Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
53. JSAMS


__ADS_3

"Sudahlah, bro. Sudahi sedihmu. Wajahmu gak cocok begitu. Apa ini, lemah!" hardik Dika kepada Gadhing yang tekapar lemah di tempat tidur.


Sudah tiga hari Gadhing tidak masuk kerja karena sedang sakit. Dika, selaku rekan kerja dan teman paling dekat dengan Gadhing merasa iba dan juga kesal.


"Kamu gak ngerti posisiku, Dik!" kata Gadhing lemah.


Dika mencebik. "Posisimu yang sulit ini tercipta karena ulahmu, bung. Kamu sakit begini bukan karena istri pertama yang belum lama meninggal, melainkan istri kedua yang gak mau diajak rujuk. Kamu mau tahu tanggapan orang lain kalau tahu permasalahan mu sebenarnya?"


Masih dalam keadaan lemas dan tak berdaya, Gadhing menatap Dika, dan berkata. "Apa?"


"Mereka hanya mengatakan satu kata saja," kata Dika.


"Ya, apa?"


"ASU," kata Dika.


Gadhing berdecak. "J4ncok, Kon."


Dika tertawa terbahak-bahak seraya berdiri sambil menyuntikkan obat ke botol infus. "Sudah selesai. Aku harus kembali ke Rumah Sakit. Jangan telat makan, apalagi sampai tidak makan."


"Hem," sahut Gadhing dengan deheman.


"Jangan cuma hem doang, Dok. Kamu harus ingat kalau patah hati juga butuh tenaga," ledek Dika lagi disertai gelak tawa.


Gadhing memejamkan mata dan menahan kekesalan yang mendalam sedari tadi. Ingin rasanya memberi sebuah bogeman kepada Dika tetapi tak sanggup karena tubuhnya sangat lemah.


Beberapa saat kemudian, Dika sudah pergi dari kekediaman Gadhing. Sudah dua hari ia terbaring di atas tempat tidur karena asam lambung dan demam menyerangnya secara bersamaan.


Bunda Fadia masuk ke dalam kamar membawakan bubur ayam yang dibuatnya diikuti Buya Niko dibelakang membawa air minum.


Bunda Fadia menaruh bubur diatas nakas bersamaan segelas air minum dan beberapa tablet pil milik Gadhing.


Buya Niko membantu Gadhing duduk dan bersandar di headboard. "Biar Gadhing makan sendiri, Bun."


Mau bagaimanapun keadaan Gadhing, tetapi tetap saja tidak ingin kedua orang tuanya harus bolak balik Malang- Surabaya.


"Jangan sok kuat. Biar bunda suapi."


Gadhing menghela nafas dan mengangguk karena jika bunda Fadia berubah galak maka siapapun tak berani melawan.


Buya Niko duduk di sebelah tempat tidur setelah menggeret kursi tersebut dari depan meja rias.


"Cobalah untuk menerima keadaan," tutur Buya Niko.


"Buya. Jangan bicarakan itu dulu. Biar Gadhing sembuh lebih dahulu," cegah bunda Fadia dan membuat Gadhing menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Gadhing meminum obat dan segera istirahat. Benar yang dikata Dika bahwa patah hati juga butuh tenaga.


Bunda Fadia menatap nanar putra sulung nya. Tentu saja sebagai ibu, ia tak tega melihat Gadhing. Tetapi, karena tahu kesalahan sang putra membuat bunda Fadia tak bisa berbuat apa-apa.


*


*


"Ya ampun, mbak. Enggak perlu Bawak beginian, loh."


"Hanya buah-buahan," kata Amanda.


Nasya menerima bingkisan dari Amanda yang datang bersama Dimas.


Seperti yang diinginkan Tiara, gadis kecil itu menginginkan tidur bersama Nasya setelah pulang dari Rumah Sakit.


Sudah dua hari Tiara tinggal di rumah Nasya dan sangat nampak bila gadis kecil itu sangat senang.


"Anak calon suami kamu sangat cantik ya, Sya." Celetuk Amanda memerhatikan Tiara yang sedang bermain boneka barbie.


Nasya mengangguk setuju. "Seperti yang kita tahu. Ketampanan dan kecantikan kedua orang tua anak ini gak diragukan," tutur Nasya mengakui Jimmy dan Diana memiliki kelebihan paras untuk wajah mereka masing-masing.


"Betul."


Kedatangan Amanda dan Dimas bukan hanya semata ingin menjenguk Tiara. Namun, keduanya memberi undangan pernikahan keduanya yang akan diselenggarakan di malang, dua Minggu kedepan.


Mendengar ucapan Nasya sontak membuat Amanda dan Niko tertawa. Ia juga ikut tertawa tetapi seketika hatinya berdebar manakala pikiran nya melayang dimana ia akan mengalami menjadi mempelai wanita dan Jimmy sebagai mempelai pria.


Seketika Nasya menunduk karena pipinya sudah merona, entah mengapa jika membayangkan pernikahan bersama Jimmy selalu saja merasa gugup.


"Assalamualaikum."


Nasya tersadar dari lamunan ketika mendengar suara salam dari seseorang di luar.


"Sebentar ya mbak, mas. Aku bukain pintu dulu," kata Nasya seraya bangkit dari duduknya.


Nasya melangkahkan kaki dengan cepat karena tahu siapa sang pemilik suara. Ia tidak tahu apakah ini yang namanya jatuh cinta atau tidak karena setiap berada di dekat Jimmy membuatnya nyaman, aman, dan selalu merasa pria itu menghormati nya. Baik itu secara fisik, ataupun hatinya.


Baru kali ini Nasya merasa dirinya dihargai.


"Waalaikumsalam," balas Nasya disertai senyuman merekah.


Nasya membuka pintu dan terlihatlah Jimmy yang juga tengah tersenyum.


"Maaf, Sya. Mas terlambat," kata Jimmy.

__ADS_1


Nasya mengangguk mengerti. "Masuk, mas."


Nasya menggeser agar Jimmy masuk lebih dahulu tetapi pria itu enggan melangkah karena sedang menatap Nasya begitu dalam.


Jimmy sudah merasa tak sabar untuk menikahi gadis dihadapan nya ini. Ingin sekali mendekap erat tubuh Nasya untuk menenangkan hatinya.


Ya, saat ini hati Jimmy sedang gundah karena merasa belum sepadan bersanding dengan Nasya tetapi tak rela bila Nasya bersanding dengan pria lain, apalagi jika pria lain itu adalah Gadhing.


"Mas kenapa?" tanya Nasya salah tingkah karena Jimmy terus menatapnya.


"Apa terjadi sesuatu?" Seakan tahu bila Jimmy sedang tidak baik-baik saja.


Jimmy menggeleng lemah kemudian menghela nafas setelahnya ia melangkah masuk diikuti Nasya.


Sama seperti biasa, kehadiran Jimmy dapat membuat atmosfer ruangan tersebut berubah dan dapat menghipnotis siapapun yang ada di ruangan itu.


Penampilan yang mencolok membuat disekelilingnya merasa ciut termasuk Amanda dan Dimas. Amanda yang hanya mengenakan blouse, celana kulot, dan pasmina merasa insecure. Begitu juga dengan Dimas yang hanya memakai kaos oblong dan celana panjang jeans merasa tidak apa-apa nya dibanding Jimmy.


Nasya melihat reaksi kedua orang itu kemudian menatap Jimmy yang hanya cuek saja menjadi pening.


Nasya berdehem agar menyadarkan Amanda dan Dimas. Mereka berempat tengah duduk di lantai beralas karpet bulu yang dibelinya dari Malaysia melalui online.


"Tiara kemana, Sya?" tanya Jimmy karena tak melihat putrinya.


"Tadi sedang main di kamarku, mas. Mas mau lihat Tiara?" tanya Nasya dan tatapan keduanya bertemu.


"Bo-boleh?" bukan menjawab melainkan bertanya. Rasanya sangat gugup masuk ke dalam kamar gadis yang dicintainya ini.


"Boleh. Mau aku antar?"


Jimmy tersenyum seraya menggeleng. "Kamu disini saja," ia menatap kedua tamu Nasya dengan wajah datar.


Jimmy ingat pria di hadapan nya adalah mantan tunangan Nasya. Seketika senyuman miring tercetak di wajah tampannya seakan sedang menghina pria tersebut.


Dimas merasa tatapan dan mimik wajah Jimmy begitu menyeramkan.


Jimmy bangkit tanpa menyapa kedua orang itu menuju kamar Nasya.


"Maafin mas Jimmy ya mas, mbak."


Nasya merasa tak enak hati kepada tamunya.


"Calon kamu benar-benar, Daebak."


Nasya mencebik. "Maaf ya."

__ADS_1


Keduanya mengangguk bersamaan. "Gak apa-apa. Yang penting kalian harus datang."


__ADS_2