
Dari Bandara hingga mansion milik Jimmy, Nasya sering tertawa akibat cerita Ibu Mayang mengenai pria itu.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terus menceritakan bagaimana Jimmy ketika masih kecil, remaja, hingga dewasa.
"Tapi. Setelah dewasa, Jimmy lebih memilih membuka bisnis sendiri. Padahal warisannya banyak," terang Ibu Mayang membuat Nasya tersenyum.
Nasya melirik Jimmy melalui kaca spion tengah dan kebetulan pria itu juga tengah menatapnya melalui benda yang sama.
"Makasih telah membawa perubahan lebih baik untuk anak mama," ucap ibu Mayang tulus seraya menggenggam tangan Nasya.
Nasya menggeleng kecil disertai senyuman. "Bukan Nasya, tan eh ma. Mas Jimmy berubah karena diri sendiri."
"Ma. Tolong wakilkan aku untuk menarik hidung Nasya," celetuk Jimmy sekali lagi melirik Nasya melalui kaca spion tengah bersamaan Nasya melotot ke arahnya melalui benda yang sama.
"Ma. Tolonglah. Hampir satu tahun aku menahan nya. Dia begitu menggemaskan," sambung Jimmy lagi membuat Nasya cemberut tetapi itu justru membuat Jimmy tertawa.
Ibu Mayang mencebik. "Sudah-sudah. Kalau pingin itu dinikahi, Jim. Kasian anak gadis orang dibawa kemana-mana tapi belum di halalin juga," tutur ibu Mayang membuat Nasya tersipu malu.
Seperti doa nya setelah sholat. Nasya ingin Jimmy segera menikahi nya.
Jimmy tersenyum seraya fokus pada jalanan. "Sebentar lagi, ma. Aku sedang menyiapkan mahar untuk Nasya."
Ucapan Jimmy semakin membuat pipi Nasya merona. Sebagai gadis yang tak pernah mengalami hal ini tentu membuatnya merasa tersanjung dan dihargai.
Di pernikahan nya yang pertama tidak ada persiapan dan mahar yang diberikan Gadhing berupa uang lima ratus ribu.
Sementara Jimmy terus tersenyum karena baginya mahar yang dipersiapkan nya jauh lebih sulit daripada sebuah materi seperti pernikahan nya yang pertama.
"Memangnya mahar apa yang mau kamu kasih? mansion? mobil? bukankah itu hal mudah yang kamu dapat? jangan sampai calon menantu mama ini di rebut laki-laki lain, Jim."
Ibu Mayang saat pertama kali bertemu dengan Nasya di Bandara beberapa saat lalu sempat terkejut. Terkejut karena Jimmy tak pernah sekalipun mengatakan jika calon istrinya adalah gadis berhijab.
Bahkan dalam pikiran nya, wanita yang hendak dikenalkan nya adalah wanita cantik, penampilan seksi, dan memiliki bentuk tubuh yang sama seperti mantan menantunya.
Tetapi, penampilan Nasya diluar ekspektasi ibu Mayang. Penampilan sederhana dengan gamis dan hijab, serta sangat mungil. Tinggi dadis itu hanya sampai sedada bidang putranya.
Jimmy kembali melirik menatap Nasya melalui spion tengah sekilas. "Ar-Rahman dan seperangkat alat sholat," ia menyebutkan mahar yang ingin diberikan pada Nasya.
__ADS_1
Nasya tertegun dengan apa yang dikatakan Jimmy. Bahkan tak pernah terpikirkan olehnya mahar yang akan di dapatkan semulia itu.
Nasya tertunduk merasa terharu. Matanya sudah menganak sungai, jika sekali berkedip saja sudah pasti akan mengalir deras.
Jimmy melihat Nasya menunduk segera menepikan mobil ke depan minimarket. Ia membuka seat belt, turun dari mobil kemudian mengitari segera membuka pintu penumpang bagian Nasya duduk.
Jimmy menunduk dan menyerahkan sapu tangan dari sakunya yang selalu dibawanya. "Kenapa menangis, hm?" tanya Jimmy tenang.
Nasya menerima sapu tangan dan langsung mengusap air matanya. "Ma-makasih, mas."
Jimmy tersenyum. "Jangan berterimakasih. Itu bukan hal apa-apa, sayang. Berhentilah menangis, hatiku terasa sakit melihat kamu menangis."
Nasya menangkup wajah karena tangisan nya pecah mendengar penuturan Jimmy. Sementara ibu Mayang melihat perubahan anaknya menjadi terharu.
Ibu Mayang mengusap punggung Nasya dan merangkulnya dengan satu tangan karena satu tangan lagi sedang menopang tubuh Tiara yang tertidur.
"Kamu harus tenang," kata ibu Mayang.
"Kapan mas mau nikahi aku?" tanya Nasya setelah merasa sedikit tenang.
Nasya tersenyum menatap mata Jimmy. "Aku menunggumu," katanya membuat Jimmy juga mengangguk.
"Mas beli minum sebentar," tutur Jimmy langsung keluar dari mobil, melangkahkan kaki menuju minimarket buat membeli air minum kemasan untuk mereka berempat.
Setelah membeli air minum kemasan, Jimmy kembali melajukan mobil menuju mansion nya.
*
*
Gadhing sudah sehat dan kembali bekerja. Hari nya benar-benar terasa sepi karena sekarang tinggal sendiri.
Helaan nafas panjang terdengar di ruang kerja nya. Ia mengangkat lengan dan sedikit menarik lengan kemeja, melihat pukul berapa ternyata sudah menunjukkan waktu istirahat.
Gadhing bangkit keluar ruangan. Ia melihat Retno sedang duduk termenung tetapi tetap diabaikannya.
Gadhing duduk di salah satu meja kantin rumah sakit, tak lama kemudian Dika duduk di hadapannya.
__ADS_1
"Bro. Kamu tahu gak suster Retno mengalami KDRT?" tanya Dika heboh.
Gadhing menegakkan kepala menatap Dika dengan kerutan di dahinya kemudian mengedikkan bahu. "Gak tahu dan gak mau tahu juga," sahut Gadhing acuh.
Dika mencebik. "Dasar dokter tak berperiperasaan tahu gak. Nyesel aku cerita ke kamu. Asu," gerutu Dika.
Terkadang Dika sangat menyayangkan sikap acuh Gadhing terhadap sekitar sehingga melupakan orang-orang yang berada di dekatnya.
Seperti yang diketahuinya selama ini Gadhing bersikap acuh tak acuh terhadap Nasya. Padahal gadis itu sangat perhatian sehingga membuatnya terpesona.
Tetapi, sudah sangat lama sekali Nasya tidak mengunjungi Gadhing dan tentu saja saat pertama kali tahu mereka telah berpisah membuatnya terkejut.
Sementara Gadhing hanya diam menikmati makanan yang di pesan nya. Tetapi pikiran nya melayang dimana Retno tadi tampak murung.
Selama menjadi asisten nya, Retno memang tidak banyak bicara dan ia tak mempermasalahkan itu karena pekerjaan wanita itu bagus.
Setelah selesai makan siang, Gadhing memesan nasi soto dan di bungkus. "Aku duluan," kata Gadhing pada Dika tanpa menghiraukan jawaban Dika.
Gadhing kembali ke ruangan, tetapi langkahnya terhenti di depan ruangan dimana meja Retno berada.
Gadhing menaruh bungkusan nasi soto ke atas meja Retno. "Ini nasi soto buat kamu," katanya membuat Retno tersentak.
"D-dok," kata Retno terbata dan mengusap kasar pipinya yang basah berlinang air mata.
Gadhing menatap Retno dengan wajah datar. "Makanlah. Sebentar lagi kita akan melakukan operasi," katanya langsung melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya.
Di dalam ruangan tersebut Gadhing duduk di sofa dan mengambil ponsel nya. Hembusan nafas kasar kembali terdengar karena ia begitu sangat merindukan perhatian-perhatian kecil dari Nasya.
Ucapan selamat pagi dan harapan di pagi hari.
Ucapan mengingatkan untuknya makan dan beribadah.
Ucapan selamat petang dan rasa syukur apa saja yang sudah di lewati hari itu.
Perhatian-perhatian lain nya yang sekarang benar-benar membuatnya sangat merindukan sosok Nasya.
"Aku sangat merindukanmu, Sya. Maafkan kebodohanku. Aku benar-benar bodoh dan dibutakan kebencian yang tak pernah kamu lakukan."
__ADS_1