
Memiliki halaman luas di belakang rumah termasuk salah satu anugerah terindah yang dimiliki Nasya.
Dengan mata terpejam dengan air mata dan memaksakan senyum setelah beberapa saat lalu Jimmy menghubunginya.
"*Sayang, dengar! mas bukan melepaskan mu. Mas hanya memberi kamu waktu untuk berpikir dan menilai pada siapa kamu memilih hidup di antara kami."
"Aku ingin bersama mu, mas. Kenapa kamu pergi?"
"Mas enggak pergi. Hanya menyelesaikan pekerjaan dan selama mas pergi, cobalah jalani hari dengan bahagia."
"Kenapa mas berubah begini? kenapa mas gak culik dan nikahi aku?"
"Karena kamu wanita terhormat, sayang. Mas sangat beruntung mengenal dan mencintaimu. Sudah, ya. Mas lagi nyetir, Assalamualaikum*."
*
*
"Jangan menangis terus," Daffi duduk di sebelah Nasya dan memberi tissue pada Nasya.
"Makasih, mas."
Nasya mengusap air matanya tanpa berani menatap kakak sepupu tirinya. Jika bersama Daffa, ia akan mendapat wejangan-wejangan menurut agama, maka Daffi akan menjadi pendengar dan pemberi nasihat secara umu bukan hanya tentang agama.
__ADS_1
Si kembar yang berbeda.
"Maafin sikap bunda," kata Daffi.
Nasya menoleh menatap daffin kemudian mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Mungkin bunda seperti itu karena ingin kamu memberi kesempatan. Salah memang, tapi kita juga harus menilai dari segi pemikiran bunda dan Gadhing. Kamu juga harus menilai dari segi pemikiran pacar kamu. Selain dia enggak mau buat kamu melawan bunda, dia juga ingin melihat kesungguhan hati mu sebenarnya untuk siapa, mas Gadhing atau pacar kamu."
Nasya masih diam mencerna ucapan Daffi dan kini mengerti apa yang dimaksud kedua belah pihak.
"Banyakin sholat dan berdoa. Mohon petunjuk sama Allah, siapa yang terbaik untuk kita."
Nasya mengangguk cepat. Hatinya sedikit lebih tenang Daffi memberi nya wejangan yang masuk di akal.
"Makasih, mas. Mas selalu mengerti aku," ucapnya terharu.
*
*
"Kamu sangat cantik, Nasyama."
Gadhing sangat bahagia mengetahui Jimmy sudah kembali ke kota Surabaya dan mendapati sikap Nasya yang tidak menghindar atau menjauhinya.
__ADS_1
"Makasih, mas."
Gadhing mengangguk disertai senyuman. Keduanya menaiki sepeda motor menuju lokasi rumah Amanda.
Dahulu, Nasya sangat menginginkan naik sepeda motor berdua bersama Gadhing. Tetapi, sekarang ia merasa sangat tidak nyaman berada di posisi ini.
"Akhirnya aku bisa wujudkan keinginan mu, Nasyama!" kata Gadhing yang fokus pada perjalanan di gang sempit menuju lokasi.
"Keinginan apa?" tanya Nasya yang sebenarnya sudah tahu arah bicara Gadhing.
"Naik sepeda motor bersama," sahut Gadhing tampak senang.
Di tempat duduk belakang, Nasya tersenyum getir. Memang dahulu ini adalah impian sederhananya kepada Gadhing.
Tetapi itu dahulu saat ia dibutakan oleh cinta yang dimiliki untuk Gadhing.
Nasya teringat saat mengungkapkan keinginan nya ini.
"*Mas. Saat kita menikah nanti, aku ingin naik sepeda motor sore-sore keliling Desa dengan mas."
Gadhing tersenyum miring. "Yang mau menikah denganmu siapa dan buang-buang waktu saja," katanya kemudian meninggalkan Nasya yang tampak cemberut.
Tetapi itu hanya sejenak karena Nasya kembali tersenyum kemudian menyusul Gadhing. Baginya sudah hal biasa diperlakukan seperti itu*.
__ADS_1
Nasya menggeleng ketika sadar akan kebodohan nya dahulu. Seketika ingatan nya beralih kepada Jimmy yang hingga sekarang tidak memberi kabar bahkan tak membalas pesan darinya.
Aku kangen sama kamu, mas. Kangen Tiara juga.