
Nasya baru menyadari waktu 3 bulan yang diberikan Jimmy untuknya adalah dimana bulan tersebut bertepatan dengan bulan kelahiran nya.
23 tahun.
Nasya semakin tidak sabar menunggu satu bulan lagi untuk bertemu dengan Jimmy. Senyuman nya terlukis indah di wajah ayu nya yang sedang menatap ponsel dan terlihat foto nya bersama Jimmy dan Tiara.
"Walau kamu menyebalkan, tapi aku sadari kalau hanya kamu yang menghargai aku. Saat bersamamu, aku merasakan yang namanya dibutuhkan."
Lama Nasya berdiam diri di ruang kerjanya sehingga tanpa menyadari jika Joko sudah berada di ruangan tersebut.
Joko melirik ponsel yang di genggam Nasya kemudian mencebik. "Yang lagi kasmaran sampai gak ingat pulang," celetuknya membuat Nasya terperanjat.
Nasya langsung menoleh ke arah jam dinding di sisi kanan ruangan itu. "Sudah hampir Maghrib, kak. Kenapa gak panggil aku?" tuduh Nasya kesal.
Joko melongo mendengar, padahal sudah satu jam lebih menunggu Nasya keluar dari ruangan. Walau tadi sempat terus menggoda adik manis yang belum lama ini menjadi pacarnya, Tita.
"Sudah jangan lagi ngomel. Kita harus segera sampai rumah sebelum Maghrib," ajak Joko langsung keluar ruangan.
__ADS_1
"Hisshh.. Siapa juga yang mau ngomel," gerutu Nasya tetapi mulutnya terus saja komat-kamit karena kesal.
Nasya keluar dari ruangan, tak lupa mengunci pintu ruang kerjanya dan terakhir mengunci pintu masuk Rumah Makan Cintarasa miliknya.
"Kapan pak Jimmy kembali? kamu sudah kasih tahu kalau perjodohan itu batal?" tanya Joko bertubi-tubi.
"Dia janji bulan depan akan kembali," sahut Nasya semangat tanpa menjawab pertanyaan Joko yang lain nya.
Joko hanya mengangguk. Tapi percayalah, dalam hati pemuda itu berharap akan ada kebahagiaan untuk Nasya.
Joko sangat tahu bagaimana gilanya gadis itu mengejar cinta Gadhing tanpa memikirkan perasaan nya yang telah di sia-sia kan oleh pria yang berprofesi sebagai dokter itu.
*
*
Begitu mobil berhenti, Nasya dan Joko langsung keluar mobil lalu menghampiri mereka.
__ADS_1
"Sudah lama menunggu, mas?" tanya Nasya berjalan mendekati pintu lalu membukanya dengan kunci yang sudah di tangan.
Setelah pintu terbuka, Nasya mempersilahkan tamu nya masuk termasuk Joko. Ia melangkahkan kaki menuju dapur, membuka kulkas, mengeluarkan jus jeruk yang dibuatnya pagi tadi.
Nasya membawa gelas dan satu teko jus jeruk yang telah ia pindahkan dari botol semula.
"Ada perlu apa ya, mas, mbak?" tanya Nasya penasaran.
Gadhing menunduk sedang Retno nampak menunduk.
"Begini Sya. Mau mau minta tolong izinkan Retno tinggal disini sementara waktu."
Nasya terkejut kemudian memaksakan untuk tersenyum. "Tapi kenapa? gak baik loh untuk dipaksa keluar dari rumah suami Mbak Retno," terangnya.
Gadhing mengerti yang dirasa Nasya malam ini. Andai Retno tidak datang ke rumah nya dengan tangisan pilu, tidak mungkin ia berada di rumah Nasya sekarang ini.
"Tadi kami bertengkar hebat. Itu sudah biasa bagi kami setelah pernikahan Rian terbongkar. Yang membuat sakit ucapan ibu mertua saya yang menuduh selingkuh lebih dulu dan lebih sakit lagi mas Rian terpengaruh oleh ucapan ibunya."
__ADS_1
Nasya mengangguk paham. "Baiklah. Mbak boleh tinggal sampai punya rumah sendiri, ya. Maaf aku gak bisa kasih izin tinggal terlalu lama karena rumah ini milik mas Jimmy."
Semua setuju hingga menghentikan pembicaraan setelah azan Maghrib.