
Hari ini Yanti memutuskan untuk pergi ke rumah sakit umum tempat kemarin ia di rawat, ojek motor yang membawa nya pergi tiba di depan rumah sakit.
"Ini mang duit nya, terima kasih." Yanti memberikan uang pada tukang ojek itu.
"Makasih ya bu."
Dengan langkah yang sedikit tertatih, Yanti masuk ke dalam rumah sakit. Netra nya mencari keberadaan orang yang ia cari.
Samar-samar ia mendengar dua orang perawat mengenakan baju suster rumah sakit sedang mengobrol.
"Sayang banget ya suster Wati pakai berhenti kerja, padahal dia termasuk suster yang keahlian nya sudah kayak Dokter."
"Iya benar itu, aku padahal sudah senang banget punya partner kayak suster Wati, dia sudah aku anggap seperti Ibuku sendiri." Jawab salah satu perawat itu.
"Iya aku juga, ada apa ya suster Wati mendadak berhenti kerja?"
Yanti lama-lama menguping pembicaraan kedua perawat itu. "Hmm, permisi suster.. Maaf kalau saya lancang bertanya. Apa suster Wati yang kalian maksud itu orang nya sudah sebaya saya, dan tinggi nya juga sama seperti saya?" Tanya nya hati-hati.
"Iya Bu benar, beliau memang suster yang usia nya tertua di sini, ada apa Ibu bertanya soal suster Wati?" Perawat itu bertanya kembali pada Yanti.
'Jadi benar dia orang nya, kalau Wati itu adalah orang yang aku cari. Berarti dia sudah berhenti kerja?' Seru nya dalam hati Yanti.
"Nggak apa-apa mbak, saya kemarin di rawat sama beliau, saya cuma ingin bertemu beliau saja hari ini. Tapi sayang seperti nya suster Wati sudah tidak bekerja lagi ya?"
"Iya Bu, suster Wati baru saja berhenti kerja kemarin."
"Begitu ya, kalian tahu tidak alamat rumah nya suster Wati?" Yanti sangat penasaran, barang kali kedua nya tahu alamat rumah Wati.
"Kalau soal itu saya kurang tahu, Bu. Tapi beliau pernah bilang tinggal di rumah susun Xxx."
"Baiklah, terima kasih ya suster. Saya permisi dulu."
"Iya sama-sama Bu."
Akhir nya Yanti keluar dari rumah sakit lagi, ia berniat untuk pergi ke rumah susun yang di bilang perawat tadi. Untuk mencari Wati. "Aku harus bisa bertemu dengan nya." Gumam nya begitu semangat.
Di ruang rapat Diamond Glow tengah mengadakan meeting bersama dengan departemen penelitian dan pengembangan.
"Baiklah, untuk desain cover produk parfum ini saya akan minta tim pengembangan dan juga Nania untuk membuat nya.
Saya minta desain cover parfum nya sudah bisa di lihat saat meeting minggu depan. Saya berharap desain ini bisa berbeda dari produk lain nya di luar sana. Memiliki arti dan juga makna yang sesuai dari nama parfum."
"Baik Pak, tapi untuk mendesain cover parfum ketiga nya butuh waktu lebih dari satu minggu. Seperti nya mustahil jika bisa selesai dalam satu minggu saja." Jawab salah satu orang dari tim pengembangan.
"Tidak masalah, saya akan memberikan bonus dalam proyek ini jika bisa selesai lebih awal dari waktu yang biasa nya kita pakai." Radit begitu semangat. Netra nya sekilas melirik ke Nania.
"Baik Pak."
"Okay, saya akan menilai desain cover dari kalian minggu depan, nanti juga akan di vote secara bersama, mana yang lebih layak dan unggul untuk menjadi cover parfum nya."
__ADS_1
Semua yang ada dalam ruangan itu mengerti, setelah meeting selesai Radit kembali ke ruangan nya. Ia memanggil Riyan untuk menemui nya.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Riyan masuk ke dalam ruangan Radit.
"Riyan, tolong kamu siapkan tempat dinner malam ini yang romantis. Aku ingin kamu melaksanakan tugasmu dengan baik malam ini. Sesuai selera dan kriteria ku. Mengerti?"
"Baik Tuan."
'Seperti nya Tuan ingin mengajak Nania dinner romantis malam ini. Ya ampun so sweet sekali Tuan ini, hi hi hi.'
"Em, satu lagi. Tolong booking tempat nya agar tidak ada orang lain yang datang, termasuk kamu seperti waktu itu." Wajah nya penuh penekanan pada Asisten nya.
"I-iya Tuan, siap laksanakan." Riyan pun mematuhi nya.
Setelah Riyan keluar dari ruangan Radit, ia melewati Nania yang meja kerja nya berada di depan ruangan Radit.
"Nania... Semangat ya." Pria itu senyum-senyum tidak jelas. Nania menaikan satu alis nya. "Ada apa?" Tanya nya.
"Tidak ada, semangat untuk membuat Desain Cover nya, he he."
"Em tentu, semangat juga ya untuk kalian yang sudah jadian." Nania menyengir kuda pada asisten pria itu. Wajah Riyan berubah menjadi kaku. "Emhh, maksud kamu gimana, Nan?"
"Sudahlah, aku tahu dari Delisha. Jangan lupa mentraktir ku makan siang." Nania pura-pura fokus pada layar PC nya.
"He he, iya beres itu mah. Pergi dulu ya.."
"Hm, baiklah."
"Seperti nya, aku tidak pernah lihat orang itu ada di kantor ini." Gumam nya penasaran.
Seorang pria tengah duduk di hadapan Radit. Ia merupakan detektif terkenal yang kerja nya begitu profesional, akurat, dan cepat.
"Tuan, jarang sekali saya bertemu dengan anda lagi. Bagaimana kabar nya?" Tanya Detektif Gu.
"Hm, seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Aku ada tugas yang bisa kamu kerjakan. Ini sangat penting, tolong cari tahu kebenaran nya sampai mendasar."
"Seperti yang sudah-sudah. Aku tidak akan mengecewakanmu, Tuan Radit. Memang nya kali ini siapa yang ingin Tuan selidiki?" Detektif Gu sedikit antusias.
Radit mengeluarkan selembar map berwarna cokelat. Gu menerima nya dan langsung membuka map itu.
"Bukankah, wanita ini yang ada di depan ruanganmu?"
"Benar, aku minta kamu menyelidiki latar belakang nya. Sebelum nya aku juga sudah pernah menyuruh asisten ku untuk mencari tahu informasi nya. Tapi entah kenapa ada yang mengganjal dan belum terselidiki semua nya."
"Tuan mencari orang yang tepat, aku akan segera mengurus ini semua sampai tuntas."
Radit manggut-manggut, ia tersenyum pada Detektif Gu. "Aku percaya padamu, kabari aku secepat nya untuk informasi yang kamu ketahui." Pinta nya.
"Siap Tuan."
__ADS_1
Tidak begitu lama mereka berbincang-bincang, dua puluh menit kemudian Gu keluar dari ruangan Radit. Nania tersenyum kala orang itu keluar.
Ia masuk ke dalam ruangan Radit setelah Gu menghilang jejak nya. "Tuan.."
"Ya Nana.."
"Anda ada meeting lima belas menit lagi." Bilang nya mengingati Radit.
"Iya sayang, terima kasih."
Nania langsung menatap Radit penuh penekanan. "Tenang saja, tidak ada orang di sini Nana." Radit tersenyum.
"Kalau gitu saya permisi dulu, Tuan."
"Eh-Nana Tunggu.."
"Ya Tuan?"
Radit berdiri menghampiri Nania yang berada di dekat pintu. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukan nya, dan membiarkan pintu tertutup sendiri.
"Radit, bagaimana jika ada yang melihat."
"Hmm... Tidak akan, aku ingin memelukmu sebentar saja." Radit begitu menikmati pelukan nya, ia menghirup aroma khas dari tubuh Nania, yaitu parfum melati yang begitu soft.
"Nanti malam kita makan bersama di luar ya." Pinta Radit.
"Hm, aku ikut denganmu." Jawab nya membalas pelukan Radit. Gadis itu melepaskan pelukan nya. "Sebenar nya aku sangat penasaran dengan Nyonya Mona yang datang ke apartemen semalam. Beliau tidak tahu aku ada di sana kan?" Nania begitu ingin tahu.
"Menurutmu?"
"Radit, katakan.. Aku sangat penasaran."
"Beri aku penambah daya, aku akan memberi tahumu."
Tanpa menunggu lama, Nania mencium singkat bibir manis Radit. Pria itu tersenyum penuh kemenangan. "Ayo cepat katakan..." Rengek Nania.
"Nanti malam aku akan memberitahumu Nana sayang."
"Ah, kamu curang sekali. Aku merasa di kerjai olehmu." Nania menggelitik perut Radit, hingga pria itu merasa geli tak tertahan.
"Aahh.. Ampun sayang, iya Nana, aku janji nanti malam.. Aahh.. Aku akan kasih tahu kamu.. Ahh hentikan sayang.." Radit minta ampun pada gadis nya, dengan sigap ia menangkap tangan mungil yang menggelitik nya.
"Kena kamu.." Ucap Radit membuat Nania tertawa.
"Ternyata sayangku sudah mulai berani ya.." Radit memajukan langkah nya, memojokkan Nania di balik pintu.
Tidak bisa lari lagi kemana pun, karena Nania sudah kehabisan ruang. Ia menatap wajah tampan kekasih nya. "A-aku hanya bergurau saja.." Ucap nya tersenyum.
"Bergurau ya.."
__ADS_1
Radit tidak ingin merasa di kalahkan oleh Nania, ia meraup bibir manis milik Nania yang sudah menjadi candu. Sebelum meeting di mulai kedua nya saling mengisi daya dengan bercumbu di balik pintu ruangan CEO.