
Menjalin hubungan LDR atau jarak jauh bisa dibilang sebagai hal yang tak mudah. Apalagi jika dirimu termasuk pribadi yang kurang bisa menahan rindu saat jarak dan waktu memisahkan.
Merindukan orang yang kita sayang adalah hal yang wajar dialami semua orang. Rasa rindu dan kangen ini umumnya akan bertambah besar dan kuat ketika kita tak bisa bertemu dengannya sewaktu-waktu seperti apa yang kita mau.
Hari-hari dilewati Gadhing seperti sebelum Nasya hadir kembali. Ia hanya sibuk bekerja dan mengurus anak saja. Sesekali berkunjung ke Rumah Makan Cintarasa untuk melihat keadaan usaha sang istri.
Jangan tanya bagaimana Dena kepada Gadhing. Wanita itu terus mencari cara agar berdekatan dengan nya. Tetapi, ia tidak ingin mengecewakan Nasya sehingga tidak pernah memperdulikan Dena. Beruntung masih ada Dika yang selalu mengurusi si Dena itu.
"Assalamualaikum, sayang."
Gadhing tersenyum melihat layar ponsel yang menampakkan Nasya terlihat sangat cantik dengan gamis berwarna putih dan hijab hitam.
"Waalaikumsalam, mas. Sudah bangun?" Nasya tampak sedang makan di sebuah ruangan.
Gadhing memiringkan tubuhnya dengan ponsel berada beberapa jarak di depan wajahnya. "Sudah dari tadi. Hanya saja menunggu waktu makan siang kamu. Ah! mas kangen masakan kamu," keluh Gadhing yang masih ingin malas-malasan di tempat tidur.
Selisih waktu antara Indonesia dan Jerman 6 jam lamanya. Tentu saja disana Nasya sudah waktunya makan siang. Sementara Gadhing masih di tempat tidur karena ia pulang selepas subuh tadi dari Rumah Sakit.
Nasya terkekeh di seberang sana. "Sabar, ya. Masih juga belum sebulan aku tinggal. Aku menunggu Rispan, istri, dan anaknya untuk pindah kesini."
Gadhing mengangguk paham dan membiarkan Nasya makan lebih dulu sembari memandangi wajah cantik istrinya itu.
"Rasanya mas ingin makan," celetuk Gadhing membuat Nasya menoleh menatap nya.
"Makan, mas. Sebentar lagi sudah waktunya kamu sarapan," kata Nasya.
__ADS_1
"Mas ingin makan kamu," gumam Gadhing yang membuat Nasya tersenyum.
"Sabar, ya. Ingat! jaga pandangan, jangan dekat-dekat dengan yang bukan muhrim, dan jangan curhat tentang apapun dengan lawan jenis."
Gadhing mengangguk pasti. "Ya sudah, mas mau mandi dulu. Mau antar anak-anak sekolah. Assalamualaikum, sayang."
Nasya mengangguk, "waalaikumsalam, mas."
*
*
Nasya tersenyum setelah panggilan video itu telah mati. Sudah hampir satu bulan mereka berjauhan. Ia merasa seperti anak muda kembali karena begini.
"Assalamualaikum," kata seorang pria memasuki ruangan yang di tempati Nasya saat ini.
Sebenarnya Nasya sedang makan siang di sebuah restoran Asia dan ia sudah mereservasi ruanga pribadi karena setelah makan siang, akan bertemu dengan rekan bisnis nya. Seorang pria berdarah Turki, Murad Paşa.
Paşa adalah gelar bangsawan Turki dan merupakan salah satu gelar tertinggi di masa pra-republik Mesir.
"Waalaikumsalam, Mr."
Nasya berdiri seraya menangkup kedua tangan di depan dada menyambut kedatangan Murad.
Murad sendiri seorang duda berusia 39 tahun. Keduanya sudah menjalin kerja sama selama dua tahun belakangan.
__ADS_1
"Panggil saja Murad, Nasya!" protes Murad dalam bahasa Inggris.
Nasya tersenyum melihat Murad selalu mengatakan kalimat yang sama ketika dirinya memanggil pria itu dengan sebutan Mr.
"Baiklah."
Cukup lama mereka membicarakan pekerjaan dan tidak ada lagi kecanggungan karena jalinan kerja sama itu sudah lama. Bahkan Murad sudah beberapa kali bertemu dengan kedua anak Nasya.
*
*
"Ayo aku antar," kata Murad tanpa terasa hari sudah sore.
"Jangan repot-repot, Murad. Aku bisa pulang sendiri," tolak Nasya secara halus.
"Ayolah. Kamu selalu begitu. Takut banget aku culik," kata Murad sedih karena sangat jarang sekali Nasya mau diajaknya naik mobil bersama.
"Ta-tapi ..,"
Murad menggeleng. "Jangan menolakku, Nasya. Aku tahu mobil kamu sedang di servis, kan?"
Nasya menghela nafas panjang. "Baiklah."
Murad tersenyum senang mendengar itu kemudian keduanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1