Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
108. JSAMS


__ADS_3

"Tolong kembalikan kakiku ma, Dok!"


"Aku gak mau cacat seperti ini, ma. Bagaimana aku mewujudkan keinginan Nasya nanti?" tanya Jimmy histeris tidak menerima keadaan nya sekarang ini.


"Nak. Jangan seperti ini. Pikirkan anak kamu," ibu Mayang sedari tadi menenangkan Jimmy namun tak kunjung tenang jua.


Jimmy menatap ibu Mayang dengan wajah yang sudah memerah karena menangis. Ia merasa telah gagal melindungi istrinya.


Apalagi keadaan nya sekarang semakin membuatnya menjadi tak berdaya. Bagaimana bisa berjalan jika sudah tidak ada?


Dokter mengatakan kaki Jimmy mengalami patah tulang yang parah, sehingga mengharuskan amputasi. Keputusan amputasi diambil karena sudah tidak ada jalan lain yang efektif untuk menyembuhkan kondisi tersebut.


"A-aku ingin melihat Nasya, ma."


Ibu Mayang mengangguk kemudian mendekati brankar Jimmy. Ia membantu sang anak bersama seorang perawat untuk menurunkan Jimmy ke kursi roda.


Rahang Jimmy mengeras karena ketidak mampuan nya sekarang. Ingin sekali ia marah tetapi tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula.


Ibu Mayang mendorong kursi roda menuju ruang perawatan Nasya. Hingga kini, istri ya itu belum juga membuka mata. Padahal ia sudah sangat merindukan istrinya.

__ADS_1


Tetapi, melihat keadaan nya yang sekarang membuatnya malu untuk bertemu dengan Nasya.


*


*


Sudah satu bulan berlalu. Jemari Nasya tampak bergerak. Mencoba mengerjapkan mata tetapi tak bisa.


"M-mas," ucap Nasya lirih kemudian menjadi panik.


"Mas.. Kenapa semua gelap?" tanya Nasya panik seraya tangan nya meraba-raba sekitar.


"Mas disini, sayang."


Nasya langsung menoleh tetapi semua tampak gelap. "M-mas. Mataku," ucapnya lirih dengan tetesan air mata yang mulai mengalir deras.


Jimmy menatap Nasya. Tangan nya mengudara tepat di depan wajah Nasya laku menggerakkan ke kiri dan ke kanan.


Astaghfirullah. Ujian apalagi ini ya Allah! Gumam Jimmy meneteskan air matanya kembali ketika menyadari keadaan sang istri.

__ADS_1


"Kami tidur saja ya, sayang. Mas panggilkan dokter dulu. Jangan berpikir yang aneh-aneh," Jimmy menenangkan Nasya kemudian wanita itu menuruti perkataan sang suami.


Jimmy mendorong kursi rodanya keluar ruangan Nasya membiarkan dokter memeriksa istrinya yang sudah dipanggil ibu Mayang sebelumnya.


"Kenapa kamu menangis, nak? bukankah seharusnya kamu senang?" tanya ibu Mayang heran melihat Jimmy menangis setelah melihat istrinya sadarkan diri.


Jimmy hanya menggeleng menundukkan kepala. Rasanya begitu sakit melihat Nasya tidak melihat seperti itu.


Dokter keluar dari ruangan Nasya dengan wajah muram. Jimmy menatap sang dokter dan dokter tersebut menggeleng kecil sehingga membuat pria itu kembali lesu.


"Bisa ikut keruangan saya?" tanya dokter tersebut dengan bahasa Inggris.


Jimmy mengangguk kemudian ibu Mayang mendorong kursi roda sang anak mengikuti ke ruang dokter itu.


Ketika di dalam ruang dokter. Cukup lama sang dokter melihat hasil pemeriksaan keadaan Nasya lalu menghela nafas panjang.


"Cedera pada kepala menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya adalah kehilangan penglihatan. Hal tersebut dapat terjadi akibat saraf yang berperan dalam proses penglihatan ikut mengalami cedera akibat cedera kepala yang terjadi atau cedera terjadi pada komponen mata seperti retina ataupun kornea. Dan itulah yang dialami Nyonya Soecipto," terang sang dokter membuat


Jimmy diam seribu bahasa. Pikiran nya melayang ketika Nasya mengatakan permintaan nya yang begitu sederhana.

__ADS_1


Ya Allah. Adilkah?


__ADS_2