Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
131. JSAMS


__ADS_3

Gadhing menggandeng kedua putranya dengan pandangan mencari seseorang yang mengangkat sebuah papa bertulis namanya.


Senyuman nya terpatri ketika melihat seseorang utusan dari Rispan sudah menjemputnya.


"Terimakasih," ucap Gadhing dalam berbahasa Inggris saat utusan Rispan membantu memasukkan barang-barang miliknya ke dalam bagasi mobil.


"Apa masih jauh rumah mami, Pi?" tanya Emier nampak tidak sabar bertemu dengan ibu dan kedua adik sambungnya.


Gadhing menoleh menatap putra sulung nya yang duduk di sisi jendela. "Sekita satu jam kata Om Rispan. Sabar ya," katanya menenangkan.


Di pertengah perjalanan, sang sopir memberi tahukan gedung Perusahaan milik keluarga almarhum Jimmy. Ia sangat takjub melihatnya.


Ia bersyukur Nasya mendapatkan pria yang tepat saat dirinya mencampakkan wanita yang sangat dicintainya.


Sesampainya di sebuah mansion mewah, mobil yang membawa Gadhing dan kedua putranya berhenti. Gadhing membangunkan Asnan yang sedari tadi tertidur pulas selama perjalanan.


"Rumah mami sangat besar," kata Asnan kagum seraya pandangan nya mengelilingi apa saja yang dapat dilihatnya.


Emier juga melihat sekeliling menatap takjub dengan apa yang dimiliki sang mami.


"Terimakasih, pak." Ucap Gadhing kepada sang sopir setelah barang-barang nya telah dikeluarkan dari bagasi mobil.


Sang sopir hanya mengangguk dan meninggalkan mansion keluarga almarhum Jimmy.

__ADS_1


Kini, Gadhing baru saja memencet bel dan tak lama kemudian terdengar suara kunci memutar di pintu dari dalam mansion.


Pintu terbuka dan memperlihatkan wanita cantik dengan balutan pasmina hitam dengan gamis yang serupa pula warna nya.


Kedua tubuh sepasang suami istri itu membeku manakala tatapan mereka bertemu dan terkunci. Lidah seakan kelu tak dapat mengeluarkan suara padahal begitu banyak pertanyaan yang timbul di benak keduanya.


"Mami.. Kami datang," pekik Emier girang kemudian memeluk kedua kaki Nasya begitu juga Asnan.


Nasya gelagapan dan langsung berjongkok agar dapat memeluk kedua anak sambung nya itu. "Maaf, mami gak bisa jemput. Ayo masuk, sayang. Kedua adik kalian sedang bermain di taman belakang," ia menunjuk jalan keluar menuju taman belakang.


Nasya kembali berdiri dan merasa salah tingkah karena Gadhing terus saja menatapnya begitu intens sedari tadi.


"Assalamualaikum, dik!" ucap Gadhing membuka suara.


"Wa-waalaikumsalam, mas."


Nasya memberanikan diri menatap Gadhing dan tanpa berkata apapun lagi keduanya saling berpelukan, mengungkapkan betapa saling merindunya mereka berdua.


"Mas kangen, sayang. Kamu sehatkan?" tanya Gadhing masih memeluk Nasya dengan erat.


"Sudah ada mas, aku sehat."


Gadhing mengurai pelukan melihat Nasya sudah menangis. Diusap air mata istrinya itu dengan ibu jarinya. "Jangan menangis. Mas sudah datang."

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, keempat bocah itu sudah berdiri sejajar di belakang Nasya dengan tangan berkacak pinggang.


"Papi... Mami..," pekik keempatnya sebal melihat kemesraan kedua orang tua mereka.


Gadhing dan Nasya terlonjak kaget lalu melihat ke arah sumber suara. Keduanya meringis menatap keempat anaknya.


"Masuk dulu, baru peluk-peluk. Malu," tegur Emier langsung membuat Gadhing dan Nasya ketar-ketir dan masuk ke dalam mansion.


Gadhing sendiri menatap takjub dengan kemegahan dan kemewahan mansion yang dimiliki Nasya yang akan menjadi mansion utama untuk ahli waris almarhum Jimmy.


❤️


Assalamualaikum..


Sehat kan?


Aku mau kasih tau kalau novel ini akan tamat setelah 2-3 bab lagi.


Dan aku minta mampir juga dan favorit kan novel baru aku..


Cerita Emier - My Soulmate My Stepbrother


Cerita Malvyn - Penjara Cinta Tuan Malvyn

__ADS_1


__ADS_2