
Semua orang yang ada di sana terlihat terkejut mendengar ucapan Zia, mereka tidak menyangka Zia akan meminta cerai dari Gavin.
Terlebih Gavin, laki - laki itu diam beberapa saat karena ucapan Zia bak mimpi terburuk baginya.
Gavin berdiri dari duduknya, menatap tajam pada Zia.
"Kamu ini bicara apa Zi.!!" Tegur Gavin tak suka.
Bagaimana bisa Zia bicara semudah itu untuk mengakhiri rumah tangganya.
Gavin sadar akan kesalahannya beberapa bulan terakhir yang sudah membuat Zia terluka, namun sedikitpun dia tidak pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri rumah tangganya dengan Zia.
"Sudah Vin, biarkan saja kalau memang Zia ingin bercerai dari kamu,," Ucap mama Ambar tanpa rasa iba dan bersalah sedikitpun.
"Cukup mah.!!" Bentak Gavin kesal. Gavin menghampiri Zia, membawa koper milik mereka dan menggandeng tangan Zia untuk beranjak dari saja.
"Ayo pulang,,," Ucap Gavin tegas.
Dia berlalu sambil terus menarik tangan Zia, sedikitpun tidak menjawab panggilan dari papa dan mama Ambar yang meneriaki namanya.
Begitu sampai di halaman rumah, Zia segera menarik tangannya dari genggaman Gavin. Wanita berhati baja itu menatap Gavin dengan mata yang berkaca - kaca. Tidak muda bagi Zia untuk mengambil keputusan berat dan menyakitkan ini.
Bercerai dari Gavin sama saja membuang setengah jiwa dan raganya. Gavin adalah hidupnya, sumber kebahagiaannya selama bertahun - tahun.
Zia tidak cukup kuat untuk membiarkan kenangan indah mereka berakhir dengan duka dan luka.
"Aku mohon akhiri saja pernikahan ini mas. Hatiku tidak sekuat dulu, aku mulai rapuh dan lelah mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat lagi." Air mata yang menetes di pelupuk matanya, memperlihatkan perasaan Zia saat ini yang begitu hancur. Dia dalam posisi yang sulit.
Mundur ataupun bertahan, sama - sama membuatnya terluka dan hancur.
"Bukan kebahagiaan yang akan kita rasakan jika kita memaksa mempertahankan rumah tangga ini, melainkan luka yang setiap harinya akan terus bertambah,," Tutur Zia dengan suara yang bergetar karena tangisnya.
Gavin langsung memeluk Zia. Laki - laki tampan itu sedang berusaha untuk menenangkan Zia lebih dulu. Dia tidak tega melihat sorot mata Zia yang begitu hancur.
Usapan lembut terus diberikan oleh Gavin pada kepala Zia. Gavin bisa merasakan tubuh Zia yang bergetar hebat dalam pelukannya.
Tangis Zia benar - benar pecah. Sehancur itu perasaannya saat ini.
Cukup lama Gavin memeluk Zia tanpa berbicara apapun. Sampai akhirnya tangis Zia perlahan reda.
Wanita cantik dalam dekapannya itu terlalu lelah karena terus menangis.
Gavin menjauhkan tubuh Zia dari dekapannya, lalu menyeka lembut pipi Zia yang basah karena air mata. Zia hanya bisa terpaku melihat tatapan mata sendu Gavin terhadapnya. Zia bisa merasakan sorot mata kesedihan dari tatapan Gavin.
"Jangan menangis lagi Zi,," Pinta Gavin memohon.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang, jangan bahas masalah ini selama dalam perjalanan," Pintanya lagi. Gavin hanya ingin menghindari hal - hal yang tidak di inginkan. Membahas masalah mereka dalam keadaan hati yang buruk hanya akan menarik bahaya.
Zia mengangguk lemah. Keduanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah mama Ambar.
Zia lebih banyak diam, terus bergulat dengan dipikirannya sendiri.
Ada sedikit sesal karena kembali meminta untuk mengakhiri rumah tangganya bersama Gavin.
Sedangkan Gavin berulang kali meyakinkannya kalau dia tidak akan menikah lagi dengan siapapun.
Bahkan Zia mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu, Gavin sampai menentang keras mama Ambar dan tidak mau menuruti permintaannya.
Zia dalam keadaan dilema saat ini. Bingung mengambil langkah yang terbaik untuk dia dan Gavin.
Rasanya egois jika tetap memaksa untuk mengakhiri rumah tangganya, sedangkan Gavin sudah kembali baik seperti dulu dan bersikeras untuk mempertahankan hubungan mereka.
Tapi di lain sisi, Zia sudah muak mendengar cibiran dan hinaan dari mama Ambar. Juga desakan mama Ambar yang menyuruh Gavin untuk menikah lagi.
Seharusnya hubungan Zia dan Gavin sudah baik - baik saja saat ini. Tapi karena campur tangan orang ketiga yang tidak seharusnya masuk dalam permasalahan rumah tangganya, pada akhirnya membuat hubungan mereka kembali menegang.
Meski mama Ambar orang yang sudah melahirkan Gavin, tidak sepantasnya dia ikut masuk terlalu jauh dalam permasalahan rumah tangga anaknya.
Sebagai orang tua, harusnya memberinya dukungan dan mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga anaknya, bukan malah bermaksud untuk menghancurkan rumah tangganya hanya karena obsesinya.
...**...
Zia bahkan tidak mendengar suara Gavin yang memanggilnya. Dia terus berjalan masuk kedalam rumah.
Gavin mencengkram kuat rambutnya, dia menyesal sudah datang ke rumah orang tuanya dan pada akhirnya membuat hubungannya dengan Zia kembali kacau
Laki - laki itu berjalan cepat untuk nyusul Zia, dia mencekal pergelangan tangan Zia untuk menghentikan langkahnya. Keduanya saling menatap.
"Zii,, sudah jangan dipikirkan lagi. Jangan pedulikan omongan mama. Aku tidak akan menuruti permintaannya Zi,,,"
Suara Gavin terdengar penuh permohonan. Dia hanya ingin rumah tangganya dan Zia kembali seperti dulu lagi setelah dia berbuat kesalahan pada Zia.
Zia hanya diam, cukup lama menatap Gavin tanpa bicara apapun.
"Aku mau tinggal di apartemen untuk sementara mas,," Ucapnya.
Gavin tampak mengerutkan keningnya. Merasa heran karena Zia meminta untuk tinggal di apartemen.
"Memangnya kenapa di rumah ini.?" Tanya Gavin lembut.
"Aku butuh suasana yang berbeda untuk menenangkan diri,," Tutur Zia. Dari suaranya terdengar berat, sepertinya ini adalah keputusan yang sulit baginya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu bisa membuat kamu lebih baik." Gavin tidak memberikan penolakan sedikitpun atas permintaan Zia. Jika memang itu bisa membuat pikiran Zia lebih tenang, Gavin tidak keberatan jika harus pindah ke apartemen untuk sementara.
"Aku beresin beberapa barang dulu ya, malam ini kita langsung tinggal di apartemen,,"
Gavin mendekat, memberikan kecupan lembut di kening Zia.
"Jangan sedih lagi,," Ucapnya sembari mengusap lembut pucuk kepala Zia, lalu beranjak dari sana.
"Mas.!" Seru Zia. Gavin berhenti dan berbalik badan.
"Bukan kita yang akan tinggal di apartemen, tapi hanya aku saja."
"Mungkin lebih baik kita tinggal terpisah untuk sementara, untuk menenangkan pikiran kita masing - masing dan memikirkan keputusan yang terbaik untuk rumah tangga kita,," Tutur Zia tegas.
Gavin memaku, ucapan Zia cukup menyakitkan hatinya. Entah kenapa dia tidak Terima Zia mengambil keputusan sepihak seperti itu.
Kenapa harus berpisah sementara hanya untuk mengambil keputusan yang terbaik, sedangkan dia sudah berulang kali menyakinkan Zia bahwa tidak akan pernah menikah lagi, yang artinya akan tetap mempertahankan rumah tangga mereka.
"Aku mohon beri aku waktu untuk memulihkan luka ini mas. Selama ini aku tidak pernah peduli dengan luka yang terus menggores hatiku, sedikitpun tidak berfikir untuk menyembuhkannya. Tapi rupanya, semakin lama terasa begitu menyiksa."
Air mata Zia tumpah, terasa begitu perih membasahi luka di hatinya yang menganga.
Rupanya ini titik terendah Zia dalam menahan sakit hatinya selama ini.
"Tidak Zi.! Aku tidak akan mengijinkan kamu keluar dari rumah ini.!" Tegas Gavin.
"Tolong jangan mengambil keputusan seperti ini Zi. Jangan membuat hubungan kita semakin rumit dengan tinggal terpisah." Seru Gavin dengan kecemasan di wajahnya.
Dia membayangkan rumah tangganya yang akan semakin renggang jika tinggal terpisah. Sama saja mereka menghindari masalah dan akan membuatnya berlarut - larut.
Gavin segera mendekat, meraih tangan Zia dan menggenggamnya. Kedua manik matanya menatap Zia dengan sendu.
"Bukan seperti ini caranya untuk menenangkan diri Zi. Aku mohon urungkan niat kamu untuk pergi dari rumah. Jangan biarkan aku sendiri Zi,," Pintar Gavin lembut.
Menjalani hari - hari tanpa ada Zia di sampingnya pasti akan terasa berat.
"Aku mohon jangan egois mas, aku butuh ketenangan saat ini. Hanya 3 bulan, setelah itu kita putuskan yang terbaik untuk rumah tangga kita."
"Kamu bisa memilih untuk menuruti permintaan mama, atau meminta mama untuk tidak ikut campur lagi dengan rumah tangga kita,,"
"Keputusan ada di tangan kamu. Aku akan ikhlas menerimanya,,," Lanjut Zia dengan suara yang tercekat menahan sesak di dadanya.
...***...
Sudah Vote minggu ini.?
__ADS_1
Jangan lupa vote ya