Serra berlari ke atas gedung perusahaan Max Lan. Tempat di mana ia suka menghabiskan waktu istirahatnya di sana.


"Huhh.. Hahh,, aduh!! Pasti Pak Reyhan akan marah banget karena barusan aku lari. Serra, kamu bodoh banget sih!!" Gadis itu memarahi dirinya sendiri, sambil mengatur napasnya yang masih berat.


Di perusahaan Diamond Glow, Radit menghampiri ruangan Riyan, di mana ia jarang sekali datang kesana.


"Tuan, a-ada yang bisa saya bantu? Kenapa Tuan datang kesini? Saya bisa ke ruangan Tuan." Riyan terpanjat kaget karena Radit masuk ke dalam ruangannya, yang sangat jarang sekali di pijaki Radit.


Delisha sudah mengekor di belakang Radit, ia memberi kode tatapan bingung pada Riyan. Karena Delisha juga tidak mengerti, ia bekerja di depan ruangan Riyan. Tapi Radit masuk tanpa mengucapkan satu kata pun.


"Buatkan surat pembatalan kerja sama dengan perusahaan Max Lan! Kirimkan laporan ke aku secepatnya jika sudah." Ucap Radit dengan wajah dinginnya.


"Apa Tuan yakin, apa alasannya Tuan? Hm maaf, tapi kerja sama kita dengan Perusahaan Max Lan sedang meraih keuntungan besar Tuan." Jawab Riyan dengan ragu.


Memang di lihat dengan grafik, keuntungan yang di peroleh Diamond Glow dengan Max Lan sangat melejit dan menguntungkan kedua belah pihak.


Sangat di sayangkan bila kerja sama keduanya di hentikan. "Lakukan apa yang aku perintahkan Riyan!" Titah Radit tak main-main.


"Ba-baik Tuan, akan segera saya lakukan." Riyan mematuhi perintahnya.


Radit pun keluar dari ruangan Asistennya. Delisha memasang wajah bertanya-tanya pada Riyan yang masih mengatur napasnya.


Ia merasa Tuannya kali ini sangat berbeda, begitu datar dan terkesan dingin. "Sebenarnya apa yang terjadi Mas?" Tanya Delisha penasaran.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita jalankan saja apa perintahnya. Kamu tolong bantu aku ya, Delisha."


"Baik Mas."

__ADS_1


Nania mendapati Radit masuk ke ruangannya dengan wajah yang datar. "Ada apa dengannya, kenapa Mas Radit terlihat berbeda hari ini?" Gadis itu penasaran.


Yanti masih menatap Wati dengan wajah yang sangat menantikan sebuah jawaban yang pasti. "Siapa orang tua kandung anakku, Wati?" Ia menggenggam erat tangan Wati.


"Beliau namanya Tuan Lan, Mbak." Jawab Wati dengan sangat hati-hati.


"Apa dia akan mengambil anakku?" Tiba-tiba saja wajah Yanti berubah sendu. Anak yang selama ini ia besarkan dengan kurang kasih sayang. Tapi Nania selalu bersikap baik padanya.


Sekarang kenyataan yang ia dapatkan malah membuatnya sedih, apa ia rela kehilangan Nania? Anak yang selalu berbakti kepadanya, dan tidak pernah membantahnya.


"Mbak, yang sabar ya.. Saya yakin, Tuan Lan orang yang baik. Mbak bisa bicarakan dengannya nanti. Tapi biar gimana pun, Beliau adalah Ayah kandung bayi itu." Wati mencoba menenangkan Yanti.


"Aku akan mempertemukan mereka Wati, semua ini aku lakukan untuk kebahagiannya. Anakku berhak bahagia, dari dulu ia sudah merasakan susahnya kehidupan. Dia berhak tahu siapa orang tua kandungnya." Air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata Yanti.


Sebuah mobil sedan mewah memasuki pekarangan rumah sederhana itu, Lan turun dari mobilnya.


"Selamat siang Bos, di dalam ada seorang wanita bersama dengan Wati. Sepertinya dia orang yang selama ini kita cari, Bos." Lapor salah satu bodyguard Lan.


Wajah Lan berbinar, ia penasaran siapa wanita yang di maksud penjaganya itu.


"Benarkah?" Lan langsung bergegas masuk ke dalam, ia membuka pintu utama dan hendak masuk.


Reyhan is Calling...


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, Lan mengangkat lebih dulu panggilan dari anaknya. "Halo Rey, ada apa?"


"Baiklah, Papa akan segera kesana." Lan menutup panggilannya.


Wati membuka pintu rumah itu, dan terkejut melihat Lan. "Tuan, anda sudah kembali?" Tanya Wati dengan sedikit takut.


"Hm, penjaga bilang kamu membawa seorang wanita. Siapa wanita itu?" Lan melirik matanya ke dalam rumah, namun tidak ada siapa-siapa.


"Iya Tuan, saya sudah menemukan orang yang merawat anak Tuan, dia sedang ke toilet." Wati merasa lebih tenang dari sebelumnya.


"Baiklah, saya ada urusan. Kamu tolong jaga dia di sini, saya akan secepatnya kembali. Kamu harus ingat, jangan sampai kamu kehilangan dia lagi!!" Titah Lan dengan nada mengancam.


"B-baik Tuan."

__ADS_1


Sebenarnya Lan ingin lebih dulu bertemu dengan wanita yang di maksud Wati. Tapi Reyhan sangat memohon Lan untuk datang ke kantor, karena ada urusan penting.


Lan tidak bisa egois, keduanya adalah hal penting baginya. Di mana Reyhan juga masih anaknya, yang selalu bertanggung jawab menjalankan perusahaannya dengan baik.


__ADS_2