
Nasya sudah berganti pakaian dengan seragam di hadapan suami. Awalnya ia merasa tidak nyaman atas permintaan Jimmy, sekarang sudah menjadi lebih nyaman baginya.
Sudah dua jam Jimmy belum juga kembali ke kamar semenjak mengatakan ingin sendiri. Itu artinya sudah pukul satu dini hari.
"Aku ngantuk. Tidur saja deh," kata Nasya kemudian naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
*
*
Jimmy menutup MacBook dihadapan nya setelah menyelesaikan pekerjaan yang dibawa dari kantor.
Mengerjakan pekerjaan itu juga sebagai mengalihkan perasaan nya yang sedang tidak baik-baik saja. Hembusan nafas terasa berat merasakan cemburunya masih menguasai hati.
Sebenarnya mengatakan ingin sendiri kepada Nasya tadi, selain untuk menghindari istrinya karena sedang emosi, ia juga butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan nya.
Jimmy bangkit dari duduk kemudian keluar dari ruang kerjanya. Ia membuka kamar nya dan melihat Nasya sudah tertidur.
Ia memilih tidak masuk ke kamar melainkan menutup pintu itu kembali, lalu masuk ke kamar sebelah. Hatinya masih tidak rela bila Nasya harus berdekatan dengan Gadhing.
Jimmy secemburu itu dan seposesif itu jika mengenai kedekatan Nasya dengan Gadhing.
Jimmy naik ke atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya agar tertidur dengan tenang.
Tetapi, belum juga sampai satu jam Jimmy terbangun dan gelisah. Seperti ada sesuatu yang kurang. Ia duduk di tepi ranjang dan mengacak rambutnya karena frustasi.
Cepat-cepat ia keluar dari kamar yang sepi itu menuju kamar utama dimana selama ini ia tidur dengan Nasya.
Ia pun naik ke ranjang sangat perlahan dan menyurutkan kaki masuk ke dalam selimut yang sama dengan Nasya.
Jimmy membalikkan arah tubuh Nasya menjadi menghadapnya. Lalu mencuri kecupan pada dahi dan bibir istrinya lalu memejamkan mata dengan tangan yang sudah melingkar pada perus sang istri.
Ia merutuki dirinya karena tidak bisa marah terlalu lama pada Nasya. Beberapa jam kemudian terdengar suara mengaji dari Mesjid membuatnya terbangun.
Aku harus segera pergi. Aku gak boleh terlihat lemah. Akan ku tunggu Nasya menjelaskan semua dan aku ingin melihat bagaimana dia merayuku.
Perlahan Jimmy melepas pelukan nya lalu turun dari ranjang menuju kamar sebelah dimana ia tidur malam tadi.
*
*
Mendengar suara adzan subuh membuat tidur Nasya terusik dan akhirnya bangun dengan sempurna.
Ia melihat sisi ranjang yang kosong membuat hatinya sakit. "Tapi tadi malam aku ngerasa tidur dalam pelukan mas Jimmy."
__ADS_1
Nasya mengedikkan bahu lalu turun dan menuju kamar mandi guna untuk mandi dan berwudhu. Setelah itu ia melaksanakan sholat subuh sendirian.
*
*
Jimmy duduk di kursi pemimpin meja makan itu. Dengan telaten ia menyajikan sarapan tanpa mengatakan apapun dan itu benar-benar membuatnya kesal setengah hidup.
Jimmy berdehem berulang kali untuk memancing Nasya bicara dan menceritakan apa yang telah terjadi semalam.
Nasya memberikan segelas air putih tanpa mengucapkan apapun. Bukan ingin membalas. Tetapi ia takut salah bicara dan bingung harus bicara apa.
"Nasya," gerutu Jimmy tidak tahan saling mendiamkan begini.
"Ya, sayang!" sahut Nasya refleks kemudian mendekat.
Blush
Tidak pernah sejarahnya Jimmy mendengar Nasya menyebutnya dengan sebutan sayang membuat wajah nya panas dan pipi bersemu merah begini.
Rasa cemburu, kesal, dan ingin marah kepada Nasya menguap seketika hanya dengan satu kata, yaitu sayang.
"Mas butuh sesuatu?" tanya Nasya memberanikan diri walau merasa heran melihat Jimmy salah tingkah.
Jimmy mendongak lalu mengangguk. "Mas butuh kamu. Mas gak bisa tidur malam tadi."
"Mas tidur juga di kamar, peluk kamu baru bisa tidur. Tapi sebelum subuh mas balik ke kamar sebelah."
"Gengsi?"
Jimmy mencebik. "Mas hanya ingin melihat usaha kamu agar mas gak marah lagi. Mas cemburu saat sopir bilang kamu sedang di taman bersama dia," ungkap Jimmy.
Benar dugaan Nasya jika Jimmy marah karena mengetahui dirinya bersama Gadhing di taman itu. "Hubungan kami sudah selesai, mas. Dan saat di taman itu aku sudah menjelaskan dimana posisinya sekarang di hatiku. Hanya kamu, mas."
Jimmy membopong Nasya duduk di pangkuannya. Ia mengecup bibir istrinya sekilas. "Maafin mas, ya. Maaf mas gak sebaik Reihan," katanya tersenyum geli begitu juga dengan Nasya.
"Kamu terbaik."
Keduanya saling berpelukan lalu memulai sarapan. Seperti biasa, Nasya akan membuat jara karena ia hanya makan buah dan susu. Hal ini dilakukan semenjak hamil. Ia akan mual saat tercium bau makanan.
Karena hal itu pula Jimmy selalu makan sayur rebusan agar tidak menimbulkan rasa bau.
Dan Jimmy tidak keberatan akan hal itu. Yang terpenting Nasya merasa nyaman dan menemaninya saat makan.
"Siang nanti jangan kemana-mana. Biar mas yang pulang pas makan siang. Kamu pingin sesuatu?"
__ADS_1
"Ada, mas."
Jimmy tersenyum. Inilah yang diinginkan nya, ia akan merasa dibutuhkan oleh sang istri.
"Aku pingin permen kapas yang ada di pasar malam itu, mas."
Jimmy melebarkan mata dan menelan saliva nya. "Itu kan malam, sayang."
Jawaban Jimmy membuat perubahan raut wajah Nasya berubah murung. Dan hal itu di sadari olehnya. "Baiklah. Nanti mas akan cari, jangan sedih!" tutur nya.
Nasya mengangguk disertai senyuman indah membuat Jimmy tersenyum juga.
"Mas kerja, ya. Baik-baik dirumah," pamit Jimmy kemudian memeluk dan mengecup dahi Nasya kemudian membiarkan Nasya mencium punggung tangan nya.
*
*
Setelah pertemuan nya kemarin dengan Nasya, membuat Gadhing lebih perhatian kepada Retno. Seperti saat ini, ia menemani Retno dan Emier berada di taman bermain di pusat kota.
Ia terus tersenyum melihat kebawelan Retno karena melarang Emier berbuat sesuatu yang menurut istrinya itu berbahaya.
"Biarkan saja. Jarang-jarang Emier kita ajak berdua begini," kata Gadhing lembut.
Retno menoleh dan mengangguk lemah. Ada senyum terbit di bibirnya karena suaminya itu berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Sebenarnya Retno penasaran penyebab berubahnya Gadhing. Tetapi urung karena tkhawatir akan kembali seperti semula.
*
*
Perut yang kian membuncit membuat Gadhing dan Retno lebih hati-hati menjaga kandungan.
Gadhing dan Retno juga sudah memerhatikan zat besi yang telah diasup oleh Retno. Terkadang hemoglobin menjadi normal, sering juga menjadi rendah kembali.
Kulit pucat, badan lemas, mudah kelelahan, kepala terasa ringan, dan nafas pendek. Itulah yang dirasakan Retno selama kehamilan pertama hingga kedua, kini.
"Jangan marah-marah begitu, mas."
"Bukan marah, Retno. Aku benar-benar khawatir saat kamu dinyatakan hamil pertama dan kedua ini."
Kekhawatiran nya benar adanya. Gadhing tidak ingin memaksakan diri kepada Retno demi memberinya anak. Itu tidak adil menurutnya.
"Iya aku janji setelah ini gak akan hamil. Cukup dua saja, kan?"
__ADS_1
Gadhing mengangguk setuju.
"M-mas, perutku!"