Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
97. JSAMS


__ADS_3

"Iya, mas. Aku hanya sarapan. Kamu jangan khawatir," kata Nasya menatap layar ponsel dimana Jimmy sedang melakukan panggilan video padanya.


"Muka kamu pucat, sayang. Apa muntah nya parah hari ini?"


Nasya menggeleng demi membuat suaminya tidak terlalu khawatir, walau kenyataan nya sedari sebelum subuh, Nasya sudah mual dan muntah-muntah.


"Pekerjaan mas sebentar lagi selesai, setelah itu mas langsung pulang."


"Jangan buru-buru. Tetap hati-hati."


"Sayang. Rispan juga merasakan hal yang sama seperti mas. Dia juga meninggalkan istrinya dirumah bahkan bekerja juga," sepertinya Jimmy tampak kesal karena merasa Nasya tidak ingin ia segera kembali.


Nasya tertawa kecil melihat wajah kesal sang suami. Bohong jika ia tak merindukan dan ingin Jimmy segera pulang. "Aku merindukan mu, mas. Pingin peluk," ucapnya manja membuat Jimmy tersenyum.


Andai Nasya tidak malu untuk mengakui jika selama Jimmy pergi, ia selalu tidur dengan gelisah karena tidak di peluk oleh suaminya.


"Baiklah. Mas kerja dulu, sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Nasya menggeleng sambil tersenyum membayangkan tingkah Jimmy jika sedang bersamanya.


Nasya buru-buru bangkit saat perutnya kembali mual. Ia menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya kembali yang sebenarnya sudah kosong.


Ia menghidupkan kran air, mencuci mulut dan wajah nya kembali. Nasya menatap wajah nya yang tampak pucat dan ada lingkar hitam di matanya.


"Ternyata begini rasanya hamil," gumam nya kemudian keluar dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


*


*


"Fadia. Kamu gak boleh egois," tegur Ibu Elsa kepada bunda Fadia.


"Astaghfirullah. Aku gak egois, Elsa. Hanya saja aku sering lupa kalau mereka pernah menikah. Kamu kan tahu kalau Nasya itu di manja ketiga kakak nya, walau Gadhing dulu sangat menyebalkan."


Ibu Elsa menghela nafas panjang. Ia sudah mengenal bunda Fadia sedari kecil, tentu saja tahu apa yang tengah dirasa sahabat nya itu.


"Berdoa sama Allah semoga hubungan anak-anak kita menjadi lebih baik. Terima semua kelebihan dan kekurangan menantu kita, Fad."


Bunda Fadia mengangguk. Tidak lama kemudian Buya Niko ikut bergabung mersama dua wanita paruh baya itu.


"Kau apakan istriku, he!" Buya Niko bicara dengan logat orang Medan berbicara.


Ibu Elsa mencebik. "Diamlah kau, Niko. Ini urusan perempuan. Laki-laki minggir," ucap ibu Elsa.

__ADS_1


Buya Niko dan bunda Fadia tertawa.


"Dasar Elsa gembrot," ledek Buya Niko membuat bunda Fadia tertawa sedangkan ibu Elsa melotot.


"Niko gila."


*


*


"Katakan sesuatu, Ris."


Novi sangat kesal dengan Rispan karena sangat sulit membuka suara padahal sedang melakukan panggilan video dengan nya.


"Kamu saja yang bicara. Aku lebih suka melihatmu banyak bicara," ungkap Rispan benar adanya.


Novi melotot mendengar ungkapan Rispan barusan walau tersirat kejujuran disana.


"Aku juga ingin mendengar suaramu, Ris. Aku ingin kamu bicara dengan anak kita."


Rispan berdecak diseberang telepon. "Anak kita belum bisa mendengar, Novi. Jangan buat anak kita yang belum lahir jadi senjata kamu untuk dekat denganku."


Novi menyengir kuda karena Rispan selalu dapat membaca pikiran jahat nya jika ingin berdekatan dengan suaminya itu.


Rispan melotot melihat perut Novi. Bahkan ia menelan saliva dengan kasar karena tiba-tiba hasratnya kembali menghampiri. "Tutup perut kamu, Nov."


"Kenapa?"


"Nanti masuk angin," Rispan berkilah.


Setelah sekian lama melepas rindu, Rispan mematikan panggilan video itu kemudian meletakkan ponsel ke atas meja.


Ia berulang kali menghela nafas, barulah kembali menyantap makan malam nya.


"Kenapa itu muka kusut?" tanya Jimmy kepada Rispan yang duduk saling berhadapan.


Rispan menggeleng. "Anda pasti tahu yang lebih senior."


Jimmy terkekeh. "Kangen istri? pengen di Nina bobok?"


Rispan mencebik. "Selama menikah belum pernah, pak. Saya takut terjadi sesuatu pada anak kami," terang Rispan tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Rispan dan Novi melakukan hubungan suami-istri terakhir kali saat berada di gudang setelah selesai acara perayaan pernikahan Jimmy dan Nasya di kantor.


Mata Jimmy melebar lalu tertawa, mengejek Rispan dengan sepuas hati.

__ADS_1


"Ibu kan hamil, pak. Bahkan lebih muda dari kehamilan istri saya, emang kegiatan bapak dan ibu lancar?"


Pertanyaan Rispan berhasil membuat Jimmy bungkam. "Gak jauh berbeda, Ris. Terakhir kali kami berhubungan saat malam setelah tahu istriku hamil. Terhitung sampai hari ini berarti sudah sebulan nganggur," ia mengakui keadaan nya dan itu justru membuat Rispan tertawa.


"Kita sama, pak."


*


*


Gadhing baru saja membantu Retno membersihkan diri dan memakaikan pakaian. "Kamu sisir rambut sebentar. Biar aku mandikan Emier."


Retno hanya mengangguk patuh. Diperlakukan penuh perhatian seperti ini tentu saja membuat siapapun wanita yang di dekat Gadhing akan jatuh hati. Pantas saja Nasya tergila-gila pada suaminya, dahulu.


Dengan telaten Gadhing membuka dan memandikan Emier dengan air hangat yang sudah disiapkan sebelumnya.


Setiap kali berinteraksi dengan Emier membuat hati Gadhing bahagia. Ia tahu pengorbanan Retno begitu besar dan patut mendapatkan cinta darinya. Tetapi, cinta tak bisa dipaksakan, bukan?


Selama menikahi Retno, tentu saja Gadhing berusaha keras mencoba mencintai Retno. Bahkan disetiap doanya selalu meminta agar perasaan nya pada Nasya dan menggantikan dengan cinta yang tulus kepada Retno karena hanya wanita itu yang berhak memiliki rasa cinta nya.


Tapi, pada kenyataan nya hingga sekarang, hatinya masih bertulis nama Nasyama Khadijah Putri.


"Ayah. Num ucu," kata Emier dengan suara cadel nya membuat Gadhing terkekeh.


"Sebentar, ya. Abang Emier harus pakai baju lebih dulu."


Setelah selesai memakaikan pakaian dan merapikan rambut buah hatinya, Gadhing langsung ke dapur membuatkan susu buat Emier.


Menjadi kebiasaan balita itu usai mandi akan meminta susu lalu tidur.


Ketika Emier telah tidur, Gadhing masuk ke kamar kembali untuk berganti pakaian hendak bekerja.


"Mas gak sarapan dulu?" tanya Retno hendak bangkit dari tempat tidur setelah melihat Gadhing sudah tampak rapi.


Gadhing menoleh lalu mengarah cermin kembali dan menyisir rambut nya. "Mas sudah makan roti tadi, sudah minum teh juga."


"Maaf ya, mas. Aku gak bisa layani kamu," kata Retno merasa bersalah.


Gadhing menghela nafas panjang. "Jangan berpikir begitu. Aku berhutang nyawa padamu yang telah melahirkan Emier untukku."


Retno berusaha duduk dan bersandar pada headboard dibantu Gadhing. "Jika nanti ada wanita yang mampu buat kamu jatuh cinta, nikahi dia mas. Aku gak mau kamu mengandung dosa dan selingkuh hati. Aku sudah berusaha keras membuatmu jatuh cinta padaku, tetapi aku gagal."


Tangan Gadhing terkepal, rahang nya mengeras. Sorot mata berubah menjadi tajam. "Jaga ucapanmu, Retno. Aku berusaha keras untuk selalu ada di keluarga ini. Dan kamu harus ingat ini, aku nggak semurahan itu untuk jatuh cinta."


Gadhing pergi dengan perasaan marah.

__ADS_1


__ADS_2