Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Ingin Cepat Halalin Kamu


__ADS_3

Mentari telah bersembunyi, sekarang bulan yang berkuasa menghiasi langit di malam hari. Riyan yang mengurus Diamond Glow sedikit kuwalahan, karena Radit sedang tidak ada di kantor. Semua pekerjaan di limpahkan kepada diri nya.


"Huuaaamm..." Ia meregangkan otot nya sambil menguap.


"Mas capek ya?" Tanya Delisha.


Hampir lupa jika Delisha sudah menemani nya bekerja dari pagi hingga malam dini. Ia tentu mendapatkan semangat yang tidak biasa nya, meskipun tenaga tidak bisa di bohongi. Jika diri nya lumayan lelah.


"E,,, nggak kok Baby. Maaf ya, kamu jadi ikutan lembur."


"Mas mau aku buatin kopi?"


"Hm,, boleh sayang kalau kamu tidak keberatan."


Gadis itu pun mengangguk dan keluar dari ruangan Riyan menuju pantry untuk membuatkan kopi. Selang beberapa menit, ia sudah kembali membawa secangkir kopi panas untuk Riyan.


"Mas, ini kopi nya."


Ia meletakkan di meja kerja Riyan, tangan pria itu tiba-tiba menarik nya. Hingga Delisha terduduk di atas pangkuan Riyan.


"M-mas.."


"Baby, sebentar saja.. Aku ingin seperti ini dulu." Riyan memeluk kekasih nya dari belakang itu dengan erat.


"Tapi Mas, nanti kalau ada yang masuk bagaimana?"


"Kamu nggak tahu ya sayang, ini kan sudah jam 7 malam. Semua orang sudah pulang kerja." Jawab Riyan masih menaruh dagu nya di atas bahu Delisha.


Hingga sang empu merasa geli, akibat ulah Riyan. "Kamu masih wangi saja Baby.. Kita makan malam di sini saja ya. Aku akan pesan makanan nya. Kamu ingin makan malam apa?"


"Mas, ini buat aku geli. Aku ikut saja ingin makan apa. Mas pesan saja makanan nya, aku kan pemakan segala." Delisha terkekeh karena merasa geli, sekaligus bercanda agar Riyan merasa hilang penat nya.


"Kamu tuh ya.."


Pria itu langsung meraih wajah Delisha dan menolehkan ke arah nya. Sepasang mata itu saling beradu tatap.


"Cantik banget pacar aku." Puji Riyan.

__ADS_1


Delisha yang mendapat pujian langsung meleleh, pipi nya sudah merona. Riyan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Delisha. Lalu ia mencium bibir itu dan ******* nya.


Karena mendadak, gadis itu meremas ujung kemeja nya sendiri. Ia memejamkan mata menikmati pagutan yang Riyan berikan.


Rasa nya tidak ingin melepaskan ciuman ini, Riyan terus melakukan itu tanpa memberi jeda Delisha. Ketika tangan kekasih nya sudah mendorong dada bidang Riyan, dia melepaskan pagutan nya.


Lalu tersenyum di hadapan sang kekasih, Delisha merasa malu, ia menunduk dan ikut tersenyum kecil.


"Jadi pingin cepat halalin kamu Baby." Ucap Riyan dengan jelas. Lagi-lagi Delisha harus merasakan senang luar biasa.


Jantung nya tidak henti berdebar, merasa jatuh hati pada pria yang selalu membuat nya terpesona.


"Mas.."


Delisha memukul pelan dada Riyan, pria itu tertawa karena gemas. "Jangan malu sayang, Mas serius tahu. Memang kamu nggak mau nikah sama Mas?" Tanya nya serius.


"Hmm, ya mau Mas. Perempuan mana yang nggak mau nikah, lagian mana ada juga yang mau sama aku selain Mas." Jawab nya dengan sedikit malu.


"Yakin mau nikah sama Mas?"


"Ha ha ha.. Gini ya rasa nya punya pacar yang masih muda, Mas jadi gemas terus bawaan nya." Ia memeluk Delisha dengan gemas.


"Makasih ya Baby." Ucap Riyan.


"Terima kasih karena sudah mau menerimaku." Ucap nya lagi.


Akhir nya mereka makan malam di kantor dan melanjutkan pekerjaan nya yang masih tersisa. Delisha cukup pintar membantu Riyan mengerjakan laporan-laporan perusahaan. Riyan semakin yakin, jika kekasih nya itu bisa di andalkan dan akan menjadi asisten nya saja.


Malam hari nya Lan pulang melihat Reyhan membawa koper menuruni anak tangga. Di ikuti Dinan di belakang nya yang terus memohon.


"Reyhan,, tunggu Reyhan.. Tolong jangan tinggalin aku!" Tegas Dinan.


Ia berusaha mencegah Reyhan pergi dari rumah, itu arti nya Reyhan akan pergi dari kehidupan nya juga jika sampai itu terjadi.


"Reyhan, ada apa? Kenapa kamu bawa koper, kamu mau kemana?" Tanya Lan yang sudah di lantai utama kediaman keluarga Lan.


"Pa maaf banget aku belum bisa cerita sekarang. Inti nya Reyhan mau pergi dari rumah ini, Reyhan juga akan menceraikan Dinan, Pa." Tegas Reyhan tanpa belas kasihan pada Dinan.

__ADS_1


Sedari tadi wanita itu mengemis, memohon, tapi pria itu sudah terlanjur kecewa. Kepercayaan tidak akan bisa kembali lagi, meksipun kata maaf sudah keluar.


"Pa tolong Pa.. Jangan biarkan Reyhan pergi dari sini. Sayang, aku minta maaf. Kamu tolong dengarkan dulu penjelasan aku Reyhan."


Dinan memohon kepada mertua nya. Ia tidak ingin kehilangan Reyhan dan juga harta nya yang selama ini bergelimangan menemani nya.


"Reyhan, Papa mau bicara sama kamu. Ikut Papa ke ruang kerja, setelah itu terserah kamu mau keluar dari rumah ini atau tidak." Ujar sang Papa dengan tegas.


Lan memang tidak bisa melihat wanita menangis, ia tidak tega melihat Dinan yang memohon, dan di abaikan oleh anak nya. Maka itu Lan ingin Reyhan menjelaskan permasalahan pada nya.


Dengan patuh Reyhan mengikuti Lan dari belakang. Mereka berdua masuk ke ruang kerja dan menutup pintu nya.


Ruang kerja Lan memang kedap suara, sebab Lan suka kesunyian saat bekerja. Dimana konsentrasi nya akan fokus jika hening.


Reyhan duduk di sofa, dan Lan duduk di kursi kerja nya yang terbuat dari kulit asli.


"Sebenar nya ada apa Reyhan, jelaskan sama Papa. Papa tidak ingin ada pertengkaran di rumah ini yang tidak bisa di selesaikan." Pinta Lan dengan nada bijak nya.


Terlihat sekali Reyhan masih bergemuruh, dada nya kembang kempis menahan emosi yang ingin meledak di diri nya.


"Kamu tenang dulu, jangan terbawa emosi. Papa tahu kamu seorang pria yang sudah dewasa, tapi tidak baik jika sedang emosi mengambil keputusan begitu saja, Reyhan."


Lan mengambil sebotol air mineral dari dalam laci. Ia memberikan nya pada Reyhan agar sedikit membaik.


"Minum ini dulu."


Reyhan menerima nya dan meminum air yang Papa nya berikan. Pria itu mengatur napas nya dan berusaha tenang.


"Jelaskan jika kamu sudah merasa tenang."


"Pa, Reyhan sudah tidak bisa hidup bersama Dinan lagi. Reyhan akan pisah sama dia Pa." Jawab Reyhan dengan tegas.


"Iya, tapi kenapa? Apa masalah nya Reyhan?"


Dengan berat hati, Reyhan mengepal kuat tangan nya. Ia akan menjelaskan masalah nya pada Lan. Karena Reyhan sudah tidak mampu menutupi kebusukan Dinan.


"Pa,, Sebenar nya Dinan___"

__ADS_1


__ADS_2