Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
115. JSAMS


__ADS_3

Nasya yang melihat bibi Nur langsung memanggil. "Bi. Sepertinya kami gak pulang untuk beberapa hari. Stok makanan kita masih ada, bibi bisa gunain."


Bibi Nur mengangguk mengerti. "Semoga pulang dari kampung bawa papi baru ya, Bu!" ucap bibi Nur kembali membuat Gadhing mengerutkan dahi. Sementara Nasya hanya tertawa sumbang.


"Jangan dengarkan ucapan bibi ya, mas."


Gadhing tidak menjawab. Ia menatap Nasya begitu intens. "Apa yang kamu sembunyikan, Nasyama?"


Nasya menghela nafas kemudian ia menatap bibi Nur kembali. "BI. Tolong ajak anak-anak masuk ke dalam mobil, ya!" titah nya sopan kepada bibi Nur.


Nasya menghela nafas sejenak. Mungkin sudah waktunya ia memberi tahu Gadhing jika dirinya adalah seorang janda.


"Duduk, mas."


Gadhing menurut saja dan tetap menatap Nasya. Cukup lama kedua nya berdiam diri.


"Mas Jimmy sudah berpulang, mas. Sekarang aku seorang janda dan si kembar anak yatim," ungkap Nasya tanpa ada kesedihan karena sudah menerima keadaan nya.


Gadhing terperanjat mendengar ucapan Nasya. "Ke-kenapa bisa?"

__ADS_1


Nasya tersenyum. "Gak perlu mas tahu bagaimana bisa. Yang pasti memang sudah seperti inilah takdir untukku!"


Alasan mengapa Nasya menyembunyikan kematian Jimmy karena ingin menunggu Gadhing memiliki pasangan. Tetapi, setelah kepulangan nya, Gadhing belum juga menikah lagi walau sudah ada wanita yang sedang dekat denga pria itu.


"Nasyama," ucapnya lirih.


Nasya tersenyum. "Ayo kita berangkat, mas. Kasihan anak-anak kita sudah menunggu," kata Nasya berdiri dan langsung berjalan keluar menuju mobil mereka.


Sedangkan Gadhing menghembuskan nafas panjang kemudian mengikuti langkah Nasya memasuki mobil.


Ternyata, ke empat bocah itu sudah menyusun duduk mereka masing-masing dan membiarkan Nasya dan Gadhing duduk di depan.


Gadhing sendiri walau tidak ada obrolan secara personal, ia merasa hatinya menghangat melihat betapa perhatian nya Nasya terhadap kedua anaknya.


Sesampainya di Malang, rumah orang tua mereka. Buya Niko dan bunda Fadia menyambut kedatangan mereka.


"Cucu-cucu nenek.. Sikembar lagi, cepat sekali tingginya," ucap bunda Fadia yang tengah duduk di teras rumah. Keempat cucunya bersalaman dan memeluk bunda Fadia bergantian.


Nasya menghampiri bunda Fadia setelah keempat bocah itu memeluk wanita yang sudah di panggil dengan sebutan nenek. "Bunda, apa kabar? maafin Nasya gak pernah pulang," tanya Nasya setelah memeluk bunda Nasya.

__ADS_1


Bunda Fadia tampak meneteskan air mata. Kerinduan nya terhadap Nasya begitu menggebu walau mereka sering bertukar kabar jika Daffi sedang berkomunikasi dengan Nasya.


Buya Niko meminta mereka segera masuk ke dalam rumah. Nasya duduk di samping bunda Fadia, sedangkan Buya Niko duduk di seberang mereka. Sementara Gadhing ke dapur mengambil minum untuk mereka.


Emier membawa ketiga adiknya berkeliling rumah sederhana itu hingga ke peternakan sapi menemui Daffi.


*


*


"Nasya?" panggil Buya Niko membuat Nasya dan yang lain langsung melihat ke arah nya.


"Ya, Buya?"


"Apa kamu kembali karena sudah siap menikah?"


Nasya terkekeh. Pertanyaan Buya Niko bukanlah sebuah paksaan. Ia juga merasa sudah lebih baik, tidak terpuruk karena Jimmy tetap bersamanya dan bukan berarti telah siap menikah lagi.


"Nasya mau menikah dengan siapa, Buya? orang Jerman memang banyak melamar Nasya, tapi belum ada yang cocok sampai sekarang."

__ADS_1


"Kalau dengan mas, gimana?"


__ADS_2