Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
51. JSAMS


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Nasya hanya diam saja atau berbicara seadanya ketika Gadhing bertanya.


Ia tahu pria di sampingnya terus berusaha menciptakan suasana hangat seperti dahulu. Tetapi, Nasya terus mencoba menahan diri karena sadar jika ada hati yang harus di jaganya.


"Mas antar sampai ke dalam?" tawar Gadhing setelah sampai di Rumah sakit.


Nasya membuka seat belt disertai gelengan kecil. "Enggak perlu. Makasih, mas."


"Tunggu Nasyama," cegah Gadhing ketika Nasya hendak membuka pintu mobil.


"Bisakah kamu kasih kesempatan sekali saja untukku? kita perbaiki hubungan kita," tutur Gadhing lirih.


Ada rasa tak tega dihati Nasya karena selama hidupnya mengenal Gadhing, tak pernah pria itu menunjukkan sikap lemah seperti ini.


Nasya menghela nafas, mengurungkan niat untuk ke luar mobil. "Mas. Aku mohon melangkah maju untuk kebahagianmu. Aku sudah ikhlas untuk masalalu kita. Mungkin dahulu aku hanya dikasih kesempatan untuk memilikimu sebentar."


Nasya menghela nafas lagi. "Aku harus pergi, mas. Sekali lagi makasih," ucap Nasya menahan tangis yang hampir pecah.


Dengan cepat Nasya keluar dari mobil Gadhing dan melangkahkan kaki secara cepat memasuki area Rumah Sakit.


Nasya melangkah cepat disertai usapan di pipinya yang basah karena air mata. Bukan karena masih mencintai, tetapi luka di hati masih menganga lebar.

__ADS_1


Masih sering sekali Nasya mengingat kejadian-kejadian yang dahulu dinilai Nasya sebagai kemajuan hubungan nya dengan Gadhing ternyata kini mata Nasya terbuka lebar karena kejadian-kejadian tersebut sangat memalukan dan menyakitkan.


Nasya berhenti dibalik tiang penyanggah, ia memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Air matanya mengalir deras teringat hampir setiap hari datang ke Rumah Sakit ini hanya untuk melihat dan memberi perhatian kepada Gadhing dengan harapan pria itu terbiasa akan kehadiran nya.


"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Jimmy yang sudah berdiri di hadapan Nasya.


Nasya terkejut karena tidak sadar atas kedatangan Jimmy. Ia menerima sapu tangan yang disodorkan pria itu.


"Ma-makasih, mas."


Tadi Jimmy baru saja membaca pesan dari Nasya kalau gadis pujaan hatinya itu sedang dalam perjalanan dari Malang menuju Surabaya bersama Gadhing.


Tentu saja Jimmy merasa marah dan cemburu secara bersamaan. Tetapi, Tiara membutuhkan nya sehingga tak dapat mencegahnya.


Nasya menggeleng karena benar adanya Gadhing tidak menyakitinya.


"Apa kamu masih mengingat kenangan indah kalian?" tanya Jimmy lirih seraya mengajak Nasya berjalan beriringan.


Raut wajah Jimmy tampak murung membuat Nasya merasa bersalah. "Maaf kalau aku mengingat lagi. Tapi percayalah, bukan kenangan nya. Justru rasa sakit dari luka hati ku yang ada dalam ingatanku. Enam tahu masa muda ku sia-sia hanya karena mengejar cinta mas Gadhing."


"Aku terlalu memaksakan kehendakku sehingga lupa jika takdir cinta seseorang hanya di tangan Allah," imbuh Nasya lagi membuat Jimmy menoleh.

__ADS_1


"Maaf. Tapi mas cemburu," ucap Jimmy.


"Baiklah."


Keduanya telah sampai di ruang perawatan Tiara. Nasya mengerutkan dahi melihat gadis kecil itu bermain boneka barbie di atas brankar.


"Tiara sakit apa, mas?" tanyanya karena gadis kecil itu terlihat baik-baik saja.


"Tiara jatuh di taman bermain belakang rumah. Aku hampir memecat semua pelayan di rumah karena gak bisa jagain anak aku," tampak jelas Jimmy menjelaskan dengan mimik wajah tak sedap.


Sedang Nasya menggelengkan kepala karena tahu Jimmy adalah tipe pria posesif kepada orang-orang yang disayanginya.


Nasya menghela nafas kemudian mendekati brankar. "Tiara," sapanya membuat Tiara mendongak.


"Mami. Kenapa baru datang? dari tadi papi marah-marah terus karena mami gak angkat telepon," seperti biasa, gadis kecil itu akan mengadu kepada seseorang tentang apa yang dirasa dan dilihat.


Nasya langsung menoleh ke arah Jimmy yang sedang memalingkan wajah dan menggaruk tengkuk leher.


"Maafin mami, ya. Tadi mami bawa mobil," sahut Nasya seadanya.


Setelah menikmati makan siang, Nasya kembali menemani Tiara bercerita sehingga tidur bersama di atas brankar.

__ADS_1


Jimmy melihat dua orang yang sangat disayangi tertidur di atas brankar. Ia benar-benar tak sabar untuk melihat mereka menjadi keluarga kecil yang bahagia.


Aku benar-benar gak sabar, Sya.


__ADS_2