
Hari ini adalah hari Minggu. Sekolah Tiara libur membuat gadis kecil itu terlihat senang. Apalagi setelah mendapat kabar jika sang Papi hari ini sampai rumah.
"Biar Tiara makan sendiri, Mi. Kata papi, Tiara harus belajar makan sendiri karena gak lama lagi akan punya adik dari perut mami," ungkap Tiara meraih sendok dari genggaman Nasya.
Sedang Nasya tercengang mendengar ungkapan dari Tiara. Oh ya Ampun. Gimana bisa mas Jimmy memberi harapan palsu begitu?
"Papi bilang begitu?" tanya Nasya menyelidik menahan geram.
Tiara mengangguk imut dan semakin membuat Nasya geram. "Do'akan saja ya, sayang."
Hanya kalimat itu yang dapat diucapkan Nasya agar gadis kecil ini tidak banyak bertanya lagi.
"Papi, pulang!" teriak Jimmy membuat kedua gadis beda generasi itu menoleh ke asal suara.
Tiara langsung berlari menghampiri Jimmy kemudian meminta gendong sang papi.
Jimmy berjalan mendekati Nasya dengan Tiara dalam gendongan nya. Ia merasa penasaran melihat gadis pujaan hatinya tidak ikut menyambut dan mendatangi nya.
Kenapa Nasya cemberut begitu?
"Kamu kenapa, hm? calon suami baru pulang kok dicemberuyin begitu?" tanya Jimmy menatap Nasya.
__ADS_1
Nasya yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah karena merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya menerima tatapan penuh cinta dari Jimmy.
"Aku hanya kesal sama, mas." Nasya menunduk menghindari tatapan Jimmy.
Jimmy menautkan kedua alis merasa heran dengan ucapan Nasya, ia pun menarik sedikit lengan baju yang dikenakan Nasya perlahan ke arah sofa di bawah tangga, setelah duduk Jimmy menurunkan dan mendudukkan Tiara disebelahnya. "Kesal kenapa, hm? cerita sama mas, apa kesalahan mas kali ini? bukankah mas sudah memberi kabar kalau akan mematikan handphone beberapa jam?"
Jimmy tidak ingin egois agar tidak ada pertengkaran diantara keduanya, ia juga memahami jika Nasya masih sangat muda.
"Ih. Aku kesal sama mas bukan nya dibujuk," desis Nasya justru membuat Jimmy merasa gemas.
"Sayang, bagaimana bisa bujuk kalau kamu gak kasih tahu kesalahan mas?"
"Kenapa mas kasih harapan palsu kepada Tiara kalau akan punya adik dari aku?"
"Dasar mesum," cicit Nasya dengan pipi merona.
Jimmy tertawa melihat pipi Nasya merona dan malu-malu seperti itu. "Kamu sangat cantik kalau sedang malu-malu seperti itu. Aku suka," celetuk Jimmy tersenyum dan semakin membuat Nasya merona.
"Mami cantikkan, Tiara?" tanya Jimmy meminta pendapat.
Tiara yang sedang memakan buah langsung menatap Nasya dan mengacungkan kedua jempol mengarah ke Nasya.
__ADS_1
"Sangat cantik. Tiara juga ingin pakai seperti Mami," tutur Tiara membuat Nasya tersenyum.
"Minggu depan saat libur sekolah kita akan beli hijab kecil, oke."
Tiara mengangguk.
"Kenapa gak besok saja?" tanya Jimmy karena esok juga hari libur.
"Baiklah. Besok jemput Mami," kata Nasya melihat Tiara tetapi tujuan nya bicara pada Jimmy.
*
*
Keesokan hari, Nasya dan Tiara berada di Rumah Makan Cintarasa. Karena masih pagi, Nasya mengajak ke tempat itu lebih dahulu karena harus mengurus sesuatu ditambah Jimmy masih bermain kuda seperti kebiasaan pria itu jika di akhir Minggu.
Kedatangan Nasya dan Tiara membuat heboh para pekerja di Rumah Makan Cintarasa. Tetapi bukan karena membawa anak dari seorang Jimmy Soecipto karena publik tidak ada yang tahu seperti apa wajah anak dari pria itu.
"Mbak. Cantik anak calon suaminya mbak, ya."
Nasya tersenyum.
__ADS_1
"Sya. Ada Gadhing," tutur Joko.