Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
50. JSAMS


__ADS_3

Gadhing menghela nafas yang terasa berat akibat dadanya sesak. Bukan karena penyakit asam atau penyakit lainnya.


Ini karena sejak tadi menyaksikan Nasya tertawa ataupun tampak tersipu malu di depan ponsel yang sudah diyakini orang yang tengah panggilan video Dengan gadis itu adalah Jimmy.


"Ikhlaskan, nak."


Jimmy menoleh ke sumber suara ternyata ayah sambungnya. "Aku mencintainya, Buya."


"Tapi cara mencintai yang tulus adalah mengikhlaskan dia bahagia bersama orang lain. Jika Nasya adalah jodohmu, maka dia akan kembali padamu."


Buya Niko menepuk-nepuk pundak Gadhing lalu berlalu masuk ke dalam rumah.


Malam kian larut, para tamu takziah juga sudah pulang semua termasuk orang tua Amanda.


Gadhing masuk ke dalam rumah setelah memastikan Nasya juga sudah masuk ke kamar.


Ia teringat setiap kali pulang ke Malang, maka Nasya lah yang menyambutnya dengan sangat antusias.


Nasya memasak dan menyajikan makanan serta keperluannya yang lain. Tetapi, semua berubah setelah ia menikahi Noni ditambah gadis itu menjalin hubungan dengan pria yang tak disangkanya adalah selingkuhan istrinya.


Hembusan nafas terdengar lagi ketika ingatannya tertuju pada saat Nasya menjadi istrinya.


Gadhing benar-benar merutuki kebodohan nya yang memperlakukan Nasya secara tidak adil. Bahkan ingin rasanya ia membenci dirinya sendiri.


"Aku hanya ingin kamu memberi satu kesempatan lagi untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku, Nasyama."


Gadhing mengusap foto Nasya di ponselnya. Foto itu ia ambil secara diam-diam beberapa hari lalu.


"Maafin mas, Sya."


Gadhing merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lalu menyusupkan kaki ke dalam selimut, memejamkan mata dan membiarkan ponselnya tergeletak di sebelah tubuhnya.


*


*


Pagi-pagi sekali Nasya sudah bangun untuk membuat sarapan. Sudah kebiasaan baginya setelah menjalankan sholat subuh, ia tak lagi tidur kembali.

__ADS_1


"Kamu mau buat sarapan apa?" tanya bunda Fadia yang baru saja masuk ke dapur.


Nasya menoleh disertai senyuman. "Hanya ada bayam dan tempe di kulkas, Bun. Jadi bayam nya mau aku rebus saja dan goreng tempe. Aku juga buat sambal Tuktuk," sahut Nasya lembut.


"Bunda bantu, ya."


"Jangan, Bunda duduk saja."


Akhirnya bunda Fadia setuju dan hanya duduk memerhatikan Nasya sedang memasak.


"Apa kamu baik-baik saja, nak?" tanya bunda Fadia.


Nasya tersenyum. "Nasya baik-baik saja, Bun."


Bunda Nasya mengangguk. Rasanya ia menjadi serba salah dan hingga kini masih menyesali perbuatan Gadhing yang telah menyakiti Nasya.


Nasya menyajikan makanan yang telah masak ke atas meja. Setelah selesai memasak, ia mencuci alat masak kemudian masu ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Nasya melihat ponsel dan ternyata banyak panggilan telepon dari Jimmy.


Walau Nasya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berpacaran hanya lewat ponsel, tetapi dari cerita teman sekolah nya dahulu itu sangat menyenangkan.


Melakukan sleep call setiap malam dan Nasya baru merasakan ketika telah menerima niat baik Jimmy mendekatinya.


"Aku terlambat pubertas atau aku sangat bodoh karena dahulu selalu saja disibukkan dengan mengejar cinta mas Gadhing," gumamnya sendiri, matanya terpejam sejenak ketika bayangan dirinya yang selalu mencari cara agar mendapatkan cinta Gadhing.


"Nyatanya dahulu aku begitu menyedihkan karena sangat mengidola kan kamu, mas! padahal perasaanku terus menerus kamu patahkan," kata nya lagi.


Nasya mendial nomor Jimmy kemudian menempelkan ponsel ke daun telinga.


"Assalamualaikum, mas."


"*Waalaikumsalam, Sya."


"Nanti saja, ya. Mas lagi urus administrasi Tiara, dulu*."


"Maksudnya, mas?"

__ADS_1


"Tiara masuk Rumah Sakit. Nanti setelah ini mas telepon lagi, sayang. Assalamualaikum."


Nasya terkejut kemudian membalas salam Jimmy.


Rasa khawatir menyeruak hati Nasya karena ia sangat dekat dan menyayangi gadis kecil itu seperti anaknya sendiri.


Nasya menaru ponsel kemudian mengambil pakaian ganti dan handuk. Ia akan mandi dan kamar mandi terletak di dapur.


*


*


Gadhing tersenyum melihat menu sarapan yang tersaji di atas meja. Ia sangat yakin makanan ini adalah masakan Nasya.


Gadhing mengambil tempe goreng lalu di colekkan ke sambal tuktuk.


"Bunda," cicit Gadhing ketika tangan nya di pukul bunda Fadia karena hendak mengambil tempe lagi.


"Tunggu yang lain berkumpul, Gadhing."


"Iya, bunda."


Senyuman Gadhing merekah melihat Nasya sudah keluar kamar dengan hijab yang selalu menutupi kepala mantan istrinya itu.


Nasya sendiri kurang nyaman mendapat tempat duduk disebelah Gadhing. Mungkin dahulu ia sangat senang berada di dekat Gadhing, tetapi sekarang berbeda.


Nasya merasa, ada hati yang harus dijaga.


"Buya, Bunda.. Nasya pamit setelah sarapan ya."


Semua orang terkejut. " Kenapa mendadak?"


"Ada urusan mendadak, Bun."


"Biar mas yang antar."


"Hah?"

__ADS_1


__ADS_2